Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
37~S3 Istriku. Gadis Kecilku Rasa cemburu dan penasaran


H A P P Y R E A D I N G


Claudia hanya menurut sebab dirinya juga sangat kesakitan. Di ruangan tamu mereka berjalan melewati Kelvin yang sedang sibuk menonton. Lalu Viora memilih duduk di dekat suaminya, sampai akhirnya Kelvin tercengang melihat kearah Claudia.


‘Kasian Claudia, dia pasti sangat ingin bertemu dengan Steven secepatnya tapi, lagi-lagi Steven sangat susah untuk di ajak bertemu. Bisa-bisa karena ini honeymoon ku terus tertunda,’ batin Kelvin yang terus melirik kearah Claudia.


Viora sedang mengobati tangan Claudia tapi, ia tidak sengaja melirik kearah suaminya. Memicingkan matanya saat menyadari Kelvin sedang mencuri pandang kearah wanita lain hingga membuatnya tidak fokus bahkan membuat Claudia menjerit kesakitan.


“Umm maafkan aku, Claudia. Sungguh aku tidak bermaksud kasar,” ucap Viora merasa bersalah.


“Yah tidak apa-apa. Lagipula aku yang sudah merepotkan mu, Viora,” sahut Claudia tidak memperbesarkan masalah.


Viora terpaksa tersenyum saat Claudia memahami dirinya namun, ia kembali melirik kearah suaminya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.


‘Dasar Evin! Bisa-bisanya dia mencuri pandang melihat wanita lain padahal aku jelas-jelas ada di sampingnya. Awas saja aku kasih pelajaran nanti,’ batin Viora dengan ancamannya.


Claudia telah selesai di obati. Lalu ia pun pamit kembali ke dalam kamarnya dengan alasan ingin melihat kenangan miliknya. Tinggallah Viora bersama Kelvin berdua. Mereka sibuk menonton namun, hanya Kelvin saja yang fokus tapi tidak dengan Viora. Justru ia sedang mengundang perang kearah suaminya dengan mengeraskan rahangnya.


Tak sanggup lagi menahan amarah sampai akhirnya Viora menegur Kelvin yang sedang fokus dengan acara televisi di depan.


“Evin! Cepat ikut aku sekarang juga,” perintah Viora tanpa ingin di bantah.


“Bentar, gadis kecil. Lihat ke depan mereka sedang berkelahi sampai-sampai memakai senjata. Wuih! Hebat sekali. Ayo, gadis kecil lihatlah,” ucap Kelvin sibuk dengan televisi tanpa melirik kearah Viora.


Viora yang kesal dengan jawaban yang tidak ia inginkan. Lalu dirinya dengan sengaja menjewer telinga Kelvin, sampai suaminya meringis sakit.


Kelvin pun melirik sambil mengusap-usap telinganya. “Aduh ... Gadis kecil, jangan kaya mak-mak deh suka jewer-jewer telinga. Sakit tahu!”


“Apa kamu bilang?! Mak-mak? Dasar suami durhaka! Ayo cepat ikut aku,” geram Viora sambil menarik tangan Kelvin dengan paksa.


Kelvin menahan senyumnya melihat Viora yang sudah kesal. Ia pun terpaksa menuruti tanpa mematikan TV terlebih dahulu. Di dalam kamarnya Kelvin berdiri sambil melihat wajah Viora yang sudah cemberut. Lalu dengan cepat ia mencolek wajah istrinya sampai sesekali menggodanya tapi, Viora tidak luluh bahkan memilih mencubitnya.


“Aww! Sakit gadis kecil ... Kamu kenapa sih pagi-pagi udah jewer telinga 'lah, cubit 'lah. Kenapa sayangku? Apa nggak cukup uang bulanan? Tapi, perasaan selalu pas aku kasih,” ungkap Kelvin sambil berpikir dengan tangan berada di kepalanya.


“Bukan itu!” geram Viora.


“Terus kalau bukan itu apa juga? Ayo dong, my little wife jujur biar aku cepat pergi nonton lagi nanti ketinggalan drama kesukaanku jadinya lewat enggak seru dong. Kamu tahu sekarang itu lagi mulai film Hatim jadinya makin seru apalagi setelah Candra Nandini kemarin habis,” ungkap Kelvin memohon untuk di lepaskan.


“Oh gitu jadi lebih penting lihat drama kesukaan kamu ketimbang pentingkan aku begitu?! Sekarang kamu harus jawab. Pilih aku atau pilih drama kesukaan kamu itu? Cepat jawab?!” tanya Viora dengan nada tegas.


Kelvin memilih untuk menepuk jidatnya sendiri. Ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Gadis kecil, sebenarnya kamu kenapa? Apa lagi datang bulan? Ayolah jika memang kamu marah karena sedang datang bulan lebih baik salahkan pada bulannya jangan padaku. Aku tidak melakukan apapun.”


“Ya! Aku datang bulan setelah melihatmu menggoda wanita lain! Dasar buaya! Suami buaya! Suami hidung belang! Suka sana sini lihat mangsa! Kamu pikir ini kandang buaya milikmu bisa bebas melirik wanita lain? Ini istanaku meskipun kamu pemiliknya tapi, aku adalah penguasa di sini. Mengerti?!”


Kelvin mendengar ucapan istrinya justru ia tertawa terbahak-bahak. Sampai dirinya memengang perutnya. Lalu Viora merasa kesal melihat suaminya terus meledek dirinya. Lagi-lagi ia mencubit Kelvin.


“Gadis kecil, pliss! Sakit tahu di cubit. Sini aku cubit kamu sakit nggak?” ucap Kelvin dengan mendekatkan tangannya ke lengan istrinya.


“Iihhh jangan kasar-kasar! Mentang-mentang sama perempuan beraninya main tangan,” ungkap Viora dengan sesukanya.


“Siapa yang main kasar, sayangku?!”


“Kamu tuh main kasar! Giliran sama aku aja beraninya mau cubit aku. Coba sama wanita lain betah banget pandang-pandang,” omel Viora sambil melipatkan tangan di dadanya.


‘Ya ampun ... Istriku ini benar-benar menguji kesabaran ku. Sepertinya dia sedang cemburu,’ batin Kelvin.


“Gadis kecil, kamu lagi cemburu ya?” tanya Kelvin sambil menahan senyumnya.


“Tidak! Ngapain juga aku cemburu sama suami buaya kaya kamu. Ogah ihh,” ucap Viora berusaha ngeles.


“Yakin nih nggak cemburu? Ya udah kalau begitu suami buaya mu ini akan mencari mangsanya dulu. Bye gadisku ....” ledek Kelvin sambil berusaha menghindar.


Dengan cepat Viora merangkul tubuh suaminya hingga membuat langkah terhenti. “Mau pergi kemana? Udah di sini aja sama aku.”


Bibir pink yang sedang cemberut membuat Kelvin sangat gemas melihatnya. Ia pun tidak tinggal diam untuk mengecup bibir itu secepat kilat.


“Gadis kecil, bolehkah aku tahu kenapa sikapmu seperti ini?” tanya Kelvin seraya membawa Viora duduk di tepi ranjang.


“Aku nggak kenapa-kenapa, my dear,” sahut Viora mencoba berbohong.


“Jujur sayang, aku mau kamu jujur. Kita sudah berjanji untuk tidak lagi saling menyimpan rahasia sekecil apapun itu jadi, sebaiknya katakan sayang supaya aku bisa tenang,” ungkap Kelvin dengan jelas.


“ Emmm baiklah, my dear. Se-sebetulnya aku tidak sengaja melihatmu memandangi wajah Claudia saat aku sedang berusaha mengobatinya tadi. Maafkan aku sudah curiga berlebihan denganmu,” sahut Viora dengan kejujuran sambil menundukkan kepalanya karena malu.


“Hahaha ya ampun ... Sayangku. Kamu ini benar-benar yah. Mana mungkin aku tertarik dengan orang lain karena aku sudah memilikimu. Waktu aku sedang meliriknya aku tidak sengaja berpikir dengan Steven. Kamu ingat sayang, video itu? Jadi Steven sudah melihat kirimanku. Tentu saja ini kesempatan kita untuk lepas dari Claudia, supaya kita bisa cepat-cepat honeymoon karena aku tidak ingin dia tinggal seorang diri di kediaman kita. Walaupun ada pelayan tapi, aku juga takut dengannya. Takut dia akan berbuat hal aneh di tempat kita,” kata Kelvin panjang lebar dengan begitu jelas.


“Ya ampun, my dear. Aku sampai tidak terpikirkan sebelumnya. Kamu benar-benar memikirkan semuanya dengan matang. Jadi, rencana mu bagaimana untuk membuat Claudia dan Steven bertemu? Rasanya aku ingin sekali menuntaskan honeymoon kita ini. Aku takut tertunda lagi apalagi kamu sampai terus bolos kerja nantinya,” sahut Viora yang begitu perhatian.


“Caranya nanti kamu sendiri akan tahu, gadis kecil. Tenang sayang, kita pasti akan honeymoon. Aku sudah berjanji jadi aku pasti akan menepatinya. Ya sudah, gadis kecil. Sebaiknya sekarang aku menghubungi Steven supaya dia tidak merencanakan aktivitas apapun yang akan membuat honeymoon kita tertunda.”


...----------------...


...----------------...


(Apartemen sederhana Alice)


Hubungan terjadi tanpa mereka duga sebelumnya hingga membuat keduanya masih tertidur pulas dengan saling berpelukan. Hari sudah hampir memasuki jam sepuluh bahkan matahari sudah mulai mengeluarkan cahaya teriknya. Jendela yang sejak tadi malam terbuka justru tidak bisa membuat mereka terbangun padahal sinar dari Dewa surya sudah menyinari masuk kedalam kamar tersebut.


I’m sorry but. Don’t wanna talk, I need a moment before I go


It’s nothing personal. I draw the blinds. They don’t need to see my cry. Cause even if they understand. They don’t understand. Dering ponsel dari lagu Alan Walker ini terus menggema di dalam kamar yang berukuran kecil itu. Steven perlahan tersadar saat musik terus berputar di dalam ponselnya. Ia meraba ponselnya saat mata masih terpejam.


“Siapa lagi yang telepon nggak ada akhlak begini. Masih pagi buta udah telepon,” omel Steven saat sambil terus mencari ponselnya.


Tidak ingin Alice terganggu tidurnya hingga ia memutuskan untuk menjawab telepon sedikit menjauh. Sengaja ia keluar dari kamar hanya untuk menjawab telepon.


“Hallo, siapa nih? Pagi-pagi udah gangguin orang tidur aja,” tanya Steven tanpa melihat nama yang tertera di ponselnya.


“Woy ini gue, Kelvin! Ya ampun! Pasti sekarang Lo baru bangun? Kebiasaan emang nih anak. Makanya cepetan nikahin Claudia biar tidur nggak bangun kesiangan lagi supaya ada yang bangunin,” ungkap Kelvin berusaha ngegas.


“Apasih? Lo pagi-pagi telepon gua mau ngomel-ngomel kaya Mak gua tahu. Ada hal penting nggak sih? Kalau nggak gua pergi tidur lagi nih,” sahut Steven tidak ingin basa-basi terlalu lama.


“Eh ada-ada! Sabar dulu ngapa. Jadi, gini masalah yang kemarin gimana sama Claudia, jadi nggak ketemunya? Soalnya jangan di tunda-tunda lagi karena gue mau honeymoon nggak kelar-kelar tahu!” tegas Kelvin dengan jelas.


“Jadi sih cuma ... Gua nggak yakin deh dia bakalan mau ketemu sama gua lagi,” sahut Steven pasrah.


“Jangan nyerah gitu. Siapa tahukan dia juga mau. Apalagi gue lihat dari matanya dia lagi simpan kesedihan yang amat mendalam. Jadi, cepetan deh ketemunya atau kalau perlu ajak pindah aja Claudia bareng lu biar nanti gue bebas mau honeymoon,” sahut Kelvin dengan ide yang begitu cemerlang.


“Ya ampun ... Kaya peramal aja Lo. Eh nggak mendadak banget nih? Gimana gini aja deh kalaupun kalian emang mau honeymoon cepat ya udah pergi aja nanti Claudia suruh nginap di hotel entar gua yang bayarin kok.” Steven ahli dalam ide-ide seperti itu.


Kelvin terdiam beberapa saat, dan tidak menyahut telepon dari Steven. Ia berpikir namun akhirnya ia menjawab. “Terus gue harus alasan apa sama dia?”


“Yah ... Bilang aja kek ada orang yang mau temui dia gitu. Ah serah deh pinter-pinter Lo,” ucap Steven tidak ingin terbebani.


“Steven, Lo aneh deh. Niat nggak sih buat ketemu sama dia?” tanya Kelvin penasaran.


“Gue niat, Vin. Ya udah Lo atur aja gimana yah nanti masalah biaya biar gua yang urus. Udah dulu yah mau lanjut tidur lagi nih ngantuk,” ucap Steven sambil mematikan ponselnya sebelah pihak.


Steven beranjak pergi menuju ke dalam kamar milik Alice. Namun, saat ia membuka pintu ternyata Alice sudah berdiri di dekat pintu sampai akhirnya membuat Steven sedikit kaget.


“Ya ampun ... Sejak kapan kamu di sini? Bikin kaget tahu kaya hantu tiba-tiba udah nonggol,” ungkap Steven sambil mengusap dadanya.


“Hehe maaf soalnya aku nggak sengaja bangun pas tahu kamu udah nggak ada di sampingku. Oh ya, barusan siapa yang telepon?” sahut Alice sambil bertanya.


“Oh ... ini temenku namanya Kelvin. Dia sengaja gangguin tidur biasalah orang gabut karena udah gagal honeymoon terus,” kata Steven sambil berjalan mendekati ranjang.


‘Kelvin? Gagal honeymoon? Astaga apa mungkin Kelvin suami dari Viora? Sebaiknya aku harus memastikan bahwa itu bukan mereka,’ batin Alice.


Alice berjalan mendekati Steven, sampai ia duduk di sebelahnya. Mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih belum mengenakan apapun walaupun sejak tadi mereka berbicara Alice dalam keadaan telanjang.


“Kenapa kamu? Kedinginan ya?” tanya Steven yang melihat aneh kearah Alice.


“Eh nggak kok! Aku cuma mau ambil aja buat sedikit tertutup,” sahut Alice sambil tersenyum kikuk.


Steven menggelengkan kepalanya sambil ikutan tersenyum. Ia lalu membuka selimut Alice sampai akhirnya dirinya ikut-ikutan masuk kedalam. Steven juga memeluk Alice dengan erat. Sampai ia merasakan sesuatu sedang bangkit di bawah sana.


‘Jika setiap hari aku begini bisa-bisa aku tidak sanggup menahannya,’ batin Steven.


“Steven, apa kamu begitu suka memelukku?" tanya Alice yang sedang merasakan pelukan yang semakin erat.


“Yah tentu saja. Setidaknya hariku sedikit lebih berwarna setelah kita bertemu. Terima kasih, Alice,” sahut Steven yang sengaja menenggelamkan wajahnya ke dada Alice.


‘Kamu benar, Steven. Kita bertemu dan sama-sama mendapatkan warna baru dalam hidup tapi, aku tahu hatimu dan juga hatiku masih milik orang lain,’ batin Alice.


“Oh ya, Steven. Bolehkan aku bertanya tentang temanmu yang baru saja menghubungimu itu?”


“Yah tentu saja boleh. Apa kamu penasaran dengannya? Apa kamu mulai cemburu jika aku menjawab telepon menjauh?” tanya Steven begitu banyak hal.


“Heh! Apa maksudmu? Aku hanya ingin bertanya bukan berarti cemburu!” kesal Alice sambil memukul-mukul punggung Steven dengan pelan.


“Aw sakit! Ya baiklah, tanya saja aku tidak akan menggangu pertanyaan mu lagi.” Steven menyerah.


“Siapa Kelvin? Dan, ada hubungan apa temanmu sampai mengganggu di pagi seperti ini? Maaf kalau aku sedikit lancang ingin tahu privasi mu,” tanya Alice penasaran.


‘Semoga Steven mau membongkar siapa Kelvin temannya itu? Jika benar dia orang yang sama yaitu bos ku maka aku harus waspada dan berusaha menjauh,’ batin Alice.


Steven seketika terdiam, sampai akhirnya dia membuka suara. “Baiklah karena mungkin sudah melakukan banyak hal seperti sekarang. Pasti lama-lama kamu akan terlibat dalam hidupku. Aku akan menceritakan semuanya, siapa temanku Kelvin, dan untuk apa dia menghubungiku. Lagipula kita juga akan tinggal bersama nantinya.”