Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
49~S3 Istriku Gadis Kecilku Sebuah kotak rahasia


H A P P Y R E A D I N G


“Bentar, bentar! Kamu kalau cemburu bilang aja deh, Alvero. Jangan perlakukan aku dengan sesuka mu begitu,” ucap Alice.


“Jangan terlalu kepedean karena aku tidak suka. Siapa juga yang cemburu dengan orang yang sudah tidur dengan pria lain. Aku bahkan sudah muak melihatmu. Lagipula sebelum aku pergi ke apartemen mu. Waktu itu aku bertemu dengan seorang wanita cantik, dia sedikit galak meskipun dia cukup menarik perhatian saat diajak ngomong. Kau tahu kenapa aku memberitahukan ini? Karena aku tidak cemburu denganmu. Jika kamu bisa bermain api tentu saja aku bisa,” sahut Alvero dengan panjang lebar.


“Terserah! Aku tidak peduli,” ketus Alice yang langsung membuang muka kearah lain.


‘Apa dia pikir laki-laki hanya ada dirinya? Heh! Sikapmu terlihat seperti cemburu meskipun kamu tidak mengakuinya. Lagipula mana ada orang yang tidak cemburu lalu tiba-tiba marah jika melihat pasangannya bermain api dengan orang lain. Tentu saja semuanya bulshit,' batin Alice.


Alvero bosan melihat Alice yang sudah membuang muka darinya, ia lalu berjalan kearahnya lain tapi, masih di dalam kamar tersebut.


‘Dompetku kemana ya? Apa mungkin jatuh saat aku sedang membawa Alice pulang tapi, perasaan sewaktu aku makan bersama Claudia hanya ku bawa kartu kredit tidak dengan dompet. Ah sial!’ batin Alvero kesal.


Alvero celingak-celinguk mencari dompet miliknya, ia membuka semua laci yang ada di kamarnya. Melihat itu Alice penasaran menatap Alvero tiba-tiba seperti sedang mencari sesuatu.


”Hey! Lagi cari apasih?” tanya Alice penasaran.


“Bukan urusanmu,” ketus Alvero sambil terus mencari.


Alice yang terlalu penasaran akhirnya mendekati Alvero, meskipun ia tidak tahu sedang mencari apa namun, ia mencoba membantunya. Melihat Alice yang membantu, justru Alvero merasa kesal.


“Mau ngapain? Mau jadi pahlawan? Jangan sok baik deh,” ketus Alvero dengan tatapan sinis.


“Udah bagus di bantuin. Dasar! Bilang aja deh lagi cari apa?”


“Dompetku enggak tahu kemana. Gara-gara kamu nih pakai nolak lagi pindah kesini,” ucap Alvero yang langsung menyalahkan orang lain.


“Emang nyebelin ya! Kamu yang salah malah salahin orang lain!” ketus Alice yang tidak ingin kalah.


“Jangan bawel. Kalau mau bantuin yaudah bantu!”


Keduanya saling tidak ingin kalah meskipun mereka terus mencarinya bersama. Alice yang memang berniat membantu Alvero hingga ia memaksa dirinya untuk melihat di bawah kolom-kolom tempat tidur sampai membuat Alvero tercengang dengannya.


“Woy! Kamu pikir dompet sebesar itu bakalan loncat-loncat kaya bola terus masuk ke kolom ranjang, gitu? Makanya gunain otak di pikir,” omel Alvero yang selalu melihat tingkah Alice.


“Bisa diamkan? Enggak usah bawel deh. Aku itu cuma penasaran, kali aja beneran di sini soalnya tuh di tengah ranjang ini aku kaya lihat ada kotak kecil warna hitam. Ambilkan bentar,” sahut Alice sembari memberikan perintah.


“Ya ampun ... Kita lagi caridompet bukannya cari kotak! Benar-benar kamu ya bikin orang pusing aja. Belum jadi istri masih jadi calon udah banyak tingkah.”


“Ihhh cepat kesini ambilkan bentar. Aku takut ambilnya soalnya takut kalau perutku kejepit makannya ambilkan bentar. Emangnya mau anak kamu belum lahir udah mati duluan? Kalau enggak mau makanya nurut,” paksa Alice.


“Ngomong itu yang bener jangan doain yang enggak-enggak. Berdoa tuh supaya bayi kita lahir sehat bukan doain mati. Ya udah sana minggir biar aku ambil.”


‘Bayi kita? Ehem, Alvero, aku suka kalau kamu mengakui anakku meskipun secara tidak langsung,’ batin Alice sambil tersenyum sembari bergeser sedikit menjauh.


“Loh? Enggak jadi di ambil?” tanya Alice kebingungan.


“Jadi sih cuma ... Kenapa kotak itu bisa ada di bawah tempat tidurku? Mendingan enggak usah kita ambil aja deh soalnya pakai kunci mungkin ada binatang gitu atau apa. Enggak jadi ah jijik,” sahut Alvero yang langsung menjauh dari ranjangnya.


“Hey! Kamu pria 'kan? Masa begitu doang takut. Udah cepat ambil siapa tahu di dalamnya harta karun atau sesuatu barang yang berharga bahkan tadi kamu bilang kalau kotak itu pakai gembok kunci.”


“Tapi, Alice. Aku takut jijik ah!”


“Udah cepetan! Kalau enggak begini aja, aku ambilkan sapu dulu supaya nanti enggak kenak tangan kamu langsung,” sahut Alice yang langsung melangkah keluar.


Alice benar-benar pergi mengambil sapu. Saat sapu ada di tangannya tiba-tiba mamanya Alvero melihat kearah Alice dengan terheran-heran bahkan sampai menghentikan langkahnya.


“Eh! Bentar, bentar. Kamu lagi enggak sakit 'kan?” tanya Mami Alvero kebingungan.


“Enggak kok, Tan. Eh! Aku buru-buru nih, Tante,” ucap Alice berniat pergi namun, langkahnya terus di hentikan.


“Kalau enggak sakit terus kenapa bawa-bawa sapu segala? Mau lamar jadi babu?” tanya Mami Alvero dengan sesukanya.


“Aduh ... Enggaklah. Udah ah, Alice lagi buru-buru nih, Tan,” jawab Alice yang langsung pergi.


Mamanya Alvero kebingungan, ia bahkan mengikuti Alice berjalan di belakang. Tiba di kamarnya Alvero, ia mengambil sapu dari tangannya Alice. Kemudian mencoba mengambil benda yang sejak tadi membuatnya penasaran.


“Kalian lagi ngapain sih pakai penyapu segala? Terus lagi itu Alvero ngapain masuk ke kolom ranjang, Nak? Ah! Kalian ada-ada aja deh,” ungkap Mami begitu penasaran.


Beberapa menit Alvero mencoba mengambil benda itu hingga akhirnya ia berhasil mengambilnya namun, Alvero tidak berani membukanya hingga akhir Mami yang turun tangan.


“Sini biar Mami lihat,” pinta Mami yang langsung diberikan oleh Alvero.


Mami mengamati kotak tersebut begitu lama bahkan membolak-balik benda itu. Hingga akhirnya ia bisa melihat ada tulisan nama yang berada dalam di belakang kotak tersebut.


‘Loh? Apa mungkin ini kotak yang di simpan oleh Bibi Karin? Tapi, kok ada di sini? Padahal seingat ku dulu aku pernah meminta untuk membuang benda ini. Jika memang benar kotak ini adalah identitas dari adiknya Alvero. Sebaiknya aku tidak bisa membuka kotak ini di depan Alvero, karena aku takut dia akan berpikir aku ibu yang kejam,’ batin Mami sembari meninggalkan kamar itu tanpa berkata apa-apa kepada anaknya.


Alvero bersama Alice terheran melihat Mami yang langsung pergi meninggalkan mereka tanpa berbicara apapun. Hingga akhirnya Alice menatap Alvero.


“Apa pikiranmu sama denganku, Alvero? Bahwa kotak itu ada sesuatu di dalamnya,” ucap Alice.


“Aku juga berpikir sama, sebaiknya kita ambil paksa dari tangan Mami,” sahut Alvero.


...----------------...


Sambil nunggu update guys, baca novel Author yang dibawah yuk! Update setiap hari juga