Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
18~S3 Istriku. Gadis Kecilku Bermalam di Club dan berendam di kolam


H A P P Y R E A D I N G


Kesempatan bagus bagi Alvero memang itu yang ia inginkan seperti nasehat Bibi Karin, lalu ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka menari bersama sambil segelas minuman berada di tangan masing-masing.


‘Aku harus mencobanya, jika ini bisa membuatku bahagia dengan sedikit tidak mengingat Viora, maka harus kulakukan,’ batin Alvero sambil terus menari.


“Alice, sini bawakan minuman mu padaku agar kamu bisa lebih leluasa menari,” pinta Alvero.


Alice pun mengangguk, ia langsung memberikan gelas minumannya lalu ia kembali menari. Alvero pergi menjauh lalu ia memasukkan sebuah 'obat' untuk membuat Alice memihak padanya. Lalu Alvero pun kembali mendekat.


Alvero terus menari sambil memegang gelas minuman. “Alice, ini minuman mu,” ucap Alvero seraya memberikannya.


“Terimakasih, Alvero,” sahut Alice seraya tersenyum.


Alice kembali menari dengan ceria, dan sesekali ia meneguk minuman sampai akhirnya habis tidak tersisa. Sebelum obat bekerja ia masih bisa menari seperti biasa. Alvero menatap alice di hadapannya. Senyumnya tersungging begitu paham apa yang dia rencanakan sudah mulai berjalan seperti harapannya.


Obat yang dia taburkan di minuman Alice tampak sudah mulai bekerja. Tinggal tunggu kapan puncaknya obat tersebut mempengaruhi Alice.


Keseimbangan Alice sudah mulai goyah, ia seketika berhenti menari lalu menatap wajah Alvero sambil mengigit bibir bawahnya.


“Hay ganteng,” ucap Alice.


Alvero tersenyum mendengarnya. Alice sudah mulai beraksi, dirinya bahkan menari dengan gerakan menggoda lalu, ia tersentak dan hampir jatuh. Dengan cepat Alvero menahan tubuhnya seraya membopong tubuh Alice.


Alvero memanggil pelayan bar, ia lalu memesan sebuah kamar yang memiliki fasilitas kedap suara. Ia langsung membawa Alice menuju ke tempat yang sudah ia pesan.


“Panas!” ucap Alice yang sudah tidak karuan.


“Sabar, sayang,” sahut Alvero.


Alice yang masih berada di dalam gendongan. Ia akhirnya membuka sedikit bagian depan pakaiannya, ia merasakan panas. Hingga gundukan besar yang masih terbungkus lengkap terlihat.


Alvero tersenyum melihatnya. Mereka sampai di kamar tersebut lalu tidak menunggu waktu lama ia langsung merebahkan tubuh Alice yang sudah siap untuk di santap.


Alice terus mengigit bibirnya sambil tidak karuan ia bergerak. Alvero tidak ingin berdiam diri hanya menatap, ia langsung melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh Alice begitupun dengan pakaiannya.


Keindahan tubuh mulus tanpa mengenakan sehelai benangpun, pertama kali ia lihat langsung kecuali di dalam film.


“Alice, aku ingin memilikimu saat ini, detik ini, dan malam ini. Setelah hari ini berganti kita akan kembali menjadi orang asing yang tidak saling mengenal,” ucap Alvero yang sedang menyentuh tubuh itu dengan jarinya.


Alvero seperti tersihir, apalagi melihat gerakan tubuh Alice yang semakin memanas bahkan ia terus-menerus mengigit bibir wajahnya. Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan Alvero memulainya. Perlahan ia mulai mencium dan semakin dalam ia terus mencium bibirnya. Sesekali ia juga merampas gundukan besar yang sudah sangat siap untuk di mainkan.


Alvero lalu menyatukan adiknya masuk ketempat indah surga dunia. Alice mengerang, ia bahkan meminta lebih sebab dirinya juga menikmati sensasi tersebut. Efek obat benar-benar membuat Alvero menang dalam permainan tersebut. Bahkan gerakan Alice begitu lihai.


Erangan dan desahan membuat Alvero seakan tidak ingin meninggalkan satu jejak pun untuk ia telusuri hingga tercipta begitu banyaknya warna kemerah-merahan hasil ciuman serta gigitan dari Alvero. Bulatan indah serta kenyal yang menggantung didepan wajahnya sangat menjadi hal favorit untuk ia gigit.


Waktu semakin lama, Alvero sudah berada di penghujung nikmat. Dia tidak sanggup menahannya hingga akhirnya semburan miliknya memenuhi seisi ruang kecil milik Alice. Nafasnya Alvero terengah-engah, ia melihat wanita di bawahnya sudah lemas, lalu tertidur.


“Terimakasih, Alice. Tapi, maaf aku tidak sengaja membuangnya kedalam. Maafkan aku, semoga setelah ini kita tidak lagi bertemu,” ucap Alvero seraya menjauh dari tubuh Alice.


Alvero lalu kembali memakaikan pakaiannya, ia tidak ingin sampai ikutan tertidur di sini sebab itu akan menjadi bencana. Setelah semuanya ia pakai Alvero lalu meninggalkan uang secukupnya, agar dirinya tidak terus merasa bersalah.


Alvero langsung meninggalkan Alice sendirian yang masih dalam keadaan tidak berpakaian. Tanpa adanya rasa kasihan Alvero langsung meninggalkan Club dan bergegas pulang. Di dalam mobil, ia merasa lega dengan apa yang terjadi barusan. Senyuman terus menghiasi wajah tampannya.


“Lega sekali, tidak buruk juga ternyata. Bahkan umpanku begitu cantik dan juga bersih tapi, sayang aku tidak memiliki perasaan apapun dengan wanita itu bahkan jika pun bertemu lagi nanti maka aku berpura-pura tidak akan mengenalinya. Benar-benar hari yang indah!” gumam Alvero.


Seketika, Alvero pun bahagia lalu ia kembali cemas. “Aduh! Kok jadi senang banget. Gimana yah kalau sampai dia ingat wajahku? Lalu bagaimana kalau dia hamil? Ah sial! Harusnya aku tidak membuangnya kedalam."


Antara bahagia dan juga cemas, Alvero pulang ke kediamannya dengan perasaan berbeda. Ia langsung membuka pintu kediaman dengan kunci cadangan sebab pasti semua orang sudah tertidur. Tanpa ingin lagi berpikir apapun dirinya memilih untuk merebahkan diri sampai akhirnya terlelap dalam mimpi.


--------:::::::::::::::::::::::::::::::--------


Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Cahaya mulai mengisi seisi bumi dan masuk di balik celah-celah kecil. Di sebuah Club, seorang wanita cantik sedang mengucek matanya. Ia perlahan membuka mata sambil menguap. Celingak-celinguk melihat ruangan yang ia tempati sekarang.


“Loh kok kamarku bisa berubah begini,” gumam Alice yang masih tidak menyadari apapun.


Ia lalu membuka selimut berniat turun. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat keadaannya yang tidak mengenakkan apapun.


“Apa yang udah terjadi?! Pakaianku dan ruangan ini, no way. How did this happen?” tanya Alice pada dirinya sendiri.


Alice akhirnya menyadari sesuatu telah terjadi pada dirinya, sampai ia melihat bekas darah di atas ranjang, dan juga uang berada di jauh darinya. Ia lalu memutarkan kembali memori tentang apa yang sudah terjadi. Mulai dari mereka berkenalan sampai akhirnya ia terakhir minum.


“Oh no ... aku telah di perkosa! Arrgh Alvero! Aku tahu itu pasti kamu, sebab tidak ada Pria lain yang bersamaku. Sialan! Kamu harus membayarnya bukan dengan uang ini. Uang tidak cukup tapi, aku akan mencari tahu tentangmu,” geram Alice dengan sebuah ancaman.


Alice mengamuk lalu ia memungut kembali pakaiannya dan memakainya. Kenangan manis bersama dengan Pria tampan mampu membuatnya kesal. Hatinya sudah bertekad untuk mencaritahu siapa Alvero sebenarnya. Ia memutuskan untuk kembali pulang dan tidak ingin berangkat bekerja. Hari yang kacau jadi, ia perlu sedikit ketenangan.


----------:::::::::::::::::::::::::::::::::::----------


Dua hari telah berlalu. Selama waktu itu Alice sudah mulai masuk kerja, dan juga ia sedang menyelidiki seseorang. Tiada ada yang tahu hal ini bahkan Mony sebagai teman juga tidak ia beritahukan.


Begitupun dengan kehidupan Viora kembali normal, walaupun mereka masih pisah ranjang. Setelah mereka berbaikan hubungan rumah tangga begitu harmonis. Namun, meskipun demikian hubungan rumah tangga selalu identik dengan memberikan nafkah lahir dan batin.


Kelvin masih memegang teguh prinsipnya, ia tidak ingin melewati batas kecuali jika Viora mengizinkan. Nafkah lahir selalu ia berikan dan tidak lewat dari tanggal perjanjian. Namun, nafkah batin masih menjadi pertanyaan.


(Viora Lausy)


Dua hari kedepan waktunya weekend, itu artinya sesuai kesepakatan ku dengan Kelvin. Maka kami akan kembali berlibur di rumah Bunda dan Ayah. Di ujung sana kulihat Kelvin sedang melihat siaran televisi. Begitu asyik sampai tidak mengajakku untuk menonton bersama.


Merasa kesal dengan itu hingga akhirnya aku melempar dirinya dengan potongan apel yang sedang ku kupas. Tepat mengenai sasaran, Kelvin menoleh melihatku. Ia lalu bangkit dan berjalan menghampiriku.


“Hay, gadis kecil,” sapa Kelvin mencolek dagunya.


Sengaja memasang wajah kesal sebab ia sampai tega tidak mengajakku. “Ada apa?”


“Ayolah sayang, jangan ngambek gitu. Kemari 'lah, aku tahu kamu pasti kesal denganku, iyakan?” ungkap Kelvin seraya bertanya.


”Udah tahu pakai nanya lagi,” omel ku sambil melipatkan tangan di dadanya.


“Ya baiklah, kali ini aku maafkan,” sahutku sambil tersenyum.


Kelvin membalas senyumanku. Ia kembali fokus dengan melihat televisi di depan. Merasa kesal tidak di pedulikan hingga aku memutuskan untuk bermain game sebab siaran di depan sana tidak cocok sama sekali denganku.


Sengaja bermain game dengan volume yang keras. Dengan begitu ceria aku sengaja mengganggu dirinya yang sedang fokus. Kelvin pun melirikku, ia menyadari jika aku ingin membuatnya kesal. Namun, sayangnya Kelvin juga mengambil game ku dan mengotak-atik layar ponselku sampai akhirnya aku kalah.


“Ihhh jadinya kalah, jahat!” geram ku seraya mengambil kembali ponselku.


“Abisnya kamu sih sengaja 'kan gangguin aku nonton. Ini tuh lagi seru, gadis kecil. Lihat kedepan ini lebih menarik tahu daripada game Barbie seperti itu,” ungkap Kelvin seraya menepuk-nepuk pundakku.


“Ogah! Lihat aja sendiri. Aku mau pergi,” sahutku.


Belum sempat aku melangkah pergi Kelvin sudah menahan lenganku hingga membuatku terpaksa berhenti.


“Apalagi, Evin?" tanyaku kesal.


“Bentar dulu, gadis kecil,” sahut Kelvin seraya bangun mematikan televisi.


Melihat tingkahnya membuatku ingin tersenyum. Dia bahkan membela tidak menghabiskan film kesukaannya demi ku.


“Panas nih, sayang. Berenang yuk!” ajak Kelvin.


Ingin menolak namun, aku tidak enak hati hingga akhirnya mengiyakan ajakannya. Setelah berganti pakaian renang lalu aku bersama dengan Kelvin menyelam dan berendam di air. Rasa segar mampu membuat siapapun nyaman. Berdiri di tepian sambil saling berpegangan.


“Oh ya, Pangeran. Apa weekend nanti kita pulang ke tempat Bunda?” tanyaku penasaran.


“Kayaknya ngga deh. Soalnya aku pikir Minggu depan aja kita pulang. Gimana kalau kita ganti dengan liburan, mau nggak?" Kelvin tiba-tiba membahas liburan jelas membuatku kebingungan.


‘Loh kok malah liburan? Bukannya harusnya liburan ke tempat Bunda? Evin, kadang-kadang suka aneh,' batinku.


“Liburan? Apa acara kita sampai harus liburan? Apa kamu ingin merayakan sesuatu, Pangeran?” tanyaku benar-benar tidak paham.


Kelvin terlihat melamun seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia kembali menatapku tapi, tatapannya membuatku tidak paham apa yang ingin pikirkan.


“Apa Pangeran, mau bilang sesuatu?”


Kelvin menarik nafasnya. “Gadis kecil, maaf tapi, bolehkan kalau aku meminta sesuatu darimu?”


“Iya, boleh.”


“Aku sengaja tidak membawamu Minggu ini untuk weekend di tempat Bunda. Namun, sebaliknya aku ingin kita pergi honeymoon. Bukankah selama kita menikah, kita belum sempat untuk berduaan? Jadi, apa kamu bersedia, gadis kecil?” tanya Kelvin dengan penuh harapan.


‘Lucu, Evin mau ajak honeymoon udah kaya mau nembak aku aja. Tapi sudahlah mungkin kali ini waktu yang tepat,' batinku.


“Iya, aku mau," sahutku mengiyakan.


Kelvin langsung tersenyum seraya memelukku dengan erat meskipun kami sama-sama masih di dalam air. Aku pun membalas pelukannya.


“Baiklah kalau begitu kita akan kemana?! Singapore, Jepang, Chinese, atau gadis kecil maunya kemana?” tanya Kelvin dengan semangat.


“Aku ... Kemana aja boleh deh asalkan bareng sama kamu terus,” sahutku sedikit lebai.


“Ciee ... Gadisku sudah mulai gombal,” ledek Kelvin.


“Ihhh apasih?! Siapa yang gombal? Ogah ihhh!" sahutku seraya menyelam agar rasa malu ku hilang.


“Ayo ngaku, gadis kecil jangan kabur!” teriak Kelvin, seraya mengejar ku.


Kelvin berhasil menangkap ku di dalam kolam renang. Tubuhnya yang tinggi dan cara berenangnya yang lebih pintar dariku, membuatku kewalahan untuk kabur darinya. Hingga akhirnya aku menyerah karena nafasku sudah terengah-engah sebab terus menyelam di dalam air.


“Makanya jangan lari dariku, gadis kecil. Kamu ngga akan bisa,” ucap Kelvin seraya memegang tanganku.


“Biarin! Emang enak kejar orang terus!” ledekku.


Kebahagiaan terus membawa kedalam hubunganku. Bahkan sampai hari ini aku sangat tidak menyangka jika hubungan kami bisa menjadi seperti hubungan orang lain pada umumnya. Segala rasa benci sudah seutuhnya berubah menjadi cinta. Bahkan dendam juga sudah menghilang dan berubah menjadi kerinduan.


Sosok Pria yang paling aku cintai akhirnya mampu meluluhkan hatiku. Lelahnya meledek suamiku tapi, akhirnya pelukan hangat kuberikan untuknya. Masih memeluknya dengan erat tiba-tiba sebuah cahaya entah masuk dari arah mana lalu berdiri menjadi sosok yang sangat ku kenali bahkan pernah menjadi musuhku.


Ingin aku melepaskan pelukan namun, rasanya begitu sulit bahkan aku ingin mengatakan sesuatu pada Kelvin tapi, suaraku justru tidak bisa keluar. Hingga akhirnya aku memilih menutup mata dan tidak melihat sosok roh Elie sedang menatap kami berdua.


“Viora, aku datang untuk berterimakasih padamu bukan untuk menyakitimu. Sobekan kain putih yang pernah kamu bakar itu adalah milikku tapi, aku tidak dendam denganmu karena orang yang aku cintai sudah memiliki orang yang tepat. Setiap saat aku berjaga di sini melihat tingkah laku mu pada orang yang aku sayangi. Cintailah Kelvin, karena dia tidak pernah berbuat curang padaku, namun sebaliknya aku yang selalu mencoba untuk menjebaknya. Mulai hari ini aku akan pergi jauh dari kalian sebab kamu sudah benar-benar membuka hati untuknya. Lindungilah ia seperti aku melindungi Kelvin,” ungkap roh Elie.


Seketika mataku terbuka dan juga sosok wanita itu juga sudah menghilang, begitupun dengan pelukanku sudah bisa ku lepaskan.


“Gadis kecil, apa kamu merindukanku sampai pelukan ini begitu lama?” tanya Kelvin sambil memegang pipiku.


“A-anu apa Pangeran mendengar suara orang lain di sini?” tanyaku penasaran.


“Suara orang lain? Tidak gadis kecil, tidak ada suara siapapun di sini. Lagipula kita hanya berdua di kolam, memangnya ada apa?” ungkap Kelvin dan bertanya.


‘Aneh jika Evin tidak mendengarnya maka suara itu hanya aku yang bisa mendengar tapi, kenapa dia berkata seperti itu? Dan juga sobekan kain putih? Rasanya aku pernah melihatnya tapi, di mana?’ batinku penasaran.


“Kenapa gadis kecil, apa kamu merasakan sesuatu? Kamu sakit? Atau karena kita terlalu lama berendam? Jika ya maka sebaiknya kita harus naik keatas,” tanya Kelvin cemas.


“Baiklah.”


...----------------...


Jika berkenan bisa juga mampir di kedua novel baruku.