
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Melalui rasa rindu yang bergejolak dalam hati, disitu terkadang aku sangat membutuhkan depak peluk kasih sayangmu.
*******
Reiner menahan kerinduannya, ia mencoba agar tidak membalas pelukan dari Zoya, meskipun hatinya berkata ingin langsung mendekap istrinya itu. Ia mencoba mengatur nafasnya sebisa mungkin agar bisa menahan sesuatu yang sedang bangkit.
Zoya merasa tidak inginkan oleh suaminya, ia sudah berusaha, rasa rindunya yang masih belum dipenuhi membuatnya harus kembali kecewa. Perlahan ia merenggangkan pelukannya, lalu ia berjalan perlahan menjauh dari suaminya, dan berniat ingin keluar dari kamar mereka, belum sampai batas pintu kamar tiba-tiba tangannya dicekal oleh suaminya.
Sontak membuatnya terkejut dan berdiri mematung melihat suaminya. Reiner yang sedari dulu menahan kerinduan akhirnya dia menyerah dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan meskipun ia masih marah dengan Zoya.
Perlahan Reiner mendekati istrinya. Membawa Zoya kedalam pelukannya secara menyamping sebab perut besar istrinya membuat kesusahan jika dipeluk dari depan. Lalu mencium bibir Zoya dengan lembut.
Zoya mengimbangi ciuman dari suaminya, saling beradu lidah, perlahan tangan Reiner memulai aksinya, istrinya yang sedari tadi hanya memakai lingerie membuatnya tidak bisa menahan sesuatu gejolak dalam dirinya. Zoya pun tahu apa yang harus ia lakukan hingga keduanya pun sudah tidak memakai sehelai benang pun.
Kerinduan yang dinantikan keduanya akhirnya terpenuhi. Malam itu kembali menjadi saksi bagi mereka setelah kehamilan Zoya tumbuh besar. Rasa puas diantara keduanya terlihat dari raut wajah mereka yang ceria. Peluh membasahi tubuh mereka. Permainan Reiner yang cukup tinggi dan tidak dapat ia kendali, hingga memakan waktu sangat lama sampai akhirnya memasuki beberapa ronde.
Reiner pun berbaring disamping istrinya setelah sesuatu yang mereka lakukan. Ia menatap wajah istrinya, dan mengusap rambut pirang Zoya. Begitupun dengan Zoya hanya membalas dengan pelukan saat mendapat perlakuan manis dari suaminya.
Saat mereka sedang senang-senangnya tiba-tiba suara ponsel mengganggu aktivitas mereka.
Kringg ... Kringg .... Kringg.
Karena jarak yang sangat jauh membuat Reiner harus bangkit mengambil ponsel Zoya, suara berisik tersebut terus terdengar. Lalu ia melihat panggilan masuk dari seseorang yang akhir-akhir ini menjadi perusak suasana hatinya yang gembira.
Reiner memberi ponsel tersebut kepada istrinya, sebab Kelvin yang menghubungi, ia juga tahu privasi, setiap orang memiliki hak privasi agar tidak bisa dilarang. Lalu Zoya mengambil ponsel dari tangan suaminya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Vin."
"Lama sekali kau mengangkat teleponku Zoe, sedang sibuk ya?" ucap Kelvin dari balik ponselnya.
Zoya melirik kearah Reiner sebelum menjawab ucapan dari Kelvin. Ia sedikit takut jika sedang bersama suaminya sibuk dengan hal lain.
Reiner membalas lirikan istrinya, ia tahu kalau Zoya sedikit segan, alhasil Reiner tidak menghiraukan pembicaraan mereka lalu merebahkan kepalanya di atas dada istrinya membuat Zoya harus memeluk suaminya dengan sebelah tangan.
Zoya pun paham, ia lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Kelvin, yang sedari tadi teman telponnya sudah menunggu sahutan darinya.
"Ah ya Vin, kau bilang apa tadi? Maaf aku baru saja ambil minum," ucap Zoya berbohong agar tetap membuat Kelvin nyaman. Reiner yang sedari tadi hanya menyimak dan pura-pura tertidur, ia menahan tawa mendengar ucapan istrinya itu.
"Tidak apa-apa Zoe, kupikir kau kemana, Oh ya bagaimana keadaanmu apa baik-baik saja? Aku hanya takut jika nyeri perutmu kambuh," ucap Kelvin.
"Ya, aku baik-baik saja Vin, tidak perlu cemas," sahut Zoya.
"Syukurlah Zoe, besok aku kerumah ya Zoe, seperti yang dulu kukatakan akan sering berkunjung ke tempatmu," ungkap Kelvin.
"Baiklah Vin, tidak masalah datanglah," sahut Zoya.
Reiner yang sedari tadi pura-pura tertidur akhirnya bangun saat mendengar ucapan Zoya dan melihat kearah istrinya. Lalu ia merebahkan dirinya lagi.
"Baiklah Zoe, jika begitu aku sudahi ya, tidurlah jangan terlalu lama begadang," ucap Kelvin.
"Tentu, Vin."
Reiner menyadari jika pembicaraan berakhir, ia pun bangun. Meskipun sikapnya sudah sedikit membaik kepada Zoya tapi tetap sikap dingin darinya terus ditunjukkan padahal mereka sudah saling menyatu.
Reiner sama sekali belum membuka mulutnya untuk membuat bahan pembicaraan, ia hanya bungkam. Zoya sedikit segan melihat tingkah suaminya itu, ia pikir suaminya sudah bisa diajak berbicara.
Lalu Zoya berniat memulai pembicaraan mereka, meskipun ia sedikit kebingungan harus memulainya dari mana.
"Mas."
"Hmmm," sahut Reiner.
"Kemarin Mommy kesini lalu dia bawa kabar untuk kita, mas," ucap Zoya.
"Kabar apa?" sahut Reiner. Ucapannya tetap dingin tidak ada panggilan sayang yang biasanya diucapnya untuk istrinya.
"Mommy buat acara untuk calon bayi kita dan itu acaranya tiga hari lagi mas, semuanya sudah diatur, kita hanya perlu datang, maaf aku lupa memberitahumu," ucap Zoya. Ia padahal bukan lupa tapi hanya tidak berani memberitahu suaminya sebab mereka sedang berada dalam kondisi buruk.
"Ah begitu, baiklah aku setuju," sahut Reiner.
Zoya hanya mengangguk, ia bingung dengan sikap yang sedang Reiner tunjukkan, Zoya berpikir jika suaminya akan bersikap seperti biasa setelah kerinduan mereka terpenuhi tapi percuma ia sedikit kecewa.
Lalu tanpa ucapan apapun ia beranjak bangun dari tempat tidur dan memakai lingerie kembali, lalu berjalan melangkah keluar. Reiner hanya melihat istrinya kebingungan sebab tidak ada ucapan apapun yang keluar.
Reiner berniat menyusul istrinya. Sampai ia mendapati Zoya sedang terduduk melamun di teras belakang. Reiner dengan perlahan mendekatinya. Lalu duduk tepat disampingnya istrinya.
Tidak ada percakapan antara Zoya, ia seakan pura-pura tidak menyadari kehadiran Reiner disampingnya.
‘Aku tahu dia sedang marah, apa aku sudah terlalu berlebihan ya?’ batin Reiner.
Reiner menyadari bahwa dirinya salah, lalu ia berniat untuk memulai pembicaraan meskipun ia sendiri tidak tahu bilang apa.
"Zoe."
Zoya tidak menyahut, bahkan tidak melirik kearah suaminya, ia kesal selalu saja Reiner memanggil dengan sebutan nama.
"Zoe, hey liatlah aku," ucap Reiner seraya merangkul istrinya.
"Sudahlah mas, aku mau tidur!" dengan sedikit tegas Zoya menyahut seruan Reiner dan beranjak dari sana.
Reiner paham jika istrinya sedang marah. Ia pun juga tidak suka diabaikan. Akhirnya dia menyusul kembali istrinya itu sampai mencekal lengannya. Membuat langkah Zoya terhenti.
"Kenapa kau terus seperti itu Zoe? Aku sudah baik denganmu tapi kamu seenaknya meninggalkan aku," serang Reiner.
"Aku? Jadi kau menyalahkan ku mas! Apa kau tahu semuanya sehingga kau bisa memperlihatkan sikap dingin mu itu denganku? Kau tidak tahu apa-apa mas," bentak Zoya.
"Apa maksudmu, Zoe?" sahut Reiner kebingungan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan LIKE, KOMEN dan berikan VOTE. Kalian harus memberikan VOTE. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIAKU
75 TAHUN MERDEKA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩