Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 40. Kekesalan


"Senang ya kalau ketemu pria lain," ungkap Reiner. Aku sangat heran dengannya dan sekarang apa maksudnya dia berkata begitu? Aku menarik nafas dalam-dalam.


Apa maksudnya kini? Sejak kapan aku bersenang-senang dengan pria lain. Aku pun duduk disampingnya. "Maksudmu apa mas?"


"Kenapa kau tanyakan padaku! Tanyakan sendiri pada dirimu," ungkap Reiner dan pergi meninggalkan ku yang masih duduk mematung.


Aku pun berusaha mengejarnya. "Maksudmu apa mas? Sejak kapan aku bermain dengan lelaki lain! Dan kenapa tiba-tiba sikapmu jadi berubah begini?"


Dia mengusap wajahnya cepat. "Aku sudah bilang bukan jangan tanyakan itu padaku! Seharusnya kau sadar apa maksudku ini Zoe!" ucapnya geram.


Aku bingung harus mengatakan apa, secara diriku yang aku tahu tidak salah apa-apa. Lalu kenapa sikapnya bisa seperti ini? Seharusnya aku yang sedang marah dengannya bukan malah sebaliknya. Aku pun tidak ambil pusing lalu aku berjalan melangkah meninggalkan tempat semula aku berdiri bersamanya.


Saat langkahku semakin jauh darinya, tiba-tiba ia menarik tanganku membuatku mematung. "Sayang, kumohon jangan pergi saat sedang ada masalah!" ungkap Reiner memohon tapi juga geram.


"Terserah mas! Aku kecewa denganmu." Aku berlari sambil menangis dari hadapannya, memasuki kamarku dan kudengar langkah kakinya berusaha mengikuti ku.


"Sayang! Keluarlah jangan mengurung diri dalam kamar seperti itu! Kau sedang mengandung, pikirkanlah dirimu juga anak kita, ayolah jangan terus marah denganku," ucap Reiner sambil mengetuk pintu dari luar.


Haruskah aku terus seperti ini dengannya? Menahan lalu menangis, sanggupkah aku menanggung semuanya sendirian, kalau harus mengingat kisah cintanya yang dulu, hingga mereka sudah berhubungan terlalu jauh sampai-sampai aku percaya padanya bahwa dia tidak pernah berbuat apa-apa. Lalu sekarang ini apa sungguh aku sangat bodoh karena cinta ini.


---------------------------------------------


Reiner terus-menerus membujuk istrinya agar mau keluar dan menjelaskan apa sebenarnya yang sudah terjadi, ia terus mengetuk pintu dan menunggu sampai Zoya membuka pintu dengan ikhlas. Bukan Reiner namanya jika dia harus menyerah dengan keadaan.


Seorang wanita cantik terduduk dalam tangisnya, ia meratapi semua kesedihan mengingat dengan masa lalu suaminya. Istri mana yang tidak kecewa jika melihat suaminya bersama orang lain, meskipun hanya sebuah gambar tapi baginya itu terasa nyata dan ia sangat tersakiti.


Perasaanya yang sangat rapuh, lalu kembali di goresankan dengan luka yang lebih sakit, amat pedih hingga ingin membuatnya menyerah. Rasa cinta yang terlalu kuatlah membuat ia harus bisa bertahan meskipun hatinya ingin berkata menyerah dan pergi ke lain arah. Andai ia bisa berlabuh pergi dan mencari pemilik hatinya yang lain.


Zoya ingin jujur, mengeluarkan semua kesedihannya kepada Reiner, tapi hatinya berkata tidak! Seharusnya ia menerima semua kesakitan sebab ia sudah melihat kebelakang. Namun yang namanya cemburu tidak akan bisa dilawan dengan sebuah kata-kata.


--------------------------------------------------


Seorang wanita berpenampilan indah seperti model kalangan atas, sedang terduduk menikmati segelas kopi ditangannya, ia tersenyum bahagia. Sedikit demi perlahan ia berhasil membuat semuanya berpihak kepadanya. Tanpa harus membuat tangannya kotor terlebih dahulu.


Elie tahu jika rumah tangga mantan kekasihnya sedang diuji dengan bertubi-tubi masalah sebab ia memiliki satu orang rahasia menjadi penyamar ditempat Reiner. Senyumnya tidak pernah putus, antara ia bahagia dan juga senang bisa kembali berduaan dengan mantannya meskipun hanya sesaat.


Ia terus memperhatikan gambarnya yang ada di layar ponselnya. "Andai dulu kamu ngga ninggalin aku Rei, kita bisa nikmati keindahan tubuh masing-masing seperti ini bukan? Tapi apa yang aku dapat darimu padahal aku sudah memberimu hati dan bisa mencintaimu meski dendam ku ada didalamnya," ucap Elie.


Elie tidak tahu jika dibelakangnya sudah ada Brian yang berdiri. Ia terus berbicara sendiri dengan gambar yang ada di genggaman tangannya, Brian melihat semuanya, ia mengepalkan tangannya, dahinya yang terus berkerut, amarahnya memuncak ingin langsung menghajar wanita didepannya ini yang sudah menjadi miliknya.


‘Elie! Kau sudah membohongiku mentah-mentah rupanya, dan lagi kau bermain di belakangku.’ Batin Brian. Ia terus melihat apa lagi yang akan dilakukan wanita di depannya itu.


Dan lagi terus-menerus Elie melihat gambarnya, bisa dihitung jika gambar itu sangat banyak dan ia menyimpannya sebagai kenangan untuknya juga untuk membuat Zoya menderita. Saat hendak ia melihat yang kesekian kalinya. Brakk! Ia sungguh terkejut dan hampir ponselnya jatuh dari genggaman tangannya. Brian memukul pintu dengan suara yang keras.


Elie mematung melihat Brian. ‘Oh Tuhan, sejak kapan dia berdiri didekat ku.‘ Ia mencoba mendekatinya, dan ingin menyentuh wajah pria itu. Plak! Satu tamparan mendarat di wajah Elie. Hingga membuat wajahnya berpaling kearah lain.


"Apa maksudmu ini Brian? Kau suka sekali menamparku!" ucap Elie geram.


Brian mendekati wanitanya, ia tersenyum mengerikan. "Kau! Kau pikir bisa lari dariku Elie! Kau mencoba menipuku," ucap Brian dengan amarahnya memuncak.


Wajah Elie pucat, ia gelagapan harus menjawab apa, melihat Brian yang sudah sangat marah dan seperti ingin membunuhnya. Matanya melotot, ia ingin kabur daripada harus menghadapi amarahnya pria itu, bisa-bisa ia dijadikan daging cincang.


Saat hendak Elie ingin lari dengan cepat Brian menahannya dan memegang wajah wanita itu dengan keras. "Jelaskan padaku! Sejak awal aku sudah curiga denganmu, apalagi saat kau pergi tapi tidak boleh aku mengikutinya dan lagi kau pergi tidak tepat waktu pulang," ucap Brian kesal.


Elie berusaha melepaskan tangan Brian dari wajahnya, dengan pelan pria di depannya melepaskannya. "Maaf sayang, aku tidak bermaksud untuk membohongimu, aku akan menjelaskan semuanya."


Brian tersenyum sinis. "Kau pikir aku akan mudah percaya denganmu setelah semuanya kau perbuat dan lagi ternyata kau sudah tidur dengannya!"


"Cihh! Brian, jangan kau pikir kau sangat baik dan tidak pernah bermain wanita dibelakang ku, justru kau lebih jahat dariku, aku tahu kau sering bermalam didalam Club dengan para wanita-wanita bayaran," ucap Elie geram dan mengungkapkan sebuah fakta.


Brian mengusap wajahnya kasar. "Kau balik marah denganku, kenapa sekarang kau katakan itu? Bukannya kau tahu kalau itu sudah sangat lama sebelum kita memutuskan untuk bersama, jangan berbalik menyalahkan aku jika kau sendiri tidak ingin nantinya menanggung semua."


"Baiklah aku tidak akan menyalahkan mu tapi tolong berikan ruang untuk aku menjelaskan semuanya," ungkap Elie mencoba membuat Brian tenang.


"Kau ingin jelaskan apalagi Elie? Aku sudah tahu semuanya tanpa kau jelaskan apapun!"