
H A P P Y R E A D I N G
“ Oh ya, Ball. Jika nanti kakakmu juga tidak akan merestui jadi bagaimana? Bakalan jadi janda beranak satu dong,” ucap Steven.
“ Hey! Kau ingin aku menjadi janda ya? Dasar kekasih tidak tahu diri,” sahut Claudia sambil tersenyum.
“ Jika kakak tidak merestuinya maka ada satu jalan yang harus kita ambil. Katakan bahwa kita saling mencintai. Ah sudahlah ayo ke rumahku sekarang,” ajak Claudia sembari menarik tangannya Steven.
“ Ajak kerumah maksudnya bagaimana?” sahut Steven kebingungan.
“ Yah ketemu Papa sama kakak. Lagian kalau kita terus-terusan berhubungan tanpa adanya restu yang ada kita enggak dapat nikah dong,” ucap Claudia dengan raut wajah sedih.
‘ Duh apa memang sekarang waktunya aku harus lamar Claudia? Kalau Alvero enggak bolehin gimana? Tapi kalau aku harus diam di sini bener kata kekasihku yang ada kami enggak dapat nikah,’ batin Steven mencoba berpikir.
“ Ya udah, Ball. Kalau gitu yuk! Kita pulang nanti malam aku bakalan datang ke rumah buat lamar kamu tapi, aku datangnya sama Kelvin,” ucap Steven sembari mengusapkan rambutnya Claudia.
“ Asyik ... ya udah yuk pulang.” Claudia begitu ceria.
Mereka pun bergandengan tangan berjalan bersamaan sambil sesekali bercanda mesra hingga siapapun yang melihatnya iri dengan mereka berdua. Namun, saat mereka sedang berjalan tiba-tiba pasangan pasutri pun datang.
“ Udah boleh pulang?” tanya Viora.
“ Udah kok. Eh! Kelvin nanti malam temenin gue ya ke rumahnya Claudia,” pinta Steven sembari melirik kekasihnya.
“ Emangnya ngapain? Mau lamar dia Lo?” tanya Kelvin.
“ Kalau udah tahu enggak usah nanya lagi deh,” ketus Steven.
“ Sensian Lo!" sahut Kelvin.
Sepasang kekasih berpisah di rumah sakit sebab Claudia membawa mobilnya sendiri.
...----------------...
...----------------...
Malam tiba, Steven mondar-mandir di depan Kelvin dan Viora hingga membuat mereka kesal lalu melemparkan bantal yang sejak tadi Viora pegang.
“ Lo kenapa sih mondar-mandir bikin orang pusing aja!” ketus Kelvin.
“ Gue takut kalau keluarga barunya enggak mau restui hubungan gue sama Claudia. Gimana dong kalau gagal?” Steven cemas.
“ Belum dicoba udah pesimis gitu. Udah ah coba dulu nanti kalau Alvero berani sama kita. Gue yang bakalan lawan dia duluan, abisnya kesel kalau ingat namanya aja gue kesel apalagi lihat wajahnya itu,” geram Kelvin sampai mengepal tanganku.
“ Tahan, Pookie. Kalau kamu datangnya dengan amarah tentu saja mereka bakalan balas seperti itu juga. Sebaiknya tenang dan fokus hal baik saja. Udah cepet nanti keburu kemalaman loh,” timpal Viora.
Claudia yang sudah tahu kedatangan sang kekasih langsung menunggu dengan penuh keceriaan. Tapi, berbeda dengan sang kakak, Alvero justru kebingungan saat mobil milik Kelvin tiba di halaman kediamannya.
Saat Kelvin bersama Steven turun berbarengan dari mobilnya. Alvero langsung kesal bahkan mengeraskan rahangnya. Tapi, berbeda dengan dua tamu itu mereka langsung berjalan mendekati Alvero.
“ Berani-beraninya kalian berdua injak kaki di tempatku, mau cari mati ya,” geram Alvero dengan suara sedikit pelan.
“ Kami kesini tidak ada hubungannya sama Lo. Tapi, kalau Lo sambut dengan kematian maka kami berdua akan siap. Ingat Alvero, Lo yang bakalan kalah. Kedua kalinya Lo ada di bawah kekalahan jadi mungkin ini yang ketiga kalinya kalau Lo berani mengacaukan semuanya,” sahut Kelvin sembari membisikkannya langsung di telinga Alvero.
“ Dasar brengsek. Lihat aja gue bakalan jadi ancaman buat Lo,” balas Alvero tanpa rasa takut.
Claudia menyadari jika ketegangan yang terjadi di antar mereka. Lalu ia dengan cepat menarik tangan Alvero supaya bisa menjauh dari kekasih dan temannya. Saat memasuki kediaman, Claudia langsung memanggil papanya namun, tidak dengan Ibu tirinya. Meskipun begitu semua orang tetap keluar bersamaan termasuk Alice yang terlihat kebingungan dengan semuanya itu.
“ Eh ada tamu, mari silahkan duduk,” ucap Papa yang langsung di sambut anggukan oleh Kelvin dan Steven.
“ Maaf sebelumnya, Pak. Kalau kedatangan kami malam-malam seperti ini. Jadi begini, adik saya ini ingin serius dengan anaknya Bapak yang bernama Claudia,” ucap Kelvin memulai perwakilan.
Steven menggenggam tangannya lalu menarik nafasnya perlahan. “ Benar sekali. Saya ingin melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan. Apalagi mengingat kami sudah saling mengenal sejak kecil. Sejak saya tahu, ternyata Claudia punya keluarga yang lengkap saya bercukur sekali. Meskipun jika dia tidak bertemu dengan keluarganya saat ini maka saya juga akan menikahi dia. Maaf kalau sedikit curhat, Pak.”
Papa pun mengangguk. “ Oh tentu saja boleh apalagi saya pasti percaya kalau kamu akan membimbing anak saya dengan baik. Bahkan kalian sudah kenal sejak kecil tentu saja semakin membuat hati saya senang. Sebetulnya maaf, saya baru bisa bertemu dengan anak saya ini jadi, akan lebih baik memang dia saja yang menentukan kebaikan untuk hidupnya sendiri. Bagaimana, Claudia, apa kamu setuju?”
Claudia tersenyum lalu berkata. “ Tentu saja Claudia mau, Pa.”
“ Tidak bisa! Mereka tidak boleh menikah, Pa,” timpal Alvero dengan tegas.
Semua orang tercengang mendengar ucapannya itu. Bahkan Kelvin bersama Steven menahan amarahnya di depan orang lain.
“ Apa maksudmu itu, Alvero?” tanya Papa kebingungan.
“ Mereka berdua tidak boleh menikah karena pria itu sudah pernah bermain dengan wanita lain! Dia tidak pantas untuk menjadi suami dari adikku!” bentak Alvero sembari menunjuk kearah Steven.
“ Hentikan, Kak! Kamu tidak bisa seperti ini mengklaim masa lalu orang lain. Selama ini aku hidup bersama Steven. Dialah orang yang sudah membuatku seperti ini. Tenaganya, waktunya, bahkan biaya selalu tidak berarti bagi Steven demi menghidupi aku. Jadi kalau kakak menentang keputusan kami maka aku akan menentang mu!” sahut Claudia tanpa rasa takut.
Mama yang juga ada di sana tidak suka melihat Claudia berkata kasar kepada anaknya. Diapun ikut-ikutan berdiri bahkan berjalan lebih cepat lalu plak! Sebuah tamparan mendarat tepat di pipinya Claudia.
“ Dasar! Wanita tidak tahu diri. Kamu sama seperti ibumu! Anakku sudah capek-capek membawa kamu masuk kesini lalu sekarang berani-beraninya kamu menyahut ucapannya begitu kasar. Adik macam kamu tidak punya etika terhadap kakaknya sendiri,” hardik Mama Alvero dengan kejam.
Papa membulatkan matanya sempurna saat melihat anak perempuannya di tampar bahkan di caci maki di depannya langsung. Membuat amarahnya begitu kesal lalu dengan cepat ia menarik tangan istrinya untuk menjauh dari Claudia.
...----------------...
Genk MTP juga sudah update ya yuk kepoin lagi heboh-hebohnya konflik loh hehe. Sertakan dukungan juga vote ya genk