Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 60. Ngeles.


Happy reading.


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


"Kau tanya maksudku, mas? Apa kau memang sengaja tidak mengerti?" tanya Zoya.


Reiner mendengkus kesal. "Kau yang tidak mengerti Zoe, bukan aku!"


"Hah aku? Terserah kau saja mas!" ucap Zoya, lalu ia beranjak pergi kembali.


"Hey, dengarkan dulu Zoe, jangan pergi sesukamu saat kita sedang bertengkar," Reiner mencoba menahan lengan Zoya.


Zoya tidak melihat kearah suaminya, ia masih marah dan kesal sampai saat ini pun suaminya masih memanggilnya dengan sebutan nama. Ia terus diam dan tidak ingin peduli.


"Ayolah sayang, jangan seperti ini, aku tahu, aku tidak peka dengan perasaanmu," ucap Reiner. Mendengar ucapan itu tiba-tiba Zoya menoleh kearah suaminya.


Saat Zoya melihat kearah suaminya. Lalu Reiner mengusap rambut istrinya seraya memeluk tubuh wanita kesayangannya itu. Lalu mengecup bibirnya.


"Maafkan aku sayang, aku tahu, aku sangat tidak peka dan justru malah memanggilmu dengan sebutan nama, sekali lagi aku minta maaf," ucap Reiner dengan tulus.


Zoya menatap lekat kearah Reiner, ia lalu memeluk suaminya itu dengan sangat erat, hingga perlahan tetesan air mata pun mengalir di pipinya.


"Hey, jangan menangis sayang ... sudah-sudah ayo kita masuk kedalam," ucap Reiner. Zoya hanya mengangguk mendengar ajakan suaminya.


Reiner merangkul mesra istrinya, seakan tidak ingin sedikit pun ada jarak, lalu dengan tiba-tiba Zoya malah menangis sejadi mungkin hingga suaranya tersedu-sedu, entah kenapa ia tiba-tiba seperti itu. Reiner tidak tahu ada apanya, ia hanya bisa memeluk sambil mengusap lembut punggung istrinya hingga menunggu sampai Zoya selesai menangis.


"Mas, aku ... hehehe, maaf aku tadi ngga tahu kenapa bisa nangis," ucap Zoya seraya tersenyum.


"Sayang ... Kamu ini aneh loh, tadi nangis sekarang udah senyum-senyum, kenapa senyam-senyum karna liat aku ganteng banget ya ...." Reiner menggoda istrinya.


"Isss ... nyebelin kamu, mas," ucap Zoya merajuk.


"Loh sayang, kok aku sih? Kan kamu yang gitu, tiba-tiba nangis terus senyam-senyum liatin aku, ganteng ku ngga akan lari kok cuma di kamu," Reiner mulai mengeluarkan jurus gombal buaya darinya, agar istrinya tersenyum.


Alhasil Zoya malah tertawa terbahak-bahak melihat suaminya berbicara seperti itu. "Sudah-sudah, ceria gini kan makin cantik istriku, tambah sayang deh, sini peluk sayang ummah," Reiner gemes melihat istrinya.


Zoya pun menurut juga ikut senang melihat suaminya bisa bertingkah lagi seperti ini, lalu ia teringat sesuatu akan banyaknya rahasia yang belum di ungkapkan, membuat senyum diwajahnya pudar.


Reiner mengkerutkan dahinya saat melihat wajah istrinya tiba-tiba tidak lagi ceria, ia pun penasaran. "Sayang, kau kenapa? Sakit atau apa?"


Zoya menggelengkan kepalanya, ia ingin jujur tapi ia masih belum berani, padahal dulu dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu terbuka dan tidak ada kebohongan yang harus ia tutupi. Namun bagaimana ia harus bisa mengumpulkan keberanian sebab dirinya masih malu mengungkap jika dia sedang cemburu.


"Sayang ... Hey, kau tidak mendengarkan ucapanku," ucap Reiner. Ia sedikit bingung melihat istrinya.


"T-tidak ada mas, aku hanya ... ah tidak apa-apa," ucap Zoya berbohong.


Reiner memicingkan matanya, mendengar ucapan istrinya, ada sesuatu yang ia tutupi dari cara Zoya berbicara. "Ayolah sayang, kau tiba-tiba aneh, terus sekarang aku semakin bingung ayolah katakan, sebenarnya ada apa? Aku tahu dari wajahmu sedang berpikir sesuatu."


‘Duh! Bagaimana ini, aku ingin jujur tapi aku masih malu mengungkapkannya,’ batin Zoya.


Reiner tahu, istrinya sedang berasalan. "Sayang, kau ini pandai sekali berbohong ya, ayo katakan yang, jangan buat aku penasaran."


"Ngga mas, aku nggak bohong, aku emang lagi laper nih, yuk makan, ngga kasihan kamu sama calon bayi kita, nanti mereka kurus gimana?" ucap Zoya terus saja beralasan.


Reiner menghela nafas berat. Ia tidak akan bisa mendapat jawaban dari istrinya jika sudah seperti ini, terpaksa ia harus menurutinya. "Baiklah, ayo kita makan tapi setelah itu kamu harus janji untuk cerita sama aku, janji dulu cepat!"


"Isss kamu! Aku harus janji apasih mas, nyebelin kamu," sahut Zoya membantah.


"Janji dulu sesudah makan kamu harus cerita sama aku, aneh banget sayang, kamu lagi ketawa terus tiba-tiba murung," ucap Reiner.


"Aku nggak kenapa-kenapa, mas," Zoya terus tidak ingin jujur.


"Yaudah aku mau tidur aja lah, ngga mau makan, makan aja kamu sayang," ucap Reiner pura-pura cemberut, ia menahan senyumnya.


"Kok kamu gitu sih, aku kan laperrr!" Zoya tidak terima penolakan.


"Yaudah kalau gitu habis kita makan kamu harus cerita sama aku, janji dulu cepet janji! Jangan nanti aku marah nih," sahut Reiner tegas, meskipun itu hanya untuk membuat Zoya menurut.


Dengan sangat terpaksa, Zoya akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Tidak ada cara lain selain menurut meskipun ia harus menahan malu saat mengungkapkan sebuah rahasia.


Reiner pun tersenyum, melihat istrinya yang sudah pasrah. Ia lalu merangkul istrinya dan mereka berjalan beriringan ke dapur.


Zoya lalu mengambil piring untuknya dan untuk suaminya, mereka lalu makan malam bersama. "Kamu suka mas masakan ku? Aku terpaksa membuat sarapan ringan sebab bahan dalam kulkas hanya tinggal stok terbatas, jadinya aku hanya bisa membuat tiga menu ini saja," ucap Zoya.


"Tidak masalah sayang, ini sudah sangat lezat dan cukup untuk kita, besok kita akan belanja bulanan sehabis aku pulang dari kantor ya," sahut Reiner.


‘Ide bagus, bagaimana jika malam ini aku mengajak suamiku belanja,’ batin Zoya.


"Mas, gimana kalau malam ini aja kita ke Mall, kamu mau?" pinta Zoya.


Reiner memicingkan matanya melihat Zoya selalu mencari cara agar menghindar dari sesuatu yang sudah ia janjikan. "Ngga bisa malam ini sayang, ini udah malem dan lagi ngga baik buat ibu hamil pergi malem-malem."


"Tapi mas, kan ada kamu yang jagain aku, lagian kita juga naik mobil," Zoya terus memaksa.


"Ngga, aku bilang ngga tetap nggak! Jangan mau menghindar sayang ... Udah makan terus dulu habisin makanan yang banyak," sahut Reiner.


Zoya melihat suaminya dengan kesal, satu cara pun tidak mempan membuat suaminya agar menurut, lalu ia melanjutkan sarapannya.


≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈


Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan LIKE, KOMEN dan berikan VOTE. Kalian harus memberikan VOTE. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.


DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIAKU


75 TAHUN MERDEKA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩