Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 112 Kejahatan


Happy reading


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


“Enyahlah cepat Elie! Jika tidak Brian yang akan menyeret mu dari sini.”


Rekaman yang aku minta sudah berhasil ku hapus. Aku ingin cepat-cepat agar Elie minggat dari tempatku, justru dengan menipunya mengatakan aku akan mengundang Brian padahal mana berani aku. Nyaliku sangat kecil jika harus membawa Pria yang sedang memiliki senjata itu.


“Sabar Kelvin! Aku juga akan pergi tapi sabarlah ini juga lagi beres-beres, aku tidak ingin barang-barang berharga ku tertinggal di sini,” sahut Elie tidak terima.


“Bagus jika kamu sekarang menyadari itu semua, memang kedatangan ku kesini hanya membawa masalah untukku, lebih cepat kamu pergi lebih baik aku tenang.”


“Tapi jangan senang dulu Kelvin, meksipun aku pergi dari sini aku juga tidak akan melepaskan mu. Selamanya kamu harus menjadi milikku, lihat saja,” ancam Elie terus bersikeras dengan tekadnya.


“Jangan menghayal karena semua itu tidak akan terjadi, dulu aku bisa kamu bodohi karena rekaman itu tapi sekarang tidak akan pernah bis–”


DORR!


DORR!


Entah darimana asal suara tembakan itu hingga membuat perdebatan kami terhenti. Elie panik begitupun dengan aku. Ia terus mengambil beberapa barang miliknya sedangkan aku pergi melihat keluar dengan cara jalan pelan-pelan. Betapa kagetnya aku bahwa sekarang di ruangan kediamanku Brian sedang berdiri lalu tidak jauh darinya seorang pelayan milikku sudah tergeletak dilantai dengan darah yang terus mengalir.


‘Astaga Brian! Bagaimana ini aku sama sekali tidak memiliki senjata sepertinya, tapi kenapa dia datang kesini bukankah saat di telepon dia mengatakan kalau dia percaya denganku, apa yang harus kulakukan?’ batinku. Aku sangat panik sampai susah untuk berpikir.


Dengan cepat aku kembali menemui Elie. Ia sudah berdiri dengan bolak-balik terlihat sangat panik.


“Siapa diluar Kelvin? Suara tembakan itu berasal darimana? Jawab cepat ku bertanya,” paksa Elie agar aku memberitahukannya.


“Pelankan suaramu, Brian ada di luar aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ini semua salahmu jika saja kamu cepat pergi tidak akan terjadi seperti ini,” sahutku dengan cara berbisik-bisik.


Elie tidak menyahut ucapanku, dia berdiri mematung dengan raut wajahnya yang pucat. Diluar sana Brian sedang mengamuk hingga orang lain yang menjadi korbannya. Saat sama-sama ketakutan seketika ide terlintas di pikiranku.


“Aku tidak mau sama saja aku mempersingkat nyawaku, tunggu sebentar jika tidak ada cara untuk ini maka aku akan mencari cara yang lain. Di dapur ada pisaukan? Tunggu aku ambil,” ucap Elie lalu beranjak dari tempatku.


Aku tidak tahu dia sampai kepikiran dengan pisau di dapur tapi tetap saja jika tidak ada pistol maka tidak membaik. Karena tidak memiliki apapun senjata aku hanya berdiam diri sampai menunggu Elie kembali namun saat aku sedang menunggunya dalam kepanikan tiba-tiba Brian sudah ada di belakangku dengan pistol tepat berada di kepalaku. Aku bisa merasakannya.


Tidak ada cara untuk lari jika tidak peluru itu akan masuk menembus kepalaku. Dalam ketakutan aku berdiam diri, tubuhku bergetar hebat sebab bukan hanya pistol yang ada di belakangku tapi pisau tepat di tangan kiri milik Brian sedang berjalan-jalan di dekat leherku.


‘Oh Tuhan, apa saat ini aku akan kehilangan nyawaku? Tidak boleh, aku tidak boleh mati konyol dengan cara seperti ini apalagi Viora sedang jauh denganku, aku juga harus menembus dosa padanya. Oh Tuhan Bapa, tolong selamatkan aku dari kegilaan Brian,’ batinku meminta doa agar terselamatkan.


“Hahaha Kelvin, Kelvin ... kamu pikir kamu bisa membohongiku, ingat baik-baik aku masih punya cara untuk menyelidiki di mana wanitaku yang kamu simpan! Tapi saat aku tanya kamu bahkan tidak jujur,” ucap Brian seraya terus mengayunkan pisaunya di tubuhku dan pistol masih tepat di kepalaku.


“Aku tidak berbohong Brian, ayolah kita ini teman tidak mungkin aku menipumu tapi bagaimana bisa seperti ini bukankah saat di telepon kamu sudah menanyakannya padaku, lalu sekarang kamu mau apalagi?” tanyaku memberanikan diri untuk memperbesar nyali padahal aku sudah takut setengah mati.


“Apa cuma dengan berbicara lewat telepon aku akan percaya?! Justru tidak! Aku sengaja mengecoh 'kan agar kamu bisa santai dan tidak ingin pergi, awalannya aku memang percaya tapi aku sedikit curiga karena apa Elie pernah bilang jika Reiner tempat ia berlindung tapi aku sudah ketempat mereka namun apa Elie ternyata membohongiku dan aku bisa menebaknya kalau dia bersamamu.”


“Kamu ingat Kelvin? Saat kita tidak sengaja bertemu di pantai dan kamu sedang berdua dengan Elie, justru karena itu aku semakin yakin kalau memang kalian sedang dekat. Sebab itulah aku kemari. Dan satu lagi kita bukan teman! Jika teman kamu tidak akan mengkhianati ku dan berbohong denganku! Katakan sekarang di mana Elie berada?!” sambung Brian dengan kemarahan yang sangat besar.


“Bi–Brian ... tolong dengarkan aku dulu, sama sekali aku tidak bermaksud untuk mengkhianati mu, justru aku punya alasan. Kumohon jauhkan dulu senjata mu dariku agar kita bicara baik-baik, sungguh aku tidak bermak–”


“Diam kamu!! Aku tidak menyuruhmu bicara! Jika saja kamu jujur denganku maka semuanya tidak akan seperti ini, namun sekarang semuanya sudah terlambat Kelvin, sebaiknya kamu berdoa agar dosa mu terampuni atau kamu ingin mengirimkan pesan-pesan terakhir untuk Elie mantan istriku yang sudah kamu rebut!”


“Dasar baji*gan! Kelvin, aku sebetulnya sudah menganggapmu teman, awal dari kita bertemu dulu aku sudah sangat bahagia bertemu kembali dengan teman lamaku tapi apa kamu sendiri merusak pertemanan kita, kamu sendiri yang membuatku marah dan sekarang aku sangat ingin setelah menembaki mu, kepalamu ini akan ku pajang di satu tempat sebagai kenangan atas apa yang telah kamu lakukan, aku tidak sabar juga akan mengeluarkan semua organ dalam mu terlebih adik kecilmu itu akan ku pisahkan dari dua bola yang membuatnya mengantung dan semuanya akan kulakukan di sini. Jika ada yang berani mengacaukan rencana ku mereka akan bernasib sama!”


Brian seakan menjadi moster yang menyeramkan. Amarahnya tidak bisa ia kendalikan, seorang piscyo dalam dirinya terbuka dan siap untuk membuat mangsanya mati dengan mengenaskan. Aku sendiri sudah bergidik ngeri dengan apa yang ingin ia lakukan padaku, tubuhku kaku dan tidak bisa bergerak senjatanya masih tetap berada mengancam.


“Kamu pengkhianat Kelvin!! Seorang pengkhianat harus mati, mati ...! Matilah kamu.”


≈≈≈


Aku ngeri-ngeri sedap saat menulis ckckc. Guys bagaimana kesan kalian kali ini? Kelvin yang sudah diambang kematian, mungkinkah ia akan mati atau akan selamat?