
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Zoya...." Viora berlari kearah aku dan Vanny sembari berteriak memanggil namaku.
Sungguh membuat panik orang saja, “Apaaih Viora? Kamu ini bikin kaget tau,” ucapku kesal.
“Maaf ... aku tadi denger kalau ada suara Kelvin diluar nah jadinya aku teriak biar dia kaget terus pasti nanti dia kepoin siapa yang teriak, nah habis itu aku ngumpet deh ...,” ucap Viora dengan sesuka hati.
“Duh Viora, kamu bisa nggak pikirin hal yang bener? Ah kamu rasanya pengen ku makan,” sahut Vanny yang ikut-ikutan tidak waras seperti Viora.
“Hadeuhh kalian aneh tau nggak, by the way nih aku punya rahasia dan mau aku kasih tahu, mau denger ngga rahasianya apa?” tanyaku dengan cerita.
‘Eh tunggu-tunggu kalau aku bongkar sama Viora, kenapa sikap Kelvin bisa baik gitu ke Elie gara-gara rekaman, ah nggak boleh, tetep nggak boleh tahu, dia kan ABG ngga sepantasnya dia tahu apalagi bakalan jelek-jelekin nama baik Kelvin, duh ... Zoe jangan bodoh dan jangan ceroboh,’ batinku mencoba berpikir sesuatu hal yang salah.
“Rahasia apa sih? Kaya serius gitu, jadi penasaran nih ayo ... cepet cerita,” desak Viora terus memaksaku.
“Eh tunggu bukannya kalau rahasia itu artinya ngga bisa dibilangin yah, kok kamu malah mau bilang?” tanya Vanny dengan polos, jelas saja itu membuat keuntungan untukku.
“Wah pinter ... karena rahasia jadinya aku tarik lagi kata-kataku tadi, aku nggak akan ceritain.” Keberuntungan memang berpihak denganku.
Raut wajah Viora terlihat murung sepertinya ia kecewa tapi sudahlah itu lebih baik daripada ia harus kecewa dengan hal yang lain.
Vanny datang hanya untuk mengunjungi ku, akhir-akhir ini ia sangat suka datang ke rumahku meskipun aku tidak berada di rumah ia hanya menunggu di luar tanpa berani masuk kedalam biarpun para geoubu (asisten rumah tangga) sudah terus-menerus menyuruhnya untuk masuk, katanya ia tidak berniat masuk jika aku tidak berada di dalam.
Tak ada hal menarik yang kami lakukan hanya duduk sambil mengobrol. Begitupun dengan Viora, semenjak ia pindah ke rumahku, Viora lebih banyak diam, ia tidak cerewet seperti yang Kelvin katakan tapi aku percaya dia gadis yang kuat meksipun ia sempat mengurung diri di kamarnya tapi sekarang dia sudah mau keluar dan bergaul bersama kami.
* * * *
(Eliezer)
Aku sangat kesal melihat kedatangan Zoya didekat Kelvin, aku tidak suka mereka berdekatan meskipun tidak melakukan hal yang bukan-bukan tapi tetap saja aku marah, kesal melihat dirinya.
Saat ini aku dengan Kelvin sedang mencari tempat makan sebelum kembali ke kantor dan jam istirahat siang habis. Dalam mobil tak ada sepatah katapun yang Kelvin ucapkan denganku, juga tak ada sapaan. Aku merasa dia sangat aneh tidak biasanya ia diam seperti itu.
Perlahan aku mencoba mendekatinya lalu memegang pipinya saat Kelvin sedang fokus menyetir tapi bukannya senyuman yang ia tunjukkan melainkan tepisan tanganku dari wajahnya.
“Apa kamu tidak liat aku sedang melakukan apa? Sebaiknya jangan terlalu banyak bercanda aku sedang fokus!” bentak Kelvin dengan tegas.
“Vin, tapi ... aku tidak bercanda, hanya rindu ingin menyentuhmu itu saja,” sahutku membela diri.
“Apa maksudmu, Vin jangan aneh-aneh!”
Aku berteriak saat merasakan kecepatan mobil yang Kelvin bawa melewati batas, sebab siang bukan waktu yang cocok untuk balapan. Dengan penuh kecepatan tinggi tanpa mendengarkan orang lain ia terus berusaha membuatku takut.
“Kelvin hentikan! Aku mohon! Kau jangan gila ....” Meskipun aku terus berteriak tapi Kelvin peduli seakan tidak ada orang lain yang sedang bersamanya.
Syukurlah Tuhan masih berpihak denganku, kami tidak terjadi apa-apa meskipun Kelvin telah hilang kendali dengan mobilnya. Ia terlihat kesal, ia turun tanpa menungguku turun lalu pergi memasuki tempat makan sendirian meninggalkan aku yang masih berusaha mengejarnya.
Sampai di restoran pun tak ada hal menarik, Kelvin tidak ngobrol denganku, tidak juga melihatku. Dia seperti tidak menganggapku ada disampingnya.
“Kelvin ... apa kamu sedang ada masalah? Perasaan sejak tadi kamu mengabaikan aku,” tanyaku berusaha mencairkan suasana.
“Aku lapar hanya ingin makan, kau paham?” ucap Kelvin yang membuatku sangat bingung.
“Tapi Kelvin, aku tidak mau kamu abaikan, sejak dari rumah Zoya pun kamu terus bersikap aneh tidak seperti biasanya,” ucapku terus bersikeras dan tidak ingin mengalah.
“Jika kamu terus mengajakku ribut, aku pergi bye,” ucap Kelvin seraya mengeluarkan uang lalu menaruhnya tepat dimeja dan pergi meninggalkan aku sendirian.
Para karyawan yang ada di restoran itu pun semuanya melihat kearahku, karena tidak ingin menjadi bahan perhatian mereka aku pergi dan berlari mengikuti Kelvin. Meskipun diabaikan aku terus mengejar Kelvin sampai masuk kedalam ruangan kerjanya.
Melihat Kelvin yang berjalan menuju tempat duduknya dengan cepat aku berusaha menghentikan langkahnya dengan memeluknya dari belakang. Terus memeluknya tanpa ingin ku lepaskan tapi cengkraman tangan Kelvin berusaha untuk melepaskan diriku hingga membuatku terhempas Kedinding ruangan.
“Apa kamu tidak liat aku sedang ingin bekerja? Kalau kamu ingin terus dilayani sana cari pria lain dan bersenang-senanglah setiap yang kamu mau karena aku tidak bisa membagi waktu hanya untukmu, kamu paham bukan maksudku? Seharusnya kamu paham karena kamu bukan gadis kecil yang bisa bermanja-manja denganku dan bisa sok polos di depanku,” ucap Kelvin dengan tegas tanpa membantuku yang sudah terjatuh karenanya.
Perlahan aku bangun dan tidak suka melihat Kelvin terus-menerus menentang ku, “Apa maksudnya sekarang ini Kelvin? Kenapa tiba-tiba sikapmu berubah? Aku tahu pasti kamu sedang memikirkan gadis kecil bodoh mu itukan? Dan lagi Zoya juga pasti sudah menghasut mu karena sejak ia datang kamu bahkan sama sekali tidak ingin melihatku.”
“Hey! Apa kamu buta Elie?! Aku sudah KATAKAN aku tidak ingin kamu ganggu karena aku ingin bekerja! Keluar atau aku akan menyeret mu dengan paksa,” Bentakan Kelvin justru membuatku semakin yakin bahwa mereka telah mencoba membuat Kelvin ku menjadi benci denganku sekarang.
“Aku tidak mau keluar, usir saja aku tapi sesuatu hal yang menarik akan terjadi,”
“Kamu memang licik! Hal menarik apa yang akan kamu lakukan, katakan Elie jangan membuat kesabaran ku habis, ah yah asal kamu tahu bahwa aku sudah menyiapkan pistol untukmu.”
* * * *
Haruskah dengan kekerasan baru membuatmu mengerti bahwa aku di sini selalu menginginkan kehangatan mu, tubuhmu sudah menjadi obat untukku saat kedinginan tapi kau justru menghindar tanpa mengajakku.
≈≈≈≈≈≈
Bagaimana kesan kalian untuk ini? Maaf. jika tidak sempurna, pikiranku sedang melayang haha.