
H A P P Y R E A D I N G
Papa membulatkan matanya sempurna saat melihat anak perempuannya di tampar bahkan di caci maki di depannya langsung. Membuat amarahnya begitu kesal lalu dengan cepat ia menarik tangan istrinya untuk menjauh dari Claudia.
“ Cukup, Tante! Cukup! Aku tidak berharap ada di keluarga ini bahkan lahir dari keluarga ini. Alvero sendiri yang membawaku kemari padahal aku sama sekali tidak butuh semua itu apalagi sampai Ibuku Anda bawa-bawa. Jika memang Anda tidak bisa menerima saya tidak masalah tapi, lihat wanita itu yang sedang hamil bahkan hasil dari perbuatan anakmu sendiri padahal mereka belum menikah jadi apa bedanya Anda dengan serigala yang suka memakai bangkai keluarga sendiri. Dan mulai detik ini jangan pernah lagi anggap aku dari pihak keluarga ini karena bagaimanapun aku tidak suka hidup satu atap dengan orang munafik seperti Anda, Nyonya besar!" tegas Claudia sembari menunjuk kearah bundanya Alvero.
“ Ayo, Baly, Kelvin. Kita pergi dari rumah yang seperti neraka ini,” ajak Claudia yang langsung melangkah berjalan dan diikuti oleh dua laki-laki di belakang.
Mendengar ucapan kasar dari Claudia. Papa langsung tiba-tiba sesak napas lalu hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Alvero berlari menghampiri papanya namun, saat itu juga Claudia terhenti.
“ Maafkan aku, Papa,” gumam Claudia lalu dengan cepat melanjutkan langkahnya.
Mereka bertiga pun melanjutkan jalannya tanpa lagi memperdulikan suasana kacau yang sedang terjadi di kediaman itu. Tiba di mobil keadaan menjadi hening tanpa ada satupun diantara mereka yang berbicara bahkan Claudia dengan sengaja membuang mukanya padahal ia duduk di samping Steven.
...----------------...
(Kediaman Kelvin)
Mereka pulang-pulang dengan perasaan marah bahkan Viora yang sejak tadi menunggu dari mereka untuk berbicara tapi, tidak ada satupun yang mau mengatakannya hingga ia memutuskan untuk bertanya langsung kepada suaminya.
“Pookie, apa yang terjadi? Bagaimana dengan lamarannya?” tanya Viora penasaran.
“ Semuanya gagal bahkan Claudia memilih untuk berpisah dari keluarganya. Kau tahu, Bookie? Mamanya Alvero membuat semua keadaan hancur bahkan Alvero sendiri menentang hubungan mereka,” sahut Kelvin sambil memilih duduk di samping istrinya.
“Ya ampun ... sangat disayangkan.” Viora prihatin.
Claudia bersama Steven menatap satu sama lain. hingga akhirnya Claudia menarik tangan Steven untuk ikut duduk dengannya.
“Kelvin, Viora. Sepertinya aku harus kembali pulang ke apartemen. Lalu memulai hidup seperti dulu. Dan juga aku mulai kembali melanjutkan pekerjaanku yang sudah terlalu lama terbengkalai. Baly, bagaimana denganmu, apa kau ingin ikut denganku?”
“Tentu saja, Ball. Aku akan ikut denganmu lagipula kediaman kita di sana. Apalagi kita sudah banyak merepotkan Kelvin jadi kupikir memang kita harus kembali kesana dan memulai hidup yang lama seperti dulu tapi, bedanya kita akan tinggal bersama jadi kamu tidak perlu menepati apartemen itu lagi melainkan harus pindah ke kediamanku.”
Kelvin bersama sang istri tersenyum melihat mereka berbicara begitu serius hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk ikut dalam perbincangan mereka.
“Jadi begini jika memang kalian akan kembali maka kami juga akan ikut sekalian mengunjungi Bunda, Ayah juga si kembar Kaylee dan Kayrren,” timpal Kelvin yang langsung disambut ceria oleh Viora.
“ Wah ... Asyik! Berarti seru dong kalau bisa ketemu sama si kembar. Duh ... jadi enggak sabar,” sahut Viora penuh ceria.
Steven menganggukkan kepalanya sambil tersenyum namun, ia tidak sengaja melirik kearah kekasihnya.
“Ball, apa kamu tidak senang jika bertemu dengan si kembar?" tanya Steven penasaran.
“Oh ... perkara itu gampang kok. Zoya akan menerimamu apalagi dia bukan orang pendendam. Tenang saja, Claudia. Semuanya akan aman. berarti jika memang seperti ini sebaiknya kalian segera berkemas-kemas supaya kita cepat berangkat.”
Ucapan Kelvin mampu membuat semuanya bahagia hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi menyiapkan semua perlengkapan namun, bedanya dengan Claudia, ia justru terdiam di tempat sampai membuat Steven heran.
“Ball, kau tidak ikut berkemas?” tanya Steven kebingungan.
“Apa yang harus ku siapkan semua barangku ada di kediaman Alvero,” sahut Claudia dengan rasa malas.
“Baiklah jika begitu lebih baik kita pergi shopping sekarang juga. Kelvin! Tunggu kami yah, mau ke mall bentar!"
“Iya aman!”
Mereka akhirnya sibuk dengan urusan masing-masing bahkan melupakan apa yang sedang terjadi barusan. Sambil menikmati angin malam Steven bersama Claudia pergi berbelanja berbeda dengan Kelvin justru bermain kuda-kudaan sembari menunggu temannya pulang. Walau pada akhirnya alasan kemas-kemas hanya menjadi alasan belaka sebab semuanya akan di urus oleh pelayan.
...----------------...
(Kediaman Alvero)
Semua orang sedang berduka, setelah Papa mengalami sesak nafas hingga membuatnya kehilangan nyawa langsung ditempat. Alvero yang begitu terpukul saat melihat kehilangan orang yang dia cintai. Malam itu juga jasad papanya langsung dimakamkan.
Alice yang siap siaga menemani Alvero begitu kasihan melihat orang yang dia cintai sedang merasakan kesedihan. Saat mereka kembali pulang dari pemakaman. Alvero langsung menghadang langkah mamanya dengan tiba-tiba.
“Udah puaskan Mama sekarang! Setelah Mama buat adik Alvero pergi terus sekarang Papa yang ikut-ikutan pergi jauh," bentak Alvero dengan kasar.
“Ini bukan kesalahanku. Adik kamu sendiri yang tidak tahu etika sopan santun. Dia bahkan berani-beraninya menjawab ucapan mu jadi semuanya itu bukan kesalahanku melainkan salah adikmu!" sahut Mama yang tidak ingin kalah.
Alice kebingungan melihat keributan didepannya. Ia bahkan tidak tahu harus berpihak kepada siapa karena keduanya begitu penting untuknya.
“Jika Mama tidak menamparnya dan menghina ibunya mungkin saat ini Papa tidak akan pergi dari kita semua! Tapi, sekarang lihat semuanya menjadi kacau. Tidak ada yang berguna satupun. Sebaiknya Mama ingat satu hal, Alvero akan membawa kembali Claudia kesini tapi, jika Mama berani berbuat ulah pada adikku lagi. Aku bersama Alice akan pergi dari rumah ini dan Mama akan tinggal sendiri tanpa ada yang mau menjaga Mama di hari tua nanti,” ancam Alvero sembari menarik tangan Alice dengan kesal.
“Hey! Dasar anak durhaka dia bahkan lebih memilih adiknya daripada mamanya sendiri,” gumam Mama tanpa di pedulikan oleh Alvero.
Alice bersama Alvero pergi dengan langkah yang cepat menuju ke kamar mereka. Dengan senang hati Alice menemani Alvero bahkan pria itu sedang kesal sampai-sampai menendang apapun benda yang ada didepannya. Hingga akhirnya ia menunduk sambil memegang memegang rambutnya.
Alice pun tahu harus melakukan apa. Kemudian ia membawa Alvero kedalam pelukannya sambil mengusap rambut pria itu dengan penuh kelembutan hingga Alvero membalas pelukan dengan erat lalu menangis di bahunya Alice.
Mtp sudah update ya yuk langsung kepoin tinggal klik profil atau cari pencarian. Mertuaku Tapi Perjaka!