
Jangan buang waktu untuk membenci dan balas dendam. Setiap orang yang menyakiti pada akhirnya akan menerima karmanya sendiri.
********
Aku kebingungan harus melakukan apa saat genting seperti ini. Justru aku semakin takut jika Kelvin benar-benar menceritakan semuanya kepada Brian. Sebab Brian tidak tahu kalau telah banyak menyembunyikan banyak hal darinya. Ia terus menatapku seakan ingin memangsanya. "Kenapa kau diam Elie?!" Kelvin geram.
"Aku tidak diam Vin, aku sedang mencermati ucapanmu!" Aku kesal dengannya, meskipun menurutku itu hanyalah sebuah ancaman tapi aku juga sangat takut dan benar-benar ketakutan. Bukan soal takut jika Brian memarahiku namun sifat Brian yang kadang aku bingung, dia memang psycopat seperti yang Kelvin ucapkan.
Kelvin terus memegang wajahku dengan kasar, jika bukan dia laki-laki sudah pasti aku akan membunuhnya! Namun saat aku merasakan ketakutan seketika teringat sebuah file antara aku dengan Reiner. Dan tiba-tiba muncul ide cemerlang dariku. Itu bisa menjadi ancaman balik untuk memperingati Kelvin. Aku pun tersenyum mengerikan kearahnya.
"Lakukanlah jika memang kau mau menceritakan semuanya kepada Brian, aku justru tidak takut! Hahaha sebab aku juga akan melakukan hal yang menyakiti Zoya kembali!" Aku sengaja membuatnya merasa terancam.
Tangan Kelvin pun pelan-pelan meringankan pegangannya. Terlihat jelas raut wajahnya yang sedang berpikir membuatku justru senang tapi seketika wajahnya berubah kembali tersenyum mengerikan dan justru sekarang sebaliknya mencekik ku, hingga membuat nafasku sesak. "Elie, kau pikir bisa mengelabuhi ku lagi? Lakukan saja apa yang menjadi keinginanmu, tapi kau harus ingat jika aku sendiri yang akan menghalangi mu!" Kelvin geram dan terlihat sangat marah.
Ia pun melepaskan tangannya dari leherku. Sampai benar-benar membuatku susah untuk bernafas, perlahan aku menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Aku melihat kearahnya yang sekarang sedang menghisap rokok di tangannya. Aku berusaha turun tapi dengan cepat dia menarik tanganku hingga aku terjatuh kedalam pelukannya. 'Deg! Kenapa sekarang hatiku tidak karuan, tidak biasanya aku seperti ini dengan pria, dengan Brian saja aku tidak pernah merasakan detak jantung tidak beraturan seperti ini.’
Aku menatapnya lama hingga dia menjauhkan dirinya dariku, sontak membuatku kaget. "Hei gadis gila! Kenapa kau menatapku begitu?" ucap Kelvin.
"Tidak! Siapa yang menatapmu, jangan terlalu tinggi berharap aku akan memperhatikanmu," ucapku berusaha mengelak.
Ia semakin kearahku sampai wajah kami benar-benar tidak ada jarak. "Lalu jika kau tidak memerhatikan ku lantas apa? Dan lihat sekarang wajahmu sudah berubah seperti kepiting rebus," ucap Kelvin.
Benarkah jika wajahku sekarang memerah? Jangan sampai aku jatuh cinta dengannya. Lamunanku buyar ketika Kelvin memukulku pelan. "Apa yang sedang kau pikirkan gadis jahat! Wajahmu tidak henti-hentinya memerah, apa kau mencintaiku?" Tanyanya justru membuat hatiku semakin tidak karuan.
Apa-apaan ini jangan sampai yang dikatakannya benar, Bisa-bisa rencana ku terhalang membuat Zoya dan Reiner menderita.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan, dan aku menoleh kearahnya. "Vin, sudahlah jangan terlalu memaksa kehendak mu dengan menceritakan kepada Brian, kita cukup damai-damai sajalah," ucapku berusaha untuk menyakinkannya.
Dia menggelengkan kepalanya. "Cukup Elie, aku muak mendengar celotehan tidak berguna mu itu, lebih baik kau jaga saja kelakuanmu agar aku tidak bertindak jauh dan sebaliknya membuatmu terluka, camkan itu!" ucap Kelvin dan membuka pintu mobil berusaha keluar, lalu dia menarik pintu sebelahku dan menarik tanganku dengan kasar.
"Cepat keluar!"
"Lepaskan aku Kelvin! Aku bisa keluar sendiri tanpa kau menyeretnya," ucapku kesal. Ia pun memasuki mobilnya dan berjalan pergi sampai aku melihat mobilnya menghilang dari pandanganku. Setelah dari pertemuanku dengannya entah mengapa sampai saat ini pikiranku justru mengingat Kelvin dan sebaliknya hatiku tidak tenang. Saat aku sedang berpikir untuk pria lain tiba-tiba Brian menghubungiku.
Dengan cepat aku langsung mengangkatnya. "Hallo Brian, ada apa?" Ungkapku. Lama aku menunggu dia menjawab ucapanku, mungkin saja jaringan, itu yang kupikirkan. "Sayang kenapa kau lama sekali berada diluar, aku sudah lelah menunggumu pulang?" Ucapnya dari balik ponselku. "Bersabarlah sebentar, aku masih banyak urusan diluar, kau jalan-jalan saja dulu sampai aku kembali," ungkapku.
Terdengar helaan nafasnya memburu. "Ayolah sayang kenapa justru kau seperti ini? Aku bingung melihatmu akhir-akhir ini kau selalu berpergian lama tapi tidak ingin mengajakku!" ucap Brian sedikit kesal. "Kumohon mengertilah dan aku tidak ingin bertengk denganmu melalui ponsel, tunggu aku pulang dan sudah ya, aku banyak urusan," ucapku dan mematikan sambungan ponsel sebelah pihak.
'Maafkan aku Brian, jika terpaksa aku membohongimu, saat ini yang kubutuhkan hanya ketenangan,' batin Elie.
Aku berjalan melangkah memasuki mobilku, entah kemana arah tujuanku saat ini, aku tidak tahu tapi yang jelas aku masih kepikiran tentang hatiku yang tidak karuan saat bersama Kelvin tadi. Dan sampai saat ini aku masih terus berpikir untuknya, justru sekarang membuatku pusing antara aku memang mencintainya atau justru hanya merasakan takut kepadanya.
Hati yang sedang dilandasi kegelisahan membuatku berniat untuk melajukan mobil kearah laut. Berkeinginan untuk duduk berdiam diri ditepi pantai, menikmati indahnya pemandangan pantai serta angin yang sepoi-sepoi membuat pikiranku sedikit tenang. Lega rasanya hatiku berada disini. Saat aku sedang duduk sendirian dari jarak yang sedikit jauh aku melihat dua pasangan sedang bermain air dan berlari-larian justru seketika bayangan Kelvin terlintas di hadapanku.
Aku tersentak dan mengusapkan mataku berharap aku sedang menghayal tapi tiba-tiba saja bayangan itu semakin mendekat dan benar dia bukan bayangan seperti yang ku maksud melainkan kenyataan dan benar Kelvin. Ia melangkah duduk di sampingku, entah mengapa hatiku kembali tidak karuan antara gelisah dan senang. 'Apa aku benar-benar gila saat ini seperti ucapan Kelvin menyebutku gila,' batin Elie.
"Hei gadis gila kenapa kau terus melamun? Aneh ya jika aku di sini dan justru duduk di sampingmu" ungkap Kelvin membuatku tersadar dari lamunanku. Aku pun menoleh kearahnya.
"Ah, eee ... dan kenapa kau berada di sini juga?" tanyaku sedikit penasaran. "Aku pun tidak tahu justru hatiku mengatakan untuk aku kesini dan aku hanya mengikuti apa yang hatiku ucapkan, oh ya aku ... Aku tidak ingin berniat marah-marah saat ini jadi kau jangan membuatku kesal," ucapnya seraya dia merebahkan diri di sampingku.
Entah mengapa melihatnya berada di sisiku dan berbicara lembut, seketika pikiranku tenang dari berbagai macam yang sedang aku pikirkan. Katakanlah jika memang aku sedang jatuh cinta dengannya. Aku mengikuti hal sama seperti yang Kelvin lakukan, merebahkan diri sambil melihat kearah langit.