Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 116 Debay kembar


Happy reading


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


Merasa takut karena dikabarkan seorang Pria pengacau datang lagi, tentu saja aku dan suamiku ketakutan. Sebab Brian sudah berdiri diluar tapi tidak sendirian melainkan dengan seorang Pria namun kami tidak mengetahui itu siapa. Reiner tahu akan ada masalah yang datang dengan cepat dia berdiri di depanku agar aku merasa terlindungi.


“Mau apa lagi Lo kesini?” tanya Reiner.


“Bro, gua kesini mau minta maaf. Gua salah udah datang kesini terus acak-acakan rumah Lo dan ini gua bawa sedikit biaya buat ganti semua kerusakan yang gua buat di sini. Oh ya satu lagi tolong sampaikan permintaan maaf gua ke Kelvin, gua janji biaya perawatan dia bakalan dua tanggung juga biaya kematian atas seorang pelayan yang sudah gua tembak. Pliss Rei ... gue merasa bersalah banget.”


Brian datang meminta maaf langsung sembari memberikan sejumlah uang yang sangat banyak. Entah mimpi apa dia semalam hingga sangat baik seperti ini. Reiner pun mengambil uang tersebut karena memang alat alat di dalam kediaman kami rusak parah akibat ulahnya.


“Lo sekarang udah sadar, gua maafin Lo kok karena Lo itu cuma kesalahan pahaman dari orang yang tidak bertanggung jawab. Yaudah kalau gitu gua buru-buru nih istri gua mau kerumah sakit gak papa 'kan?”


“Oh yaudah Rei, ngga apa kok gua juga mau pulang nih mau istirahat, kalau gitu gua pulang dulu yah sampaikan salam gua buat Kelvin!” ucap Brian lalu pergi dari kediaman keluargaku.


“Okay hati-hati.”


Ada rasa senang melihat Brian datang untuk meminta maaf. Meskipun dirinya memiliki karakter yang berbeda dari orang normal lainnya. Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit kandungan. Hanya waktu beberapa menit kami sudah sampai di rumah sakit.


Aku dan Reiner langsung menuju ketempat di mana kandungan bisa diperiksa alias ruang praktek kandungan. Dokter lalu mengecek semuanya sampai memperlihatkan hasil pengecekan yang hasil normal.


“Sayang ... apa nggak sebaiknya kita cek jenis Debay? Soalnya aku mau tahu apa mereka laki-laki atau perempuan?” tanya Reiner karena penasaran.


“Boleh kok Bee, mumpung kita lagi di sini.”


Dokter langsung melakukan pengecekan untuk mengetahui jenis kelamin. Kami dan Reiner sangat berdebar-debar menantikannya. Saat hasil cek memperlihatkan dua calon bayi yang sedang saling menendang, membuat kami tersenyum bahagia.


“Selamat yah anak Tuan dan Nyonya berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. Saya turut senang, oh ya kehamilan Nyonya tinggal sebulan lagi tapi saya bisa memprediksi bahwa mungkin saja kelahiran bayi ini tepat lebih dari lima belas hari itu artinya masuk sekitar tanggal ke–20 yah tapi biasanya ada yang tepat ada yang tidak, sebaiknya Nyonya mulai mempersiapkan diri untuk jangan terlalu banyak melakukan aktivitas hubungan intim tapi lebih banyak berolahraga dan jalan-jalan karena untuk memperlancar proses kehamilan nanti,” ungkap Dokter itu panjang lebar.


“Baik Dok, terimakasih banyak yah,” ucap Reiner lalu berjalan lebih mendekat kearahku.


“Sama-sama Tuan, baik kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Dokter lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Aku bangun dibantu oleh Reiner, ia langsung memelukku dan menghujamkan banyaknya ciuman bibir untukku. Tentu saja aku langsung membalas perlakuan manis suamiku ini karena betapa bahagianya kami akan memiliki sepasang anak nantinya.


“Sayang ... nanti jagoan ku biar aku yang kasih nama, nah kalau yang princess itu namanya dari kamu yah sayang, aku seneng banget kamu emang paling bisa nyenengin aku,” ucap Reiner yang tiada hentinya memelukku.


“Iya Bee, aku juga seneng tapi kamu jangan minta jatah yah sama aku,” timpal ku berusaha mengancam.


“Tapi Bee ... kamu dengerkan Dokter itu bilang kalau jangan terlalu sering berhubungan dulu, pliss jangan geliin aku nanti aku capek sendiri Bee hadapin kamu.”


“Yaudah sayang gini aja, karena aku suami yang baik untuk kamu jadi biar dedek kecilku bisa tidur tenang di bawah, pas tidur kamu kasih lubang bayi yah, ngga sering kok sayang seminggu sekali deh selebihnya kita main biasa aja ya sayang, pliss.” Reiner terus memohon agar dirinya tidak hilang dari kehangatan tubuh ini.


“Baiklah Bee, suami mesum ku emang nggak bisa dibantah, yaudah yuk kerumah sakit jenguk Kelvin.”


“Iya sayang, ayo.”


Ada rasa senang atas kabarnya dari calon bayi kembar. Juga rasa bahagia memiliki suami yang baik meskipun mesumnya kebangetan, meski begitu aku bahagia. Sudah kodratnya suami istri saling memberi kepuasan meskipun dalam keadaan seperti ini karena aku tidak mau sampai menelantarkan kewajiban ku sebagai istri yang memang harus melayani dirinya untuk terpuaskan.


Kami lalu pergi kerumah sakit hanya untuk menjenguk sebentar. Setibanya Kelvin sedang sibuk dengan ponsel di tangannya begitupun Vanny yang sudah tertidur di sofa mungkin karena kecapean berjaga merawat Kelvin sampai dirinya tidur dan tidak menyadari kami datang.


Aku langsung berjalan kearah Vanny sengaja untuk membangunkan dirinya. “Van, bangun ... hey bangun ....”


Setelah lelah membangunkannya ia akhirnya bangun dan melihat ke sekeliling sambil tersenyum. “Eh Zoya, udah lama datangnya?”


“Enggak kok baru datang, keliatannya kamu capek banget sampai ketiduran. Gimana kalau langsung pulang terus istirahat di rumah biar Kelvin nanti kami yang jaga lagian nanti kalau kamu sakit kami merasa bersalah.”


“Baiklah Zoe, aku pamit pulang dulu yah. Reiner, Kelvin. Aku pamit pulang dulu bye-bye.”


“Hati-hati ya Van, makasih udah jagain aku,” ucap Kelvin.


“Iya Vin, sama-sama. Bye semua,” ucap Vanny lalu beranjak pergi.


“Bye-bye!” teriak kami bersamaan.


Aku berjalan mendekat kearah Kelvin. “Gimana keadaanmu udah agak baikan belum?”


“Udah Zoe, kakiku juga udah agak enakan di gerakin, oh yah nanti langsung pulang aja soalnya aku nggak mau kamu yang jagain aku dalam keadaan hamil besar begini di sini juga rame pelayan jadi aku bisa minta bantu ke mereka. Rei, bawa istrimu pulang nanti yah jangan jagain gua.” Kelvin merasa tidak nyaman denganku.


“Iya Vin ... tenang aja kok aku bakalan pulang. Oh yah tadi Brian datang ke kami terus dia katanya minta maaf sekaligus dia nitip uang banyak banget! Buat biaya kamu juga biaya pemakaman pelayan rumah kamu itu.”


“Brian! T–tapi kok tiba-tiba aneh banget Zoe, aku masih ngga percaya deh.”


“Sama Vin, aku juga nggak percaya tapi gimana lagi dia sendiri merasa bersalah dengan apa yang udah dia lakukan sama kita. Udah ... kamu jangan banyak mikir gitu, Brian udah minta maaf, kamu harus maafin dia tapi juga jangan terlalu dekat nantinya aku takut saat keterbelakangan mentalnya kambuh lagi.”