Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 107 Tidak karuan


Happy reading


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


“Rei, gua seneng banget kita bisa kaya dulu lagi, by the way gua boleh peluk Lo nggak? Yah sebenernya gua kangen sama Lo,” ucap Claudia setelah kami bersulang bersama.


“It's okay. Gua juga kangen sama Lo.”


Claudia bangun dari duduknya, lalu berjalan lebih mendekat kearahku dan ia memelukku. ‘Aku tahu Claudia wanita yang kuat, ia mampu melewati semua kekelaman dalam hidupnya dulu padahal jelas-jelas itu sangat berat mulai dari penyakitnya hingga masalah keuangan, siapa pun dia jika menyangkut duit pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa,’ batinku saat sedang membalas pelukannya.


‘Rei, Lo kok makin ganteng yah, aduh gua berdosa ngga yah kalau saat ini gua harus egois. Steven benar apa dia bilang mungkin setelah gua bertemu dengannya cinta ini semakin sulit untuk dilupakan,’ batin Claudia.


“Ehmm! By the way kok gua jadi dingin yah? Aduh ... ngeliat dua orang yang dulu saling cinta sekarang udah bertemu,” canda Steven yang sedang melihat kami berpelukan.


Ucapan Steven membuat kami tersentak hingga melepaskan pelukan masing-masing. Aku sendiri juga sedikit canggung karena sudah lama tidak bertemu.


“Hey Steven! Bisa diem ngga Lo? Ah ganggu. banget ihh,” protes Claudia yang sedikit merajuk.


“Gitu aja merajuk, udah dong adik cantik yang imut-imut marahnya nanti lagi yah,” canda Steven seraya menjentikkan jarinya tepat di kepalaku.


“Dasar ... kakak ngga tahu diri,” rengek Claudia seraya memengang keningnya.


Kami semua tertawa semua. Kegembiraan hadir di tengah-tengah pertemanan ini, aku pikir setelah bertemu dengan Claudia, cintaku akan berpaling untuknya tapi ternyata tidak. Bahkan setelah berpelukan dengannya tidak ada sedikitpun lagi perasaan yang tersisa, tak ada hati yang berdebar-debar seperti pertama jatuh cinta.


Berarti dulu aku hanya cemas karena sudah lama tidak bertemu dengannya bukan karena cinta. Rasa kekhawatiran yang terlalu besar membuatku hingga terus memikirkan dirinya dulu tapi sekarang aku menyadari cintaku tetap untuk istriku padahal aku sudah menguji apakah cintaku akan berpaling ataukah tidak.


Kami melanjutkan pertemuan dengan bersenda gurau, Claudia sendiri menceritakan banyak hal mulai dari ia menghilang, berkorban demi melawan penyakitnya sampai ia mendapatkan biaya untuk pergi mengejar mimpinya. Aku tahu dia wanita yang tangguh. Berbeda dengan Steven yang memang sudah memiliki keluarga dengan kekayaan nenek moyangnya, dia lebih banyak mendengar sesekali ia protes dengan apa yang dikatakan oleh Claudia.


Aku sempat mengajak Claudia untuk satu Perusahaan denganku tapi dia menolak lantaran dirinya masih menempuh studi untuk menjadi dokter. Padahal aku berniat untuk membantunya agar ia lebih bisa dekat dengan Steven juga aku. Tanpa ia harus membuang-buang waktu lagi agar menjadi apa yang ia inginkan tapi itu semua ku serahkan pada dirinya.


Waktu berjalan sangat singkat, tidak terasa pertemuan kami begitu cepat berakhir. Aku harus pamit pulang karena tidak mungkin meninggalkan istriku terlalu lama.


“Clau, gua keknya harus pulang deh, ngga enak banget nih kalau telat pulang takut marah istri,” ucapku seraya tersenyum.


“Cie ... sayang istri ternyata, aduh .... kepengen deh jadi istri kamu, jadi yang kedua juga ngga apa-apa, eh ma–maksudku ngga gitu kok Rei haha becanda doang mah,” timpal Claudia asal bicara.


“Alah palingan juga demen, pakek bercanda lagi kebiasaan emang. Udah deh Rei ... jangan dengerin banget Claudia suka ngga jelas kalau ngomong, yaudah yuk kita pulang, gua anterin Lo,” tangkas Steven yang tidak ingin mengalah mengledek Claudia.


“Haha iya Steven benar kok, yaudah kalian pulangnya hati-hati yah, semoga selamat di jalan,” ucap Claudia seraya mengantar kami sampai didepan pintu apartemen.


“ Bye-bye.” Claudia juga melakukan hal yang sama.


Aku dan Steven sedang dalam perjalanan menuju ke kediamanku. Ia melirik kearahku, “Gimana pas udah ketemu? Seneng ngga Lo?”


“Gua pastinya seneng apalagi kita temenan udah kaya dulu lagi, tapi yang buat gua sedikit kesal yah karena itu cara kalian ngerjain gua sih itu aja soalnya gua ngga bawa persiapan apapun, pistol juga ngga.”


“Sorry yah bro udah buat Lo kesel kaya gini tapi gua bersyukur kita udah kembali yah meskipun baru tapi gua yakin pertemanan kita bakalan utuh dan gua harap ngga ada masalah apapun antara Lo sama Claudia nantinya karena gimanapun gua yang bingung berpihak sama kalian, satu sisi udah kaya adik sendiri dan satu sisi lagi Lo udah kaya saudara gua, jadi ingat pesan gua sebisa mungkin jaga hubungan kita,” pesan Steven yang tidak ingin terpecah-belah.


“Makasih bro, Lo emang sahabat yang baik.”


“ Sama-sama bro.”


Steven lalu memfokuskan dirinya untuk terus menyetir, sedangkan aku lebih memilih tidur agar tidak terasa apabila sampai kerumah.


------------------------------------


(Claudia Siregar)


Dua pria yang menjadi kesayanganku sudah pergi. Steven hanya mengantar Reiner. Aku sendiri menatap jauh kedepan membayang wajah Reiner masih berada di dekatku. Harum wangi tubuhnya masih bisa ku hirup, aroma wangi itu jelas membuatku semakin ingin terus bersama dengannya.


“Reiner semakin tampan dan juga menggoda, Zoya sangat beruntung mendapatkan pujaan hatiku, apa mungkin aku bisa mendapatkan orang seperti Reiner tapi bagaimana jika tidak? Hah aku jelas akan frustasi!” gumam ku hanya ditemani dengan segelas minuman anggur merah di tanganku.


Aku mungkin sudah gila, jika saat itu aku berjanji pada Steven tidak akan membiarkan cintaku menginginkan dirinya, memang benar tapi itu saat aku belum melihat dirinya namun bagaimana dengan sekarang? Justru saat ini aku sangat ingin memiliki dirinya. Aku tidak bisa berbohong dengan cintaku. Semakin aku berbohong semakin sakit rasa yang akan ku pendam.


“Steven ... kamu benar, setelah bertemu bukannya aku bisa mengatasi cintaku ini melainkan! Cintaku semakin ingin memiliki. Arrrggh apa yang harus kulakukan? Merebutnya atau membiarkan cintanya dimiliki oleh orang lain dan Zoya! Akan sangat bahagia hidup bersama pria idamanku,” gumam ku sangat kesal dengan semua takdir yang begitu tidak adil.


“Tapi sekarang aku sudah berteman dengan Zoya, sialan! Aku jadi takut sekarang, pasti Steven tidak akan berpihak denganku jika aku berulah, arrrggh tolong hati ...! Kondisikan cinta, pliss.” Aku terus-menerus tidak karuan.


* * *


Apa salahku? Kenapa hidup sangat tidak adil? Hingga cinta tidak dapat kumiliki. Aku juga ingin merasakan bagaimana dicintai olehmu, memelukmu setiap waktu lalu naik keatas tubuhmu. Apa mungkin hanya dalam mimpi aku bisa merasakan semua itu? Jika memang seperti itu biarkan aku terus tertidur agar aku bisa memilikimu seutuhnya. (Claudia–Reiner)


≈≈≈≈≈≈


Upss gimana nih kesan kalian? Hayo yang suka nebak terus ckckck. Tapi nebaknya harus santuy yah guys jangan buat mood jelek ckck.