
Happy reading.
* * * * * * * * *
“Kamu sih curhat aja bisa lupa Mas, emang apasih mau kamu ceritain?” aku menyimak lalu pindah posisinya kedalam rangkulan suamiku.
“Anu sayang ... se–sebenarnya beberapa hari ini aku ketemu teman lamaku, kami sempat ngobrol banyak dan juga aku membantu dia mencari apartemen untuk ia tempati lalu sekarang dia sudah masuk di perusahaan kita, bukan apa-apa sih sayang, mereka cuma teman sekolahku dulu tapi aku hanya ketemu sama satu orang, satu lagi nggak ketemu, aku cuma mau curhat itu aja.”
“Oalah Mas ... aku pikir kamu mau curhat apa, sampai aku dengernya tegang sendiri,” sahutku santai seraya tersenyum manis.
“Udah jangan terlalu pikirin sayang ... aku cuma iseng aja kok,” sambung Reiner seraya mengusap rambutku.
“Mas ... aku seneng .... banget hubungan kita udah harmonis dan juga kita sebentar lagi si kembar bakalan lahir, aku mau di ujung nama anak kita nanti ada nama gabungan kita, kamu tahukan maksudku ayo ... buatin nama gabungan kita ....”
Entah angin apa aku ingin memiliki nama gabungan antara aku dan Reiner, mungkin saja faktor dari kehamilanku ini. Aku terus merengek-rengek agar dibuatkan sedangkan Reiner hanya tersenyum seraya berusaha menggodaku.
“Tumben banget sayang mau ada nama gabungan, lagi minta sesuatu ya ... alesan 'kan? Udah ayo ngaku .... aku bakalan turutin kok yang.” Reiner terus menganggap aku seakan berbohong dengannya dan tidak henti-hentinya ia mencoba mengambil kesempatan agar bisa menyentuhku.
Reiner sangat menyebalkan, aku berusaha memasang raut wajah kesal serta melipatkan tangan di dadaku, “Isss Mas ... aku cubit nih kamu serius dong sayang ....”
Bukannya peduli dengan ucapanku, Reiner terdiam seraya tersenyum dan menatap wajahku dengan pandangan yang sulit ku mengerti hingga membuatku malu.
‘Duh ... pasti wajahku udah kaya kepiting rebus nih, ah jahat kamu Mas, aduh gimana ini padahal udah lama nikah tapi aku masih malu kalau di tatap gini .... duh semua cewek juga baper liat wajahmu Mas,’ batinku mencoba menahan senyum.
“Kenapa diem? Pakek nahan senyum lagi cieee sayangku malu ya ... aduh muka kamu udah merah sayang, sini aku cium biar merahnya tambah manis,” goda Reiner membuat tawaku pecah, sangat susah aku menahannya tapi akhirnya aku tertawa ngakak di depannya.
“Ihhhh ... Mas ngeselin banget sih, aku malu tahu,” ucapku seraya menutup wajah dengan kedua tanganku.
Tidak ada terdengar jawaban darinya tapi tiba-tiba Reiner membuka mataku lalu mendekatkannya seraya memberikan kecupan tepat pada kedua pipiku di lanjut bibirku.
“Aaaa*mmmuucaahh sayang ... senengkan? Sini peluk yang. Oh ya masalah nama gabungan nanti aku coba pikirkan yah sayang, kalau sekarang jangan mikir dulu soalnya aku capek nih tadi di kantor sibuk banget, kamu ngga marahkan?”
“Iya Mas, aku nggak marah kok. I love you sayang.”
“Love you to sayang ....” Kami tersenyum bahagia sambil saling berpelukan.
-------------------------------------------
(Kelvin Marble)
“Hay pangeranku apa kabar? Kuharap kamu baik-baik saja setelah kepergian ku ini. Maaf sudah menganggu hidupku, maaf sudah menyusahkan mu, dan maaf sudah mencintaimu ... aku tahu bahwa aku telah salah menaruh hati padamu, seharusnya dari dulu aku sadar gadis kecil ini sangat tidak pantas bersanding denganmu tapi sekarang Pangeran jangan lagi takut tidak akan ada gadis bodoh di dekatmu.
Salam cinta dari Viora, gadis bodoh milikmu.”
Kutemukan sebuah surat saat sudah kepergian Viora, aku sedang membacanya tanpa terasa tetesan air mata jatuh di wajahku. Aku tidak tahu dia sebegitu mencintaiku. Kupikir ia menganggapku sebagai teman. Sikapnya kekanak-kanakan ternyata sengaja ia tunjukkan agar aku bisa melihat lalu perhatiaan dengannya.
Wanita kedua setelah Zoya yang bisa membuat air mataku menetes. Entah memang aku mencintainya ataupun tidak, Aku tidak tahu pasti perasaan apa yang sudah ada saat ini, setelah kepergiannya aku merasa sesuatu barang berharga telah menghilang dariku, aku merasakan sakit apalagi setelah berulang kali membaca tulisan kecil darinya serta melihat photo photo yang pernah ada saat kami masih bersama justru membuatku tambah sakit.
“Viora ... kamu sangat kekanak-kanakan! Seharusnya kamu jangan pergi agar kita bisa selesaikan dengan baik, maafkan aku gadis kecil,” gumam ku tak berdaya.
Aku sudah bersalah dengannya, seharusnya aku tidak sekasar itu, seharusnya aku bisa menahan emosi. Dia gadis baik dan sedang tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik, kenapa aku begitu bodoh sampai tidak bisa paham bahwa dia memang bisa kapan saja labil.
“Maafkan aku ... gadis kecil, a–aku sekarang menyadari bahwa kamu seseorang yang penting untukku, maaf .... aku tidak bisa menjagamu dengan baik.”
Aku terus mengutuk diriku sendiri, meminta maaf pada diri sendiri hingga membuatku frustasi lalu mencoba keluar dari kamar dan pergi ke ruangan lain.
Tapi bukannya mendapatkan ketenangan justru hal yang sama, aku sangat ingin bertemu dengannya, memeluknya lalu meminta maaf. Pikiran tidak menentu, hanya bisa mondar-mandir agar mendapatkan solusi untukku sedangkan Elie hanya duduk menatap aku yang sejak tadi linglung tidak jelas.
Kepergian Viora justru membuatku panik kemana gadis itu pergi? Dia tidak memiliki siapapun orang yang ia kenal di sini, aku pun sudah mencoba menghubungi Zoya tapi tetap saja dia tidak ada di sana, aku percaya Zoya berkata jujur dan tidak membohongi ku.
* * *
Kemana lagi aku harus mencarimu?
Lalu membawamu dalam pelukku
Dan menenangkan dirimu dalam tangis karmaku
Sayang ... pulanglah dan peluklah aku
Di sini aku menantimu
Pulanglah aku akan mendekap mu
(Kelvin–Viora)
≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo, bagaimana kesan kalian untuk episode ini? Berikan kesan di bawah sayang aku mohon. Ah ya aku mau nanya nih cocoknya nama gabungan Zoya sama Reiner apa yah?
Zoya Khalisa & Reiner Joe \=( Reikha, Reisa, ReiKhal, ZoRei, Joekhal) Silahkan dipilih guys*