
H A P P Y R E A D I N G
(Author)
Alvero mengetahui bahwa Viora sedang melihatnya, ia lalu berjalan mendekati Viora seraya menarik pergelangan tangannya dengan kasar lalu tanpa aba-aba ia memasukkan gadis itu kedalam mobilnya.
“Sayang, apa yang kamu lakukan? Tanganku sakit ...aww lepaskan!” rengek Viora yang terus berusaha melawan.
Alvero tidak peduli meskipun Viora sudah meringis kesakitan. Ia marah karena gadis yang sangat ia cintai sudah menipunya dengan kebohongan besar apalagi sekarang ia melihat di leher Viora terdapat beberapa tanda merah seperti habis melakukan hubungan badan.
“Jelaskan padaku semuanya! Sebelum aku benar-benar marah, Viora!” bentak Alvero yang sudah sangat kesal sampai ia sengaja menunggu begitu lama kekasihnya di perusahaan itu.
“Apa maksudmu? Aku harus jelaskan apa?” tanya Viora dengan polos.
“Udahlah jangan sok ngga tahu deh! Jelaskan semuanya kalau yang di bilang oleh Kelvin itu semuanya bohong! Kamu tahu, Viora? Kami tidak sengaja bertemu dan Kelvin mengatakan kalau ia adalah suamimu! Jadi cepat katakan yang sejujurnya.” Alvero terus memaksa agar Viora tidak membungkam mulutnya.
‘Apa mungkin Alvero sudah tahu kalau aku adalah istrinya Kelvin? Tapi, bagaimana bisa dia tahu? Aduh bisa gawat nih ... tapi tenang aku harus mencoba mengalihkan pembicaraan,' batin Viora sedikit cemas.
“Hey kenapa malah melamun? Ayo jawab Viora, aku butuh jawabanmu bukannya malah bengong,” ungkap Alvero.
“A-aku tidak melamun hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu. Mmm sayang! Apa kamu bisa jelaskan padaku kenapa waktu itu kamu berbohong tentang kakimu yang sudah terkilir dan lagi hari itu kamu menginap di hotel. Memangnya kenapa dengan kediaman mu?” tanya Viora berusaha mengalihkan perhatian.
“Hey! Aku tidak membicarakan semua itu! Jadi benar kalian sudah menikah? Tapi sejak kapan?!” tanya Alvero tidak santai.
“Ada-ada saja haha mana mungkin aku sudah menikah apalagi dengan Kelvin. Itu semua hanya akal-akalan Pria itu, sayang. sudahlah jangan dengarkan dia,” sahut Viora masih tidak ingin jujur.
“Tolong jujur denganku, Viora! Jangan membohongi ku. Berkali-kali aku mencoba untuk percaya tapi, setiap saat aku ragu denganmu. Pertama kamu begitu susah untuk ku ajak menginap bahkan aku harus melakukan cara bodoh untuk memaksamu. Kedua, aku bahkan belum bertemu dengan keluargamu. Hey kita sudah pacaran bertahun-tahun tapi, kita belum melakukan apapun. Aku ini kekasihmu! Di luar sana setiap mereka yang pacaran begitu lama semuanya sudah saling mengenal bahkan mereka memiliki bayi.” Alvero mengeluh pada kekasihnya.
“Tolong percayalah padaku, aku bukannya tidak mau hanya saja kesibukanku sangat padat bahkan sekarang aku sudah mulai bekerja kembali. Maafkan aku sayang tapi, tolong percayalah.” Viora terus menyakitkan kekasihnya.
‘Jika memang tidak memiliki hubungan suami istri lalu kenapa Kelvin mengaku sampai begitu pedenya ia. Dan lagi ponsel Viora juga pernah Kelvin yang menjawabnya,’ batin Alvero yang masih belum percaya.
Alvero terdiam lalu memandang Viora dengan tatapan yang sulit di mengerti. Sedangkan Viora hanya menunduk ia takut sampai warna kemerah-merahan di lehernya terlihat.
Gelagat mencurigakan dari kekasihnya. Alvero menyadari bahwa semenjak ia bertemu dengan kekasihnya, dia selalu merasakan bahwa Viora memang sedang melakukan kebohongan besar.
Alvero mendekat ke wajah Viora, perlahan dengan sangat dekat lalu memengang pipi kekasihnya. Viora menutup matanya seakan tahu ingin di cium. Dengan cepat dagu di angkat hingga terlihat kemerah-merahan di leher kekasihnya.
“Sayang, apa kamu habis melakukan hubungan penyatuan?” tanya Alvero sembari memicingkan matanya.
“Ti-tidak! Aku tidak mengerti apa maksudmu, sayang?” sahut Viora gelagapan seraya bertanya.
“Jangan berbohong lagi denganku, Viora! Katakan sejujurnya apa maksud di lehermu ini?! Dengan siapa kamu berhubungan? Apa mungkin dengan Kelvin? Jika memang kamu tidak mau menjawabnya, baik! Aku yang akan mencari tahu sendiri,” geram Alvero lalu berniat keluar dari mobilnya tapi, dengan cepat Viora menghentikan.
“Ku mohon ... jangan lakukan hal bodoh apapun, sayang. Biar aku yang akan jelaskan semuanya,” ucap Viora hingga membuat Alvero berhenti.
‘Bagaimana aku harus menjawabnya? Jika aku membiarkan Alvero bertemu dengan Kelvin pasti mereka akan berkelahi tapi, jika aku Jujur apa mungkin dia akan memaafkanku?’ batin Viora bimbang.
Viora menarik nafasnya memburu. Ia akan menceritakan apa yang sudah terjadi tapi, ia butuh alasan yang tepat agar Alvero tidak begitu kecewa dengannya.
“Kenapa malah diam, Viora?” Alvero bertanya.
“Aku akan menjawab apa yang kamu tanyakan. Sebetulnya bekas merah ini dari kuku ku karena gatal sayang, hingga aku tidak sadar menggaruknya,” ungkap Viora berbohong.
“Benarkah semuanya itu? Baiklah sayang, aku percaya denganmu. Ya sudah sekarang kita langsung pulang atau kita cari makan dulu? Tapi sebelum itu aku harus menutup bekas merah ini.” Alvero mengambil plester untuk bagian bekas yang begitu terang sedangkan yang lain hanya ia tempelkan bedak tabur di sana.
Viora melihat Alvero begitu membingungkan. Pasalnya ia menjawab asal bahkan jawabannya justru membuat siapapun yang mendengar pasti tidak akan percaya dengan mudah.
‘Apa mungkin Alvero hanya pura-pura percaya denganku?’ batin Viora curiga.
Mengingat dengan ajakan Alvero untuk langsung pulang membuat Viora ingin menolak ajakan itu.
“Sayang, sebaiknya aku pulang sendirian soalnya mobilku di sini jadi tidak ada yang akan membawa mobilku pulang. Lagipula aku masih kenyang jadi sebaiknya kita pergi lain kali saja,” tolak Viora secara halus.
‘Tebakanku benar. Viora bahkan tidak ingin aku mengantarnya pulang, apa mungkin dia ketakutan aku mengetahui semuanya? Meskipun begitu aku juga curiga kalau sebetulnya dia memang punya hubungan khusus dengan Kelvin. Sebaiknya aku harus pura-pura bodoh lalu baru aku bisa mencari tahu semuanya. Awas sayang, jika sampai aku mengetahui semuanya Kelvin tidak akan selamat karena sudah mengambil orang yang sudah menjadi hak ku,’ batin Alvero.
“Ya sudah kalau begitu tidak masalah. Aku pasti akan menunggu kapan kamu siap, sayang,’ ucap Alvero mengiyakan.
“Baiklah, kalau begitu aku langsung turun yah. Sayang, hati-hati di jalan jangan ngebut,” ucap Viora yang begitu perhatian seraya ia keluar dari mobil tersebut.
Alvero melambaikan tangannya lalu ia langsung pergi keluar dari perusahaan itu. Meskipun ia tidak benar-benar pulang tetapi mendiamkan diri sampai akhirnya nanti ia berhasil mengikuti Viora pergi.
Alvero sudah menghilang dari pandangan matanya. Viora menarik nafas panjang lalu ia berjalan kearah mobilnya. Rasa lega di hatinya saat kekasihnya itu sudah pergi.
“Untung ngga ketahuan, kalau nggak bisa mati konyol aku di depan Alvero. Lagipula jika kebohongan ini terus berlanjut pasti cepat atau lambat semuanya juga akan terbongkar. Aduh ... Kok rasanya aku semakin takut yah kalau Kelvin membenciku bahkan sampai pergi dariku. Rasanya aku ingin mengakhiri semua kebohongan ini tapi, bagaimana caranya aku menjelaskan pada Kelvin? Apa aku memang sudah keterlaluan? Arrgh aku ingin semuanya kembali seperti semula tanpa adanya kebohongan lagi,” gumam Viora tanpa ia tahu bahwa ada orang lain yang mendengar pembicaraannya.
“Kebohongan apa yang kamu maksud, gadis kecil? Apa tentang hubunganmu dengan Alvero, begitu?” tanya Kelvin yang tiba-tiba sudah ada di belakang istrinya.
Kelvin memang sempat mencari istrinya saat Viora keluar dari ruangannya tapi, kesibukan membuatnya menunda karena beberapa laporan yang harus ia tandatangani hingga akhirnya ia berpikir tidak bisa mengejar istrinya itu, padahal ia hanya ingin mengajak istrinya itu untuk makan bersama. Meskipun begitu pikirannya masih bisa berpikir jernih lalu ia mengutus seorang scurity untuk melihat apakah istrinya sudah pulang atau belum. Dan nyatanya Viora belum pulang, sebab itulah ia sekarang berada di belakang Viora hingga ia mendengar semua yang di katakan istrinya.
“Ke-Kelvin! Sejak kapan kamu ada di belakangku?" tanya Viora gelagapan.
“Sejak aku mendengar bahwa kamu juga menyebut namaku dalam kebohongan itu. Jadi sekarang cepat ikut aku pulang tanpa bantahan apapun!” bentak Kelvin seraya menarik tangan Viora membawanya ke dalam mobilnya.
“Hey! Mobilku ada di sana!” Viora berusaha berontak.
“Tidak masalah biarkan saja supir yang akan mengambil mobilmu, sekarang turuti aku kemanapun tanpa bertanya!” ucap Kelvin dengan tegas seakan memperlihatkan dia memiliki kekuasaan.
Kelvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memberitahukan terlebih dahulu kemana ia akan membawa istrinya. Lalu Kelvin menyuruh Viora agar menghubungi pelayan di kediaman mereka. Hingga sambungan telepon pun tersambung.
“Pelayan! Kemaskan pakaianku dan juga milik Nyonya. Hanya pakaian, sebentar lagi saya akan mengambilnya,” perintah Kelvin dengan tegas.
“Baik, Tuan. Perintah segera di laksanakan,” sahut pelayan dari balik ponselnya.
Sambungan telepon terhenti. Viora melirik kearah Kelvin dengan tatapan kebingungan. Keningnya sampai berkerut mengingat apa yang sedang di rencana oleh suaminya itu. Ia pun berniat untuk bertanya.
“Evin, memangnya kita akan kemana sampai harus berkemas-kemas?” tanya Viora penasaran.
“Jangan banyak bertanya! Aku sudah bilang lebih baik kamu diam!” bentak Kelvin tanpa pedulikan Viora akan sakit hati mendengarnya.
“Aku ini istrimu! Lagipula kamu bahkan membawa-bawa barangku untuk ikut denganmu. Itu sama saja kamu melanggar kontrak pernikahan kita! Dua kali lipat bayaran untukku karena sudah dua kali kamu melanggar perjanjian kita,” sahut Viora seraya memeras Kelvin.
“Aku tidak peduli dengan surat kontrak itu sekarang! Yang aku pedulikan hanya satu hal, kamu harus ikuti kemana yang akan aku bawa pergi tanpa bertanya lagi. Apalagi kamu mengatakan kalau dirimu adalah istriku jadi sebaiknya cukup patuhi apa yang suamimu mau!” Kelvin terus bersikap tegas.
‘Aku tahu, gadis kecil. Kamu sudah membohongiku begitu banyak hal dan saatnya ini aku akan membawamu kembali ke kediaman kita jauh dari Alvero, meskipun dia akan mencarimu tapi setidaknya dia tidak akan berani dekat denganmu,’ batin Kelvin.
‘Evin! Mana bisa seperti itu. Aku bukan pelayanmu yang bisa semudah 'nya kamu berkuasa di atas diriku! Sebelum kamu mengatakan kemana tujuan kita ini maka aku tidak akan berhenti untuk terus bertanya,” geram Viora.
“Aku tidak peduli mau kamu bertanya atau tidak sekalipun!” bentak Kelvin tanpa memperdulikannya.
‘Aduh ... Bagaimana ini? Pangeran sedikitpun tidak mau mendengarkan aku. Dia bahkan tidak ingin memberitahu kemana ia akan membawaku pergi. Mau lari tapi percuma kekuatan bahkan tidak kuat untuk kabur darinya,’ batin Viora.
Mereka telah kembali ke kediaman, lalu Kelvin menarik tangan Viora agar ia tidak berusaha untuk kabur darinya. Mereka langsung memasuki kediaman.
Di luar kediaman tanpa sepengetahuan Kelvin dan Viora. Sebuah mobil mewah berhenti siapa lagi jika bukan Alvero. Ia akhirnya tahu di mana tempat tinggal mereka sekarang sebab sejak tadi ia berusaha mengikuti kemana mereka pergi.
“Jadi di sini mereka tinggal. Sepertinya memang benar apa yang sudah Kelvin katakan, mereka memang memiliki hubungan khusus tanpa sepengetahuanku. Viora, aku tidak menyangka kamu begitu tega denganku padahal aku sudah rela melakukan apapun demi cintaku untukmu hingga aku rela mati untukmu tapi, ini balasan yang ku terima. Aku pastikan selamanya kalian tidak akan bahagia dan aku akan terus berpura-pura tidak tahu bahwa kamu sudah membohongiku, gadis manja,” gumam Alvero.
“Kelvin, kamu akan terima semua balasanku. Pertama kamu dulu membuatku tidak berdaya di depan semua orang sampai akhirnya aku koma. Kedua, kamu berani-beraninya mengambil kekasihku untuk menjadi istrimu. Aku tahu pasti semua ini adalah paksaan darimu agar kalian bisa menikah. Pengkhianatan akan di balas pengkhianatan, dan dendam akan di balas dengan dendam. Aku bersumpah akan menghancurkan mu, Kelvin. Sebagaimana kamu membuatku koma seperti dulu,” sambung Alvero panjang lebar.
Alvero mengamuk di dalam mobilnya sendiri. Ia begitu kecewa dengan Viora dan juga ia dendam atas semua perlakuan Kelvin yang membuatnya koma hingga merebut kekasihnya. Dendam di hati sudah menutupi dirinya untuk segera melakukan kejahatan. Orang yang selama ini baik akan menjadi sebuah bencana besar bagi orang lain. Padahal dia begitu tulus dengan cinta yang ia berikan untuk Viora.
Lalu Alvero melihat bahwa Kelvin bersama dengan Viora sedang berjalan keluar seraya dua pelayan di belakang yang membantu mereka menarik kopernya. Dengan cepat Alvero pergi dari tempat itu.
“Tunggu pembalasan dendam ku. Kelvin, kamu harus mati kali ini,” guna Alvero terakhir kalinya.
***----------------------------------------***
Kelvin bersama istrinya sedang menuju ke kediaman keluarga mereka. Di mana ada Bunda dan Ayah di tempat itu. Ia memang sudah berjanji akan menginap beberapa hari di sana meskipun keadaan rumah tangganya sendiri sedang di landa cobaan berat.
Tanpa melirik istrinya yang sedari tadi sangat cemas dengan kelakuannya. Pasalnya sampai sekarang ia belum belum memberitahukan kemana ia akan pergi. Viora sangat kebingungan harus melakukan apa sebab tangannya masih berada dalam genggaman Kelvin.
‘Jika terus seperti ini maka aku tidak dapat tahu kemana akan di bawa tapi, jika bertanya juga percuma dia terus membungkam mulutnya. Huuh! Hari ini rasanya aku seperti tahanan bukan lagi seperti istrinya. Dasar Pangeran menyebalkan! Jika tanganku tidak di pegang terus maka aku akan mencekik lehernya meskipun dia tampan tapi, tetap saja dia manusia paling menyeramkan yang pernah ku temui,’ batin Viora yang terus mengomeli seraya melihat dengan tatapan sinis kearah Kelvin.
Sesekali Kelvin melirik kearah Viora. Ia tahu istrinya sedang kesal sebab raut wajah yang begitu cemberut seraya mengeraskan rahangnya bahkan tidak ada sedikitpun senyuman terpancar di wajah cantik itu. Ia ingin tertawa melihat tingkah unik Viora yang sedang menahan amarahnya tapi, ia terus menahan diri agar membuat istrinya itu sedikit takut kepadanya.
“Hey, kenapa menatapku seperti ingin memakan ku, gadis kecil? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Atau ingin memaki diriku saat ini? Sebaiknya simpan saja semua itu sebab kita akan berdebat nanti dan bukan sekarang. Jadi sayang, jika ingin istirahat maka tidurlah sambil menunggu tempat tujuan kita sampai.” Kelvin berusaha baik dan perhatian dengan istrinya meskipun ia kecewa.
“Aku tidak ingin bicara denganmu wahai Pangeran yang tidak memiliki hatinya sama sekali. Bahkan sudah membuat istrinya menjadi tahanan tanpa bisa di beri kesempatan untuk bertanya,” sahut Viora ngambek agar terlihat merajuk.
“Oh ... Begitu. Ya sudah kalau nggak mau lihat aku,” ledek Kelvin seraya memalingkan wajahnya kearah lain.
Viora kesal setengah mati melihat Kelvin tidak membujuknya apalagi merayunya setelah ia berusaha ngambek di depan suaminya.
Kelvin menahan senyumnya saat ia menyadari bahwa istrinya sedang marah. Ia membiarkan tanpa menjawab apapun lagi. Lalu Kelvin merasa pegal hingga melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan Viora. Memilih untuk memejamkan mata agar sedikit menenangkan diri seraya menunggu sampai ke tempat tujuan.
Viora merasa lega tangannya sudah di lepas hingga ia merenggangkan otot tangannya. Lalu ia menatap Kelvin begitu dalam. Hatinya lega bisa terus berdekatan dengan suaminya itu walaupun secara terang-terangan ia bersikap bahwa membencinya padahal cinta masih begitu besar untuk Kelvin.
“Pangeran, sebetulnya aku masih menjadi gadis kecil yang selalu bertingkah konyol seperti dulu. Aku juga bahagia keinginanku untuk menjadi selir mu sudah tercapai. Maafkan aku atas semua kejahatan yang kulakukan, selama ini kamu telah membuktikan bahwa kamu menjadi Pria yang bertanggungjawab untukku. Hanya saat dirimu tertidur dan sakit aku bisa memberikan kasih sayang sepenuhnya untukmu," gumam Viora yang terus memandangi Kelvin yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Kelvin ingin tertawa tapi, ia mencoba untuk menahannya. Padahal ia hanya sedikit kelelahan dan memilih untuk istirahat sebentar. Meskipun ia mencoba untuk menutup mata namun, bukan artinya ia sudah tidur. Ia mendengar semua yang sudah istrinya katakan.
“Terimakasih gadis kecilku, jadi tebakan ku benar kalau kamu masih mencintaiku. Haha jika seperti ini aku sangat ingin menjadi sakit dan ingin tertidur agar bisa mendengar isi hatimu lebih leluasa,” respon Kelvin yang masih memejamkan matanya.
Viora begitu kaget dengan ucapan Kelvin, hingga ia membelalakkan matanya. Ia begitu malu sampai akhirnya ia mencari ponsel lalu membuka sebuah cerita untuk menjadikan alasan.
”A-apa maksudmu? Si-siapa yang mencintai Pria pembunuh dan mesum sepertimu! Apalagi jika mengingat masa lalu. Aku rasanya ingin langsung membunuhmu tadi. Lagipula saat ini aku sedang membaca novel dengan suara keras jadi bukan berbicara untukmu melainkan kisah seorang Pangeran dan Putri yang terjebak dalam sebuah pernikahan,” ungkap Viora berusaha ngeles.
Kelvin tersenyum mendengar jawaban dari Viora. Ia lalu membuka matanya seraya mendekat ke wajah istrinya. Lalu ia memegang dagu Viora dan berkata.
“Cara berbohong mu cukup pintar, gadis kecilku. Tapi, sayangnya aku lebih pintar darimu. Ah baiklah karena kamu sedang mencoba untuk merayuku sebaiknya sekarang pijat bahuku rasanya begitu lelah. Ini sebagai ganti ucapan cintamu tadi, jadi tunggu apalagi pijat aku cepat,” perintah Kelvin seraya tersenyum.
‘Apa-apaan ini? Sejak kapan ungkapan cinta di balas dengan pijatan? Heuh! Benar-benar jika bukan suamiku pasti dia akan ku cakar,’ batin Viora yang terus mengomel seraya menarik nafasnya memburu.
“Ini di dalam pesawat mana mungkin aku akan memijat bahu mu,” tolak Viora karena ia malas.
”Baiklah, jika begitu berikan bahu mu untuk aku bersandar. Kamu tahu, aku sangat lelah jadi sebagai ganti cinta ku izinkan aku tidur di sini,” ucap Kelvin tanpa menunggu istrinya mengiyakan dia sudah merebahkan kepalanya.
“Ada-ada saja,” respon Viora seraya menggelengkan kepalanya.
‘Melihatmu seperti ini terus berusaha untuk dekat denganku rasanya aku bahagia. Aku sudah berdosa telah menyakitimu padahal kamu sudah begitu baik memperlakukan diriku selama ini,’ batin Viora hingga ia ikut-ikutan terlelap dalam tidurnya.
Mereka sama-sama tertidur seraya menunggu tempat tujuan mereka sampai. Viora juga belum mengetahui kemana Kelvin akan membawanya tapi, ia tidak lagi mempermasalahkan hal itu sebab dia sudah pasrah dan tidak banyak mengeluh.
***-------------------------------------***
(Kediaman Bunda dan Ayah)
Orangtuanya Kelvin serta teman-temannya seperti Zoya bersama keluarga, Vanny bersama keluarga, dan juga Steven tapi tidak dengan Claudia. Mereka sedang berkumpul di sana untuk menyambut kedatangan Kelvin bersama Viora.
Kelvin sudah memberitahukan pada bundanya bahwa hari ini dia akan menginap beberapa hari di sana meskipun istrinya belum mengetahui.
Kaylee, Kayrren, dan Rossie. Tidak sabar menunggu kedatangan Uncle Kelvin dan juga Aunty Viora. Pasalnya anak-anak ini sudah sering mendengar cerita mengenai sahabat dekat orangtuanya tersebut.
Yang di tunggu-tunggu pun tiba. Kelvin bersama dengan istrinya sampai dengan selamat di kediaman bundanya. Anak-anak yang sedang bermain di luar langsung di dekati oleh Kelvin. Ia melihat dua anak kembar meskipun tidak terlalu mirip karena mereka kembar fraternal. Meski begitu ia langsung menebak jika itu adalah anak dari sahabatnya.
“Hello jagoan,” sapa Kelvin pada anak laki-laki yang ia dekati.
“Hay, Om. Mmm ... Om ini siapa?” tanya Kayrren kebingungan.
Kaylee dan Rossie hanya menatap Kayrren yang sedang berbicara dengan orang asing.
“Apa kamu tidak tahu aku ini siapa? Panggil Uncle jangan Om ya, jagoan,” ucap Kelvin seraya bertanya.
“Baiklah, Uncle. Tapi, bolehkan aku tahu siapa nama Uncle? Maaf jika aku lancang tapi, Mommy berpesan bahwa tidak boleh berbicara dengan orang asing,” sahut Kayrren yang sangat mengingat pesan ibunya.
Kaylee dan Rossie berlari memasuki kediaman. Mereka sedikit ketakutan karena tidak mengenal kedua orang dewasa di depan mereka.
“Anak pintar. Panggil aku dengan sebutan Uncle Evin, dan ini Aunty Viora. Lalu namamu siapa, jagoan?” tanya Kelvin.
“Uncle Evin? Wah ... Apa mungkin Uncle ini orang yang sering Mommy ceritakan padaku? Oh dan namaku Kayrren Reinzo. Sebentar ya aku beritahu pada Mommy kalau Uncle ku sudah datang!” ucap Kayrren seraya berlari masuk kedalam.
Dengan senyuman terpancar di wajah Kelvin dan juga Viora. Saat mereka melihat anak-anak seperti itu ada rasa senang di hati masing-masing. Kelvin lalu menghampiri istrinya yang masih berdiri mematung.
“Sayang, lihat Pria kecil itu begitu cerdas bahkan dia sangat menurut pada pesan ibunya. Aku jadi ingin memiliki anak seperti Kayrren. Mmm kapan kita akan berbulan madu, gadis kecilku?" tanya Kelvin dengan sengaja hingga membuat wajah Viora merona.
Lalu Viora tidak menjawab pertanyaan konyol dari suaminya. Ia hanya membalas dengan cubitan hingga Kelvin meringis kesakitan. Saat mereka sedang bercanda ria, di depan pintu rumah keluarlah semua anggota keluarga dan juga sahabat-sahabatnya hingga akhirnya Kelvin menggenggam tangan istrinya untuk berjalan kedepan.
Mereka di sambut dengan bahagia oleh semua orang. Pelukan dan tangis bahagia dari Zoya dan juga bundanya Kelvin mampu membuat Kelvin memeluk kedua orang yang begitu untuknya. Meskipun di sana juga ada Reiner tapi, itu tidak masalah sebab pertemuan pertama setelah sekian lamanya berpisah.
Bunda langsung membawa menantunya untuk duduk bersama, serta Zoya dan juga Vanny. Berbeda dengan laki-laki Kelvin sedang menghabiskan kerinduan dengan teman-temannya.
“Eh Vin, Lo kok lama banget sih tinggalin kami sampai undangan pernikahan ngga Lo kasih. Eh tahu-tahunya Lo udah nikah diam-diam. Tega banget sih Lo,” ungkap Brian dengan sedikit bercanda.
Reiner hanya diam sebab ia mengetahui segalanya meskipun ia juga ikut-ikutan meledek Kelvin.
“Sorry Brother, gua ngga bermaksud begitu. Soalnya waktu itu bukan saat yang tepat untuk gua kasih tahu. Yah ada sedikit masalah jadi maaf ... banget” Kelvin memohon maaf sebab ia juga sedikit tidak nyaman dengan teman-temannya.
“Ya sudahlah, gua paham pasti Lo saat itu ada alasan buat ngga bilang ke kita-kita. Eh bye the way, anak Lo mana? Nggak Lo bawa kesini? Kasian dong dia di tinggal. Tapi, gua boleh jujur ngga istri Lo cantik yah ... gua baru lihat soalnya hehe.” Steven tanpa adanya rem bertanya bahkan memuji Viora.
Kelvin sedikit tidak suka dengan pujian Steven. Meskipun ia tahu bahwa itu hanya candaan tapi, tetap saja ia cemburu. Namun, tidak di perlihatkan.
“Heh! Lo nanya yang bener dong, Steven. Ini anak mulutnya mau di sumpel pakai kain nih,” ledek Reiner bercanda.
“Yah sialan Lo! Masak orang ganteng kaya gua mulutnya mau di sumpal. Lo tuh di sumpal pakai lem kalau perlu. Awas Lo ya gua aduin Lo sama Zoya muji istri Kelvin barusan,” ancam Steven pada Reiner dengan seenak jidatnya.
“Heh ngada-ngada Lo yah! Lo yang bilang gua kena getahnya!” sahut Reiner tidak terima.
Brian menggelengkan kepalanya melihat kedua temannya. Jika sudah berkumpul mereka sering bercanda bahkan mengejek satu sama lain.
“Udah Vin, ngga usah ladenin dua orang gila itu. Biasa semalam mungkin yang satu ngga dapat jatah karena di gangguin mulu sama si kembar, kalau yang satu lagi biasa habis gagal jadian sebelum nembak cinta ...,” ungkap Brian asal ceplas-ceplos.
Kelvin mendengar keributan teman-temannya membuatnya tertawa hingga tidak memikirkan masalah yang sedang terjadi dalam rumah tangganya.
Berbeda dengan Reiner dan Steven, yang tidak terima dengan ucapan Brian untuk mereka berdua. Cek-cok gila mereka pun terhenti lalu berniat menyerang.
“Asal Lo tahu, Kelvin. Di antara kita ini, dia nih yang paling gila!” ledek Reiner yang begitu semangat.
“Yah bener tuh ... Dia bukan cuma gila tapi, juga galau sampai tujuh hari gara-gara merajuk ngga dapat jatah,” timpal Steven yang juga tidak ingin kalah.
Alhasil ketiga orang itu ribut sampai akhirnya Kelvin sakit perut mendengar semua kekonyolan yang di ucapan oleh temen-temennya.
“Woy udah ... Kalian sama-sama gila tapi, nanti tunggu gua bakalan ikutan gila lebih parah dari kalian!" respon Kelvin.
Mereka semua mengiyakan apa yang di katakan oleh Kelvin. Lalu kegilaan berhenti menjadi ketenangan sebab Zoya membawakan minuman dan cemilan yang membuat kerinduan mereka semakin lengkap saat bercengkraman.
Kelvin lalu mengingat sesuatu dan melihat kearah Steven. Sebab sejak tadi ia hanya sendirian tidak di barengi oleh Claudia. Ia pun kepo lalu penasaran.
“Steven, tumben banget Lo sendirian kesini? Biasanya sama adik Lo, Claudia. Tapi, kok gua dari tadi ngga liatin dia ya,” tanya Kelvin seraya celingak-celinguk.
Steven pun terdiam, ia lalu menarik nafasnya perlahan. “Claudia udah bukan adik gua lagi. Yah begitulah ada sedikit konflik yang sudah terjadi tapi, sudahlah tidak perlu terlalu di pikirkan.”
Merasa sedikit tidak nyaman dengan Steven lalu Kelvin meminta maaf tapi, bagi Steven itu wajar seorang teman menanyakan tentang kehidupannya. Ia juga menceritakan sedikit yang sudah terjadi antara dirinya dan Claudia.
Begitupun dengan Brian, ia hanya mengangguk mengiyakan curhatan Steven. Lalu ia pun menceritakan bahwa Elie juga sudah tidak ada. Bedanya Elie telah pergi menghadap Tuhan.
“Lo kok bisa tahu sih kalau Elie udah mati, Brian?” tanya Reiner penasaran.
“Oh itu, waktu itu Vanny, istri gua nggak sengaja ketemu sama Claudia. Terus gitu deh Claudia curhat kalau Elie udah mati karena penyakit yang mematikan dan Lo tahu nggak, Kelvin?" cerita Brian sambil bertanya.
“Gua ngga tahu. Lagian belum Lo kasih tahu,” respon Kelvin.
“Elie sempat masuk rumah sakit jiwa dan Lo tahu kenapa dia gila karena ingat-ingat tentang Lo. Paling parahnya lagi dia bahkan bernafsu tinggi, setiap dia melihat Pria pasti bayangannya adalah wajah Lo sampai akhirnya Elie mengandung dan terkena penyakit karena sudah berhubungan dengan banyaknya lelaki,” cerita Brian sekilas.
“Apa? Sampai segitunya?! Aduh benar-benar yah itu orang ngga jera. Semoga amal baiknya bisa membantu ia masuk surga,” ucap Kelvin terkejut dan prihatin.
Steven hanya terdiam tanpa bersuara apapun. Pasalnya ia juga termasuk salah satu Pria yang menjadi korban hubungan dari kegilaan Elie. Ia tidak ingin malu jadi lebih baik memilih diam seraya menikmati cemilan di depan.
“Iya Vin, gua juga kasian sih pas denger kalau dia mati dalam keadaan mengenaskan seperti itu. yah sebagai mantan suaminya gua juga prihatin. Tapi, udahlah itu bisa jadi pelajaran buat kita biar tidak bertingkah bodoh tanpa berpikir dulu,” sahut Brian yang sangat bijaksana.
“Wah-wah Brother kita yang satu ini bijak banget! Mau dong di kasih motivasi dikit yah siapa tahu habis itu gua langsung ikutan muntah,” ledek Reiner dengan sengaja.
“Sialan Lo, Rei. Gua lagi serius tahu! Ah Lo jadinya hilangkan sikap bijaksana gua ini,” sahut Brian yang tidak ingin mengalah.
“Gua yang denger mau muntah beneran sekarang,” timpal Steven yang juga tidak ingin kalah.
Berbeda dengan Kelvin, ia hanya terdiam sembari memikirkan sesuatu.
‘Ya ampun, Elie. Aku tidak habis pikir cintamu sampai membuat dirimu sendiri menderita. Maaf, mungkin aku pernah menyakiti perasaanmu dengan menolaknya waktu itu tapi, aku tidak menyangka kalau akhirnya hidupmu sampai jatuh kedalam kegelapan tanpaku. Meskipun kamu wanita licik tapi, cintamu untukku begitu besar hingga aku juga pernah merasakan kenyamanan denganmu meskipun hanya sesaat. Semoga kamu di sana tenang dan aku juga sudah memaafkan semua dosa mu. Sebaiknya besok aku mengajak Viora untuk ke makam, Elie,' batin Kelvin.
***----------***
Kebahagiaan seseorang tidak ada yang tahu begitupun dengan kematian. Maka gunakanlah waktu sebaik mungkin untuk memberikan kasih sayang untuk orang tercinta. Jangan sampai seperti Elie yang melakukan segala cara untuk membuat orang terluka hingga pada akhirnya dia sendiri yang menderita.