Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
Eps 31. Ketakutan Eliezer.


Entah mengapa perutku sangat sakit seperti terlilit dan suamiku berteriak memanggil dokter. Hingga akhirnya dokter pun datang dan memeriksanya. Aku sudah dibawa di ranjang sebelah suamiku. Bagaimana dok? Apa kandungan istri saya tidak kenapa-kenapa?" ucap Reiner penuh ketakutan.


Dokter itupun menggelengkan kepalanya. Aku melihatnya syukurlah. "Kandungan istri Anda baik-baik saja, hanya sedikit nyeri itu memang sering terjadi?" ucap Dokter itu. Membuat kami setidaknya sedikit tenang. "Lalu dok untuk menghentikan rasa nyeri bagaimana?" tanya suamiku.


"Saya akan kasih obat dan juga vitamin tapi tunggu dulu apa ibu dan bapak sudah mengetahui jenis bayi kandungan ini apa?" tanya Dokter. Kami berdua menggelengkan kepalanya bersamaan. "Sebaiknya bisa langsung untuk dilihat sebab usia kandungan juga sudah bisa untuk dicek," ungkap Dokter tersebut.


"Bagaimana sayang apa dicek sekarang biar kita tahu?" ucap suamiku. Aku hanya menganggukkan kepala bermaksud mengiyakan. "Bisa dok, cek sekarang pun tidak masalah." Ungkap suamiku jelas.


"Baiklah tunggu sebentar ya, silahkan ibu langsung bisa berbaring," ucap Dokter tersebut dan berjalan keluar. Aku masih meringis sedikit karena masih terasa sakit.


Suamiku mengusap rambutku, ia terpaksa bangun dari tempatnya berbaring, perlahan berjalan hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Beberapa saat kami menunggu dan akhirnya Dokter kembali dengan membawa beberapa alat yang aku sendiri tidak tahu itu apa. Aku yang sudah duluan berbaring langsung dokter tersebut mengecek kondisi kandungan ku dengan memperlihatkan ke dalam bentuk kecil seperti komputer, entahlah namanya apa. Sampai akhirnya dokter itu berhenti melakukannya.


"Selamat ya saya melihat disini bayinya sangat lincah juga sehat-sehat dan tadi itu dorongan yang terlalu kuat dari bayi Anda, dan jenis bayi kembar, laki-laki dan perempuan jadi karena sebab itulah yang menyebabkan sakit disertai nyeri itu tidak masalah hanya terasa hantaman dari bayi." Dokter menjelaskan dengan sangat jelas. Kami mendengarnya tersenyum bahagia akhirnya penantian suamiku terhadap anak kembar pun tercapai, aku sangat bahagia mendengarnya.


Dokter pun sudah berjalan melangkah keluar, dan suamiku sudah ku bawa kembali ketempat ia berbaring. Tiba-tiba ia memelukku erat. "Sayang terimakasih ya kau telah memberikan seperti keinginanku, aku sangat senang bisa mempunyai dua sekaligus, seorang jagoan dan cantik, aku sungguh bahagia," ungkap suamiku dibalik pelukannya. Aku pun merasakan hal yang sama seperti ucapan Reiner memang jika rezeki itu tidak ada yang tahu.


Pantas saja akhir-akhir ini perutku terasa begitu banyak dorongan, rupanya kehadiran keduanya membuatku sedikit merasakan nyeri tapi juga aku bahagia. Suamiku tidak henti-hentinya tersenyum dan memegang perutku. "Udah mas, kamu dari tadi ngga berhenti senyum-senyum senang banget ya?"


"Iya dong sayang aku sangat senang akhirnya aku jadi Daddy sekaligus gendong anak kembar cowok sama cewek ngga sabar aku sayang." Ucap suamiku dan memberi satu kecupan. Aku juga ikut bahagia. Memang jika kebahagiaan dan kesediaan tidak ada yang tahu seperti sekarang ini. Awalnya aku tidak peduli dengan kandunganku sebab suamiku belum kembali tapi Tuhan berkata lain dengan memberikan kesehatan untuk kandunganku.


--------------------------------------------


Seperti janjinya Kelvin ingin bertemu dengan Elie, entah mengapa Elie mengajaknya Kelvin untuk bertemu dengannya.


Aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, rasa kesal juga amarahku mengingat dengan Elie, tapi wanita itu masih berniat untuk bertemu denganku, entah apa yang dipikirkan saat ini. Mengingatnya saja aku ingin membunuhnya apalagi bertemu sebisa mungkin aku harus mengontrol emosiku. Tidak butuh waktu lama aku telah sampai disebuah Restoran. Aku berjalan memasuki dan saat kulihat dia sudah duduk menunggu.


"Kelvin, Kelvin ... Tunggu sebentar bersabarlah kita nikmati dulu pertemuan ini dengan santai," ucap Elie sambil terkekeh. Aku menahan amarahku saat ini meskipun hatiku ingin segera memakinya. "Ayolah Elie aku tidak bisa bersabar dan menunggu terlalu lama, pekerjaanku sangat banyak belum lagi urusan Kantor."


"Baiklah kau tidak perlu mengomel begitu Kelvin aku mengerti," ucap Elie. "Jadi katakan kau ingin bicara apa sampai seserius ini." Dia menarik nafas kasar. "Aku ingin kita segera menjalankan rencana yang sudah kita sepakati dulu, sebab aku tidak sabar menunggu terlalu lama," ucapnya. 'Apa dia katakan menjalankan rencana dia pikir bisa mengelabuhi ku,' batin Kelvin.


Brakk! suara pukulan meja yang sangat keras membuat dia terkejut dan para tamu di Restoran itu melihat kearah kami. Aku sudah tidak ingin menahannya. "Ikut denganku!" Aku menarik tangannya kasar tidak lupa memberikan uang sembarangan kepada pelayanan. Dan aku membawanya keluar menuju ketempat parkiran. Aku menyeretnya masuk kedalam mobilku, dia menjerit-jerit untuk ingin dilepaskan. "Lepaskan aku! Apa yang ingin kau lakukan?! Tetap saja aku tidak mendengarn dan justru mengunci pintu mobilku.


"Hahaha kau puas sekarang! Kau pikir bisa membodohi ku dengan menyuruh lagi bekerjasama denganmu wanita tidak punya hati!" Amarahku sudah tidak bisa dikendalikan. Plak! Dia sebaliknya memberikan tamparan untukku. "Apa maksudmu Kelvin? Siapa yang berniat membodohi mu! Justru aku ingin berpihak denganmu untuk mendapatkan hati Zoya, kau paham!" Ucap Elie geram.


Aku terkekeh mendengarnya saat ini, dia bilang apa ingin membantuku, dia pikir sangat mudah untuk percaya dengannya. "Kau tidak perlu bersusah payah untuk membantuku Elie tapi justru aku yang harus membantumu membuatmu sadar atas kelakuan jahat mu itu! Dan lagi aku tahu jika dibalik kehilangan Reiner itu melibatkan mu bukan?"


Deg! 'Kelvin tahu, aku yakin jika Reiner telah menceritakan semuanya' batin Elie. "Kenapa kau diam iblis!", dia tidak menjawab ucapanku malah terdiam. "Kau takut jika aku mengetahuinya?" tanyaku.


"Aku tidak takut sama sekali Kelvin justru aku tidak perlu lagi menyembunyikan apapun darimu!" Elie geram kearahku. Aku menarik wajahnya kasar dengan tanganku.


"Dan aku sudah tahu kau juga menikah dengan Brian, dia adalah temanku dulu, apa kau mau jika aku membongkar semuanya?" Aku tersenyum mengerikan kearahnya.


Raut wajahnya terlihat ketakutan dan dia terdiam tidak menjawab apapun justru aku semakin senang membuatnya takut. "Kenapa kau tidak menjawabnya!" Aku sengaja memancing emosinya.


"Kau bisa sabar! Dan darimana kau tahu tentang Brian?" tanya Elie terlihat jelas dia sedang berpikir sesuatu. Aku terkekeh kearahnya.


"Itu tidak mudah untukku Elie yang harus kau jaga agar bisa memberikan alasan kepada Brian jangan sampai dia justru mencelakai mu, aku sangat mengenalnya pria itu seperti apa tapi justru dia seperti psycopat."