
H A P P Y R E A D I N G
“Tidak mau aku lepaskan sebelum jawab pertanyaan ku. Katakan kenapa semalam kamu menangis? Apa memang kamu telah mencintaiku, Alice?” tanya Alvero dengan sungguh-sungguh.
‘Ya ampun! Alvero pakai bahas masalah semalam lagi. Aduh ... Gimana ya caranya supaya aku bisa mengalihkan pembicaraan?’ batin Alice.
“Aku tidak mencintaimu! Dan semalam aku hanya terharu sampai membuatku menangis. Ah sudahlah aku harus cepat-cepat pergi karena waktu masuk kerja tinggal sedikit lagi kalau tidak maka Bos ku akan menghukum ku,” ungkap Alice mencoba menghindar.
“Hey! Jangan coba menghindar dariku. Ayolah kita ini sudah melakukan apapun bersama jika ya kamu mencintaiku maka jujur aja agar semuanya tidak menjadi masalah besar,” pinta Alvero terus memaksanya.
“Aku sudah katakan tidak ya tidak! Alvero, aku harus menjalankan tugasku sekaligus dua kali. Tolong beri aku jalan untuk pergi,” ucap Alice dengan serius.
Alvero melepaskan tangannya. Alice langsung memungut kembali pakaiannya seraya ingin memakainya. Namun, di tengah ia sedang memakai pakaiannya tersebut, Alvero justru bangkit dari tidurnya.
“Alice, meskipun kamu menghindar dariku tapi, aku tetap mengatakan satu hal padamu walaupun aku tahu mungkin ini tidaklah benar. Jika memang kamu mulai mencintaiku sebaiknya jangan mencintaiku karena aku takut hatimu akan terluka sepertiku, sebab aku tidak bisa membalasnya. Hubungan kita hanyalah partner kerja agar membuat kekasihku kembali denganku jadi, di luar dari semua itu lebih baik kita bersikap biasa saja tanpa menaruh hati didalamnya meskipun kita terus berhubungan badan tapi, aku akan membayarnya seperti yang sudah kita sepakati bersama,” ungkap Alvero dengan jelas.
Alice menahan tangisnya, ia lalu menarik nafas dalam-dalam. “Alvero, aku tahu kita tidak akan bersama walaupun kita sudah menyatu. Jadi, tidak perlu khawatir dengan perasaan yang akan timbul di antara kita karena itu tidak akan terjadi. Baiklah sebaiknya kita bahas masalah lain. Apa langkah selanjutnya yang harus kulakukan?”
‘Aku harus terus menahannya karena aku sudah berjanji untuk menghapuskan semua cinta ini,’ batin Alice.
“Bagus, Alice. Itulah yang kuinginkan kamu harus bisa bekerja dengan profesional tanpa melibatkan perasaan. Langkah selanjutnya cari tahu mengenai apapun dalam hubungan rumah tangga Viora, agar kita tahu mereka akan melakukan apa,” perintah Alvero dengan tegas.
“Baiklah, Alvero. Aku mengerti jadi, mana bayaran ku untuk hari ini?” tanya Alice.
“Aku akan mentransfernya nanti setelah aku mendapati informasi lagi. Baiklah, Alice. Kamu sudah bisa keluar,” ungkap Alvero dengan jelas.
Alice menganggukkan kepalanya. Entah kenapa hari ini ia merasakan kalau Alvero justru berbicara formal dengannya padahal biasanya tidak pernah seperti itu bahkan selalu ada keributan di setiap bahan pembicaraan.
‘Apa mungkin Alvero telah berubah denganku setelah ia melihatku menangis semalam? Sebaiknya aku tidak boleh baper dengan apapun dan harus bisa menjadi Alice yang galak serta bodoh amat dengan hal lain,’ batin Alice.
...----------------...
Pagi ikut bersinar di kediaman pasutri. Kelvin terbangun dari tidurnya dan masih tangannya berada di atas gundukan besar milik Viora. Mereka memang bangun kesiangan lantaran karena lelah dan juga mengantuk.
Viora menguap seraya bangun dan di susul oleh Kelvin. Viora memilih untuk mengambil handuknya untuk mandi. Namun, Kelvin justru memilih untuk membuat sesuatu dari tubuhnya di WC. Lokasinya pun sedikit terpisah dan lumayan tertutup jadi tidak masalah kalau berbarengan memasuki kamar mandi.
Keduanya selesai dan sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja lalu mereka langsung sarapan yang sudah tertata rapi oleh pelayan-pelayannya. Acara sarapan pagi pun selesai. Mereka berdua langsung beranjak menuju keluar pintu. Namun, kepergian mereka terhenti sebab dua orang berbadan kekar sedang menunggunya di luar.
Kelvin menyuruh mereka untuk masuk agar tidak ada yang bisa melihatnya. Viora hanya menyimak dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia juga ingin bertanya tapi, niatnya ia urungkan karena ada tamu.
“Bagaimana hasil pengintaian kalian kemarin apakah mendapat hasil?” tanya Kelvin langsung tanpa bertele-tele.
“A-anu, Bos! Kami ngga dapat lebih banyak tapi, waktu itu orang yang Bos suruh tiba-tiba di jemput dengan mobil mewah. Sialnya kami tidak tahu siapa orang tersebut karena dia tidak keluar dari mobil. Namun, kami juga sempat mengejar mobilnya tapi, lampu merah justru mencoba menghalangi,” ungkap salah satu dari anggota bayaran tersebut..
“Tidak, Bos.Kami benar-benar lupa dan tidak mengingatnya. Lain kali pasti kami akan mengambil gambarnya,” sahut merek dengan ketakutan.
“Baiklah. Inilah bayaran pertama untuk kalian. Tapi, ingat terus awasi dia kalau perlu ambil videonya jika sedang berbuat sesuatu, mengerti?” ungkap Kelvin dengan tegas
“Mengerti, Bos. Lain kali kami akan terus berusaha. Baiklah kalau begitu kami permisi dulu,” ucap mereka dengan menundukkan kepalanya.
Kedua orang bayaran itupun pergi meninggalkan kediaman Kelvin. Viora langsung memilih duduk tepat di samping suaminya.
“Pangeran, siapa mereka? Dan kenapa kamu memberinya uang?” tanya Viora penasaran.
“Ternyata gadis kecilku ini juga seorang pelupa. Sayang, mereka itu datang atas permintaanmu kemarin untuk mengawasi gerak-geriknya Alice. Jadi, mulai sekarang kamu tidak perlu lagi khawatir karena aku akan membantumu,” ungkap Kelvin dengan penuh perhatian.
“Asyik ... Ternyata Pangeran benar-benar melakukan apa permintaanku. Ya sudah kalau begitu ayo kita langsung pergi bekerja,” ajak Viora dengan semangat.
“Tentu saja, gadis kecil. Ah ya, besok jangan sampai lupa kita akan honeymoon jadi, setelah itu semuanya akan terungkap siapa jati dirimu ini. Bolehkan?” ungkap Kelvin seraya bertanya.
“Pangeran, lebih baik tidak perlu dulu beritahu siapa aku. Tunggu beberapa saat lagi baru setelah itu umumkan aku ini istrimu dalam perusahaan mu. Saat itu juga aku sudah pasti tidak akan lagi bekerja,” sahut Viora mencoba menahan.
“Baiklah, gadis kecil. Aku akan menuruti permintaanmu asalkan kamu baik-baik saja. Ya sudah ayo keburu kita makin telat sayang,” ucap Kelvin seraya menggenggam tangan Viora.
...----------------...
Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi bekerja dan setiap harinya selalu berdua. Langkah mereka di barengi dengan keceriaan hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Jauh dari parkiran mobil. Alice sudah menunggu kedatangan Viora. Ia sengaja ingin menyambut temannya itu dengan sedikit bermain. Terlihat Viora dengan senyuman terpancar di wajahnya memasuki pintu gerbang hingga akhirnya mereka berpisah di depan ruangan masing-masing.
Alice bersama seseorang langsung memasuki perusahaan dengan berjalan begitu cepat, dan langsung memasuki ruangan Viora. Tapi, orang yang ia ajak justru ia bawa kedalam ruangannya terlebih dahulu.
“Hay Viora, apa kamu sedang sibuk? Jika tidak maka aku ingin meminta bantuan mu saat ini, boleh?” Tanpa basa-basi Alice langsung memulai aksinya.
“Tapi, bisakah aku tahu harus melakukan apa?” tanya Viora penasaran.
“Ah, tentu saja. Laptopku ngga tahu tiba-tiba mati jadi, aku ingin kamu melihatnya lagipula di dalam sana banyak sekali pekerjaan penting yang belum selesai. ku mohon ... Bantulah aku,” rengek Alice sambil memegang tangan Viora.
“Ba-baiklah, aku akan melihatnya dulu jika nanti aku tidak bisa memperbaikinya sebaiknya cepat bawakan pada Dokter laptop," ungkap Viora mengiyakan.
“Terimakasih, temanku,” sahut Alice dengan bahagia.
‘Bagus, langkah selanjutnya di mulai. Aku sudah tidak sabar menantinya,’ batin Alice.