Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
40~S3 Istriku Gadis Kecilku Bertemu kembali dengan cinta


H A P P Y R E A D I N G


“Steven, aku tidak ingin berdiam diri di sini menyaksikan kamu yang sudah mendapatkan cintamu. Apalagi kalian bahkan sudah memakai panggilan kesayangan. Sebaiknya aku pulang saja, dan tidak perlu mengantarku. Lebih baik aku menunggu taxi datang. Bersenang-senanglah dengannya,” ungkap Alice berusaha untuk pergi.


Steven dengan cepat menahan langkah Alice. “Tunggu sebentar, aku bahkan belum bicara.”


“Ya-ya baiklah. Katakan yang ingin kamu katakan, Steven,” ungkap Alice.


“Jika memang kamu tidak ingin jalan-jalan ya sudah mari kita langsung pulang tapi, sampai ke rumah aku berjanji untuk menginap di tempatmu jadi nanti malam aku akan menceritakan semuanya apa yang sudah terjadi. Sebab nanti malam aku sudah tidak jadi untuk pergi bertemu dengan seseorang karena aku sudah bertemu sekarang. Ayo kita kembali ke sana,” ungkap Steven sambil mengajaknya.


“Ya sudah baiklah. Aku akan menunggu semuanya. Oh ya, aku males kesana lebih baik aku menunggu di mobil saja. Kamu pergilah temui dia supaya kita cepat pulang.”


Steven menganggukkan kepalanya. Ia langsung kembali seorang diri ke hadapan Claudia. Merasa sedikit curiga sebab kekasihnya kembali seorang diri.


“Loh? Temanmu tidak kembali kesini, Baly?”


Steven menggelengkan kepala. “Kakinya pegal jadi dia menunggu di dalam mobil. Oh ya Ball, sebaiknya pulang yuk! Kalau pun kita jalan-jalan juga tidak mungkin sebab aku pergi bersama dengan Alice jadi, jika kita ajak dia tidak mau.”


“Ya sudah kalau memang begitu. Lalu kamu pulang satu mobil denganku 'kan, Baly?” tanya Claudia berharap.


“Tidak Ball, aku harus pulang ke tempat Alice. Sebab tidak mungkin aku langsung kabur begitu saja apalagi dia sudah baik menampungku. Bolehkan kalau aku menginap di sana sampai akhirnya nanti kita pulang ke rumahku di sana? Pliss!” ungkap Steven memohon.


‘Bagaimana ini? Sebetulnya aku tidak suka tapi, harus bagaimana? Jika aku mengatakan tidak maka aku terlihat begitu kejam padahal baru jadian beberapa menit yang lalu. Ah sudahlah sebaiknya aku mengizinkannya saja,’ batin Claudia.


“Baiklah aku memberi izin tapi, ingat ada batasan antara kamu dan dia. Oh ya satu lagi, jika nanti aku merindukanmu maka izinkan aku untuk menginap di tempat temanmu juga, Baly,” ketus Claudia dengan begitu pintar.


“Menginap? Aku tidak memiliki hak, Ball. Lagipula tempat itu adalah apartemen miliknya jadi, aku tidak mungkin langsung memberikan izin. Lagipula pasti dia tidak menyetujuinya. Begini saja, Ball. Jika memang kamu ingin menginap maka kita akan pergi ke hotel. Sebab hanya tempat itu salah satu yang paling mudah.”


“Ya-ya baiklah aku mengerti. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Sebaiknya kamu juga pulang, Ball. Jangan lagi di sini.”


“Ya-ya baiklah. Sejak tadi hanya aku yang menuruti mu, Baly.”


“Aku tahu, Ball. Kalau begitu pulanglah dengan hati-hati. Aku mencintaimu, Ball,” ungkap Steven dengan penuh cinta sambil mengecup bibir Claudia dengan mesra.


Mereka pun berpisah sambil melambaikan tangan. Arah pulang mereka pun berlawanan. Claudia benar-benar pulang begitupun dengan Steven.


...----------------...


...----------------...


(Kediaman Pasutri)


Viora bersama Kelvin sedang sibuk mengemasi barang-barang mereka kembali. Meskipun tidak banyak yang akan di bawakan tapi, setidaknya perlu juga persiapan sejak awal. Kelvin sudah mengatur honeymoon besok sebab malam ini setelah bertemu dengan Steven, ia sudah menyiapkan rencana agar Claudia bisa pergi dari rumahnya.


Saat mereka masih berada di kamarnya tiba-tiba Claudia yang baru saja pulang langsung mengetuk pintu kamar pasutri tersebut. Viora pun berjalan membuka pintu.


“Eh, Claudia? Sedang apa?” tanya Viora.


“Kamu lagi sibuk nggak? Aku mau curhat loh!" ucap Claudia dengan semangat.


“Curhat? Em sebaiknya nanti saja soalnya aku lagi beres-beres buat pergi besok,” sahut Viora.


“Pergi besok?! Memangnya kalian mau kemana?”


“Biasa mau honeymoon hehe,” sahut Viora sambil tersenyum lebar.


“Yah ... Aku sendirian dong di sini tapi, nggak apa-apa deh,” ucap Claudia.


‘Tidak apa-apa jika memang mereka ingin honeymoon. Aku lebih baik mengajak Steven untuk menemaniku,’ batin Claudia sambil tersenyum sendirian.


Viora heran menatap Claudia bersikap aneh dengan sendirinya. “Clau, apa kamu baik-baik saja?”


“Tentu aku baik-baik saja. Kalau begitu selamat yah honeymoon kalian semoga lancar. Ah kalau begitu aku permisi dulu, Viora. Lalalala ....” Claudia pamit sambil bernyanyi bahkan sesekali ia bergoyang dengan sendirinya.


“Dasar wanita aneh. Benar-benar dia sudah tidak waras,” ungkap Viora terheran-heran melihatnya.


Viora pun kembali menuju ke dekat Kelvin. Kelvin sedang rebahan karena sedikit kelelahan.


“My dear, apa kau tahu di luar Claudia tiba-tiba datang di depan kamar kita. Katanya dia ingin curhat tapi, aku berusaha menolak. Namun, anehnya wanita itu tidak marah justru dia terbawa bahagia sampai-sampai dia bernyanyi. Apa menurutmu dia tidak waras?” curhat Viora sambil bertanya.


“Gadis kecil, ya sudah kalau pun dia bahagia itu lebih baik untukku jadi, secepatnya dia bisa pergi dari sini karena aku tidak ingin ada orang asing masuk kedalam rumah kita. Jika perlu para pelayan di sini kita liburkan saja cukup tinggalkan mereka yang berjaga di luar,” jawab Kelvin dengan bijak.


“Yah-yah baiklah aku mengerti jadi. My dear, aku kelelahan. Setelah beres-beres aku ingin tidur.”


“Sebentar, gadis kecil. Apa kamu tidak curiga dengan Claudia? Aku takut jika tidak hanya berpura-pura baik dengan kita. Apalagi setelah kejadian dulu semuanya juga kita tahu kalau dia seperti apa,” ungkap Kelvin dengan perasaan cemas.


“My dear, sudahlah jangan terlalu banyak berpikir sebaiknya kita istirahat karena besok kita harus melakukan perjalanan yang menyenangkan!” sahut Viora dengan penuh semangat.


Kelvin menarik nafasnya memburu. “Ya sudah aku setuju.”


Kelvin memeluk istrinya sampai mereka benar-benar tertidur padahal hari masih siang tapi, rasa lelah menghampiri pasangan suami istri itu.


...----------------...


...----------------...


(Tiba di apartemen Alice)


Di sisi lain. Steven bersama Alice baru saja memasuki parkiran apartemennya. Mereka langsung keluar meskipun sejak dalam mobil tidak ada percakapan apapun yang terjadi. Entah kenapa wajah Alice terlihat cemberut sampai ia tidak cerewet sedikit pun.


“Iya nih lagi nggak mood apapun,” cetus Alice sambil berjalan lebih dulu.


“Loh? Kok bisa? Pasti lagi ada masalah,” tanya Steven penasaran.


“Abisnya kamu sih! Padahal rencananya mau ajak aku jalan-jalan eh tahunya udah batal,” kesal Alice.


‘Dia sampai marah karena hal ini. Aku memang sudah keterlaluan. Sebaiknya aku harus membujuknya,’ batin Steven.


Steven menahan tahan Alice. Sampai mereka pun terdiam dan saling memandang satu sama lain.


“Alice, aku tahu aku sudah melanggar janjiku tapi, nanti aku pasti akan memenuhi semua janjiku ini jadi tidak perlu ngambek begitu,” ungkap Steven.


“Ya-ya baiklah terserah kamu saja,” sahut Alice sambil memutarkan bola matanya.


Steven tersenyum melihat tingkah kesal yang di tunjukkan oleh Alice. Mereka pun melanjutkan langkah untuk menaiki tangga tapi, saat tiba di tangga pertama betapa tercengangnya Alice melihat sosok pria yang sangat ia kenal.


“Alvero, kau?” Alice kaget saat melihat orang yang telah membuangnya akhirnya kembali hadir di hadapannya.


‘Alvero? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini tapi, di mana ya? Wajahnya juga tidak asing lagi atau mungkin cuma kebetulan ada yang mirip,' batin Steven sambil melirik kearah Alice.


“Kau kenal dengannya, Alice?” tanya Steven kebingungan.


“Yah benar! Kami saling mengenal bahkan sangat ... Kenal. Oh jadi seperti ini dirimu, Alice. Katanya kamu hanya akan menyerahkan dirimu padaku tapi, sekarang tiba-tiba ada seorang pria bersamamu bahkan kalian akan menuju ke dalam,” timpal Alvero yang sedang berjalan mendekat.


‘Kenapa Alice begitu cepat mencari pengganti ku? Apa mungkin Alice sudah tidak mencintaiku lagi? Tapi tidak-tidak! Mana mungkin dia tidak mencintaiku. Dia bahkan sudah terpesona denganku. Lalu pria di sampingnya aku pernah melihatnya sekilas,’ batin Alvero.


“Apa maumu, Alvero?” tanya Alice baik-baik.


“Kedatanganku hanya untuk mengobrol denganmu, jadi cepat buka pintunya supaya aku bisa masuk. Lama-lama di sini aku jadi penat terus berdiri. Ayo cepat,” perintah Alvero seakan pemilik apartemen.


Alice menatap ke wajah Steven. Lalu Steven pun menganggukkan kepalanya.


‘Lebih baik memang aku harus membukakan pintu daripada Alvero mencari ribut di luar yang ada semua tetangga akan penasaran,’ batin Alice.


Alice bersama dengan Steven berjalan bersamaan. Mereka langsung masuk ke dalam begitupun dengan Alvero.


Seolah menjadi pemilik apartemen. Alvero langsung duduk padahal belum di suruh. Ia juga menaikkan kakinya ke atas meja sembari sedikit rebahan di sofa. Melihat tingkah alvero seperti itu Alice pun geram.


Berbeda dengan Steven. Ia memilih untuk memasuki kamar Alice daripada harus melayani tamu yang datang. Ia sengaja memberikan waktu untuk mereka berdua berbicara.


Alice langsung mengambil bantal kecil yang berada di sofa. Ia lalu melemparkannya kearah Steven.


“Hey! Mau apa kamu kesini? Bukankah kamu sudah tidak ingin melihat wanita yang selalu menyusahkan hidupmu ini?” tanya Alice dengan ketus.


“Yah ... Awalnya memang aku berpikir seperti itu tapi, sekarang pikiranku telah berubah. Oh ya, pria itu siapa? Sepertinya aku pernah melihatnya. Jika tidak salah di acara ulangtahun Kelv-”


“Huss, diam. Jangan menyebutkan nama itu di sini. Karena dia mengenalnya bahkan mereka berteman baik,” ucap Alice dengan pelan.


Alvero terdiam sesaat. Hingga akhirnya ia kembali membuka suaranya meskipun dengan sangat pelan. “Apa tujuanmu dengan membawa temannya kesini? Apa kamu ingin mati? Jika dia tahu kalau kita berusaha untuk menculik Viora pasti dia tidak segan-segan untuk melaporkan kita kepada Kelvin. Oh ya aku hampir lupa hal yang sangat penting. Sebenarnya Viora sudah melarikan diri.


“Jadi kekasihmu itu sudah lari? Upss! Bolehkan aku tertawa sekarang? Jika kekasihmu sekarang sudah melarikan diri jadi, untuk apalagi kamu kesini? Apa ingin mengajakku bekerjasama lagi untuk menculiknya? Sebelum kamu meminta aku akan menolaknya.”


Alvero dengan cepat mengusap wajahnya. “Memang benar aku kemari untuk mengajakmu kembali bekerjasama denganku. Oh ya, maafkan semua kesalahanku. Hari itu aku tidak benar-benar mengusir mu. Aku sedang marah jadinya aku susah untuk berpikir. Tolong ... Maafkan aku, dan kembalilah ke rumahku. Aku akan memberimu lagi uang juga kita akan melanjutkan misi yang sudah gagal.”


‘Ternyata benar dugaan ku. Dia hanya datang kesini untuk mengemis agar aku mau bekerjasama lagi dengannya. Sampai kamu menangis pun aku tetap tidak akan mau untuk menjadi boneka mu. Setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan mudahnya kamu menyuruhku pergi lalu sekarang kamu memintaku untuk kembali. Benar-benar pria yang tidak punya hati,’ batin Alice kesal.


“Sebaiknya tolong pergi dari sini. Karena aku tidak ingin kembali bekerjasama untuk berbuat kejahatan menculik istri orang lain. Aku tidak ingin sampai nantinya terlibat dengan pihak hukum. Sebaiknya cari saja orang lain yang bisa kapan saja kamu butuh dia ada. Walaupun hanya untuk menjadi boneka mu,” ungkap Alice menolak dengan kasar.


“Alice, jika kamu menolak untuk kembali kerjasama denganku maka aku tidak segan-segan akan membongkar siapa dirimu pada pria itu. Dia pasti akan langsung membencimu,” ancam Alvero.


“Silahkan saja toh bukan cuma aku sendirian yang kena tapi, juga kamu. Ku pastikan kamu juga akan ikut. Jadi ayo cepat katakan semuanya pada Steven tapi, ingat kamu juga akan terlibat.” Alice tidak ingin mengalah untuk mengancam balik.


Alvero kesal, ia bangkit dari duduknya sambil mengepalkan tangannya. “Alice! Kamu tidak bisa menolak ajakan ku!”


“Aku tidak ingin sekalipun kamu terus memaksa tetap saja aku tidak akan pernah mau menjadi boneka mu!”


Di sisi lain. Steven sedang asyik rebahan sambil mengotak-atik ponselnya tapi, ia terkejut saat mendengar suara ribut-ribut di luar sampai akhirnya ia memutuskan untuk keluar melihatnya. Steven berlari, dan langsung berdiri berdekatan dengan Alice.


Mata Alvero menatap tajam kearah Steven. “Ngapain Lo ikutan? Mau jadi pahlawan? Mending minggir jangan ikut campur! Gue mau bawa wanita yang tidak tahu terima kasih ini.”


Alvero dengan cepat ingin menarik tangan Alice tapi, dengan cepat pula Steven menahannya hingga tangan Alvero di genggam oleh Steven.


“Dia udah bilang enggak mau ikut sama Lo jadi lebih baik enggak usah paksa! Mendingan Lo pergi dari sini,” geram Steven.


“Lo enggak usah ikut campur! Lo enggak punya hak buat ngatur-ngatur gue mau buat apa sama perempuan ini. Ayo, Alice! Cepat ikut denganku! Jika tidak maka aku akan memaksamu,” paksa Alvero yang terus berusaha untuk menarik Alice.


Brug! Steven yang tidak ingin menahannya lagi sampai akhirnya satu pukulan keras tepat mengenai perut Alvero. Alvero kesakitan bahkan ia memegang perutnya.


‘Sebaiknya ini bukan waktu yang tepat untuk membawa Alice ikut denganku,’ batin Alvero.


“Awas Lo tunggu saat pembalasan gue! Dan Lo, Alice. Aku tetap tidak akan tinggal diam. Kamu harus ikut denganku bagaimanapun caranya nanti. Ingat itu!” ancam Alvero sambil melangkah pergi.


Rasa lega di hati Alice saat Alvero sudah pergi darinya. Ia terduduk sambil menahan tangis. Steven merasa kasihan melihatnya sampai akhirnya ia memutuskan menggenggam tangan Alice.


“Apa kamu baik-baik aja?” tanya Steven cemas.


Alice mengangguk. “Aku tidak habis pikir dengan Alvero. Dia benar-benar sudah kehilangan akalnya. A-aku benar-benar takut ... Tolong jangan tinggalkan aku, Steven.”