
Happy Reading
“Aku tidak akan pergi, Zoya. Karena sekarang aku tidak akan menjadi musuh mu melainkan menjadi temanmu lagi. Aku tahu jika kesalahanku dulu belum bisa di manfaatkan tapi aku tetap akan selalu mencoba untuk membuatmu sadar kalau akan menjadi Vanny seperti sahabatmu.” Sambil menangis Vanny mencoba membuat Zoya mengerti.
“Bunuh aku jika memang itu yang akan membuatmu memaafkanku, namun ingat satu hal Zoya, kalau aku akan selalu mencoba menghantui mu sebab saat ini aku sudah jujur dan ingin menembus semua dosa yang telah ku lakukan padamu. Dan satu lagi sebelum kamu membunuhku alangkah baiknya dengerkan kenapa aku bisa kembali ke jalan yang benar. Brian, karena dia 'lah aku bisa bertobat dari dosa yang sudah ku perbuat. Untung saja Tuhan begitu baik dan menghapuskan rasa benci pada hatiku.” Vanny mengungkapkan perasaannya.
‘Apa Vanny bisa ku percaya? Bagaimana jika nantinya dia akan kembali menusukku dari belakang?’ batin Zoya yang masih tidak percaya.
“Ayo Zoya, tunggu apalagi kamu ingin membunuhku bukan? Atas dendam yang dulu pernah ku perbuat, tapi jangan salah setelah kamu membunuhku maka makam ku akan wangi.” Vanny masih tetap kekeh membuat agar Zoya percaya.
“Ayolah ini bukan lagi jaman kuno jadi mana mungkin aku akan percaya dan kamu bukan orang suci yang bisa membuat makan mu bisa wangi. Jadi sekali lagi aku tegaskan untukmu pergi dari kediamanku dan jangan pernah kembali kesini karena aku tidak ingin melihat sahabat bermuka dua sepertimu.” Zoya tetap kuat pada pendiriannya.
Brian melihat semua kejadian yang sedang terjadi antara Zoya dan Vanny. Awalnya dia hanya mengamati dari jauh namun semakin lama ia ikut-ikutan geram melihat kekasihnya sangat di tindas oleh Zoya.
Brian akhirnya memanggil Reiner bersama dengan Steven, sebab ia tidak bisa mengatasi Zoya sendirian karena takut piscyo dalam dirinya kembali bangkit dan justru akan membuat orang lain celaka.
“Reiner, Steve. Gua kayaknya harus pergi. Zoya ngga suka kami ada di sini, Lo tahu di sana Vanny sedang menangis dan Zoya memegang pisau! Gua mau hentikan dia.” Brian meminta pertolongan pada kedua temannya.
“Astaga, ayo Rei, kita harus cepat kesana.” Steven bergegas mengajak Reiner.
Benar seperti perkataan Brian. Zoya terus menekan Vanny, rasa dendam terhadap wanita itu sangat besar hingga membuat Zoya begitu marah dan ingin membunuh Vanny. Dengan cepat kedua lelaki itu menghampiri mereka.
“Mmm Sayang, Kaylee sedang menangis sebaiknya cepat berikan asi padanya biarkan Vanny di sini bersama Steven.” Reiner mencoba untuk mengalihkan perhatian istrinya.
“Tidak Bee, wanita ini seharusnya tidak ada di sini apalagi dia sekarang kembali sok baik di depan kita. Aku tidak akan di bohongi untuk kedua kalinya.” Zoya tetap teguh dengan pendiriannya.
“Tapi Zoya, sungguh aku tidak akan lagi menusuk mu dari belakang. Lagipula aku sudah memiliki Brian, orang yang selama ini bersamaku dan kami tidak akan lama lagi menikah. Jadi aku tidak akan merebut Reiner darimu. Dengarkan kamu harus tahu kalau aku dengan Brian sudah saling menyatu bahkan aku sedang mengandung anaknya.” Vanny benar-benar tidak bohong.
Brian pun tiba-tiba datang. “Benar Zoya, pacarku sedang hamil dan aku sebentar lagi akan jadi ayah. Jadi tolong percayalah kalau pacarku ini tidak akan lagi menyakitimu, aku yang akan membunuhnya jika dia macam-macam denganmu.”
“Benarkan?” tanya Zoya memastikan.
“Iya Zoya, aku akan selalu menjadi temanmu dan akan selalu ada untuk dirimu. Lihatlah aku sekarang mengikuti jejak mu dan akan menjadi ibu,” sahut Vanny sembari tersenyum.
“Baiklah, aku memaafkan mu. Tapi satu hal aku tidak akan mengampuni mu lagi jika nantinya kalian berniat merusak rumah tanggaku.” Zoya akhirnya luluh dan percaya.
“Terimakasih, Zoya.”
Vanny tersenyum bahagia, temannya Zoya akhirnya sudah menerima dirinya kembali. Semua orang di sana merasakan kebahagiaan saat dua teman itu saling berpelukan.
“Ya sudah jika begitu ayo kita kembali ke depan, di sana semua orang sedang bahagia melihat Kaylee dan Kayrren,” ucap Reiner mengajak mereka semua.
Vanny bersama Zoya berjalan serentak. Begitupun ketiga Pria mengikuti mereka dari belakang. Semua orang melihat Kaylee dan Kayrren sedang bermain bersama neneknya.
“Kenapa?”
“Di mana Kelvin? Sepertinya sejak kemarin aku tidak melihatnya, biasanya dia selalu absen untuk hadirkan.”
‘Aku sudah berjanji pada Kelvin kalau tidak akan memberitahukan apapun tentangnya dulu, sebaiknya Vanny tidak perlu tahu,’ batin Zoya.
“Kelvin sedang pergi jauh, biasa dia sedang berbisnis,” sahut Zoya berbohong.
“Oh ... begitu, pantas saja dia tidak ada di sini.”
“Ya begitulah. Oh ya Vanny, aku menemui suamiku dulu sebentar yah.” Zoya pamit dan langsung beranjak menemui Reiner.
Berbicara empat mata dan sedikit jauh dari tempat orang lain berada. Pasangan suami-isteri itu seakan ingin membica hal penting sampai harus me jauh dari kerumunan orang.
“Kenapa sayang? Kok kamu kaya cemas gitu?” tanya Reiner sembari mengusap lembut pipi istrinya.
“Sebentar Bee, apa menurutmu Vanny benar-benar ingin berteman denganku tanpa ada niat jahat lagi?” Zoya masih sedikit cemas.
“Menurutku ya, tapi kita juga harus waspada. Sayang, serahkan semuanya pada suami tampan mu ini, biarkan para anggota bayaran ku yang akan menyelidi mereka, jika perlu kita pasang rekaman untuk menyelidiki mereka.”
“Benar Bee, memang itu yang aku inginkan. Apalagi kita tidak boleh membiarkan orang lain terlalu dekat dengan Kaylee dan Kayrren.”
“Jadi apa sekarang semuanya sudah membuatmu lebih baik sayang? Jika sudah ayo kita kembali bersama mereka, sebab tidak nyaman jika kita berada jauh di deket para tamu.”
“Baiklah, tapi tunggu dulu Bee. Tadi Vanny bertanya tentang Kelvin. Menurutmu apa Kelvin tidak akan kembali kesini?”
“Sayang, dengarkan aku. Jangan terlalu banyak pikiran cukup fokuskan padaku juga Kaylee dan Kayrren. Sebab tidak baik sayang terlalu banyak pikir akan menghambat asi mu keluar dan aku bersama Debay tidak bisa menikmatinya.” Reiner mencari kesempatan.
“Dasar kere mesum! Biasa aja kamu, ya sudah ayo kembali kesana, aku yakin mesum mu akan berlangsung sampai nanti jika tidak cepat kita hentikan.”
“Hey sayang, aku sedang berbicara jujur. Ayolah singa betina jangan mengatai ku kera mesum terus!”
“Terserah sayang, kamu itu kera mesum dan akan terus menjadi kera mesum. Ayo kita harus kembali.” Zoya merangkul Reiner agar ia mau kembali.
“Baiklah singa betina. Aku merasa kalau dirimu semakin galak,” ledek Reiner sembari mencolek pipi istrinya.
“Jadi kamu sudah menyadarinya, kera mesum?”
“Ya, aku tahu kalau istriku ini bukan seperti dulu yang lemah lembut tapi sekarang dia sangat galak dan pantas jika di panggil singa betina.”