
Reiner dan istrinya telah kembali kerumah mereka. Dan pagi ini Reiner harus kembali terjun ke dunia Perusahaan, pagi itu Hujan turun sangat deras disertai suara petir yang menyambar. Karena keadaan itulah membuatnya bangun terlambat, setelah semuanya siap ia pamit dengan istrinya dan bergegas pergi. ia sudah memasuki mobilnya dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanannya, dari jauh Reiner melihat seorang wanita kehujanan sedang kesusahaan dengan membawa satu ban mobil berusaha untuk menggantinya, ia berniat untuk membantunya dan menepikan mobilnya. Ia segera turun dan mendatangi wanita itu.
------------------------------------------------
"Mbak, maaf biarkan saya yang membuatnya."
Wanita itu sedikit kaget dan melihat kearahku. "Ah baiklah," ucap Wanita tersebut dan menjauh dari mobilnya. Aku mengambil ban mobil yang lainnya dan berusaha menggantinya, saat hendak aku memasangnya tiba-tiba dari arah belakang sebuah pukulan yang sangat kuat menghantam kepalaku hingga aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.
------------------------------------------------
Elie sedang duduk manis sendirian lengkap dengan secangkir teh di tangannya tiba-tiba ia mendapat panggilan dari seseorang. "Nyonya target sudah kami lumpuhkan," ucap seseorang dari balik ponselnya.
"Bagus, aku akan mengirimkan alamatnya segera bawa target dan sebentar lagi aku akan menuju kesana." Setelahnya panggilan pun terputus.
'Akhirnya aku mendapatkanmu Reiner ku pastikan kau akan tunduk denganku,' batin.
Aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari, rencana yang awalnya melibatkan Kelvin dan akhirnya dia berkhianat denganku. Terpaksa aku harus mengatur rencana yang lain tanpa harus melibatkan pria itu lagi. Beberapa hari aku mengintai keberadaan mereka lewat suruhan ku.
Aku bergegas bersiap-siap serta mengambil dompet segera menuju ketempat tujuan. Saat hendak aku memasuki mobil Brian malah menghentikan langkahku. Ia berjalan menghampiriku. "Sayang Kau mau kemana?" ucapnya.
"Aku ingin menemui teman sekolahku dulu Brian hanya sebentar."
"Apa aku boleh ikut?" ujar Brian. "Brian, aku hanya sebentar tidak mungkin aku membawamu sedangkan teman-temanku yang lain tidak membawa pasangannya, mengertilah."
"Baiklah jika begitu berhati-hatilah," ucap Brian serta memberi ciuman di keningku. Untung saja Brian tidak curiga kemana aku akan pergi, untuk saja ini memang aku tidak memberitahunya. Aku tidak ingin jika nantinya Brian terlibat dan aku tidak bisa leluasa berbuat semauku.
Aku bergegas memasuki mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi, pertama kali aku ingin menemui seorang wanita yang sudah membantuku. Butuh waktu perjalanan sekitar satu jam karena jarak yang ku tempuh dari kediamanku menuju tempat itu lumayan jauh belum lagi hujan yang sangat lebat.
Dan akhirnya aku bertemu dengannya. Wanita tersebut akhirnya memasuki mobilku. "Ini bayaran untukmu hitung saja jika kurang aku akan menambahkannya" ucapku serta memberikan uang untuknya. "Terimakasih ini sudah cukup dan nanti hubungi aku jika kau membutuhkanku lagi," ucap Wanita itu serta mengambil uangnya dan melangkah keluar dari mobilku.
"Tentu saja."
Aku kembali bergegas menuju tempat tujuan utamaku. Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, serta memasuki sebuah desa jalanan yang tidak lagi aspal sampai akhirnya aku bertemu sebuah bangunan tempat targetku dibawa.
Bangunan tua itu adalah rumahku dahulu yang sekarang tidak ada siapa pun yang menempatinya. Aku bergegas masuk kedalam dan melihat Reiner. Pria pujaan ku sekarang sedang tidak sadarkan diri dan berada dalam kekuasan ku.
Anggota bayaran ku berjumlah tiga orang, aku mengeluarkan uang dan memberinya untuk mereka.
"Ini lebih dari cukup, apa sekarang kami bisa pergi dari sini?" ucap salah seorang dari mereka. "Tentu saja pergilah dan kembali nanti malam."
"Baik bos." Mereka pun melangkah pergi.
Aku melihat kearah Reiner mengambil sebatang rokok dan menghisapnya, tiba-tiba perlahan sadar dan melihat kearahku. Dia berusaha bergerak dan mencoba berusaha melepaskan ikatannya.
Aku memegang wajahnya. "Hai sayang kamu sudah siuman bagaimana perasaanmu hari ini menyenangkan pastinya ya hahaha."
Ia berusaha mencoba menjauhkan wajahnya dari tanganku. "Kenapa kau tidak menjawab Reiner bukankah dulunya aku adalah orang yang paling kau cintai tapi kenapa sekarang kau mencampakkan aku!"
Raut wajahnya jelas terlihat sangat marah. " Kau memang pantas untuk dibuang Elie," ucap Reiner.
Prakk! Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipinya. Aku sangat muat mendengar ucapannya. "Mulutmu tidak pernah diajarkan Reiner, Aku mencintaimu tapi kenapa kau membalaskan dengan menyakitiku!"
"Kau menginginkan hartaku dan kau memang pantas untuk disakiti wanita iblis!" ucap Reiner geram. "Hahaha kau bilang aku wanita iblis! lantas kau dulunya menjadikan aku sebagai wanita satu-satunya, ingat Reiner kau sekarang berada di bawah tanganku," Elie kesal.
"Cuiih ... Aku tidak takut denganmu Elie!" Aku mengusap pipinya. "Benarkah kau tidak takut denganku? Bagaimana dengan istrimu apa kau juga tidak takut kalau nantinya aku akan menyakitinya lebih dari rasa sakit yang pernah aku rasakan saat kehilanganmu."
"Sakit atas kehilanganku, kebohongan apa yang kau ciptakan Elie, kau sudah menikah saat kita masih berhubungan dan satu lagi jangan pernah kau berniat melukai istriku kau akan tahu akibatnya!" Reiner marah dan geram. "Aku tidak akan menjamin keselamatan istrimu, dan aku tidak takut dengan ancaman mu!"
"Kau akan tahu akibatnya wanita iblis!" Reiner marah dan meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"Aku memang wanita iblis Reiner, aku yang sudah salah menaruh hati kepada orang yang sudah membuat keluargaku hancur! Kau tahu dulunya aku berniat untuk tulus mencintaimu tapi sampai aku tahu sebuah rahasia daddymu telah membuat papaku masuk penjara sampai akhirnya aku dan ibuku hidup melarat dan ibuku meninggal."
Reiner terkejut, raut wajahnya sontak terlihat kebingungan. "Apa maksudmu Elie jangan mengada-ada!"
"Aku tidak berbohong Reiner! Keluargamu telah membuat hidupku menderita dan sekarang aku pembalasanku untuk kalian semua, dan juga untuk wanita bodoh itu yang sudah mengambil mu dariku!"
"Siapa nama daddymu wanita iblis!" Reiner berteriak. Aku mendekat dan duduk disampingnya. "Reiner sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu biarkan kita menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dan lagi aku tidak sabar melihat reaksi istrimu saat melihat kita sedang bermain."
"Jangan terlalu bermimpi Elie!" ucap Reiner dan melotot kearahku.
Aku menelusuri badan kekarnya, dan mengigit bibir bawahku didepannya. "Jangan naif begitu sayang kau sekarang tidak bisa melarikan diri dariku, terimalah setiap sentuhan dariku aku yakin kau akan memintanya lagi."
Reiner menggelengkan badannya berusaha menjauhkan dirinya meskipun tangan dan kakinya terikat. Ia tidak ingin mendapat perhatian dariku. Bukan Elie namaku jika masalah seperti ini aku tidak mampu.
Aku melihat jam, sebentar lagi senja. "Sayang aku harus pergi, besok aku akan datang kembali kau baik-baik saja disini, dan lagi tempat ini aman kok tidak ada penghuninya nanti akan datang beberapa anggota bayaran ku yang akan menjagamu." Setelah mengucapkan kata indah dariku. Aku memeluknya erat dan pergi melangkah keluar dari tempat itu.