
Happy Reading
Dokter langsung menangani Elie. Ia sudah di masukan ke dalam salah satu ruangan kosong sendirian. Lalu kami langsung membayar semua tanggungan yang ada.
‘Kak, maafkan aku jika sekarang tempatmu adalah di sini, sebab di sini lebih aman untukmu. Semoga kamu lekas sembuh dari penderita yang tidak seharusnya kamu dapatkan,’ batin Claudia.
Steven merangkul Claudia mencoba membuat agar wanita itu lebih kuat untuk menghadapi semua cobaan untuk kakaknya.
”Claudia, ayo pulang,” ajak Steven.
“Ngga mau, aku mau temani kakak Elie di sini. Dia pasti bakalan kesepian dan sengsara di sini.” Claudia menangis dan tidak pergi dari sana.
‘Jika aku memaksanya pasti percuma. Sebaiknya aku harus menggunakan kekuatanku,’ batin Steven.
Steven membopong tubuh Claudia dengan paksa, meskipun wanita itu meronta dan ingin turun. Namun, tetap saja kekuatan Steven jauh lebih kuat hingga akhirnya Claudia menurut dan diam.
Mereka telah kembali ke mobil. Keduanya tidak banyak bicara selain diam. Steven terus melirik Claudia yang menangis tersedu-sedu.
”Clau, bagaimana kalau kita mampir sebentar di tempat Zoya? Mana tahu setelah kita dari sana hatimu sedikit tenang apalagi sekarang sudah ada Kaylee dan Kayrren yang meramaikan pasti bakalan seru. Apa Lo mau?” tanya Steven.
“Nggak! Gua ngga butuh mereka semua!” Claudia geram hanya mendengar nama Zoya.
“Ayolah Clau, kita hanya mencobanya.” Steven terus memaksa.
“Gua bilang nggak, tetap nggak! Kalau Lo tetap paksa gua bakalan lompat dari mobil lo.” Claudia mencoba mengancam.
“Okay deh kita bakalan langsung pulang.” Hingga akhirnya Steven pun menyerah.
‘Ngga sudi kalau harus datang ke rumah perusak keluarga gua, kakak Elie pergi karena mereka dan sekarang gua harus kesana, ogah mending gua kesana buat hancurin mereka,’ batin Claudia.
Claudia tidak main-main, ia sangat marah hanya mendengar nama Zoya saja dia sudah mengamuk. Jika Claudia sedang di landa api. Namun, berbeda dengan Steven, ia hanya santai dan tidak mempermasalahkan tentang Elie.
Steven terus mengingat tentang apa yang sudah terjadi antara dirinya bersama Elie. Ia merasa senang karena sudah bisa merasakan kenikmatan yang belum ia dapatkan, tapi ia juga merasa jijik saat mengingat Elie sudah gila.
Sampai di apartemen tidak ada hal yang menarik, Steven sudah berniat dalam hatinya setelah mengantarkan Claudia, ia lalu pergi menemui Reiner.
“Clau, gua pergi dulu yah? Lo ngga apa-apakan kalau di sini sendirian?” tanya Steven yang belum turun dari mobilnya.
“Heh mau kemana sih? Kok Lo tega sama gua? Di saat keadaan sedang kacau seperti ini justru Lo memilih pergi. Apa Lo ngga sayang lagi sama gua?!”
“Bukan begitu Clau. Gua emang niatnya habis anterin Lo yah gua mau ketemu Reiner bentar. Lagian Lo sih gua ajak ngga mau.” Steven membela dirinya.
"Ya udah terserah! Sana Lo pergi!” bentak Claudia dengan wajah cemberut seraya menutup pintu mobil dengan begitu keras.
“Ya udah Lo mau gua pergi 'kan? Ya gua pergi.” Dengan entengnya Steven menjawab lalu pergi menghilang dari hadapan Claudia.
“Ihhh nyebelin! Ada kakak sepupu malah masuk rumah sakit jiwa. Ada satu lagi malah sibuk pikirin diri sendiri. Dasar!” Claudia mengomel sepanjang jalan menuju ke apartemen.
”Semuanya ngga berguna!”
------------------------------------------------
Steven pun menuju ke tempat Reiner, ia ingin curhat dengan sahabatnya yang satu itu. Tidak butuh waktu lama ia langsung sampai ke tempat yang di tuju.
Steven celingak-celinguk seperti maling, ia sengaja melihat sisi kiri dan kanan mana tahu ada Reiner di luar, itulah yang ia pikirkan.
Reiner baru pulang dan langsung melihat Steven sudah ada di depan kediamannya.
“Woy Steve!” teriak Reiner.
“Eh Rei, abis dari mana Lo?” tanya Steven basa-basi.
“Oh tadi Mommy gua katanya kangen Kaylee sama Kayrren, ya udah deh gua antar kesana aja. Lo sendiri dari mana?”
“Gua abis dari apartemen sih. Eh ngga masuk dulu nih?”
“Oh ya lupa ayo masuk. Lo kaya sama siapa aja deh masuk rumah aja perlu gua ajak,” omel Reiner seraya masuk kedalam.
“Yah sengaja Rei, utamakan sopan santun.” Steven begitu pengertian.
“Udah langsung terus terang aja deh mau ngapain Lo kesini? Soalnya nih yah kebiasaan Lo gua udah hafal tahu. Kalau Lo datang kesini sendirian ngga sama si kunyuk-kunyuk itu pasti Lo ada masalah 'kan?” tanya Reiner paham dengan gelagat temannya.
“Iya, gua ada masalah dan Lo tahu kalau gua payah kalau soal berbohong dari Lo.” Steven ingin curhat.
Dari dalam kediaman keluarga Reiner. Zoya melihat tamu yang datang, ia langsung bergegas menghampirinya.
“Eh ada Steven, kok masih berdiri di luar? Mari, ayo masuk,” ucap Zoya seraya tersenyum menyambut tamu.
“Iya nih suami kamu pelit, masa tamu nggak di kasih masuk,” sahut Steven berusaha meledek Reiner.
“Serah Lo deh,” timpal Reiner pasrah dengan apa yang di katakan temannya.
Mereka semua telah duduk bersamaan sembari di temani teh dan juga cemilan. Steven yang sedari tadi sedang mengatur nafasnya untuk memberitahukan apa yang sebenarnya sudah terjadi.
“Steve, kenapa kamu terlihat begitu cemas? Ada apa katakanlah?” tanya Zoya yang sudah lama memperhatikan Steven.
“Gua bawa kabar kalau Elie sekarang sedang mengalami sakit jiwa,” ungkap Steven sedikit pelan.
“Awalnya aku berpikir kalau dia hanya kelelahan makanya tidak pernah keluar lagi dari kamar. Namun, semakin lama aku tahu kalau dia ternyata telah kehilangan akal sehatnya. Kalian ingat setahun yang lalu sewaktu aku meminta izin untuk mencari Claudia, mereka ternyata sedang mencari keberadaan Kelvin. Sejak hari itu aku mengetahui yang sebenarnya kalau selama ini Elie mencintai Kelvin, hingga membuatnya bisa kehilangan akal seperti sekarang,” ungkap Steven.
“Astaga betapa malangnya nasib Elie. Seharusnya dia bisa mengikhlaskan Kelvin.” Zoya perihatin dengan apa yang di alami oleh wanita itu.
“Tapi kenapa bisa kejadiannya bisa seperti itu? Apa Lo tahu sesuatu hal yang lain mengenai Elie?” timpal Reiner sembari bertanya.
“Ya gua tahu, Elie adalah kakak sepupu Claudia. Awalnya gua juga heran namun itulah kebenarannya,” ungkap Steven begitu jelas.
“Sebentar, jika memang Claudia bersama Elie adalah saudara, apa mereka juga bekerjasama? Maksudku begini Steven, apa kamu pernah melihat atau mendengar jika mereka sedang merencanakan sesuatu atau membicarakan tentangku?” Zoya begitu peka hingga berani bertanya seperti itu.
“Tidak pernah, aku lihat mereka begitu baik bahkan sejauh ini aku belum pernah mendapati tentang keburukan kedua saudara ku,” sahut Steven jelas dengan apa yang ia ketahui.
‘Apa mungkin Elie selama ini telah menjadi baik? Tapi seperti yang di katakan Steven, ia sama sekali tidak melihat keburukan mereka,’ batin Zoya kebingungan.
“Jika memang yang kamu katakan benar, berarti Elie sudah pensiun dari masa jahatnya. Steven, sebentar! Apa kamu mengetahui kalau dia adalah mantan istri dari Brian?” tanya Zoya membuat Steven tercengang.
“Mantan istri? Sungguh aku baru mendengarnya kali ini. Sejak kapan mereka menikah? Dan kenapa bisa mereka berpisah, Zoya?” Steven begitu kebingungan hingga tidak tahu apapun.
“Kisah mereka lumayan rumit, tapi begitulah yang terjadi mereka menikah tapi Elie tidak mencintai Brian melainkan mencintai suamiku. Awalnya memang seperti itu namun semakin lama kami tahu kalau dia hanya memaafkan dua Pria baik. Hingga akhirnya Elie berpisah karena kesalahannya sendiri yang terus mengejar-ngejar cinta Kelvin,” ungkap Zoya menceritakan semuanya.
“Kenapa sebelumnya kalian tidak pernah memberitahukan aku tentang semua ini?” Tanya Steven sedikit kecewa.
“Karena kamu ngga bertanya, Steve. Sudahlah lebih baik kita doakan saja semoga Elie bisa cepat pulih dan bisa kembali menjalankan kehidupannya secara normal seperti orang lain,” sahut Zoya mendoakan musuhnya.
‘Hatimu begitu suci, Zoya. Aku semakin tertarik denganmu. Seandainya kamu tahu kalau aku mencintaimu bahkan mengidolakan sosok wanita sepertimu. Lemah lembut, penyayang, dan juga cantik. Namun, sayangnya aku hanya bisa mencintaimu dalam diam. Aku tahu jika mencintai tidak selamanya bisa memiliki,’ batin Steven yang terus memandang Zoya.
Jika Steven berbicara mencintai Zoya secara diam-diam. Namun berbeda dengan Reiner, ia bahkan mengatakan kekagumannya dengan istrinya itu langsung di depan orang lain hingga membuat Steven menoleh kebelakang agar tidak melihat apa yang sedang Reiner lakukan.
“Sayang, kamu baik banget tahu. Orang lain jahat sama kamu terus sekarang orang itu malah kamu doain. Aku beruntung dapat istri cantik dan manis kaya kamu ini. Aku penasaran hati istriku ini terbuat dari apasih sampai dia bisa sebaik ini?” tanya Reiner seraya bercanda hingga merangkul Zoya.
“Aku, 'kan emang baik, Bee. Sudahlah jangan seperti itu ada Steven di depan. Kasian tahu sama dia, tuh lihat sampai dia lihat kearah lain.” Zoya berusaha melepaskan rangkulan dari suaminya.
“Ngga apa-apa kok Zoya, udah maklumin aja lagi biasa suami kamu 'kan rada aneh,” sahut Steven dengan leluconnya.
“Apa Lo bilang gua rada aneh?! Lihat tuh sayang, suami kamu ganteng-ganteng begini masak cuma di bilang rada aneh!” Reiner merajuk seraya bersandar di bahu Zoya.
Merasa kesal dengan tingkah Reiner yang sengaja memperlihatkan kemesraannya bersama dengan Zoya. Steven akhirnya mengalihkan perhatian dan meminta untuk melihat Kaylee dan Kayrren. Kebetulan kedua bayi kembar itu sudah di bawa pulang kembali oleh neneknya.
‘Pas banget! Daripada gua cuma jadi nyamuk di sini mendingan gua kesana aja main sama si kembar. Dasar Reiner bikin gua kesel aja. Lo tuh harusnya tahu kalau gua juga suka sama istri Lo, jadi ngga usah di depan gua mesra-mesraan,’ batin Steven.
Steven langsung mengendong Kaylee dan membawanya bermain hingga membuat Kaylee tertawa lepas. Bukan cuma sekedar itu ia juga menyanyikan berbagai lagu anak-anak hingga menepuk tangan agar membuat Kaylee nyaman.
‘Ya ampun Zoya, kamu benar-benar sempurna jadi seorang Ibu. Udah cantik, pintar berbisnis, pintar masak, terus sekarang udah berhasil ngelahirin anak selucu Kaylee. Aku semakin tambah mengidolakan mu,’ batin Steven saat melihat Kaylee begitu bahagia.
“Pinter keponakan Om, ayo Kaylee ketawa lagi ... umm ba ... umm baa,” ucap Steven yang sedang bermain petak umpet wajah.
Kayrren berada dalam gendongan neneknya tiba-tiba menangis dan menunjuk kearah Steven, hingga membuat neneknya melangkah lebih mendekat.
“Nak, ini Kayrren kayaknya juga mau main sama kamu nih. Tiba-tiba nangis terus tunjuk kesini, kamu ajak main barengan gih biar Tante bikin kamu minum dulu,” ungkap Mama Zoya, dan beranjak meninggalkan Steven.
Steven membawa bayi kembar itu untuk tidur berdekatan dengan Kaylee. Ia lalu kembali bermain bersama kedua putra-putri tersebut. Dari jarak tidak jauh Zoya bersama dengan Reiner melihat begitu serunya mereka bermain hingga menciptakan kebahagiaan juga bagi pasangan ini.
------------------------------------------
(Vanny)
Setelah aku bertobat dan meminta maaf kepada Zoya dan Reiner, rasanya hidupku lebih berwarna tanpa adanya dendam lagi yang harus ku jalani. Saat ini aku hanya fokus terhadap Putri ku, Rossie dan suamiku Brian.
Mereka berdua adalah kebahagiaan untukku saat ini. Brian sedang menjalankan bisnisnya melalui ponsel. Semenjak lahirnya Rossie, ia lebih banyak meluangkan waktunya untukku. Aku begitu bahagia dengan keluarga kecil yang sudah ku dapatkan kali ini.
“Sayang, kenapa bengong, sedang ada masalah ya?” tanya Brian yang tiba-tiba ada di belakangku.
“Ah tidak Mas, aku hanya sedang mengingat kisah cinta kita berdua dan juga merasa bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan saat ini,” sahutku seraya membawa suamiku duduk.
“Ya sayang, aku juga sependapat sepertimu. Mungkin ini memang sudah jalan takdir kita berdua. Jujur sayang, kupikir aku tidak akan bisa bahagia jika mengingat semua kekelaman yang pernah ku hadapi,” sahut Brian seraya tersenyum.
“Benar sekali Mas, aku juga sependapat denganmu, tapi ya sudahlah semuanya sudah baik-baik saja. Ah ya Mas, apa kamu tahu satu hal? Ini menjadi kabar duka.”
“Kabar duka? Memangnya siapa yang sedang di makamkan?” tanya Brian seenaknya.
“Aduh ... Mas! Bukan kabar duka seperti itu, tapi ini kabar duka yang lain. Kau tahu kalau mantan istrimu itu sekarang sudah masuk ru-rumah sakit jiwa,” sahutku memberanikan diri mengatakan kabar itu.
“Elie, masuk rumah sakit jiwa? Benarkah sayang? Tapi bagaimana bisa? Bukankah dia baik-baik saja bahkan dia perempuan yang kuat,” tanya Brian terkejut mendengarnya.
‘Kenapa suamiku begitu kaget saat mendengar kabar ini? Apa mungkin dia masih mencintai wanita itu?’ batinku curiga.
“Hmm Mas, kok kamu malah kaget gitu bahkan tahu sekali jika dia wanita yang sangat kuat? Oh jadi maksudnya aku ini bukan wanita kuat seperti Elie, begitu?” tanyaku sengaja menjebaknya.
Brian bukannya menjawab terlebih dahulu, tapi justru menepuk jidatnya sendiri hingga membuatku kebingungan.
“Ayolah sayang, bukan begitu maksudku. Dengarkan, kamu adalah wanita paling kuat di dunia ini yang pernah ku miliki. Kamu tahu kenapa karena bersamamu aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bahkan kamu sudah melahirkan anak kita. Itu adalah kekuatan paling kuat, dan karena itu aku semakin menyayangimu,” ungkap Brian dengan jelas.
“Mas, apa kali ini kamu ingin merayuku agar aku tidak marah?”