
H A P P Y R E A D I N G
“Ya ampun ... Apa mungkin ketinggalan? Tapi mana mungkin perasaan gua juga bawa koper. Aduh ... Gimana nih? Masa harus belanja lagi di sini buang-buang uang sama tenaga aja tapi, apa yang harus gua pakai nantinya? Ah sial! Pasti ketinggalan nih kalau nggak mana mungkin bisa hilang di dalam mobil yang masih terkunci. Pakai lupa segala lagi,” kesal Steven.
Steven terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu kembali masuk kedalam namun, dirinya sendiri bingung harus berbuat apa sampai akhirnya ia berjalan mondar-mandir mengingat di mana terakhir kali ia menaruh koper miliknya.
Hawa dingin menusuk ke dalam seluruh tubuh Alice. Ia meraba tubuh Steven tapi, sudah tidak ada orang di sampingnya hingga akhirnya matanya terbuka melihat kearah samping.
“Loh? Steven pergi kemana malam-malam begini?” tanya Alice khawatir.
Dengan bergegas ia bangun sambil melirik kearah jam dinding. Sampai Alice memutuskan untuk meninggalkan kamarnya tanpa pedulikan apapun. Alice berlari mencari Steven sambil berteriak namun, orang yang ia panggil-panggil datang menghampiri.
“Alice? Udah bangun?” tanya Steven yang langsung berlari mendekati Alice.
“Ya kupikir kamu kemana tengah malam begini soalnya aku sedikit lelah sampai akhirnya tertidur di sampingmu. Oh ya sedang apa berdiri di sini? Apa kita tidak kembali tidur lagi?” tanya Alice sambil menguap.
“Gua nggak bisa tidur tapi, kalau Lo mau lanjut ya sudah soalnya kopernya gua hilang, dan di dalam sana semua perlengkapan ada jadi setidaknya gua harus cari dulu. Entahlah gua harus kemana mungkin aja emang gua lupa bawa. Eh! Lo sendiri ngapain di sini? Katanya ngantuk,” ucap Steven dengan rasa sedikit malas.
“Oh ... Masalah koper. Hmmm pantesan kamu nyari di sini sampai mati juga nggak bakalan ketemu soalnya aku udah masukan ke dalam lemari ku. Hehe maaf yah soalnya aku iseng buka mobil kamu terus pastinya kamu bawa barang ya udah karena ku pikir kamu juga belum dapat tempat nginap jadi nginap aja di sini,” ungkap Alice sambil menahan senyumnya.
“Ya ampun ... Alice! Untung aja, kirain emang gua lupa. Ya udah deh kalau gitu makasih yah udah mau capek-capek beres-beres rumah sendirian sama kemas barang-barang gua. Eh! Tapi, benerkan? Gua boleh tinggal di sini? Soalnya nanti gua takut kalau tiba-tiba ada pria yang datang terus bisa-bisa ajak gua berantem karena udah seenaknya tidur di rumah wanitanya,” sahut Steven.
“ Udah-udah jangan mikir jauh. Soalnya nggak bakalan ada yang bisa halangi apapun yang aku buat toh jomblo sih aku,” ucap Alice sambil tertawa seraya menutupi wajahnya.
Mereka berdua tertawa lalu Steven menyiapkan beberapa cemilan yang ia punya serta minuman yang akan menemani gelapnya malam itu. Alice sengaja membuka jendela yang ada di sebelah tempat tidurnya agar hawa dingin menyusup masuk kedalam. Lalu Steven mengambil gitarnya seraya mengambil posisi duduk tepat di sebelah Alice.
Saat sunyi telah menanti. Gelap dimalam hari. Cahaya rembulan menatap sepi. Suara denting gitar Steven mengusik jiwa dalam kesunyian Alice. Ayunkan kepala seiring dengan denting gitar hingga membuat Alice membuka suaranya untuk bernyanyi.
Gelapnya malam ... Di sini relung hatiku
Semua yang telah kita lewati bersama ....
Akhirnya ... Aku harus pergi tinggalkan semua mimpi ... hoo ....
Izinkan aku tuk sedikit saja mengenang mu di dalam hatiku ....
Meski kutahu kau bukan milikku ....
Gelapnya malam ... Dinginnya tubuhku ... menanti peluk mu
Hoo ... ooo .... Mengapa kita harus bersama
Jika akhirnya kita harus terpisah ....
Oh kasih ... Dengarkanlah aku
Di sini aku selalu menanti akan hadirmu
Mesti ku tahu cintamu bukan milikku ....
Oh kasih ... Dengarkanlah aku
Izinkan aku tuk sedikit mengenang mu di dalam hatiku ....
Oh kasih ... Dengarkanlah aku
Bahwa hanya ada cintaku yang selalu setia untukmu ....
Oh kasih ... Mengapa kau tega tinggalkan aku ....
Semua sisa hidupku tuk kembali padamu ....
Oh kasih ... Haruskah aku tersakiti .... Baru kau merasa puas
Oh kasih ... Sadarlah di sini hatiku telah tersakiti olehmu ....
Cintaku ... ooo ....
Alice bernyanyi dengan suara yang merdu. Ia menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Mengutarakan semua isi hatinya melalui syair lagu yang ia nyanyikan sampai membuat Steven hanyut dalam indahnya suara Alice.
Tanpa terasa air mata perlahan jatuh saat ia selesai menyanyikan lagunya. Menangis tersedu-sedu hingga akhirnya ia menunduk menahan malu di depan Steven.
“Menangislah, Alice. Jangan di tahan-tahan, dan tak pernah malu denganku. Lepaskan semua kesakitan yang sedang kau rasakan saat ini, kemari 'lah peluk aku,” ungkap Steven sambil mendekati Alice.
Alice merasakan kenyamanan dalam pelukan Steven. Ia menangis sejadi mungkin saat mengingat sakit hati yang ia terima. Memeluk Steven begitu erat begitupun sebaliknya.
Dua orang yang sama-sama merasakan sakit akibat di tolak oleh cinta yang mereka miliki. Tanpa terasa Steven juga ikut-ikutan menangis apalagi mengingat Claudia yang saat ini berada jauh darinya. Perlahan air matanya ikut mengalir walaupun tidak di ketahui oleh Alice.
Tangis Alice perlahan reda hingga ia perlahan menjauhkan tubuhnya dari Steven. Alice memandangi wajah Steven dengan begitu lama sampai akhirnya bayangan Alvero terlihat saat ia sedang memandanginya.
Alice tiba-tiba tersenyum, ia sangat senang Alvero hadir di depan matanya walaupun sebetulnya itu adalah Steven. Rasa rindu Alice dengan orang yang begitu ia cintai sampai akhirnya dirinya mendekatkan wajahnya begitu dekat sampai tidak ada jarak di antara mereka.
Alice sedikit membuka mulutnya lalu ia merenggut bibir Steven dengan sengaja. Matanya terpejam saat merasakan ciuman bahkan dengan spontan ia merangkul Steven begitu erat.
‘Alice, dia mencium ku. Apa mungkin ini artinya aku harus kembali merasakan sentuhan wanita? Oh tidak, aku bisa gila jika menahannya apalagi hawa dingin begitu menusuk tulang ku,’ batin Steven.
Tangannya perlahan mulai menyusup masuk kedalam pakaian Alice. Jendela masih terbuka hawa dingin justru semakin membawa mereka ingin merasakan kehangatan. Perlahan Steven melepaskan semua yang menghalangi tubuh Alice begitupun dengannya. Balasan setimpal yang di terima sampai keduanya sama-sama tidak memakai sehelai benangpun.
Alice menahan gejolak saat Steven mulai memainkan bulatan indah milik dirinya. Yang sudah tidak lagi terbungkus penutup, belahan itupun masuk kedalam mulut Steven sambil tangannya berada di leher Alice. Alice membayangkan wajah sentuhan Alvero. Lalu Steven bangkit dan menarik tubuh Alice untuk ia bawa duduk di atas pangkuannya.
Steven ingin memandangi wajah Alice sambil memeluknya namun, saat Alice tersadar bahwa yang ia bayangkan adalah orang lain. Matanya menatap wajah Steven yang sedang berusaha mencari celah untuk membawa masuk adik kecil miliknya. Hingga masuk memenuhi seisi lubang buaya sampai akhirnya ia membuat Alice tersentak.
‘Astaga! Jadi sejak tadi aku sedang berhubungan dengan Steven? Ya ampun ... pikiranku benar-benar sudah tidak waras sampai-sampai membayangkan Alvero di depanku. Sudahlah lupakan semua sudah terjadi setidaknya aku harus membalas jasa pada Steven yang sudah menolongku apalagi saat ini dia sedang ingin berada dalam tubuhku. Aku harus memberinya yang terbaik,’ batin Alice.
Steven sengaja mendiamkan sesaat adik kecilnya sambil mencium bibir Alice. Kecupan demi kecupan yang Alice terima hingga Alice sendiri yang sengaja mengerakkan tubuhnya. Mereka pun saling bergerak, bergoyang dengan begitu cekatan. Sambil memeluk serta Steven sesekali mengambil kesempatan untuk mencicipi dua gundukan besar.
Berganti posisi, Steven berada di bawah. Alice yang memang ingin membuat yang terbaik sampai erangan dan gerakan darinya begitu indah bahkan sampai membuat Steven merem melek keenakan. Tangan Steven tidak tinggal diam. Ia pun juga ingin membuat Alice bangga hingga dirinya mengambil posisi untuk berada di atas. Keduanya saling berteriak memanggil nama masing-masing bahkan Alice mengigit bibir bawahnya sampai akhirnya Steven berada di puncak hingga semburan memenuhi tempat Alice.
Malam yang panjang menyaksikan semua yang telah mereka lakukan. Steven merebahkan dirinya di samping Alice sambil memeluknya.
“Alice,” panggil Steven.
“Emm.”
“Apa saat ini kita baru saja melakukannya?” tanya Steven dengan sengaja.
“Ya kita baru selesai. Apa kamu pikir kita tidak melakukannya?” sahut Alice sambil bertanya sembari membalikkan tubuhnya melihat wajah Steven.
Steven tersenyum sambil mengecup bibir Alice. “Aku tahu tapi, aku sengaja bertanya. Oh ya, bukankah kita baru beberapa jam yang lalu bertemu?”
“Ya benar. Lalu kenapa? Apa kamu menyesalinya? Oh ya aku hampir lupa ingin bilang sesuatu padamu,” ungkap Alice sambil menggerakkan tangannya di pipi Steven.
“Katakan apapun itu aku akan mendengarnya,” sahut Steven sambil memegangi tangan Alice di wajahnya hingga ia mengecupnya.
“Kenapa sekarang cara bicaramu lebih baik padaku? Maksudnya sejak tadi kamu bahkan berbicara sedikit cuek. Lalu sekarang aku justru merasa kalau aku sedang berada dalam hatimu,” ucap Alice sambil menahan senyumnya.
“Oh ya? Jadi ternyata diam-diam kamu terus memperhatikan ku. Aku tahu aku ini cukup tampan jadi, kalaupun ada wanita yang melihatku dalam beberapa detik tentu saja akan langsung jatuh cinta. Bukankah begitu? Contohnya seperti dirimu,” sahut Steven yang terlalu percaya diri.
“Ya ampun ... Kamu bahkan sangat percaya diri. Oh ya apa saat ini kita tidak lagi tidur?” tanya Alice.
“Menurutmu?” tanya Steven sambil terus memandangi wajah Alice.
“Ayolah kamu seperti sedang jatuh cinta padaku. Terus memandang bahkan tiada henti,” ungkap Alice.
“Ya-ya aku mulai jatuh cinta dengan milikmu. Kamu tahu, kamu cukup pintar membuatku semangat. Aku semakin jatuh cinta dengan milikmu,” ungkap Steven sambil memegangi milik Alice seraya mencoba memasukkan jarinya.
“Dasar gombal! Sudahlah aku sudah mulai mengantuk. Sudah pasti kita besok akan bangun kesiangan.”
“Ya-ya baiklah kita akan tidur apalagi aku tahu kamu pasti kelelahan. Huuh! Benar-benar aku ini pria yang baik bahkan pengertian,” ungkap Steven sambil menyelinap masuk kedalam selimut Alice.
“Hey! Kamu ini baik apanya bahkan sengaja mencari kesempatan!” ungkap Alice sambil menggelengkan kepalanya.
Alice tidak ingin mengalah, ia juga tidak ingin kehilangan selimutnya. Mereka akhirnya memilih untuk berbagi selimut sambil masuk kedalam pelukan masing-masing sampai akhirnya tertidur pulas. Bahkan mereka tidak pedulikan dengan jendela yang masih terbuka meskipun arah jendela tersebut menghadap ke belakang, dan tentu saja tidak akan ada pencuri yang berani masuk karena apartemennya lumayan tinggi. Anggap saja seperti itu.
...----------------...
...----------------...
(Kediaman Pasutri)
Setulus embun pagi membasahi dedaunan. Malu-malu sang mentari di pagi nan menyejukkan. Claudia membuka jendela kamarnya, cahaya mentari masuk menyinari. Entah kenapa tidurnya tidak nyenyak bahkan memimpikan sosok bayangan yang telah lama pergi. Hari ini ia bermimpi bertemu dengan Steven namun, mimpi itu terlihat aneh bahkan kabut tebal menghalangi jalannya untuk menuju ke tempat Steven berada.
Saat ia selesai membuka jendelanya namun, saat kembali tidak sengaja pinggangnya tersenggol kearah lampu hias yang berada di dalam kamar tersebut. Ada sebuah bingkai photo kenangan ia bersama dengan Steven. Sampai akhirnya bingkai photo tersebut jatuh ke lantai. Padahal senggolan itu hanya terasa sedikit tapi, entah kenapa bisa membuat kenangan itu tiba-tiba ikut jatuh. Dengan cepat ia mengambil kenangan tersebut namun, tanpa hati-hati tangannya justru tergores dengan pecahan kaca.
Ia meringis kesakitan tapi, ia tetap berusaha mengambil kenangan miliknya walaupun tangannya sudah terluka. Hatinya gelisah entah kenapa saat melihat kenangan tersebut ia sangat cemas memikirkan Steven.
‘Kakak, semoga kamu di luar sana baik-baik saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Tolong lindungilah langkahnya. Aku mencintaimu sebagai kakakku juga sebagai pendamping hidupku,’ batin Claudia.
Ia memilih keluar untuk mengambil sapu namun, saat ia berjalan keluar justru Viora tepat berada di depan pintunya sampai akhirnya mereka saling berhadapan.
“Aku pikir kamu belum bangun jadi, aku ingin mengajakmu sarapan bersama,” ungkap Viora.
“Terima kasih, Viora. Tapi, sebaiknya aku sarapan nanti saja kalian duluan saja dulu soalnya aku sedang membereskan sesuatu,” sahut Claudia sambil menyembunyikan tangannya yang tergores luka.
“Oh ya? Apa yang sedang kamu bereskan?” tanya Viora penasaran. Ia bahkan langsung memasuki kamar itu.
“Viora, tunggu! Jangan kesana hati-hati jalanmu lihatlah ke bawah,” tahan Claudia sambil mengikuti langkah Viora.
Viora tercengang melihat pecahan kaca berhamburan di lantai. Sampai akhirnya ia mengambil photo kenangan milik Claudia tanpa meminta izin.
“Ya ampun ... Claudia. Pecahan ini sangat banyak sebaiknya biar pelayan yang membereskan semua ini. Ayo ikut aku untuk sarapan,” ajak Viora sambil menarik tangan Claudia dengan kuat.
“Aw! Viora, jangan tarik,” tahan Claudia yang merasakan kesakitan.
Viora tersentak saat menyadari Claudia kesakitan. Ia juga penasaran sampai akhirnya ia dengan sengaja melihatnya.
“Hey! Lukamu sangat dalam. Sebaiknya memang semua ini tidak bisa kamu kerjakan sendirian. Ayo ikut denganku, akan ku obati lukamu. Biar masalah ini pelayan yang mengurusnya termasuk menggantikan bingkai milikmu,” ungkap Viora sambil merangkul Claudia.
Claudia hanya menurut sebab dirinya juga sangat kesakitan. Di ruangan tamu mereka berjalan melewati Kelvin yang sedang sibuk menonton. Lalu Viora memilih duduk di dekat suaminya, sampai akhirnya Kelvin tercengang melihat kearah Claudia.