Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
50~S3 Istriku gadis kecilku Alice perjuangkan hidup & Steven galau


H A P P Y R E A D I N G


“Apa pikiranmu sama denganku, Alvero? Bahwa kotak itu ada sesuatu di dalamnya,” ucap Alice.


“Aku juga berpikir sama, sebaiknya kita ambil paksa dari tangan Mami,” sahut Alvero.


Mereka berdua bergegas menemui Mami. Hingga akhirnya mereka menghadang langkahnya Mami.


“Mau apa kalian?” tanya Mami dengan ketus.


“Ehem! Tidak ada, Mami. Hanya sedikit penasaran dengan kotak itu,” sahut Alvero yang langsung berniat mengambilnya namun, dengan cepat Mami menepis tangannya.


“Kalian enggak boleh lihat isi di dalamnya karena isinya adalah kesedihan buatku. Pasti enggak suka 'kan kalau lihat Mami sedih? Sudah sana pergi, Mami mau ke kamar dulu,” ungkap Mami yang langsung melangkah pergi.


“Yah ... Kok Mami pelit banget! Vero sama Alice cuma penasaran, Ma.”


“Mami bilang enggak tetap enggak!”


Tanpa memperdulikan anak serta calon menantunya, Mami langsung pergi dan meninggalkan rasa penasaran yang begitu besar bagi mereka.


“Duh ... Alvero, aku kok ngerasa kotak itu isinya beneran sesuatu deh,” ucap Alice sembari terus memandanginya kepergian calon mertua.


“Sama, aku juga pikirnya gitu tapi, harus gimana lagi kita juga enggak bisa ambil. Udahlah balik ke kamar yuk! Capek nih, pijitin aku bentar yah,” pinta Alvero sembari mengangkat kedua alisnya.


Alice menatap heran. ‘Aneh! tumbenan banget dia ngomong baik-baik sama aku, kemarin-kemarin ketus banget. Apa mungkin Alvero udah mulai cinta sama aku? Duh ... Semoga aj beneran supaya saat anakku lahir punya keluarga yang lengkap.’


Alvero heran melihat Alice melamun sembari menatapnya hingga hasilnya ia mendorong kepalanya Alice dengan pelan sambil tersenyum.


“Woy! Ngapain malah ngelamun? Suka ya pandang-pandang wajah tampan kaya aku, ayo ... ngaku deh,” ledek Alvero sembari mencolek pipinya.


“Apa? Melamun lihat wajah kamu? Ogah! Dasar kepedean!” ketus Alice yang langsung melangkah pergi tanpa lupa tersenyum.


Alvero pun mengikuti jalannya Alice. Mereka memasuki kamar. Dengan tiba-tiba Alvero membuka pakaian atasnya sampai membuat Alice melototkan matanya.


“Loh, loh! Ngapain buka baju? Aku lagi hamil muda enggak boleh main!” Alice terheran-heran dengan tingkah Alvero.


“Apasih?! Siapa yang mau main, hah? Ingatkan kalau aku mau kamu urut? Jadi, jangan pikir aneh-aneh deh! Lagian aku enggak mau main sama orang yang udah di mainkan sama Steven. Ogah, basi!” ketus Alvero dengan sesukanya tanpa memperdulikan perasaan Alice.


Alice terdiam saat dirinya sedang di ejek oleh orang yang ia sayang. Meskipun begitu ia tidak ingin banyak bicara, lalu melakukan apapun yang di pinta oleh Alvero untuk mengurut tubuhnya.


‘Ingat Alice, jangan sedih apalagi menangis. Ingat kamu sedang memperjuangkan hidup anakmu supaya tidak terlahir tanpa Ayah,’ batin Alice mencoba sabar sembari terus memijat bahu Alvero.


Pijatan yang Alice lakukan membuat rasa kantuk menyerang matanya Alvero, hingga dirinya tertidur.


“Yah malah tidur, ya udah ah aku tidur juga ah ngantuk juga,” gumam Alice yang langsung berbaring di sampingnya Alvero sambil menatap wajah Alvero dengan senyuman.


‘Nak, lihatlah papamu sekarang di samping Mama. Dia tertidur setelah Mama mengurutnya. Semoga saat kamu lahir nanti sikap papamu sudah berubah membaik kepada kita,’ batin Alice sembari mengusap perut datarnya, lalu perlahan matanya tertutup dan terlelap dalam tidurnya.


...----------------...


(Kediaman Kelvin)


Kelvin bersama istrinya sedang rebahan, mereka berdua melakukan hal yang berbeda meskipun saling berdekatan rebahan di ruang tamu keluarga. Kelvin sibuk dengan game namun, Viora justru asyik dengan tontonan drakor. Aktivitas mereka pun terganggu saat Steven tiba-tiba menghampiri mereka. Steven merasa kesal apalagi kepalanya masih pusing yang terus memikirkan nasibnya bersama Claudia, sedangkan kedua temannya sibuk dengan urusan masing-masing tanpa memperdulikan kegundahannya.


“Apasih? Bentar dulu nanggung nih! Ayo. Kiri, kanan, kanan!” sahut Kelvin yang masih fokus dengan game di ponselnya.


“Ah Lo mah rese!” ketus Steven yang tidak terima hingga merebut ponsel di tangannya Kelvin padahal gamenya berlangsung.


“Eh, eh! Ah sial matikan gue! Apa sih Lo dari kemarin enggak kelar-kelar! Mendingan mabar yuk biar otak seger lagi,” ungkap Kelvin sembari mengambil kembali ponselnya.


“Mabar apaan gua enggak bisa fokus nih pikirin Claudia terus. Bayangin udah dua hari gua berdiam di rumah Lo tanpa enggak lakuin apapun bahkan Claudia juga sama sekali enggak kasih kabar sama gue!” geram Steven sambil menarik-narik rambutnya.


“Duh ... Terus gue bisa apa, Steven .... Coba deh suruh aja sama bini gue tuh! Dah ah jangan ganggu gue lagi kecuali elo mau ikutan mabar,” ancam Kelvin yang langsung membalikkan tubuhnya kearah lagi dengan game yang mulai kembali.


Wajah cemberut Steven melihat Kelvin bisa enak-enakan di depan temannya yang sedang galau. Steven pun memilih duduk berdekatan dengan Viora, meski istri sahabatnya itu sedang senyam-senyum melihat adengan romantis dari pasangan drama Korea.


“Viora,” panggil Steven.


“Ehmm.”


“Bantuin gue dong!” pinta Steven dengan gaya ngegas.


“Bantuin apa sih?! Enggak liat gue lagi nonton. Aduh ... Tuh lihat mau di cium tuh!” sahut Viora yang semakin baper dengan tontonan 'nya.


“Ah Lo sama aja kaya si Kelvin. Pliss! Bantuin gue telepon Claudia sekarang terus ajak ketemuan nanti malam. Ayo dong ... Viora yang baik, imut-imut, bantuin,” paksa Steven sambil menggodanya.


Mendengar hal itu mata Kelvin langsung berpaling seratus delapan puluh derajat padahal ia sedang menikmati game yang sedang bertempur. Lalu beberapa detik, ia kembali fokus dengan game.


Viora pun merasa kasihan dengan Steven hingga akhirnya dia memilih merelakan tontonannya. Lalu Viora langsung mengambil ponselnya.


“Jadi aku harus bantuin apa nih? Cuma telepon doang?” tanya Viora.


“Enggak juga, begini. Jadi ajak Claudia buat ketemuan sama kamu, alasan apa gitu atau enggak alasan lagi ribut besar sama Kelvin. Nanti biarkan aku hanya ketemu dia,” ucap Steven sembari menerangkan.


Kelvin langsung melirik saat namanya di sebut. “Loh? Kok jadi bawa-bawa gue?”


“Udah diem Lo!" ketus Steven sembari melemparkan bantalnya.


Viora pun mengerti dengan apa yang Steven mau. Ia pun mencari nomor Claudia sampai akhirnya menunggu beberapa saat telepon pun terjawab.


“Ehem! Hallo, Claudia,” sapa Viora dari balik ponselnya.


“Iya, Viora. Ada apa?” sahut Claudia dengan cepat.


“Hikss ... A-aku mau ketemu kamu, Claudia,” ucap Viora dengan drama menangis yang ia perankan.


Kelvin langsung menahan tawanya melihat istrinya begitu mengemaskan, bahkan ia sengaja mencubit pipi Viora di depan Steven.


“Loh? Viora! Kamu kenapa menangis?” tanya Claudia dengan begitu penasaran bahkan nada cemas dari suaranya.


...----------------...


Mampir di novel yang lain juga yah. Di jamin seru kok 3 update sehari loh guys ....