Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
46~S3 Istriku Gadis Kecilku Menikahlah denganku, & Mama ngomel-ngomel


H A P P Y R E A D I N G


Claudia menarik nafasnya memburu. “Pertama, kamu bahkan membiarkan aku pulang sendiri saat aku sedang menjenguk Alice. Kedua, kamu lebih memilih menemani perempuan itu ketimbang aku yang sudah sah menjadi pacarmu padahal waktu itu aku tidur sendirian, dan ketiga! Kamu tidak meneror ku saat kamu tahu aku dengan sengaja tidak memberimu kabar. Apa bagimu kabar itu tidak begitu penting? Haruskah aku terus yang duluan memberimu kabar? Baly! Aku kesal denganmu! Orang lain pacaran seminggu mesra-mesraan tapi, kita pacaran seminggu seperti rasanya sudah setahun, hambar!”


‘Ball, apa yang harus kujawab sekarang?’ batin Steven.


Steven terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia bingung harus menjawab apa.


“Kenapa kamu diam, Baly? Aku sedang berbicara denganmu.”


“Maafkan aku, Ball. Aku tidak tahu harus menjawab apa, sungguh maafkan aku tapi, sebetulnya kedatanganku kesini hanya satu. Aku ingin meminta satu hal padamu, bisakah kamu memenuhi keinginanku?” ungkap Steven yang tidak begitu jelas sembari meminta sesuatu.


“Apa aku tidak salah mendengarnya? Kamu kesini hanya untuk meminta sesuatu, bahkan di saat hubungan kita sedang bermasalah seperti ini. Apa kamu hanya ingin memikirkan perasaanmu saja, Baly? Aku tidak ingin berbicara lagi denganmu. Sebaiknya pergilah sekarang, pergi! Aku bilang cepat pergi dari hadapanku!” bentak Claudia di akhir ucapannya dengan sangat kesal.


“Aku tidak akan pergi darimu, Ball. Sebelum aku menyelesaikan semua yang akan ku katakan. Dulu aku pernah mengajarimu satu hal untuk tidak menyakiti orang lain walau siapapun itu, dan sekarang aku sadar aku juga telah menyakitimu meskipun aku tahu kesalahanmu juga ada padaku tapi, kesalahanmu tidak sebanding dengan apa yang telah kulakukan, maafkan aku jika dulu aku menjadi kakak yang selalu menasehati mu walau begitu aku juga tidak sempurna. Jadi sekarang jangan memintaku untuk pergi,” sahut Steven begitu serius bahkan matanya tidak sedikitpun lepas dari mata Claudia.


‘Apa ini? Kenapa perasaanku jadi tidak enak?’ batin Claudia.


“A-apa maksudmu, Baly? Tadi kamu memintaku untuk memenuhi keinginanmu lalu sekarang kamu berbicara sangat aneh yang membuatku tidak paham. Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan sampai kesalahanmu lebih besar dariku? Bukankah dulu aku yang telah menyakitimu? Lalu sekarang bagaimana bisa kamu mengatakan jika kamu yang menyakitiku? Sebenarnya apa yang telah kau lakukan?!” tanya Claudia dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Steven menarik nafasnya sembari membawa Claudia untuk duduk bersama. “Aku akan katakan semuanya sebab kedatanganku kesini memang untuk itu. Jadi, sebelum aku membuka rahasia aku ingin meminta satu hal maukah kamu menikah denganku, dan menjadi istri kedua untukku?”


Dengan cepat Claudia bangkit dari duduknya sambil memegangi dadanya. “A-apa kamu sudah tidak waras, Baly? Aku tahu jika aku wanita yang telah menolak mu, wanita yang telah lama menghabiskan uangmu, dan wanita yang selalu membebani hidupmu tapi, aku tahu kesalahanku tidak mungkin kamu lupakan. Meskipun begitu aku juga tidak akan mungkin menjadi istri keduamu. Tolong jujur denganku sebetulnya apa yang telah terjadi? Apa kamu telah menikahi perempuan lain?”


“Baiklah aku akan menjawab semua pertanyaan ini. Alice sedang hamil anakku. Sebelum kita bertemu aku tidak sengaja melihat Alice pingsan lalu aku menolongnya tapi, pada suatu malam dia curhat mengenai semua keluh kesahnya hingga akhirnya semuanya terjadi, dan sekarang dia sedang mengandung anakku. Oh ya satu hal yang harus juga kamu ketahui kakakmu memperkosaku saat dia sudah kehilangan akalnya. Aku ingin jujur waktu itu tapi, aku malu denganmu karena kita masih status adik kakak. Aku tahu, Ball. Ini tidaklah mudah tapi, takdir 'lah yang membawaku melakukan semua itu meskipun aku tahu takdir bisa kita rubah namun, aku tidak sempat menghindar dari godaan takdir itu sendiri. Jadi, maafkan aku,” ucap Steven yang membongkar semua rahasia sambil menundukkan kepalanya.


Mata Claudia berkaca-kaca, nafasnya tidak karuan sembari memegang dadanya. Tubuhnya lemah seperti tidak kuat lagi menopang kehidupan hingga akhirnya ia terjatuh sambil meneteskan air matanya. Isak tangis pun sudah tidak berarti untuk mengembalikan semua yang telah terjadi.


‘Kakak, kenapa semuanya terjadi? Kenapa tidak saat kita berpisah dulu? Kenapa harus sekarang? Setelah aku mulai mencintaimu saat itu pula kamu mulai menyakitiku. Apa ini balasan dari Tuhan atas semua kesalahanku padamu?’ batin Claudia sambil terus menangis.


Steven menatap Claudia dengan penuh kasih sayang. Ia mencoba mendekatinya, ia memang tidak kuat melihat Claudia meneteskan air matanya meskipun saat menjadi adiknya walaupun setelah menjadi kekasihnya.


“Aku tahu maaf tidak akan bisa mengembalikan semuanya tapi, aku berjanji akan membahagiakanmu, Ball. Meskipun aku tahu kesalahanku begitu besar. Ku mohon maafkan aku. Semuanya terjadi di luar dugaan ku hingga membuat Alice sampai mengandung anakku,” ucap Steven sambil memegangi bahu Claudia untuk meminta pengampunan.


“Tidak! Jangan sentuh aku! Aku tahu aku telah menyakitimu, aku telah berdosa telah menolak cintamu, dan memilih mencintai orang lain tapi, dulu kuakui bahwa aku hanya terobsesi dengan pria lain namun, aku mengerti bahwa sesungguhnya cinta itu ada padamu. Lalu sekarang kamu dengan sengaja membalaskan dendam padaku. Kupikir kita pacaran dengan saling mencintai tapi, ternyata tidak aku hanya menjadi kekasihmu agar bisa dendam mu terbalaskan. Ha ha ha, bukankah sekarang keinginanmu sudah terwujud, Baly?! Lalu apalagi nikahi Alice dengan cepat tapi, aku tidak akan menikahi mu karena aku tidak ingin berbagi,” sahut Claudia dalam Isak 'kan tangisnya.


“Aku sudah bilang! Ini terjadi di luar dugaan ku! Ball, jangan begitu keras kepala!” bentak Steven sembari menendang apa yang ada di depannya.


“Lebih baik pergi dari sini karena aku tidak ingin melihat kakak yang telah berubah menjadi seorang pecundang. Pergi dariku! Aku bilang pergi! Aku muak melihat wajahmu! A-aku kecewa denganmu, kak. Seharusnya kita memang tidak perlu lagi bertemu. Kenapa sekarang kita bertemu, kak, kenapa?! Aku kecewa dengan-mu. Aku ke-ce-wa ....” Isak Claudia yang semakin menjadi-jadi sambil memukuli dada Steven.


“Maafkan aku, Claudia. Aku memang bukan kakak yang baik untukmu, maafkan aku,” sahut Steven yang merasa kasihan melihat Claudia yang terus menangis 'nya sambil memberikan pelukannya.


‘Ya, Dewa. Aku harus bagaimana lagi? Satu sisi aku tidak sanggup meninggalkan Alice yang sedang mengandung anakku, lalu aku juga tidak bisa melepaskan Claudia begitu saja. Dia mencintaiku, dia ingin bersamaku. Ya ampun ... Kepalaku pusing sekali memikirkannya,’ batin Steven yang masih memeluk Claudia.


Isak tangis Claudia masih belum reda. Ia sadar jika dirinya masih dalam pelukan Steven. Hingga akhirnya dengan cepat ia melepaskan pelukan itu lalu berdiri menjauh sambil menatap Steven dalam tangisnya.


“B-Ba-ly, aku tahu aku tidak akan mungkin bisa menghilangkan cinta ini begitu saja apalagi kita baru bertemu setelah lamanya terpisah. Rinduku akan selalu ada untukmu meskipun aku memilih berpisah tapi, aku mohon jawab pertanyaan ku kali ini. Apa kamu juga mencintai Alice seperti kamu mencintaiku?”


“Ball, pertanyaan macam apa itu?” Bukannya Steven menjawab justru ia bertanya kembali.


“Aku ingin kamu menjawabnya, Baly! Bukan bertanya lagi. Cepat jawab! Atau aku! Akan mengakhiri semuanya,” ancam Claudia dengan tegas.


“Baiklah, Ball, jika kamu memaksanya maka aku akan menjawab. Um, aku tidak tahu harus menjawab apa karena aku masih bingung dengan apa yang aku rasakan saat ini tapi, aku sudah berjanji untuk menemaninya, untuk selalu bersamanya, dan untuk tanggung jawab dengan apa yang telah kulakukan,” jawab Steven dengan penuh teka-teki.


“Jika kamu ingin selalu bersamanya untuk menemani setiap langkah hidupnya maka kamu sudah memiliki perasaan terhadap Alice, Baly. Apa sekarang kamu sudah tidak lagi mencintaiku?” tanya Claudia dengan penuh harapan.


“A-aku mencintaimu, Ball,” sahut Steven dengan gugup.


Claudia mengusapkan wajahnya dengan cepat sambil menarik nafasnya memburu. “Jika memang kamu mencintaiku! Maka tidak mungkin kamu menjawabnya gagap begitu! Apa memang kamu sudah tidak mencintaiku, Baly? Lalu jika ya kenapa kamu menjadikanku pacarmu?! Apa aku terlihat seperti wanita murahan sampai kamu menjadikanku kekasih? Harusnya kamu cukup bersikap seperti dulu. Yang seolah tidak pernah mengenaliku! Aku muak denganmu!”


“Cukup! Cukup Claudia!” bentak Steven sambil melototkan matanya.


“Kamu bahkan membentak ku padahal aku di sini yang menjadi korban! Kamu membuatku muak! Kau tahu lebih baik kamu pergi! Pergi dari sini, cepat!” usir Claudia sambil menunjukkan tangannya kearah pintu.


“Aku tidak akan pergi! Kita akan menikah, dan kamu harus menjadi istri keduaku, Ball. Aku ingin kamu bahagia, apalagi hidup sebatang kara seperti ini jadi menikahlah denganku. Aku berjanji setelah menikah kamu akan tinggal terpisah, juga aku akan selalu adil dengan kalian. Ayolah raih tanganku, dan menikahlah denganku,” ungkap Steven sembari mengulurkan tangannya.


“Lebih baik aku hidup menjadi gelandangan sekaligus daripada harus hidup berbagi! Aku tidak ingin di madu! Sudah cukup semua ini. Cepat pergi dari sini atau aku akan memanggil scurity dan menuduh mu sebagai pria hidung belang!” bentak Claudia dengan kejam sembari memicingkan matanya tajam.


“Aku tidak akan pergi meskipun kamu menuduhku sebagai buaya sekalipun,” sahut Steven dengan santai.


“Pergi, kubilang pergi!” usir Claudia sambil menyeret Steven keluar.


Dengan bersusah payah ia menarik tangan Steven hingga akhirnya ia berhasil mendorongnya dengan kuat meskipun ia tahu tenaga Steven sengaja di lemahkan.


Steven berada di luar, ia keluar dengan kesal sambil menendang apapun yang ada didepannya bahkan tong sampah menjadi sasaran walaupun kakinya sedikit kesakitan tapi, sebagai pria ia tidak ingin terlihat lemah.


Di sisi lain, Claudia sedang berduka dengan cintanya. Setelah Steven keluar pun ia masih duduk di dekat pintu sambil terus menangisinya meskipun ia tidak tahu sampai kapan tangisannya akan berhenti mengalir. Hingga akhirnya ia berlari mengambil kunci mobil lalu berlari keluar meskipun tangisan masih terus berlanjut.


...----------------...


...----------------...


(Apartemen Alice)


Steven tiba di apartemen Alice. Ia memasuki tempat itu tanpa menyapa siempunya apartemen terlebih dahulu padahal setiap saat datang ia tidak lupa mengabsen untuk bertukar sapa. Dengan wajah kesal Steven langsung menuju ke balkon kamar.


Alice melihat gelagat Steven yang begitu aneh sampai ia memutuskan untuk bertanya. Ia kemudian mendekati sembari memilih duduk di sampingnya.


“Steven.”


“Apa?!” sahut Steven dengan tidak santuy.


“Loh? Kamu lagi kesal ya? Ingin curhat? Aku akan mendengarkan apapun itu,” ucap Alice memberikan sarannya.


“Aku tidak butuh apapun! Jadi, lebih baik pergi dariku! Aku ini pria pecundang! Pergi dariku!” bentak Steven dengan kejam tanpa melirik Alice.


“Steven, sebenarnya kamu kenapa? Katakan padaku sebenarnya kamu kenapa? Aku tidak kuat melihatmu menanggung beban sendirian seperti ini jadi, katakan semuanya padaku,” ucap Alice yang masih keras kepala.


“Argghh! Kamu tuli ya! Aku bilang pergi ya pergi! Jangan sampai aku menyakitimu di sini!” geram Steven sambil melototkan matanya sembari menatap Alice.


‘Maafkan, Alice. Aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Maaf karena aku telah membentak mu,’ batin Steven.


“Ba-baiklah! Aku akan pergi. Jika nanti kamu sudah baikan temui aku,” sahut Alice dengan gelagapan.


Alice memilih pergi meskipun ia sangat ingin berada di samping Steven tapi, sia-sia semuanya percuma justru dirinya yang akan celaka.


‘Aku mengingat jika kamu mengatakan kalau akan menemukan pelayan untukku tapi, sekarang kamu seperti sedang habis berhadapan dengan musuh besar. Aneh sekali sebenarnya apa yang telah terjadi denganmu, Steven?’ batin Alice kasihan juga penasaran.


Berbeda dengan Alice, ia masih setia menatap Steven dari jauh. Ia juga tidak tega melihat orang yang selama ini mendukungnya sedang kesulitan namun, ia senantiasa menunggu sampai bila waktunya Steven yang datang sendiri untuk bertemu.


...----------------...


...----------------...


(Kediaman Alvero)


Alvero merenung di depan teras kediamannya. Ia sudah lama duduk di tempat itu seperti orang yang sedang putus asa namun, tiba-tiba Mama datang mengejutkannya.


“Ngapain duduk di teras begini, mau minta sedekah? Kalau iya biar Mama kasih sekarang,” ledek Mama dengan seenaknya.


“Apasih, Ma? Orang lagi duduk baik-baik di bilang mau minta sedekah. Sana tuh kasih sedekah sama Papa!” sahut Alvero dengan wajah kesal.


“Ya udah makanya kalau enggak mau di bilangin gitu makanya masuk kedalam! Udah kaya gelandangan! Duduk di teras sekalian tuh ketanah sana! Tuh-tuh lihat luas lagi tanahnya! Guling-guling kalau perlu. Kaya enggak punya sofa aja!” omel Mama dengan ketusnya.


“Capek ya dengerin Mama ngomel ... terus! Pusing, pusing tahu!” kesal Alvero yang ingin beranjak pergi.


“Ets! Mau kemana kamu main pergi aja. Mama belum suruh pergi ya jadi diem di sini soalnya Mama mau bilang sesuatu,” ucap Mama sambil menahan lengan Alvero.


“Ya ampun ... Mama. Dari tadi kalau mau bilang sesuatu langsung bilang jangan harus ngomel dulu. Sakit telinga Vero, Ma. Papa aja kalau terusan tiap hari denger Mama ngomel bisa-bisa pecah telinga Papa,” sahut Alvero yang tidak ingin kalah.


Mama menggelengkan kepalanya. “Udah-udah kamu suka bilangin Mama sih itu buktinya kamu juga barusan ngomel 'kan? Makanya jangan jadi anak perempuan! Harusnya yang perempuan itu yang ngomel bukannya kamu, paham?”


“Pliss ya, mamaku sayang, sebenarnya Mama mau bilang apasih? Dari tadi enggak kelar tahu!”


“Abisnya kamu sih pinter banget jawab ucapan Mama. Ah ini, hampir aja lupa lagi. Sebetulnya tadi pas kamu lagi keluar beli bakso di sebrang jalan itu, Alice pergi kesini tanyain kamu, nak.”


“Apa? Dia kesini menanyakan ku? Lalu apa yang Mama katakan?” tanya Alvero penasaran.


‘Jadi Alice sudah keluar dari rumah sakit tapi, kenapa dia datang kemari? Bukankah waktu itu Steven melarang ku untuk bertemu dengannya? Lalu sekarang dia sendiri yang datang kesini? Sebenarnya ada apa? Mungkinkah dia ingin kembali berkerjasama denganku?’ batin Alvero yang memiliki begitu banyak pertanyaan yang membuatnya kebingungan.


“Kok kamu kaya kaget gitu? Apa kalian sedang ada masalah? Jika ada ceritakan saja pada mamamu ini pasti aku mau mendengarnya. Daripada Mama yang terus-menerus pusing mendengar papamu yang curhat mengenai bisnisnya,” ungkap Mama.


“Curhat sama Mama? Enak saja yang ada kalau Vero curhat bisa-bisa Mama bilangin kesemua teman-teman Mama yang lain. Eh bentar! Mama belum jawab yang tadi Vero tanya,” ketus Alvero sambil mengingatkan kembali.


“Heuh! Dasar anak ini. Mama hanya menjawab kalau kamu sedang pergi lalu Mama bertanya mengenai hubungan tunangan kalian. Sudah itu saja. Lagipula kalian berdua sama saja. Sama-sama tidak mau terbuka dengan mamamu,” ucap Mama dengan gaya sombong khas dirinya.


“Oh ... Okay! Mamaku tersayang, tercinta. Sebaiknya aku harus pergi untuk bertemu dengan tunangan ku. Bye Mommy, selamat bersenang-senang dengan Papa,” ucap Alvero sambil tersenyum lebar.


“Dasar! Giliran di bahas tunangan aja langsung kabur. Emang ini anak pasti pura-pura tunangan nih! Awas kalian aku pastikan sandiwara kalian akan menjadi nyata! Huuf! Anak jaman sekarang sungguh tidak bisa di atur lagi. Aduh ... Sepertinya darah tinggi ku kambuh lagi,” gumam Mama sendirian sambil menghembuskan nafasnya pelan.


...----------------...


Alvero mengeluarkan mobilnya dengan cepat. Ia ingin segera menuju ke apartemen Alice. Rasa penasaran yang belum bisa terpecahkan sungguh membuat hatinya tidak karuan. Menancapkan gas dengan cepat bahkan menambah kecepatan semakin tinggi.


Kemudian saat sedang dalam perjalanan ia mengerem mobilnya mendadak sampai membuat orang lain hampir saja menabrak mobilnya dari belakang.


Orang itu langsung menepikan mobilnya tepat di depan mobil Alvero hingga ia tidak lagi berjalan.


“Ah sial! Pakai berhenti segala lagi tuh mobil. Lagian aku ngapain lagi pakai ngerem mendadak segala? Padahal cuma bingung tujuan untuk menemui Alice tapi, bisa-bisanya aku kehilangan kendali. Jika begini tambah lagi masalah. Argh!” geram Alvero sambil memukul apa yang ada didepannya.


Mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya pun keluar. Seorang wanita cantik, menarik juga bertubuh ideal turun dari mobilnya namun, dari pandangan Alvero mata wanita itu sedikit bengkak seperti habis menangis.


Wanita itu berjalan mendekati mobil Alvero sambil menendangnya. “Woy! Bawa mobil yang bener dong! Kalau mau mati ya mati aja sendiri jangan ngajak-ngajak! Dasar enggak ada otak!”


Alvero yang kesal mendengar ucapan kasar dari seorang wanita pun memutuskan untuk keluar.


“Heh! Emang ini jalan Lo? Jadi suka-suka gue mau buat apa, gue mau mati kek, mau jungkir balik kek! Bukan hak Lo. Lagian jadi wanita aja belagu. Jangan sok-sokan deh dikit di sentuh langsung nangis apalagi sekarang Lo habis nangis 'kan?” ketus Alvero sembari tersenyum kemudian bertanya.


‘Ya ampun! Jadi pria ini tahu kalau aku habis menangis. Sebaiknya aku harus pergi dari sini jika tidak maka masalah akan datang. Dia juga terlihat bukan pria sembarangan,’ batin Claudia.


Claudia tidak menjawab, ia memilih melangkah kakinya namun, dengan cepat Alvero menahannya.


“Mau kemana? Heh! Udah takut ya? Mana juga nyali besar pas pertama pakai acara mau ngelawan lagi. Kalau kamu bisa bicara kasar maka sekarang kamu tidak bisa lepas dariku,” ancam Alvero sembari melepaskan pegangannya.


Kemudian dengan cepat Alvero berlari kearah mobil Claudia. Ia memasuki mobil itu lalu menguncinya dari dalam meskipun Claudia berusaha menahan tapi, tenaganya bukanlah tandingan.


“Hey! Buka pintunya! Atau aku akan mengambil mobilmu untukku!” teriak Claudia sembari memukul-mukul kaca mobilnya. Namun, sia-sia Alvero tidak peduli sama sekali.


Di dalam Alvero mencari indentitas dari Claudia sampai akhirnya ia temukan dompet yang memang di taruh di kursi samping pengemudi. Lalu betapa tercengangnya ia melihat nama yang pernah ia dengar sebelumnya.


“Claudia? Nama ini pernah kudengar saat Alice mengatakan jika Viora kabur di bantu dengan orang bernama sama tapi, mungkinkah dia orangnya?” gumam Alvero penasaran.


Lalu Alvero melanjutkan melihat identitas yang lain sampai hasilnya ia membuka handphone sejak tadi juga ada di sana. Ia membuka kontak ponsel lalu kemudian dia cocokan dengan nomor Viora yang ada di dalam handphonenya. Rahangnya mengeras saat ia melanjutkan pencarian kemudian mencatat nomor Claudia kedalam ponselnya.


Alvero mengepalkan tangannya sembari keluar. Tatapannya tajam kearah Claudia.


“Dasar maling! Apa yang telah kamu ambil dari dalam mobilku? Cepat katakan?!” tanya Claudia geram.


Plak! Tamparan mendarat di pipi Claudia. Tanpa ucapan apapun, ia langsung memberikan tamparan.


“Hey! Apa kamu sudah gila?! Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya menamparku? Dasar! Ti-dak tahu diri,” ucap Claudia dengan mata berkaca-kaca.


Hatinya yang sedang sakit di tambah tamparan dari orang yang belum ia kenal. Claudia keluar ingin mencari udara segar namun, sialnya ia bertemu dengan maut yang hampir mencelakainya. Hingga akhirnya Claudia menangis di depan Alvero.


“A-apa semua pria seperti ini?! Mereka hanya tahu menyakiti tapi, tidak tahu caranya kelembutan! Meskipun aku mencintainya tapi, dengan teganya ia juga menyakitiku. Aku benci semua pria yang ada di dunia ini, aku benci!” isak tangis Claudia pecah langsung di depan orang yang belum ia kenal.


‘Malangnya wanita ini. Sepertinya dia sedang bermasalah dengan cinta. Aku padahal ingin memarahinya tapi, sekarang aku justru merasa kasihan menatapnya,’ batin Alvero.


“Maafkan aku, sebetulnya aku hanya tidak suka melihat wanita berbicara kasar seperti tadi,” ucap Alvero dengan sangat pelan.


Merasa bersalah karena telah menampar wanita yang sedang mengalami masalah dengan cinta. Alvero akhirnya membawa Claudia kedalam pelukannya. Hingga akhirnya Claudia menangis sejadi mungkin sembari membalas pelukan itu.


Tangan Alvero ragu-ragu untuk mengusap rambut Claudia. Lalu ia akhirnya menghilangkan keraguannya, dan kemudian memberikan usapan agar membuat orang lain nyaman.


...****************...


Derita semakin terasa, keluhan jiwa semakin membara. Tersiksa oleh luka perasaan, di atas penghianatan cinta yang ada di depan mata. Saat ada sosok orang lain memelukku sebetulnya aku rindu sentuhan dan pelukanmu. Melihat wajahmu buatku senang, sebab mimpiku hanya untukmu tapi, sekarang hanya tersisa tangisan di pipiku yang terus jatuh di dalam dasar lautan pilu. Salam sayang Meldy Ta.


Hallo guys jika berkenan bisa mampir di novel baru yang akan dilanjutkan.