
H A P P Y R E A D I N G
“Ayo jawab, Viora! Jangan hanya diam! Apa ini yang kamu namakan mencintaiku?! Jika boleh memilih sejak dulu aku menolak perjodohan kita tapi, mengingat cintaku yang sudah begitu besar untukmu membuatku lupa diri bahwa sebenarnya kamu tidak mencintaiku, melainkan hanya ingin membalaskan dendam mu. Kamu tidak menghargai suamimu sendiri. Katakan sekarang apa kita harus bercerai? Supaya hubunganmu dengan Alvero bisa sampai kejenjang pernikahan, begitu?” Kelvin benar-benar marah hingga bertanya hal yang tidak seharusnya ia tanyakan.
“Aku tidak ingin berpisah denganmu, Pangeran. Dalam hatiku hanya ada kamu jadi tolong hentikan semua ucapan itu. Aku benar-benar minta maaf,” ungkap Viora dengan entengnya.
“Kamu tidak ingin bercerai denganku? Lalu kenapa sampai kamu membuat kontrak pernikahan dengan pasal yang menyatakan kalau kita akan menikah selama tujuh tahun? Itu artinya kita menikah untuk bercerai, karena pernikahan kita menurutku sudah tidak bisa kita pertahankan lagi. Jadi tidak perlu menunggu dua tahun lagi sebab semuanya sudah jelas sekarang kamu sudah memilih Alvero daripada aku yang sudah sah menjadi suamimu!” Kelvin terlihat begitu serius dengan apa yang ia katakan.
‘Enak saja mau bercerai denganku. Rasain kamu, gadis kecil. Sekarang kamu mati kutu di depanku. Emang enak! Aku kerjain makanya ngelawan lagi. Jadinya senjata makan Tuan 'kan. Aku pastikan kamu harus meninggalkan Alvero,’ batin Kelvin yang sengaja membuat istrinya merasa bersalah.
Viora benar-benar tidak bisa berkata apapun. Ia cemas dan ketakutan. Ia tidak ingin sampai dirinya benar-benar bercerai dengan Kelvin. Padahal ia selama ini hanya ingin menguji ketulusan Kelvin bukan bermaksud lain meskipun dirinya selalu saja melakukan langkah yang salah hingga membuat keadaan runyam seperti sekarang.
Viora lalu mencoba mendekati Kelvin dengan cara menyentuh tangannya. Ia ingin meredam emosi tapi, ia juga kebingungan harus melakukan apa. Hingga dirinya menarik nafas memburu.
“Evin, aku benar-benar tidak menginginkan perceraian kita. Aku tahu aku sudah salah dalam bertindak. Seharusnya aku tidak berhubungan dengan laki-laki lain meskipun aku terluka tapi, sekarang jujur aku rasanya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Satu sisi aku ingin mengakhiri hubungan dengan Alvero tapi, satu sisi lagi aku tidak tahu bagaimana caranya. Sejujurnya aku menerima cinta Alvero karena aku terlanjur sakit hati denganmu dan juga aku melihat bahwa cinta darinya begitu tulus sampai ingin terluka demi ku. Namun, aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata dia yang duluan ingin menghabisi mu. Bodohnya aku yang begitu keras kepala sampai tidak mendengar apapun,” sahut Viora sambil matanya mulai berkaca-kaca.
Kelvin ingin tertawa tapi, ia mencoba untuk menahannya. Ada rasa gembira saat Viora sudah mulai membuka mata dan melihat siapa yang salah dan benar.
”Mmm sayang, jadi maksudmu sekarang kamu sudah mulai percaya denganku, begitu?” tanya Kelvin memastikan.
“Yah benar, awalnya aku begitu marah dengan semua yang sudah terjadi tapi, sekarang aku mulai mengikhlaskannya. Elie telah pergi jauh dan itu artinya aku harus bisa melupakan yang sudah terjadi antara kamu dan dia meski sulit tapi, aku akan coba,”ungkap Viora mulai menjernihkan pikirannya.
“Bagus sayang! Itulah yang aku mau tapi ... jika aku bisa memintamu memilih siapa yang akan kamu pilih, aku atau Alvero?” tanya Kelvin yang sudah tahu jawabannya.
“Tentu saja aku akan memilih Alvero! Sebagai Pangeran untukku!” jawab Viora dengan tegas meskipun ia menahan senyumnya.
Kelvin tidak terima meskipun ia tahu bahwa istrinya hanya sedang berpura-pura. Dengan cepat Kelvin menjentikkan jarinya tepat di kening Viora dan terasa sedikit sakit. Lalu Kelvin bangun hingga mereka saling mengejar satu sama lain seperti yang ada di film-film jaman dulu yaitu gentabuana, film yang sering melakukan candaan kejar-kejaran sambil bernyanyi.
“Ayo tangkap aku, gadis kecil!” teriak Kelvin yang terus berlarian.
“Awas Pangeran! Aku pasti akan menangkap mu!” Sambil tertawa riang dan terus berlari.
Seakan seperti Tom dan Jerry. Saling berlarian dan Viora seraya membawa ranting kayu untuk memukul Kelvin nantinya. Seketika menjadi orang asing tapi, seketika seperti sahabat yang tidak bisa di pisahkan. Kelvin ngos-ngosan berlarian kesana-kemari hanya untuk menghindar dari kejaran Viora.
Namun, tidak dengan Viora, ia begitu bersemangat sampai tidak menyadari Kelvin mendadak berhenti hingga akhirnya membuat Viora tergelincir lalu mengenai kaki Kelvin dan membuat Kelvin jatuh sedikit jauh meskipun tidak jatuh kedalam jurang.
Viora membelalakkan matanya saat melihat Kelvin terjatuh. Ia dengan cepat berlari menolong Kelvin. Dengan sekuat tenaga Viora menarik tubuh Kelvin dan berhasil membawa Kelvin tidak jadi jatuh ke jurang.
Viora menepuk-nepuk pipi Kelvin seraya menggenggam tangan suaminya. Kelvin sudah tidak sadarkan diri. Ia takut terjadi sesuatu dengan Pria yang ia cintai.
Rasa panik membuat Viora susah berpikir hingga tangannya bergetar. Lalu ia mencoba untuk menarik nafasnya pelan-pelan sampai akhirnya ia rileks dan bisa berpikir kembali.
“Pangeran! Bangunlah ... ku mohon .... Jangan tinggalin aku dulu, kita baru berbaikan dan belum sepenuhnya baikan. Ah ngga lucu ihh kalau kamu duluan tinggalin aku nanti yang ada kamu jadian lagi sama hantunya Elie. Ayo ... bangun! Bangun ....” Viora menarik-narik tangan Kelvin seraya ia merengek-rengek.
‘Dasar bodoh! Dia bahkan mengatakan kekonyolan yang tidak berguna sedikitpun. Jika pun aku benar-benar mati pasti lagi-lagi mulutnya hanya berpikir jadian dengan hantu Elie,’ batin Kelvin yang pura-pura pingsan.
Tempat jatuh Kelvin tidak begitu dalam hanya sebatas lutut orang dewasa dan itu tidaklah sakit. Kelvin hanya mengalami luka kecil seperti tergores sebab ada beberapa ranting pohon yang ikut terseret dengan kakinya hingga menciptakan memar-memar kemerahan.
Bagi Viora itu sudah terlalu dalam karena ia sangat mencemaskan kondisi suaminya tapi, Viora tetap menjadi dirinya sendiri meskipun sudah terlihat lebih dewasa namun, kekonyolan yang ia lakukan bahkan berpikirnya masih terbilang labil.
Viora kembali menggoyang tubuh Kelvin. Ia kembali merengek seperti layaknya anak kecil. “Evin, ku mohon sadarlah. Jika pun menghubungi Bunda, pasti nanti yang ada aku yang di marahi. Apalagi Kelvin kesini karena ulahku. Aduh ... ayolah sadar .... Aku tidak ingin suamiku mati terlebih dahulu apalagi kita sudah pernah setengah melakukan penyatuan. Ayo kita mulai lagi jadi bangunlah ....”
‘Apa kali ini benar dia ingin melakukan penyatuan yang sempat tertunda? Aduh ... jadi ngga sabar bangun ah. Tapi, tunggu kalau cepat banget bangun nanti dia kepedean lagi,’ batin Kelvin.
Viora sia-sia menguji Kelvin dengan mengatakan hubungan penyatuan. Ia hanya berharap Kelvin mencoba membohonginya tapi, sepertinya tidak. Suaminya benar-benar sedang pingsan.
Viora lalu mengangkat Kelvin namun, ia sudah terengah-engah padahal hanya terangkat sebelah badan Kelvin saja.
“Ya ampun berat banget ihh! Makan apa kamu, Pangeran? Tulang ku rasanya ingin copot saat mengangkat mu, heuh!” omel Viora seraya berusaha mengelap keringatnya.
‘Gadis kecil, seharusnya kamu memanggil ambulance untukku bukannya mengangkat ku sendirian! Emangnya aku kucing apa yang dengan mudahnya kamu gendong seperti bayi. Dasar benar-benar gadis kecil ini masih bodoh untung sayang,’ batin Kelvin yang sudah sangat menahan ingin membalas omelan Viora.
Tiba-tiba wajah Kelvin seperti ingin tersenyum tapi, berusaha di tahan. Viora pun menyadari jika ia sedang di tipu saat ini. Lalu ide menarik terlintas di benaknya.
‘Kerjain ah, emangnya enak! Makanya jangan suka jahilin orang! Huuh tahu sendiri akibatnya,’ batin Viora.
“Mending aku pulang ah! Lagian kunci mobil sama aku terus nanti aku ketemuan deh sama Alvero,” ungkap Viora yang berusaha mengerjai Kelvin.
‘Apa dia bilang barusan? Mau pulang terus ketemuan? Nggak boleh di biarin!' batin Kelvin.
Kelvin akhirnya bangun lalu berjalan kedepan tanpa berbicara apapun dengan istrinya. Rencana pura-pura pingsan akhirnya gagal padahal ia sudah nanti-nantikan agar Viora menangisinya tapi, nyatanya tidak. Benar-benar gagal total.
Berbeda dengan Viora yang mengikuti jalannya Kelvin. Ia tertawa terbahak-bahak saat melihat raut wajah Kelvin begitu cemberut. Lagian siapa suruh mengerjai dia.
Mereka pun sudah memasuki mobilnya. Meski rencana telah gagal tapi, Kelvin tetap tidak mempersalahkan semuanya itu. Senyuman terpancar di wajah masing-masing saat keduanya berada di dalam mobil.
Lalu Kelvin dengan sengaja ingin menggoda istrinya. “Sayang, nanti malam Bunda pasti suruh kita satu kamar loh, gimana kamu mau?”
“Satu kamar? Mmm baiklah tidak masalah tapi, aku tidur di ranjang dan kamu di bawah,” sahut Viora tidak seperti yang di inginkan.
“Yah lagian kamu pakai segaja acara pingsan lagi. Kalau beneran gimana? Aku juga khawatir tahu! Sebagai gantinya kamu tidur di bawah!” Viora sudah menentukan pilihan.
‘Bukannya malah senang eh makin apes! Masa sih dia masih ngga mau tidur bareng aku padahal 'kan dia sudah tahu kebenarannya. Apa jangan-jangan dia belum benar-benar mencintaiku?' batin Kelvin curiga.
Kelvin kembali memikirkan hal yang penting sampai ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tidak peduli meskipun Viora menyuruhnya untuk pelan-pelan.
“Evin, jangan ngebut ... Kita juga ngga jauh lagi jadi santai aja. Mmm Evin, lagi kesal ya?” tanya Viora.
“Kalau iya kenapa?!” sahut Kelvin meskipun fokusnya tetap ke depan.
Viora tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata apapun. Ia paham mungkin Kelvin kesal karena tidak langsung ia terus menolak untuk tidur bersama. Lalu Viora melihat kearah lain tanpa lagi memperdulikan Kelvin yang sedari tadi kebut-kebutan.
Merasa kesal dengan sikapnya Viora. Kelvin pun mengerem mendadak sampai istrinya terkejut.
“Evin! Kalau aku jantungan terus mati gimana?! Kamu kok gitu sih kalau ada masalah bilang! Jangan imbasnya pada hal lain!” geram Viora seraya mengusap dadanya.
“Oh jadi gitu! Baik aku bakalan bilang! Aku ngga kesal kok meskipun kamu nggak mau tidur sama aku tapi, aku bingung aja saat aku ajak cerai kamu bilangnya ngga mau terus sekarang kamu malah ngga mau satu kamar bareng aku. Kalau mau emang jijik dekat-dekat sama Pria menjijikkan ini ya sudah sana dekat sama Alvero, sana!” Kelvin mengomel dengan kasar.
“Loh! Kok sekarang jadi berantem lagi sih? Aku malas ribut! Udahlah kamu hal kecil aja di besarin!” Viora tidak ingin mengalah, ia justru melipatkan tangan di dadanya seraya berpaling.
“Bukan masalah hal kecil, Viora! Tapi ini penting. Jika memang kamu benar-benar mencintaiku maka putuskan hubunganmu dengan Alvero!” tegas Kelvin.
Viora tidak menjawab, ia seakan tidak mendengar suara apapun. Sedangkan Kelvin langsung fokus kedepan tanpa mengatakan apapun juga.
(Kediaman Bunda)
Mereka telah sampai di kediaman. Tidak ada orang lain kecuali Bunda dan Ayah, sebab teman-temannya yang lain sudah duluan pulang.
Bunda pun berdiri di depan pintu saat mendengar suara mobil yang langsung beliau tebak itu adalah anaknya pulang. Kelvin dan Viora pun turun.
“Duh kalian! Kemana aj sih sampai kemaleman pulangnya? Bunda khawatir tahu,” ungkap Bunda cemas.
“Ngga perlu risau, Bun. Lagian kami cuma cari angin segar kok. Ya sudah Bun, aku mau langsung ke kamar dulu gerah banget mau mandi," ucap Kelvin lalu beranjak pergi.
Bunda hanya mengangguk. Viora masih bersama dengan mertuanya. Lalu Bunda merangkul pundaknya seraya membawa duduk bersama.
“Sayang, gimana selama kamu tinggal sama Kelvin, dia galak ngga?” tanya Bunda langsung to the point.
“Oh ... ngga kok Bun, malahan Kelvin baik banget. Ayah mana, Bunda?” sahut Viora seraya bertanya.
“Biasa lagi keluar duduk di post jaga. Biasalah itu satpam rumah di sini kadang jadi teman Ayah. Eh tapi sayang, kalian kok belum kasih cucu sih? Udah program hamil belum?”
‘Ya ampun! Gua harus jawab apa nih?! Udahlah gua pura-pura iyain ajalah,' batin Viora.
“Udah kok Bunda, kami juga lagi program hamil. Mungkin emang belum saatnya kami di kasih momongan,” sahut Viora seraya tersenyum kikuk.
“Ya udah sayang, ngga apa-apa penting kalian udah usaha. Ya udah gih mending kamu masuk dalam. Kelvin lagi mandi pasti nanti minta handuk sama kamu. Bunda juga mau tidur nih,” ungkap Bunda lalu beranjak pergi.
Viora hanya mengangguk mengiyakan lalu ia benar-benar memasuki kamar mereka berdua.
Kelvin belum keliatan batang hidungnya. Ia masih berada di kamar mandi. Lalu Viora juga merasa gerah alhasil membuka pakaiannya lalu mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya.
Sekitar lima belas menit menunggu Kelvin pun akhirnya keluar lalu Viora langsung berjalan melewati Kelvin.
“Lama banget sih mandinya!" omel Viora.
Belum sepenuhnya memasuki kamar mandi Kelvin mencekal lengan istrinya. “Ngomong apa tadi? Mau ribut gitu?”
“Ihhh aku mau mandi bukan mau ribut! Udah ah!” respon Viora dengan ketus.
“Ya sudah sana mandi, ada istri galaknya ngalahin serigala!” geram Kelvin seraya melepaskan tangannya.
“Mau harimau kek! Mau serigala kek! Terserah! Penting aku mau mandi. Daa ... Pangeran tampanku. Aww jangan ngintip yah honey bunny,” sahut Viora tegas lalu mencoba menggoda Kelvin.
’Niatnya mau marah tapi, aku malah ngakak. Dasar! Gadis kecil awas kamu,” ucap Kelvin yang terus senyam-senyum.
***------------------------------------****
Andai saja diriku ini dirimu pasti kamu akan merasakan hal yang sama yaitu. "Galau tiada hentinya.” ~ Kelvin Marble
Kamu tau aku rindu padamu, tapi faktanya aku merindukanmu lebih dari apa yang kamu tau
gue udah coba bertahan tapi, Lo cuma bisa buat gue sakit aja :( ~ Kelvin Marble - Viora Lausy
**----------**
Hallo guys ... sertakan kesannya juga vote yah sayang. Konflik besar belum berada di antara pasutri Kelvin dan Viora. Terus di tunggu. Ah ya adakah yang kangen Steven dan Claudia? Salam sayang ~Meldy