
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Kita adalah cinta yang tak pernah usai. Benci aku sekuatmu, lupakan aku sejauhmu. Jika gagal, jika lelah ataupun apapun, pulanglah. Cintai aku kembali.
******
“Sialan gadis remaja itu siapa dia? Apa mungkin adik Kelvin, harus ku selidiki.”
Dari jarak pandang yang lumayan jauh Kelvin sedang bersama dengan gadis remaja, entah apa pembicaraan yang mereka lakukan, jika aku mendekati mereka justru itu aku membongkar kedok ku, aku memilih untuk berdiam diri dalam mobil sampai aku melihat Kelvin bersama gadis itu pergi masuk kedalam Perusahaan.
Ceprett, cepreet. Aku mengambil gambar mereka, hasilnya bagus dan terlihat jelas wajah gadis remaja itu.
“Sial! Kalau aku masuk kesana Kelvin pasti akan curiga denganku, Argggghh aku harus bisa mencari tahu tentang gadis itu,” seringai dalam senyum sadisnya.
“Cukup untuk hari ini lebih baik aku segera pergi.”
--------------------------------------
(Kelvin Marble)
Aku sedang mengisi formulir magang milik Viora, gadis itu tidak mau menerima bantuan dari sekretaris ku agar membantunya, katanya sekretaris pengantin baru judes terhadapnya.
Sedangkan ia sibuk memainkan gadget ditangannya, untung saja gadis yang baru tumbuh dewasa ini adalah teman lamaku jika tidak aku tidak akan menerima permintaannya seakan dia Bos besar yang seenak saja memerintah CEO seperti diriku.
Aku melirik kearahnya serta memberikan formulir miliknya, “Hey gadis kecil, ini sudah selesai jadi tugasku sudah selesai dan aku mau pergi.”
“Eh Evin mau kemana? Nak ikut ....,” pintanya seraya memperlihatkan wajah memelas darinya membuatnya sangat imut.
“Gadis kecil, aku sedang ada urusan jangan ikut denganku kalau tidak aku akan menghubungi papamu dan mengatakan kalau kau kesini bukan untuk magang melainkan hanya ingin denganku, bagaimana?” aku mencoba mengancamnya.
Bukannya takut justru dia terkekeh mendengar ancaman dariku. ‘Gadis ini tidak waras ya? Aku padahal sedang menakutinya,’ batin.
“Evinnn ... aku tidak takut dengan ancaman mu silahkan saja bilang pada papa tapi sebaliknya kau yang akan di marahi justru papa akan mendukungku, jadi nak ikut ....,” seringai menyebalkan terlihat dibalik senyumnya.
‘Mimpi apa aku semalam terus-menerus bertemu dengan perempuan menyebalkan hari ini,’ batin Kelvin.
“Baiklah gadis kecil kalau begitu, ayo ikut denganku tapi kau jangan nakal, ayo kita bertemu dengan seorang gadis cantik,” aku menyetujui membawanya bersama denganku.
“Gadis cantik? Siapa gadis cantik? Katakan padaku apa kau sudah memiliki gadis lain selain aku, huhf kau jahat Evin belum sampai lima tahun kita tidak bertemu kau sudah memiliki gadis lain selain aku! Aku tidak mau menemui selir baru mu itu,” geram Viora sembari membuang muka dariku.
‘Selir? Selir apaan? Emangnya raja banyak selir, Viora ... gadis kecil menyebalkan, sifatnya tidak pernah berubah, ya meskipun aku akui dia sangat imut dengan sifat kekanak-kanakan darinya tapi itu pasti akan menyusahkan aku terus, sebaiknya aku diam dan terus berjalan,’ batin Kelvin.
Viora terlihat terus melirik kearahku, jalannya sampai tidak ia perhatikan, aku tahu mungkin dia penasaran kenapa aku tidak mau menjawab ucapannya.
“Evin ... kau sengaja tidak maukan menjawabku, karena rahasia mu sudah terbongkar iya kan? Gadis cantik mana yang berani merebut Pangeran ku, aku tidak akan mengampuninya, lihat saja aku akan mengerjainya habis-habisan,” ucap Viora dengan garangnya serta melipatkan tangan di dadanya.
Mendengar perkataan seperti itu darinya membuat langkahku terhenti dan melirik kearahnya, “Sudah, jangan pikirkan hal bodoh, sebaiknya kau fokus belajar, ayo gadis kecil temanku sudah menunggu kita.”
Aku ingin mengandeng tangannya tapi dengan cepat ia melepaskan gandengan tanganku membuat orang lain melihat kearah kami.
“Aku tidak mau, jangan membawaku untuk menemui selir baru mu itu aku tidak akan terima Evin!” Viora bersikeras menolak membuatnya langkahnya terhenti.
Aku menahan senyum melihat gadis kecil itu sedang merajuk sangat imut meskipun tanpa polesan make up.
“Baiklah selir pertamaku, ayo kita pergi menemui sahabatku, sudah jangan terus merajuk apa kau tidak malu di lihat banyak orang? Kita akan bertemu orang yang baik dan tentu akan menjadi kakak untukmu,” pintaku dengan sedikit merayunya.
“Tentu benar, sebaiknya kurangin menonton drakor, pikiranmu akan cepat konslet nantinya,” ucapku seraya mengandeng tangannya.
“Konslet? Evin apa itu konslet apa itu sejenis makanan lezat?” tangannya sembari kami terus berjalan.
Aku menepuk jidat mendengar pertanyaan darinya. ‘Sepertinya aku salah bicara pada gadis ini,’ batin.
“Tidak ada, lupakan Viora sebaiknya kau masuk ke mobil.”
Dia hanya mengangguk, kami sedang pergi kearah kediaman Zoya, sudah beberapa hari aku tidak mengunjunginya, mungkin dengan aku membawa Viora bersamanya dia pasti akan senang mendapat teman baru apalagi Viora sangat cerewet dan lucu, tentunya itu pasti akan menyenangkan hatinya.
(Kediaman Reiner)
Sekitar beberapa saat aku dengan Viora pun sudah sampai di rumah Zoya.
“Rumah siapa ini Evin? Apa ini yang kau bilang gadis cantik itu?” tanya Viora sesudah turun dari mobil.
“Ini rumah sahabat ku, dia sangat baik pasti kau akan langsung menyukainya,” ucapku seraya menekan bel rumah Zoya.
‘Sahabat Evin? Wanita atau Pria? Tapi syukurlah jika pun wanita tentu saja Evin hanya menjadinya sahabat, kesempatan untukku masih ada,’ batin Viora.
Tidak beberapa saat menunggu akhirnya pintu rumah pun terbuka, ternyata Reiner sendiri yang menyambutnya.
Reiner melirik kearahku serta kearah gadis kecil, bukannya menyuruh kami untuk masuk terlebih dahulu dia mematung melihat kami.
Tiba-tiba Reiner menarik bahuku. “Eh Kelvin, gadis di samping lu siapa pacar baru ya? Tapi kok gue lihat ketuaan elu sama dia,” bisik Reiner di kupingku.
‘Reiner sialan, barusan dia bilang gue tua,’ batin Kelvin.
“Kalian bisik-bisik apa? Kata papaku ngga boleh bisik-bisik di depan orang lain, kalian paham? Mana sahabat mu Evin, apakah paman tampan itu?” ungkap Viora sembari menunjuk kearah Reiner.
“Astaga anak manis, apakah aku terlihat seperti pamanmu? Oh sebaiknya ganti, panggil aku kakak tampan, paham?” Reiner langsung membalas ucapan Viora.
“Heuh, aku tidak mau!” sahut Viora sembari membuang muka.
Reiner kembali menarik bahuku, ”Elu ketemu dimana sama itu anak? Kok gue ngerasa itu anak nyeselin banget ya.”
“Udah ah entar aja lah gua cerita, suruh kek gua masuk dulu.”
“Nggak perlu,” sahut Reiner dan berjalan masuk kedalam rumah.
“Dasar Reiner sialan, ya udah gadis kecil kita masuk,” pintaku.
“Evin ... berhenti memanggilku gadis kecil, aku malu didepan sahabatmu,” kesal Viora.
Aku tidak menjawab ucapannya, aku langsung masuk kedalam sedangkan Viora mengikuti ku di belakang.
≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo semuanya, jangan lari ya tidak akan lama lagi aku akan membawa kisah Claudia bersama Zoya, Reiner serta Steven jadi tunggu saja dan sertakan kesan menarik kalian untukku.
Note: Kalau mau crazy up silahkan dukung Author dengan koin dan poin. Masing-masing 20 Koin akan double 1 chapter & jika sehari 500 poin akan double 1 chapter.
Terimakasih telah mendukung Author