
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku daripada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna daripada menjelaskannya.
* * * * *
“Evin ... berhenti memanggilku gadis kecil, aku malu didepan sahabatmu,” kesal Viora.
Aku tidak menjawab ucapannya, aku langsung masuk kedalam sedangkan Viora mengikuti ku di belakang.
Terlihat dari jauh Zoya sedang berjalan mendekat kearah aku dan Viora, ia lalu berteriak memanggil namaku.
“Kelvin ... udah lama nggak kesini, aku pikir kamu sibuk terus ngelupain sahabatmu ini, eh gadis imut ini siapa namamu?” sambut Zoya dengan ceria.
“Ngga duduk dulu nih Zoe?” tanyaku sedikit bercanda.
“Eh iya duduk aja dulu tapi sebentar ya aku ketemu geongbu (asisten rumah tangga), Mas kamu temenin mereka dulu,” ucap Zoya dan pergi meninggalkan kami.
Viora hanya terdiam, berbeda dengan Reiner ia langsung membahas beberapa persoalan Perusahaan yang memang bekerjasama denganku, hanya membahas masalah di mana kecocokan lahan untuk dibangun, tidak lama Zoya pun kembali seraya membawa minuman serta cemilan.
“Makasih banget Zoe, duh repot-repot.”
“Ah ga apa-apa kok.”
“Oh ya sorry banget Zoe, akhir-akhir ini aku tidak sempat mengunjungi kalian ya taulah pekerjaan sangat menyita waktuku, gimana sama keadaanmu apa calon keponakan ku sering buat ulah lagi? Kamu baik-baik aja kan selama aku nggak dateng,” tanyaku memastikan.
‘Mungkinkah hanya hubungan sahabat antara Evin dengan kakak cantik? Kenapa Evin sangat perhatian dengannya? Aku jadi iri,’ batin Viora.
“Hey, Zoya ngga kenapa-kenapa istri gue baik-baik aja, elu ngga perlu khawatir ada gue yang jagain,” timpal Reiner dengan cepat.
“Yaelah gue cuma nanya Reiner, sensi banget lu, liat tuh suami kamu Zoe aneh!” sahutku membalas.
“Gue aneh? Elu yang aneh, jangan liat ke dia sayang, kamu dengerin ucapan dia aku cium di sini,” tangkas Reiner tidak terima.
“Eh udah udah kalian berdua kalau ketemu kalau ga ribut dulu ngga bisa, udah aku mau ngobrol pula eee gadis imut siapa namamu sayang? Kok dari tadi diam aja,” timpal Zoya seraya bertanya kepada Viora.
“Namaku Viora Lausy, kakak bisa panggil aku Viora dan aku sendiri adalah pacar Evin, aku baru datang kesini beberapa hari kak, seneng deh ketemu sama kakak cantik banget soalnya ...,” ucap Viora dengan gaya khas darinya.
Aku mematung mendengar pengakuan dari Viora, sejak kapan dia menjadi pacarku? Gadis kecil itu benar-benar tidak bisa ditebak. Aku pun berusaha menimpali pembicaraan mereka dengan cepat.
‘Evin, kenapa seakan kau tidak ingin aku mengakui kamu adalah pacarku, apa karena aku tidak pantas menjadi pacarmu? Tapi aku tulus menginginkan dirimu, Tuhan tolong dewasa kan diriku dengan cepat agar aku bisa memiliki Evin, dan juga berikan aku dada yang besar seperti kakak cantik di depanku ini,’ batin Viora.
“Makasih ya Viora atas pujiannya, Kelvin kamu ini Viora kan cuma mau ada tempat terbaik mungkin antara kalian hehe. Oh ya Viora kapan-kapan kamu datang kalau sendirian bilangin aku biar di jemput supir soalnya aku kesepian, suamiku kerja jadi ya begitu,” sahut Zoya.
“Ah tidak masalah kok kakak, aku pasti bakalan dateng lagian juga aku ngga ada temen di sini selain kalian, by the way aku mau kasih tahu kalau kakak cariin aku cari aja kerumah Evin aku bakalan stay di sana kok,” sambung Viora.
Lagi-lagi ucapan Viora membuatku menatapnya, dia berbicara tanpa ada persetujuan dariku. ‘Bagaimana kali ini dia bilang tinggal di rumahku? Ah pasti Zoya langsung merestui kalau Viora tinggal bersamaku, oh tidak aku pria normal mana mungkin aku akan tahan melihatnya, tubuh Viora bukan lagi gadis kecil seperti dulu,’ batin.
“Wah jadi Viora stay di rumah Kelvin? Asyik dong jadi aku bisa leluasa cari kamu, by the way jangan panggil aku kakak ya panggil aja Zoya soalnya biar kita lebih akrab,” sahut Zoya.
“Okay Zoya aku senang sekali,” sambung Viora.
Aku melirik Viora, “Hey gadis kecil, sejak kapan kamu mau stay di rumahku? Ayolah aku tidak tau apa-apa sebelumnya.”
“Evin apa kamu keberatan? Aku sudah bilang sama papa kalau aku magang di sini juga bakalan tinggal sama kamu dan papa mengizinkan, kalau kamu marah aku bisa telepon papa sama papamu gimana?" Viora berusaha mengancam ku.
“Eh Kelvin udahlah, elu ngga terima terimakasih deh udah jelas-jelas Viora mau tinggal sama elu bukannya seneng, kasian kan lu jomblo terus, makasih ya Viora kamu boleh kok tinggal di rumah Kelvin, ada izin dari aku sama Zoya aja udah ga usah dipikirin panjang,” timbal Reiner.
Zoya, Reiner dan Viora terkekeh melihatku, entah mereka sekongkol sekarang aku tidak tahu. Aku terus memikirkan bagaimana jadinya menahan diriku tidak akan menyentuhnya jika sampai Viora tinggal denganku, otakku sudah tidak waras kali ini tapi tentu saja aku pria normal yang juga butuh kehangatan.
“Iya deh gue ngga marah kok kalau gadis kecil ini tinggal sama gue tapi jangan bandel ya awas lu bandel gue pulangin kesana,” sahutku dengan bercanda.
‘Haruskah aku sanggup melihat Viora tinggal denganku serumah? Apa aku harus mencari Elie untuk membuat adik kecilku tenang agar terpuaskan? Aaarrghh aku pasti gila kali ini,’ batin Kelvin.
‘Aku sangat senang Zoya dan kakak Reiner menyetujui aku berada di rumah Evin, tapi kenapa Evin seakan tidak menyukai keberadaan ku saat ini? Evin apa kau lupa bahwa dulu kamu pernah meminta ku untuk bisa terus bersamamu sampai kita tua? Meskipun saat itu aku masih kecil tapi aku ingat dengan semua itu, inilah jalanku untuk bisa memenuhi keinginan mu dulu dan harus kau tahu bahwa kita sudah di jodohkan, salahkah aku sudah berada di antaramu di sini,’ batin Viora.
Perbincangan kami terhenti karena Reiner sedang berbicara lewat ponsel dengan seseorang, sampai akhirnya ia kembali membuka suara didepan kami.
“Kelvin, bolehkah aku bertanya sesuatu tentang Elie?” tanya Reiner membuatku penasaran.
“Ada apa dengan dia mas?” tanya Zoya.
Sedangkan aku hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Reiner, entah apa yang ingin dia tanyakan saat itu juga membuatku penasaran.
≈≈≈≈≈≈≈≈
Dua episode lagi akan membahas tentang Claudia dan Steven, jangan lewatkan. Ada karyaku baru meluncur jika berkenan silahkan mampir.