
Happy reading.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Aku histeris tidak menentu, lalu aku berlari menuju ke kamar Kelvin. Aku harus tahu jelas tentang ini semua, bagaimana mungkin dia membodohi aku.
Jalanku tiba-tiba terhenti oleh seseorang yang sangat ku benci.
“Heh mau ngapain Lo naik ke kamar Kelvin?” tanya Elie ketus berusaha menghadang jalanku.
“Ini tuh bukan urusan Lo ya Tante g*rang, minggir gue mau lewat!” sahut galak tidak mau mengalah
“Enak aja suruh gue, Lo tuh yang minggir,” ucap Elie keras kepala.
‘Enggak aman nih, kalau gue terpaksa lewat yang ada dia liat lagi apa isi di laptop yang gue tonton sekarang, ngga, ngga boleh lebih baik gue teriak biar semua orang kumpul terus gue bisa lepas dari si Tante Elie,’ batinku.
Satu ide cemerlang terlintas dalam benakku agar terhindar dari orang perebut Pangeran orang lain, “Bibik ...Evin .... Keluar woy gue di serang! KELUAR ...!”
Teriakan nyaring bunyinya, alhasil beberapa pelayan keluar dari tempat mereka dan berjalan kearahku. Mereka syok mungkin karena kaget, lalu aku berlari melewati Elie, dia telah kehilangan kendali padahal tadi sedang menghadang ku.
Aku telah sampai di depan pintu Kelvin, sembari menggedor-gedor pintunya, tidak butuh waktu lama aku menunggu Kelvin langsung membukakan pintunya.
“Evin! Untung cepet buka, awas biar gue masuk dulu, cepetan minggir gue masuk ...,” ucapku tidak santai dan berlari melewati ia berdiri.
“Kaya di kejar setan aja,” sahut Kelvin selow.
Aku langsung mengunci pintu kamar miliknya, lalu duduk di tepian ranjang seraya membuka laptop yang sedikit tertutup.
“Ia diluar ada setan ngeri banget tapi sini dulu deh ada hal penting nih, entar aja kita bahas setannya lagi,” ucapku memaksa agar Kelvin menurut seraya menarik tangannya untuk duduk di sampingku.
“Gadis kecil yang imut ... mendingan keluar deh aku mau istirahat nih ayolah ...,” ucap Kelvin memohon untuk aku keluar.
“Udah diem dan liat ini aja, entar lagi ngocehnya!” sahutku tegas.
Aku memutarkan kembali film yang baru setengah yang kulihat tapi jelas membuatku menyimak dengan baik didekat Kelvin. Bedanya dia hanya melototkan matanya sembari menepuk jidatnya sendiri.
“Gadis kecil, siapa yang ngajarin kamu nonton beginian? Siapa?!” Kelvin bertanya dengan nada ngegas di depanku.
“Duh Pangeran ... lupa ya, kan Evin sendiri yang bilangin kalau kemarin itu sama Tante gila bukan syuting tapi lagi nonton film perang ... terus gue langsung kepo, apa bener ini yang Evin buat bareng Tante Elie? Kok aku nggak di ajak kan juga mau ngeliat tubuh Pangeran ngga ada baju semua gitu, apa sekarang aja Evin buka?” ucapku dengan banyaknya bertanya.
Entah aku salah apa dengannya, Kelvin langsung mematikan siaran yang sedang kami tonton. Lalu ia melirik melihatku.
‘Apa yang harus gue jawab astaga ... Viora, elu polos apa bodoh sih? Hadeuh kirain tubuh elu udah besar gini udah tau masalah orang dewasa eh rupanya belum, ah gue nggak tahan lagi kudu mandi air dingin ah bentar lagi. Gimana aku ajak bisa-bisa Papa lu malah bunuh gue,’ batin Kelvin.
Bukannya bicara Kelvin justru sibuk dengan pikirannya sendiri, “Evinnn ... woy jangan ngelamun!”
“Iss kesel! Evin belum jawab pertanyaan aku, cepet bilang apa iya syuting perang kaya gitu yang kalian lakukan?!” ucapku tegas.
“Eh eng–enggak ... kok, udah deh gadis kecil mending keluar terus gih bobo cantik di kamar dan jangan kepoin tentang aku lagi, aku nggak suka urusanku dicampuri oleh orang lain seperti ini, jadi mengertilah Viora, kamu bukan lagi gadis kecil yang selama ini aku kenal, kamu sudah seperti bukan temanku tapi melainkan sudah menganggap aku haters yang setiap apa yang kulakukan kamu cari tahu,” ucap Kelvin tidak suka.
‘Apa memang aku tidak berhak tau dengan urusannya? Apa artinya aku baginya? Dia juga memanggil namaku, kamu tau Evin, kamu sudah melukai hatiku,’ batinku.
Aku benar-benar tidak suka dengan kelakuan Kelvin yang seakan tidak lagi membutuhkan diriku ini. Perlahan air mataku mengalir mendengar semua ucapannya, ini adalah kedua kali aku menangis didepannya setelah perpindahannya dulu.
Mencoba menarik nafas dalam-dalam.
“Ee–evin ... aku tahu jika aku bukan Tante gila yang bisa membuatmu nyaman tapi pernahkah kamu berfikir untuk melihat aku di sini sebentar saja? Kamu tahu aku ingin jika kamu yang menungguku bukan sebaliknya yang terjadi saat ini, aku ingin kamu melihatku bukan sekedar teman. Kamu tahu kedatangan ku kesini tulus karena ingin mengejar mu dan mencintaimu bahkan magang itu hanyalah keinginan ku agar dekat denganmu tapi apa ... kamu bahkan tidak suka aku berada di dekatmu, maafkan ... a–aku memang bodoh yang tidak tahu diri sudah menyukaimu juga sudah lancang ingin tahu kehidupanmu,” ucapku dengan jujur seraya menahan isakkan tangis.
Kelvin berusaha berjalan mendekat kearahku tapi aku semakin mundur saat tahu dia ingin mendekat.
“Viora ... dengarkan aku dulu, aku tidak bermaksud-”
“Diam Evin!! Kamu mau bilang apalagi sekarang? Semua sudah jelas, kamu memang tidak menyukai aku tinggal di sini, kamu hanya terpaksa mengizinkan aku tinggal karena didepan kakak Zoya, iyakan? Sudahlah semua sudah jelas, aku memang gadis kecil yang bodoh yang tidak tahu apa-apa tapi apa kau tahu bahwa Tante gila itu tidak cocok denganmu, dia itu jahat, dia selalu berusaha untuk memisahkan kedekatan ku denganmu, ah ... aku lupa aku tidak berhak untuk menjelekkan wanita mu. Seharusnya aku yang cocok denganmu, seharusnya kau menunggu sampai umurku dewasa! Haha tapi percuma aku sudah terlanjur sakit Evin, aku memang bodoh! maaf ....”
Setelah mengucapkan sesuatu hal yang bodoh yang mungkin tidak ada gunanya bagi Kelvin, aku langsung berlari keluar dari kamarnya walaupun ia berusaha menahan ku tapi aku sudah sakit, aku tidak kuat meskipun diriku ini bodoh dan tidak tahu apa-apa justru aku ingin merasakan cinta dari orang yang kucintai namun itu mustahil untukku.
Aku sudah masuk ke kamar, menumpahkan segala kesedihanku, hari ini nyaliku sangat besar sampai bisa berbicara terbuka langsung dengan Kelvin.
“Aaarrghh Evin ... kamu harus membayar kesedihanku ini, kamu jahat, kamu tega! Aku benci denganmu, sepertinya aku tidak cocok lagi berada di sini tapi apa aku sanggup menjauh dari Evin? Orang yang sudah ku doakan menjadi Pangeran di atas altar nanti,” gumam ku pada boneka teddybear pemberian Kelvin sewaktu aku ulangtahun ke 15.
* * * * *
Sampai kapan hatimu menerima diriku?
Tubuhmu menerima belaian ku?
Apakah aku tidak berharga?
Apakah aku memang ditakdirkan untuk terluka?
Lihatlah aku walau sebentar saja.
(Viora-Kelvin)
≈≈≈≈≈≈
Hallo aku menyapa kembali guys ... bagaimana kesan kalian kali ini? Jangan lupa untuk beritahukan dibawah ya sayang. Terimakasih sudah mendukung Author, ku pastikan episode-episode kejutan menanti kalian.