
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Rasa sakit mengajarimu untuk lebih kuat, lebih berhati-hati, lebih dewasa dan lebih baik lagi. Orang yang terjatuh dan bangun lagi jauh lebih kuat daripada orang yang tidak pernah jatuh sama sekali. Hidup tak pernah lepas dari masalah, karena masalah adalah cara Tuhan menjadikanmu pribadi yang lebih kuat dan dewasa.
*******
Aku sudah menempuh perjalanan jauh dari tempat semula, rasa sakit di tanganku membuatku terbayarkan saat melihat rumah kami. Aku berjalan melangkah memasuki rumah tapi terlihat sepi, tidak ada istriku. Aku mencoba mencarinya memasuki semua ruangan namun tidak ada hanya kesepian yang ku dapatkan.
Seketika aku teringat mungkin saja istriku berada di rumah Kelvin, dialah tempat selama ini istriku mengeluh semua luka yang pernah dialaminya. Berniat menuju kesana, mengambil mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
Tubuh yang lemas, tangan yang sakit membuatku harus bisa bertahan sampai di tempat tujuan tapi rasanya aku sungguh sangat tidak kuat lagi menahan perih ini, perlahan aku mencoba untuk bisa mengendarai mobil tapi naas kepalaku tiba-tiba pusing.
Entah dari arah mana sebuah truk tangki didepan ku, karena rasa pusing yang tidak karuan membuatku kehilangan arah sampai hampir menabrak truk tersebut dan aku berusaha untuk menghindari namun mobilku tidak dapat ku kendali hingga akhirnya menabrak sebuah pohon besar dan setelahnya aku tidak tahu apa-apa lagi.
--------------------------------------------------
Aku dan Kelvin sedang berada disebuah Mall, ia mengajakku kesana untuk sedikit menenangkan diri, awalnya aku tidak menyetujuinya tapi ia terus memaksaku. Kami sedang berjalan beriringan menuju salah satu toko pakaian langganan ku, teringat sesuatu hal andai suamiku disini yang sekarang menemaniku.
Kelvin sedang melihat kearahku dia tahu apa yang sedang kurasakan, ia merangkul ku dan mencoba menenangkannya. "Zoe aku tahu bagaimana pikiranmu saat ini tapi tolong juga pikirkan diri serta kandungan mu, jangan sampai saat Reiner datang dia malah membunuhku karena gagal menjagamu."
Ucapan Kelvin seharusnya membuatku tenang tapi aku justru menangis mendengarnya. Jika sampai suamiku tidak kembali bagaimana nasibku juga bayiku ini. Aku terus menangis tersedu-sedu ia membawaku kedalam pelukannya dan mengusap rambutku agar aku lebih tenang.
"Kau sudah sedikit lega Zoe?" ujar Kelvin, aku menjawab dengan anggukan. Setidaknya aku sedikit lebih lega. Saat itu banyak mata yang melihat kearah kami tapi aku tidak peduli perasaanku saat ini lebih hancur daripada harus melihat dan peduli dengan tanggapan orang lain.
Kami terus melanjutkan membeli beberapa keperluan yang merasa dibutuhkan, Kelvin juga mengajakku untuk bermain game tapi aku tidak berniat, aku tahu maksudnya baik tapi itu justru membuat hatiku sakit. Bagaimana jadinya aku bersenang-senang dan sangat gembira sedangkan suaminya tidak ada disini. Aku lebih menikmati kesenangan jika keluargaku lengkap berada di dekatku.
Setelah semuanya selesai kami berdua memutuskan pulang, Kelvin yang mengemudi sedangkan aku seperti biasa aku hanya termenung melihat kearah luar. Saat kami sedang dalam perjalanan, di suatu tempat aku melihat sekumpulan orang sedang ramai-ramainya seperti baru saja terjadi sebuah kecelakaan.
Aku meminta Kelvin untuk berhenti. "Vin lihat kesana dulu yuk perasaanku tiba-tiba ngga enak," Kelvin langsung mengiyakan ajakan ku. Kami berdua turun berjalan beriringan melihat apa yang sedang terjadi. Dari arah belakang saat aku semakin dekat aku merasa ada hal yang janggal. "Vin aku seperti mengenal mobil ini sangat tidak asing buatku."
Aku menangis dalam rangkulan Kelvin. Ia pun bertanya kepada beberapa orang di sana dimana pengemudi mobil tersebut, sampai akhirnya kami tahu jika pemilik mobil ini telah dilarikan kerumah sakit terdekat. Kami bergegas berangkat untuk menuju kesana.
Aku panik dan terus menangis mengingat jika itu benar suamiku. Kelvin pun kebingungan melihatku dia sama juga paniknya sepertiku. "Zoe tenanglah berdoa saja jika Reiner tidak apa-apa kumohon." Ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan akhirnya kami sampai.
Aku berlari memasuki rumah sakit dan bertanya di depan atas nama suamiku ternyata benar ia di sini. Kelvin yang sejak tadi mengikuti ku dari belakang sampai akhirnya kami berada didepan ruangan suamiku yang sedang dirawat, kami menunggu diluar.
Tidak ada tanda-tanda satu orang dokter pun yang keluar dari ruangan tersebut, kami menunggu hampir dua jam lebih. Tanganku ditarik oleh Kelvin dan membawanya duduk. "Zoe duduklah dan tenangkan dirimu, wajahmu sudah pucat aku takut jika nanti kau sakit," ucap Kelvin.
"Biarkan toh suamiku juga sakit jadi aku tidak perlu lebih sehat darinya Vin!" ucapku geram tanpa terasa air mataku menetes, dan lagi aku harus menangis mengingat semua luka yang ku alami saat ini. "Tidak Zoe, jika kamu sakit siapa yang akan menjaga suamimu dan juga menemani sahabatmu ini," ucap Kelvin berusaha menenangkan ku.
"Kau benar Vin tidak seharusnya aku menghukum diriku sendiri tapi Vin aku sungguh tidak sanggup lagi." Kelvin terus menenangkan ku. "Jika kau tidak sanggup cukup menangis jangan membuat dirimu terluka ingat jika dalam dirimu memiliki satu nyawa lagi yang harus kau jaga."
Kami terus menunggu sampai akhirnya dokter keluar dan menemui kami. Dengan cepat aku melangkah mendekat begitupun dengan Kelvin. "Kalian perwakilan dari pasien didalam?" ujar Dokter tersebut. "Ya dok saya istrinya, bagaimana keadaan suami saya?" Dokter itupun menjawab. "Ikut saya ke ruangan."
Kami berjalan mengikuti dokter tersebut dari belakang. Dan akhirnya sampai disebuah ruangan. Kami memasukinya dan duduk dengan manis. Sampai menunggu dokter itu memberitahukan sesuatu.
"Suami Anda tidak apa-apa hanya mengalami luka-luka ringan tapi yang membuat kami aneh luka di kedua pergelangan tangannya cukup parah dan juga terdapat seperti bekas pukulan keras di bagian lengannya, yang membuat lengannya tidak bisa di gerakan dalam waktu dekat, kami hanya mendapat kabar jika suami Anda kecelakaan tapi juga seperti pernah disekap yang membuat tangannya separah itu" ungkap Dokter.
Aku dan Kelvin saling menatap satu sama lain. Entah apa yang sedang kupikirkan sama dengan pikiran Kelvin. "Jadi dok apa kami bisa langsung menjenguknya?"
"Tentu tapi jika nanti dia siuman sebaiknya jangan dulu banyak bertanya biarkan dia istirahat, dan ini silahkan Anda lengkapi surat registrasinya," ucap Dokter tersebut. "Baik dok terimakasih." Singkat kata kami pun berjalan keluar dan menemui suamiku.
Aku melihatnya terbaring lemah, badan kekarnya dipenuhi luka-luka dan wajah tampannya yang pucat. Aku mendekatinya dan mengusap wajahnya berniat agar dia tersadar dan melihatku. Tangisanku pun seketika pecah saat melihatnya, sungguh hatiku tidak sanggup kenapa tidak aku saja yang mengalaminya kenapa harus dia. Kelvin mendekatiku dan mengusap rambutku.
*******
Tidak ada yang paling menyakitkan kecuali harus melihat orang yang disayangi terbaring lemah melawan setiap rasa sakit.