
Happy Reading
“Baiklah singa betina. Aku merasa kalau dirimu semakin galak,” ledek Reiner sembari mencolek pipi istrinya.
“Jadi kamu sudah menyadarinya, kera mesum?”
“Ya, aku tahu kalau istriku ini bukan seperti dulu yang lemah lembut tapi sekarang dia sangat galak dan pantas jika di panggil singa betina.”
----------------------------------------------
(Setahun kemudian)
Semuanya kembali berjalan normal seperti pasangan pada umumnya. Kaylee dan Kayrren sudah berumur satu tahun, mereka telah menjadi pelengkap hidup bagi Zoya dan Reiner. Kehadiran si kembar membawa kebahagiaan bagi pasangan ini. Cinta dan kasih sayang sepenuhnya untuk kedua putra-putri mereka.
Begitupun dengan kisah Vanny dan Brian, mereka baru-baru menikah saat anak perempuan mereka lahir bernama Rossie Lie Brian, yang sudah memasuki usia empat bulan. Nama Putri mereka memakai marga seperti papanya. Berbeda dengan Steven, ia masih hidup menjomblo dan tidak ada niatan untuk mencari jodoh. Katanya ia hanya menunggu sampai jodoh itu datang sendiri.
Beberapa bulan lalu Claudia bersama Elie mencari keberadaan Kelvin bersama Viora. Namun, sayangnya tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka berdua hingga membuat Elie begitu putus asa. Hidupnya hancur, ia seperti orang gila bahkan ia sendiri sering melukai dirinya. Berbulan-bulan ia mencari di mana keberadaan sang pujaan hati, tapi nihil tidak ada siapapun yang tahu bahkan Steven sendiri juga tidak tahu.
Begitupun dengan Claudia, ia juga sama halnya benci terhadap Reiner dan Zoya. Mereka telah hidup bahagia saat dirinya sedang sibuk membantu Elie mencari pujaan hatinya.
----------------------------------------
Semua orang bahagia, tapi tidak dengannya. Elie merasakan putus asa yang sangat dalam. Cinta sejatinya hilang entah kemana. Dirinya terus meratapi hilangnya Kelvin, berhari-hari ia menyendiri di kamar sampai berkali-kali juga Claudia mencoba menguatkan.
Seperti biasa Claudia mengantarkan makanan untuk kakak sepupunya dan ia juga bermaksud untuk membuat Elie bangkit kembali dari keterpurukan.
“Kak, ayo makanlah ini sudah ke empat bulan kakak masih di sini dan tidak ingin keluar.”
“Bukan urusanmu!” bentak Elie.
“Ini menjadi masalahku, kak. Bagaimanapun kamu itu keluargaku,” sahut Claudia yang tidak ingin mengalah.
“Pergi dari sini! Aku tidak membutuhkan mu yang aku inginkan hanya satu, Kelvin harus berada di sini.” Elie seperti sudah kehilangan akal hingga membuatnya begitu terobsesi dengan Kelvin.
“Lihatlah dirimu, sudah seperti gelandangan! Apa kamu mau hidupmu terus-menerus seperti orang gila di sini, kak?! Sadarlah semua orang di sana bahagia dan kita sudah sangat menderita karena ulah mereka. Aku mohon bangkitlah, kembalilah seperti dirimu yang sebelumnya.”
“Aku tidak butuh siapapun! Pergi dari sini!” teriak Elie hingga menghempaskan tubuhnya ke sana kemari serta membuat makanan yang di bawakan Claudia jatuh berhamburan.
“Jika kakak tidak ingin mendengar ku baiklah aku akan melakukan kekerasan!” bentak Claudia seraya beranjak pergi dan menemui Steven.
Claudia berlari sembari menangis karena tidak tega melihat Elie seperti orang gila dan tidak mengenali dirinya.
Steven sedang tidur pulas membuatnya terkejut sampai terbangun dari mimpi. Claudia memeluk dirinya sampai tidak memperdulikan Steven hanya memakai celana dalam. Begitu erat pelukan Claudia hingga membuat adik kecilnya tertekan.
“Clau-Claudia! Ngapain kamu kesini? Aku sedang tidur siang, sudah sana aku mengantuk sekali,” kata Steven seraya mencoba menghindar dari tubuh Claudia.
“Sebentar Claudia, aku masih belum sepenuhnya mengumpulkan kesadaran ku,” sahut Steven seraya mengucek matanya dan menguap.
“Ihhh menyebalkan! Kamu sama sekali tidak peduli dengan kami!” bentak Claudia dengan cemberut.
“Bukan seperti itu. Baiklah tunggu sebentar aku akan mandi biar rasa kantukku hilang baru setelahnya aku akan menemuimu.” Steven pun pergi tanpa menunggu Claudia mengiyakan.
Dengan cemberut Claudia pun meninggalkan Steven di kamarnya, ia tidak kembali ke tempat Elie melainkan pergi beristirahat sambil menunggu kakak lelakinya selesai.
* * *
Sekitar dua puluh menit Steven selesai dari kesibukannya. Ia pun menemui Claudia untuk menepati janjinya.
“Apalagi yang terjadi sekarang, Claudia?” tanya Steven yang sudah berdiri di depannya.
“Kak Elie, dia bertambah semakin parah sepertinya kita harus membawanya agar di rawat di rumah sakit,” ucap Claudia dengan mata berkaca-kaca.
“Ya sudah jika memang itu jadi tunggu apalagi biarkan aku yang menelepon ambulans kemari.” Steven pun mengeluarkan ponselnya. Namun, di hentikan.
“Jangan lakukan hal itu! Terlebih dahulu kita harus melihat keadaannya, ayo cepat!” Claudia menarik tangan Steven untuk ikut bersama dengannya.
Mereka telah sampai di tempat Elie berada. Perempuan itu sedang melukiskan nama seorang Pria di pergelangan tangannya dengan silet, hingga mengeluarkan darah segar. Steven terkejut melihatnya sampai ia berlari merebut silet tersebut.
“Apa yang ingin kau lakukan, Elie?! Apa dengan ini Pria bernama Kelvin itu akan menerimamu kembali? Jangan bodoh!” Steven geram melihat semua itu.
“Ini dia yang ku katakan kita harus melihat keadaannya. Kakak tahu kalau kak Elie hanya bisa di sembuhkan jika Pria itu berada di sini. Aku tidak yakin dia akan sembuh total meskipun kita akan memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa,” ungkap Claudia sembari mendekati Steven.
“Tapi Clau, jika terus-menerus seperti ini dia akan membahayakan nyawanya lagi, sebaiknya kita harus cepat membawa dia ke rumah sakit.”
“Tunggu sebentar kak, aku menerima telepon dulu,” Claudia pun melangkah sedikit menjauh.
Entah siapa yang sedang berbicara dengannya. Tanpa mendengarkan apa yang baru saja Steven katakan.
Sambil menunggu Claudia berbicara dengan ponselnya. Steven pun mencoba mengobati tangan Elie. Namun, di bayangan Elie bahwa orang yang ada di depannya adalah Kelvin bukan Steven.
Elie terus tersenyum manis saat bayangan Kelvin berusaha mengobatinya, ia seakan mulai tenang dan menerima perlakuan bayangan Kelvin.
Claudia selesai berbicara melalui ponselnya, ia lalu kembali mendekati kedua kakaknya. “Lihat kak, dia mulai tenang ini waktu yang tepat untukku bisa memandikannya karena sebentar lagi aki harus pergi menemui teman kampusku.”
“Baiklah Claudia, mandikan dia biar aku tunggu di luar,” sahut Steven dan berjalan keluar.
Seperti yang sudah ia niatkan Claudia membawa Elie pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan semua kotoran di tubuh kakaknya. Sudah berhari-hari perempuan itu belum menyentuh air. Tidak ada perlawanan apapun kecuali senyuman yang sedari tadi masih berada di raut wajahnya.
‘Setelah kakak Steve pergi menemuinya, sejak tadi kakak Elie terus saja tersenyum bahkan sekarang dia tidak menolak aku mandikan. Jika seperti ini bagus juga aku tidak terlalu capek mengurusnya,' batin Claudia.