
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Steven malah menggangguku tapi yang membuatku penasaran tidak biasanya dia seperti itu padahal tadi sudah bertemu denganku.
“Hallo Steve,” sapa ku dari balik ponsel.
“Hallo bro, lama banget Lo angkatnya keluar dulu gih gua lagi di depan rumah Lo nih tapi masih bingung ini bener rumah Lo apa bukan,” sahut Steven yang sudah berada di depan rumah.
“Okay deh, gua turun dulu.” Lalu sambungan telepon pun terputus.
“Sayang, aku keluar dulu yah kayanya temenku udah didepan rumah deh, ngga apakan?” tanyaku pada Zoya yang sedang merapikan pakaiannya akibat ulahku.
Zoya pun mengangguk mengiyakan. Sebelum keluar aku mencium keningnya dan beranjak pergi menuju pintu gerbang. Memang benar Steven sudah ada diluar rumah, aku langsung menemuinya.
“Tumben banget Lo datang, masuk dulu yuk?” ajakku yang sekarang sudah didepan Steven.
“Ngga usah deh Rei, mending duduk diluar aja tapi keknya lebih enak kita ngobrol sambilan keluar deh, gimana mau nggak Lo?” pinta Steven.
“Yaudah deh kalau gitu gua pamit dulu yah sama istri,” ucapku lalu berjalan pergi menemui Zoya.
Terlihat Zoya sedang sibuk dengan menonton televisi, aku perlahan mendekatinya agar ia tidak terkejut. “Sayang ... aku boleh pergi sebentar ngga? Temenku ada hal penting tapi aku belum tahu apa, gimana?”
“Yaudah Mas, hati-hati yah nanti kabari aku kalau ada sesuatu yah,” sahut Zoya memberikan izin.
“Siap sayang.” Aaaammm*ucahhh. Ciuman mesra mendarat di bibirnya sebagai tanda pamit, tentu saja ia membalasnya lalu aku pun pergi menemui Steven kembali.
Aku dan Steven sekarang sudah berada dalam mobil, entah apa yang ingin ia bicarakan aku tidak bisa menebaknya. Sekitar perjalanan sudah sedikit jauh dari halaman rumahku tetap saja Steven membungkam mulutnya tidak mengatakan apapun.
“Steven, perasaan dari deh gua naik mobil bareng Lo tapi kok nggak ada apa gitu yang mau Lo omongin.” Aku mengomel karena tidak sanggup melihat padahal dia mengajakku ingin membahas sesuatu tapi malah tidak ada jadi siapa yang tidak kesal.
“Hahaha santuy brother, kita ini lagi menuju ke suatu tempat nanti kita bicarakan deh, by the way apartemen yang Lo bantu cariin kemarin gua udah nggak nempatin lagi udah dua hari sih,” ucap Steven tiba-tiba menyoalkan masalah apartemen itu.
“Kok aneh banget sampai nggak Lo gunain lagi? Udah punya rumah baru yah?” tanyaku asal bicara.
“Kagak brother, gua itu sekarang udah tinggal bareng Claudia jadi yah gua pikir apartemen itu rugikan? Soalnya sih gua ada niatan buat bangun rumah di sini yah itung-itung buat rumah pas gua udah punya rumah tangga nantinya,” sahut Steven ada benernya juga.
“Ooh gitu bagus sih gua kira kenapa.”
Tak ada percakapan lagi diantara kami. Aku hanya melihat kearah mana tujuan Steven membawaku ini, jika dibilang hanya membicarakan sesuatu yang penting sangat tidak mungkin sebab sudah sedari tadi beberapa Cafe terlewatkan. Rasa penasaranku semakin tinggi pasalnya sangat ditanya ia tetap bungkam.
Perjalanan kira-kira memakan waktu satu jam, lalu Steven membelokkan mobilnya kedalam sebuah apartemen yang kuduga itu adalah apartemen mungkin saja milik Claudia.
‘Apa mungkin ini bener milik Claudia? Tapi apa maksudnya ia mengajakku kesini?’ batinku curiga.
“Ayolah brother, menurut saja sebagai balas budi gua karena Lo udah jadi temen gua sekaligus orang yang nolongin gua di sini, mending kita cepat keluar seseorang udah nunggu kita sejak tadi, ayo ....”
Steven memaksaku untuk langsung keluar, yah tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginannya. Walaupun aku memiliki perasaan sedikit curiga tapi mau bagaimana lagi sudah sampai ditempat tentu saja aku tidak melewatkan kesempatan yang sedang menungguku di dalam.
Kami berdua menaiki lift kelantai atas lalu aku terus mengikuti Steve dengan berjalan dibelakang. Tepat di nomor kamar ke–205 Steven berhenti lalu memasukkan sandi miliknya. Saat pertama memasuki tidak ada siapapun ditempat itu, jelas rasa penasaranku kali ini sangat tinggi karena apa aku takut sedang di jebak, bagaimanapun tetap kita harus curiga terhadap seseorang.
Ruangan yang tidak terlalu besar tapi cukup menarik saat dipandang lengkap dengan dua botol minuman yang sudah tersaji rapi. Aku berjalan kedepan untuk melihat itu semua tapi aku sangat bingung dengan maksud ini semua tentu saja aku ingin bertanya tapi saat aku melihat kebelakang Steve rupanya sudah menghilang dan tidak ada lagi ditempat.
“Kemana dia pergi? Apa jangan-jangan gua beneran di jebak? Woy Steven keluar Lo ...! Jangan sembunyi seperti ini, ngga asyik banget abis Lo ajak gua kesini terus Lo sendiri menghilang, hah temen macam apa itu,” teriakku kesal.
Tetap tidak ada siapapun orang yang keluar dengan rasa penasaran aku semakin mencoba menjelajahi ruangan itu tapi tidak ada tanda-tanda apapun di sini dan aku menyadari kalau aku memang sedang dijebak.
‘Awas Lo Steven, sialan ini pintu udah dikunci lagi,’ batinku saat menyadari semuanya telah direncanakan.
Aku berlari menuju pintu, berniat keluar tapi tetap tidak bisa terbuka, lebih tepatnya terkunci dari luar. Mendobrak pintu juga sia-sia karena pintu tersebut otomatis terbuka oleh pemiliknya sendiri yang hanya mengetahui sandi ruangannya.
Tak ada yang bisa kulakukan, teriak juga percuma yang ada suaraku habis sia-sia. Lalu aku berjalan menuju kesebuah pintu yang mungkin saja itu kamar dari ruangan ini tapi di sini memiliki dua kamar dan aku bisa tebak kalau memang apartemen ini di huni oleh dua orang.
Kamar yang tidak terlalu besar dengan dekorasi warna gelap, aku bisa menebak jika itu milik seorang Pria atau bisa saja yang ditempatkan oleh Steve sendiri. Karena rasa penasaranku lalu mencoba mencari sesuatu yang bisa kutemukan tapi tetap tidak ada apapun, baik di dalam laci ataupun lemari hanya berisikan beberapa pakaian.
Merasa kecewa karena sudah memasuki kamar itu lalu aku berjalan keluar dan memasuki kamar yang lain. ‘Semoga saja ada sesuatu yang bisa kutemukan,’ batinku.
Aku merasa ia adalah kamar utama dari apartemen ini sebab ruangannya lebih luas dari kamar sebelumnya tapi warnanya cantik menurutku milik seorang wanita tapi siapa?
Berjalan masuk dengan sesekali menoleh kebelakang mana tahu ancaman lebih besar saat aku lengah tentu saja aku harus tetap waspada. Saat aku membuka beberapa laci tiba-tiba kutemukan sebuah pas photo yang terdiri dari tiga orang dan memakai pakaian seragam sekolah.
“Aku ingat ini sepertinya photo ku dulu dan Steven tapi wanita ini ... yah dia Claudia, benar tebakan ku sejak tidak salah lagi, Claudia,” gumam ku saat melihat photo tersebut.
“Hay Reiner ... tebakan mu benar, lihatlah kebelakang, aku Claudia.” Sebuah suara mengangetkan tentu saja aku mendengar arah suara tersebut.
* * *
Cari aku seperti kamu mencariku dulu. Seakan duniamu berhenti berputar saat mengetahui diriku sudah menghilang tapi apa sekarang hal itu tetap akan sama saat aku kembali menghilang, apa mungkin kamu akan kembali mencariku? Lihatlah semua sisi yang ada kau akan menemukan diriku yang sesungguhnya. (Claudia–Reiner)
≈≈≈≈≈
Hai bagaimana kesan kalian kali ini? guys aku niatnya hari ini mau double update tapi apa mungkin kalian akan memberikan aku dukungan serta vote? Aku sedikit kecewa