
H A P P Y R E A D I N G
“Sama-sama, Nek. Yang terpenting nenek bisa makan yah,” sahut Viora sambil mengeluarkan uang.
Madam yang menyamar menjadi nenek-nenek akhirnya tersenyum sambil menerima uang tersebut.
Belum sampai Viora menarik kembali tangannya sudah di genggam oleh Madam. Hingga matanya Viora lurus menatap kedepan yang artinya dirinya sudah dalam pengaruh hipnotis dari Madam.
Alice celingak-celinguk melihat ke segala arah untuk memastikan bahwa tindak kejatahan mereka tidak ada yang tahu. Hingga akhirnya Viora di paksa masuk kedalam mobil yang sudah siap siaga tersedia untuk melancarkan aksi penculikan itu.
Wajah Alice bersama Madam tersebut setelah mereka berhasil menculik Viora. Tanpa melakukan hal berlebihan agar tidak repot hingga akhirnya mangsa pun tertangkap.
Alice langsung mengambil ponsel Viora untuk di padamkan agar ponsel tersebut tidak dapat di lacak.
“Madam, wanita ini ngga di buat pingsan aja? Lihatlah matanya netap begini jadi aku takut sendiri,” ucap Alice sambil terus melirik kearah Viora.
“Ya sudah kalau mau di buat pingsan pukul aja kepala bagian belakangnya entar juga dia bakalan pingsan,” sahut Madam memberi izin.
“Baik, siap Madam.”
Brug! Alice akhirnya melakukan sesuai yang dia inginkan hingga akhirnya Viora pingsan.
‘Rasain kamu emang enak! Makanya jangan macam-macam sama Alice. Tapi, apa setelah ini Alvero bakalan buang aku? Enggak-enggak, pokoknya gimana pun caranya aku harus tetap tinggal di rumah itu dan ngga boleh biarin itu terjadi,’ batin Alice cemas.
Mereka telah sampai di sebuah apartemen khusus milik Alvero. Mereka sengaja menculik Viora dan membawanya kesana demi rencana mereka berjalan lancar. Alvero sudah menantikan kedatangan kekasihnya meskipun dengan cara paksaan. Ia langsung membopong tubuh Viora yang belum sadarkan diri itu untuk ia bawa masuk kedalam kamar.
Alvero mengusap pelan rambut Viora sampai akhirnya dia pun kembali ketempat Madam dan Alice berada.
“Madam, ini bagiannya dan untuk Alice, ini untukmu. Silahkan di hitung jika merasa kurang bisa langsung sebutkan,” ucap Alvero sambil memberikan uangnya.
Senyum di bawah Madam begitu ceria saat menerima uang tersebut. “Baiklah tugasku sudah selesai jadi, lebih baik aku pergi. Oh ya dia nanti akan kembali mengingat apapun yang telah ia lewatkan jadi sebaiknya kalian mengunci pintu dengan rapat.”
Alvero dan Alice mengangguk bersamaan hingga mereka melihat kepergian Madam menghilang dari pandangan.
Alvero melirik kearah Alice. “Terus kamu ngapain masih berdiri di sini? Nggak ikutan pulang?”
“Enggaklah! Aku mau di sini aja. Kalau aku pulang berarti kalian bakalan tinggal berdua,” sahut Alice dengan kesal.
“Emangnya kenapa kalau kami cuma tinggal berdua cemburu ya? Lagian kerja kamu itu udah beres juga sudah terima upah jadi lebih baik pulang agar aku bisa berduaan dengan Viora,” perintah Alvero.
“Kenapa malah bengong?” tanya Alvero.
“Enggak! Siapa yang bengong. Aku itu cuma mau di sini aja lagian kalau pulang males apalagi ini masih waktunya kerja pasti nanti aku di tanyain lagi abis dari mana. Nah, kalau kayak gini bagus jadinya aku masuk besok kerja tinggal kasih alasan sakit aja,” jawab Alice dengan berbohong.
“Serah deh. Ya sudah kalau gitu lebih baik kita langsung masuk ke kamar untuk melihat Viora, ayo,” ajak Alvero sambil menggandeng tangan Alice tanpa ia sadar.
Alice tersenyum sendiri saat melihat tangannya berada dalam genggaman Alvero. Hingga akhirnya Alvero sadar dengan apa yang ia lakukan. Lalu dengan cepat Alvero langsung melepaskannya.
Mereka berdua terlihat sama-sama canggung setelah melepaskan genggaman tangan masing-masing. Mereka langsung menuju ke kamar di mana Viora di sekap.
Alvero mendekati Viora seraya duduk di sampingnya sambil sesekali mengusapkan pipinya. “Gadis manja, kenapa sih kamu lebih memilih Kelvin daripada aku? Padahal kalau di lihat-lihat aku nggak jauh beda ganteng sama dia justru aku jauh lebih tampan tapi, kamu bahkan pilih dia. Aku benar-benar nggak habis pikir.”
Alice mendengar itu langsung menahan tawanya. ‘Dasar kepedean! Jelaslah dia pilih Kelvin suaminya. Emang kamu yang cuma kekasih gelapnya.’
Tidak cuma sekedar usapan lembut dari Alvero. Namun, ia juga mencuri kesempatan untuk mengecup kening Viora. Sampai akhirnya Alvero beralih mencium bibirnya dengan begitu lama padahal Viora belum sadarkan diri. Semua ia lakukan langsung didepan Alice tanpa meminta Alice untuk keluar terlebih dahulu.
“Coba aja kalau kamu lebih pilih aku pasti kita sekarang udah hidup bahagia tanpa aku menculik mu seperti ini. Viora, bahkan setelah aku tahu kamu dengan Kelvin pernah berbuat tapi, aku juga tidak akan marah denganmu apalagi jijik dengan tubuhmu justru aku akan menerimamu walau bagaimanapun keadaanmu," sambung Alvero yang masih mengusap lembut pipi wajah Viora.
Jika tadi Alice menahan tawanya karena Alvero terlalu kepedean justru sekarang dirinya merasakan sakit bagaikan di tusuk ribuan jarum.
‘Alvero, apa sebegitu cintanya kamu dengan Viora? Sampai-sampai kamu tidak bisa melihat bahwa di sini ada aku yang selalu akan menerimamu meskipun kamu belum mau untuk mencintaiku,’ batin Alice.
Tanpa terasa air mata Alice perlahan jatuh saat dirinya melihat Alvero begitu sangat mencintai bahkan sepenuhnya perhatian dengan Viora. Dalam tatapan tajam Alice memandang kearah mereka berdua, air matanya terus mengalir sampai akhirnya Alvero tidak sengaja melirik kearahnya.
“Alice! Kok malah nangis? Kamu lagi sakit? Aneh banget tiba-tiba udah nangis,” tanya Alvero penasaran.
“Eh nggak kok cuma terharu aja dengerin kata-kata kamu buat Viora. Dia memang pantas untuk mendapatkan kasih sayang dari orang yang spesial sepertimu. Oh ya kayaknya aku harus ke kamar mandi dulu ya kebelet pipis nih!” ngeles Alice sambil beranjak keluar.
“Aneh banget! Udah tiba-tiba nangis malah sakit pipis hadeuh ... Udahlah mendingan sekarang cari pakaian sama makanan yang enak buat Viora. Sebentar yah sayangku, aku mau belanja buat kamu dulu. Semoga nanti saat kamu bangun, kamu suka dengan apa yang akan ku bawa,” ucap Alvero bahagia seraya meninggalkan Viora sendirian yang masih belum sadarkan diri.
...----------------...
Di dalam kamar mandi, Alice terduduk sambil terus menangis. Ia terus membayangkan perhatian Alvero yang begitu besar untuk Viora. Sampai-sampai Alvero begitu kekeh untuk membuat hubungannya kembali lagi. Merasakan kesedihan yang amat mendalam sampai membuat ia begitu terpukul.
“Aku kesal saat di depanku, kamu justru lebih memilih untuk selalu mengajak ribut bahkan hal sepele selalu kita perdebatkan tapi, didepan wanita itu kamu justru sangat romantis bahkan aku belum pernah melihat dirimu yang lain. Jujur, aku ingin menghilangkan semua rasa cinta ini tapi, rasanya sangat sulit justru itu semakin membuatku tidak tahan. Apakah memang aku harus selalu melihatmu bermesraan dengan gadis lain di depanku? Haruskah aku terus berpura-pura seakan tidak mencintaimu?” amuk Alice dalam tangisannya.