
Happy Reading
Sepanjang jalan kenangan menuju kamar unit gawat darurat. Viora khawatir dengan apa yang sedang terjadi pada Alvero. Ia sedang menunggu hasil dari Dokter.
Viora terduduk dalam diam, ia sendiri tahu dengan perasaanya bahwa cinta belum ada untuk Alvero kecuali rasa kasian dan sayang sebagai teman. Lama ia menunggu namun Dokter belum memberikan tanda-tanda keluar dari tempat itu.
Sekitar lima belas menit lama menunggu terlihat dari jauh Zoya dan juga Reiner ikut mengunjungi rumah sakit. Viora yang kesepian akhirnya senang saat melihat orang yang sudah menjadi keluarganya selama ini datang.
Usapan demi usapan lembut mendarat di bahunya sebagai tanda agar dirinya tenang, lalu Zoya pun memilih duduk disampingnya Viora sedangkan Reiner mencari minum untuk keduanya.
“Bagaimana keadaan Alvero? Apa dia baik-baik saja?” tanya Zoya yang juga ikut khawatir.
“Tidak ada tanda-tanda, Dokter pun belum keluar, Zoya,” sahut Viora dengan jawaban pasrah.
“Kamu harus kuat Viora, aku tahu kalau Kelvin sebenarnya tidak bermaksud sampai mencelakai Alvero seperti ini,” ungkap Zoya dengan kebenaran.
“Apa kamu bilang, Kelvin tidak bermaksud? Apa mungkin dia melakukan itu saat dirinya kehilangan akal? Zoya ayolah kenapa justru kamu membela orang yang salah. Jelas-jelas Kelvin penyebab dari semua ini, aku tidak akan tinggal diam kalau sampai Alvero tidak sadarkan diri, aku berjanji akan membalas kejahatan yang setimpal.” Viora marah tanpa bisa mengendalikan emosinya.
“Aku tidak bermaksud begitu. Viora, dengarkan aku. Kelvin pasti punya alasan kenapa dia sampai melakukan kesalahan yang sangat besar dan kamu tidak berhak untuk melakukan hal yang sama. Jika nanti Alvero tidak tertolong biarkan pihak berwajib yang akan bertanggung jawab,” sahut Zoya yang tidak terima dengan sikap Viora.
“Ada apa denganmu, Zoya? Apa karena Kelvin itu sahabatmu, lalu bisa seenaknya kamu bersikap seolah dirinya bukan penyebab dari semua ini? Sadar Zoya! Kamu itu sudah termakan rayuan jahat Kelvin, dia justru tidak berhak di kasiani oleh siapapun.” Lagi-lagi Viora tidak bisa mengendalikan emosinya.
“Aku tidak membela siapapun, Viora. Justru aku ingin mencoba membuatmu membuka mata dan melihat bahwa emosimu saat ini sama sekali tidak benar. Juga bukan karena Kelvin sahabatku atau bukan. Kalian sama-sama penting buatku, aku mohon jangan ada yang terpecah-belah antara kita.” Zoya terus berusaha menyadarkan Viora.
“Aku tidak suka denganmu yang tidak bisa melihat mana yang benar dan salah, Zoya. Kupikir kunjunganmu kesini untuk membuatku tenang, tapi ternyata justru aku ingin marah lalu melakukan hal yang sama pada Kelvin. Zoya maaf, tapi sebaiknya kamu pergi dari sini.”
Dengan tidak percaya Zoya mendengar bahwa Viora mengusirnya, tapi ia tidak boleh egois karena mungkin orang yang sedang berbicara dengannya ini belum bisa memahami apa arti sebuah kebenaran tanpa melihat dengan mata kepala sendiri.
Dengan menarik nafas panjang akhirnya Zoya sudah memantapkan hatinya untuk pergi dari tempat itu. “Baiklah Viora, jika itu maumu. Aku pergi dulu.”
“Ya.”
‘Aku tahu, Zoya. Kamu hanya ingin yang terbaik untukku dan Kelvin, tapi maaf aku belum bisa memenuhi keinginanmu,’ batin Viora.
‘Maaf Evin, bagaimanapun perasaanmu terhadapku setelah semua yang sudah kukatakan, entah itu sakit atau masih tetap mencintaiku. Mungkin dengan cara itu kamu bisa tidak lagi memiliki perasaan untukku. Aku memang tidak tahu pasti persoalan pertama yang terjadi hingga kamu sampai membuat orang lain celaka,’ batin Viora.
Lagi-lagi setelah kepergian Zoya. Viora tahu kalau dirinya sudah salah dan membohongi orang lain. Namun itu satu-satunya cara agar bisa membuat Kelvin menjauh darinya walaupun ia sendiri tidak tahu pasti awal kejadian yang sebenarnya.
-----------------------------------------
(Zoya Khalisa More)
Ada sedikit kekecewaan dari orang yang sudah aku sayangi, siapa lagi jika bukan Viora. Aku sengaja menemuinya untuk melihat keadaan Alvero dan juga agar membuat dirinya mengerti bahwa sesuatu yang terucap saat dalam emosi itu semua akan sia-sia, tapi niatku gagal dan ditolak hingga Viora menyuruhku pergi.
“Bee, ayo kita pulang,” ajakku saat berpapasan dengannya.
“Pulang? Tapi bagaimana dengan Viora? Bukannya kita lagi kunjungi mereka?” tanya Reiner yang masih tidak paham.
“Tidak ada yang perlu dikunjungi sebaiknya kita langsung pulang dan simpan minuman itu, Bee,” ucapku tegas seraya menggandeng tangannya.
“Oh! Baiklah sayang.”
“Suami yang penurut, ayo jalan cepat aku kepanasan, Bee.”
“Iya sayang, tenang! Jangan buru-buru nanti kesandung batu terus entarkan ngga lucu kalau tiba-tiba jatuh eh malah meledak terus lahiran di sini,” celetuk Reiner yang sengaja membuat lelucon karena raut wajahku yang murung.
“Ihhh malah ngelucu lagi! Udah ayo cepetan Bee, aku kepanasan di sini ... ayo cepat masuk mobil biar aku istirahat sambilan buka baju. Gerah tahu,” ocehku sepanjang jalan menuju ke parkiran.
“Iya sayang iya ...! Kalau buru-buru banget sini mau aku gendong?” tanya Reiner seraya sudah berdiri di sampingku.
“Jangan aneh-aneh, udah sana jalan! Malu tahu diliatin banyak orang.”
“Iya sayang, ya udah yuk.”
Senyuman menghiasi wajahku, berkat suamiku dengan kekonyolan yang ia buat meskipun aku terus memarahinya setidaknya aku bisa tersenyum dan melupakan apa yang sedang terjadi.
Seperti ucapanku yang tadi saat masuk kedalam mobil, aku langsung membuka baju dan hanya tertinggal celana pendek serta kut*ng sebab jika seperti ini lebih segar dan tidak kepanasan apalagi saat dalam kondisi hamil besar sekarang.
Reiner yang sudah fokus dengan jalan didepan. Rasanya sangat sunyi tanpa mendengar ocehan gila darinya.
“Bee,” lirihku.
“Iya sayang, kenapa?” sahut Reiner.
“Keknya anak kita suka banget deh nendang-nendang perutku pas kita lagi ribut. Apa menurutmu mereka juga dengar?” tanyaku sengaja agar tidak ada kesunyian di antara kami.
“Oh ya?! Bagus dong sayang itu artinya mereka nggak mau kalau Mommy dan Daddy ribut. Duh sayang aku jadi makin mau cepet-cepet ngelihat mereka,” ucap Reiner dengan ceria.
“Sama Bee, aku juga maunya gitu biar cepat, tapi aku takut kalau nanti aku nggak ada nyawa lagi pas ngelahirin anak kita. Kalau itu terjadi kamu jagain anak kita yah dan jangan nikah lagi! Awas kalau nikah aku bakalan gentayangan!”
“Jangan ngomong ngaco sayang! Udah ah aku nggak mau dengerin kata-kata gitu, kalau kamu pergi aku juga bakalan pergi dan anak-anak kita entar biar Kelvin yang urus.”
“Bee! Aku cuma becanda ihhh kamu gitu, masak iya Kelvin yang urus? Mana mau dia Kelvin aja belum kawin.”