
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
(Viora Lausy)
“Viora ... sayang, Mami selalu lihat kamu olahraga setiap hari, aneh sekali. Semenjak kembalinya kamu dari sana justru membuatmu semakin tergila-gila dengan kecantikan padahal sebelumnya kamu sangat memikirkan tentang pendidikan. Katakan sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu dan Kelvin sampai dengan tiba-tiba memutuskan pulang?”
“Aku sudah bilang Mam, aku tidak memiliki masalah apapun dengan Kelvin, justru aku sangat menginginkan tubuhku ini indah meskipun aku masih beranjak menuju dewasa. Ayolah jangan bertanya hal yang sama terus-menerus.”
“Baiklah sayang, lanjutkan kegiatan mu,” ucap Mami lalu beranjak pergi meninggalkan aku yang sedang beryoga.
Keseharian ku tidak hilang untuk terus merawat diri. Setiap kali aku sedang melakukan olahraga apapun Mami selalu menanyakan hal-hal yang sama, meskipun aku sudah menjadi tapi beliau tetep ingin tahu apalagi menyangkut hubunganku dengan Kelvin. Wajar saja jika orangtuaku resah dengan anaknya namun aku sedikit tidak suka jika mereka bertanya tentang Kelvin, karena itu akan membuatku tidak bisa untuk melupakannya dan kembali bersedih seperti dulu.
Satu bulan telah berlalu, setelah aku memutuskan pergi dari kehidupan orang-orang yang aku cinta. Akhirnya aku memantapkan diri mengikuti sebuah pekerjaan yang membuatku bisa menjadi model. Tentunya aku sangat tertarik meskipun aku harus merayu Papi sekerasnya agar keinginanku tercapai sebab aku tidak ingin lagi untuk kuliah melainkan ingin menjadi seorang idol yang berawalan dari model.
Memantapkan hati dengan dunia aktris. Semua itu aku lakukan demi membuat diriku senang, mengikuti banyak olahraga agar lebih membentuk tubuhku menjadi indah saat dipandang. Hariku kujalani dengan gembira meskipun masih ada rasa sakit yang tidak pernah hilang begitupun rasa cinta pada seorang Pria yang telah lama membuatku tergoda.
Aku ingin memperlihatkan pada dirinya juga pada dunia bahwa aku mampu, bahwa aku bukanlah gadis kecil yang selama ini di remehkan. Aku ingin agar dunia tahu bahwa gadis kecil ini akan membawa perubahan dan membuat orang lain menatap kagum. Tak ada kata cinta yang seakan membuatku begitu bahagia, aku hanya fokus pada satu hal agar bisa menjadi mimpiku sebagai seorang idola.
Aku sedang melakukan yoga, dalam sehari minimal dua kali kulakukan selain dari olahraga yang lain. Agar membentuk tubuh indah, dada yang besar dan menggoda. Tubuh indah bak gitar Spanyol, itu semua kulakukan agar diriku bangga. Kekecewaan dan kebencian 'lah merubah diriku untuk bisa lebih baik.
Sekitar tiga hari yang lalu Zoya masih menyempatkan waktunya untuk menghubungiku, kami memang sering melakukan video call, chating. Tapi sudah tiga hari berlangsung ia sama sekali tidak mengabari ku. Aku juga sudah mengirimkan ia pesan tapi masih tetap tidak ada balasan. Kegelisahan tentu saja ada dalam hatiku karena tidak sepertinya Zoya seperti ini.
Hubunganku dengan Zoya dan kakak Reiner semakin membaik, banyak kabar yang aku dapatkan dari mereka begitupun tentang Kelvin. Mereka selalu menceritakan Kelvin padaku, memberitahu Pria yang kucintai itu baik-baik saja namun saat ini tak ada satu kabar pun yang datang.
Aku hanya pasrah menunggu dan tidak banyak bertanya karena aku takut jika Zoya mungkin saja sedang sibuk, meskipun hatiku sangat gelisah tapi aku mencoba untuk berpikir positif. Pikiranku sibuk dengan memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya aku pikirkan lalu aku melanjutkan yoga baru setelah itu aku bersiap-siap untuk melakukan pemotretan.
-----------------------------------------
(Zoya Khalisa More)
“Bee, Kelvin besok ulangtahun dan sekarang dia lagi sakit, gimana dong?”
“Iya juga yah sayang, gimana kalau kita buat ulangtahunnya di rumah sakit tapi apa kita buat pestanya kecil-kecilan aja?” sahut Reiner yang juga sama-sama bingung sepertiku.
Kami berdua telah kembali ke kediaman sebab di sana sudah ada Vanny yang menjaga serta dua orang pelayan yang ikut serta membantu Vanny dan juga empat orang pengawal yang berjaga dari luar. Ulangtahun Kelvin tinggal sehari lagi tapi aku masih belum menyiapkan apapun untuknya.
“Entalah Bee, aku serahkan semuanya sama kamu yah, eh aku lupa beritahu Viora keadaan Kelvin. Bagaimana ini Bee?” tanyaku panik karena biasanya aku selalu mengabsen memberitahu kabarku dan juga Kelvin meskipun ia sendiri tidak menanyakannya.
“Ada benarnya juga Bee, ya sudah aku tidak jadi kasih tahu. Bee ... sebentar yah aku ambilkan buah di dapur.” Entah kenapa rasanya aku sangat ingin makan yang asam-asam pedas.
“Ngga usah sayang, biar aku saja duduklah yang manis di sini,” ucap Reiner lalu beranjak pergi dari hadapanku.
“Baiklah Bee, jangan lupa sekalian bawakan cabe, garam, dan juga jeruk nipis yah. Aku kepengen makan!” Teriakku saat Reiner sudah berjalan sedikit jauh dariku.
“Iya sayang!” teriak Reiner
Aku hanya menurut apa yang suamiku katakan karena itu adalah hal yang terbaik untukku. Menunggu sambil melihat siaran televisi. Sedang sibuk-sibuknya menyimak tiba-tiba suara ponsel terus berdering tanpa hentinya.
“Mana ponselku? Ah lupa! Padahal di kamar,” ucapku menyadari bahwa ponsel tidak sedang bersamaku.
Suara ponsel yang terus berdering membuatku harus bangun dari tempat duduk dan berniat pergi mengambilnya tapi saat bangun pertama kali perutku tiba-tiba kesakitan seperti waktu dulu. Rasa sakitnya masih bisa ku tahan namun membuatku tidak bisa berjalan hingga memutuskan tidak jadi mengambil ponsel.
Reiner kembali dengan membawa apa yang ku mau. Dia sedang berjalan kearahku tapi setelah itu dia berlari karena melihat aku yang sedang mengelus perutku yang sakit.
“Sayang, perutmu kenapa, apa sakit lagi? Bagaimana kalau kita ke Dokter?!” tanya Reiner dengan sangat cemas.
“Aduh Bee, keknya ngga usah deh aku cuma agak nyeri aja tapi nanti pasti sembuh kok,” sahutku menolak.
“Sayang ... kamu jangan bandel, kita udah lama nggak periksa lagian aku takut sayang, akhir-akhir ini kamu sering banyak pikiran sampai tubuh kamu sendiri juga udah kurang olahraga. Cepat jangan membantah kita langsung ke rumah sakit.”
Reiner terus memaksaku tentu saja aku mengangguk demi kesehatan kandungan meskipun aku hanya mengalami rasa sakit nyeri biasa.
“Ayo sayang, kita langsung pergi setelah itu kita mampir ditempat Kelvin baru kita pulang.”
“Iya Bee.”
Beranjak dari tempat dudukku, saat kami ingin berjalan sampai kedepan pintu gerbang tiba-tiba salah satu petugas keamanan menghampiri kami.
“Maaf Bos, diluar sedang ada ... anu, orang yang kemarin mengacau di kediaman kita,” ucap petugas keamanan rumahku.
“Bee, apa mungkin Brian datang lagi kesini?!” tanyaku panik seraya menebak.
≈≈≈≈
Siapa yang datang? Jika memang Brian, apa yang akan dia lakukan lagi pada kediaman mereka? Sertakan kesan kalian guys.