
H A P P Y R E A D I N G
‘Semoga Zoya tidak marah denganku saat aku mengatakan jika Claudia memperlihatkan semuanya,’ batin Reiner.
Reiner sudah yakin dengan tindakannya untuk menceritakan semua mengenai apa yang sedang terjadi.
“Sayang, sebelumnya aku minta maaf dan aku minta tolong jangan marah.”
Zoya mengangguk mengiyakan. ‘Aku tidak akan marah denganmu jika memang kamu tidak melakukan apapun, Bee.’
“Waktu itu kamu tahu sayang, aku ada keperluan mendadak makanya aku masuk ke dalam ruang kerja, tapi Claudia, dia ternyata mengikuti aku diam-diam dari belakang hingga akhirnya mencoba untuk menggodaku sampai seterusnya, dan di-dia melepaskan semua yang ada ditubuhnya, tapi sayang aku sumpah tidak menyentuhnya. Sama sekali tidak! Potong tangan ku jika memang aku menyentuhnya. Aku sama sekali tidak habis pikir bagaimana dia bisa mengkhianati persahabatan antara kami. Padahal aku bukan cuma sekedar menganggapnya sahabat melainkan saudara walaupun memang pernah aku punya perasaan terhadapnya, tapi kamu tahu sayang kalau itu dulu,” ungkap Reiner menceritakan sekilas saja.
“Benar-benar Claudia itu! Dia sampai berani menggoda kamu di rumah kita. Apa dia tidak punya otak sama sekali? Hingga tubuhnya ia perlihatkan di depan suami temannya sendiri. Bee, aku harus memberikan ia pelajaran supaya dia tidak terus-menerus mengganggu kita lagi,” geram Zoya sembari mengepalkan tangannya.
“Sayang ... Pelajaran seperti apa yang ingin kamu tunjukkan? Apa mungkin kamu ingin duel dengannya? Atau ingin berperang? Jika ya maka akan ku sediakan pentas untuk kalian berdua,” canda Reiner dengan sengaja.
“Aww! Sakit sayang.” Reiner teriak saat Zoya mencubit perutnya.
“Makanya kamu lagi serius jangan becanda! Aku lagi kesel Bee, apalagi mengingat dia memperlihatkan semuanya di depanmu. Pasti nanti kamu bakalan ingat-ingat terus. Udah ah aku capek mau istirahat dulu.” Zoya berusaha untuk menghindar.
Zoya beranjak pergi tanpa mendengar sahutan dari suaminya. Ia berjalan menuju ke kamar mereka sambil menangis. Mengingat semua tentang kejadian hari ini yang membuat hatinya begitu sakit. Meskipun di depan ia mencoba untuk terlihat tenang namun apalah daya ia hanya seorang manusia biasa.
“Sayang, mau kemana?!” tanya Reiner yang merasa bersalah.
‘Aku tahu sayang, pasti kamu tidak suka mendengarnya. Sebaiknya aku harus bisa membuat istriku kembali tersenyum,’ batin Reiner sambil mengikuti kepergian Zoya.
Reiner melihat Zoya sedang tertidur, entah mengapa benar sudah tidur atau hanya berpura-pura. Tapi, ia yakin jika istrinya hanya sedang berpura-pura dan ingin menyimpan kesedihan seorang diri.
Reiner ikut naik ke atas ranjang mereka lalu ia memeluk Zoya dari belakang. “Sayang, apa kamu sudah tidur?”
‘Setahuku dia tidak pernah tidur begitu cepat. Biasanya dia selalu melihat ponsel atau membaca komik agar ia tertidur kecuali jika dirinya sedang menangis,’ batin Reiner yang masih memeluk istrinya.
“Sayang ... Aku tahu kamu belum tidur, tapi tidak masalah aku akan mengatakan sesuatu untukmu. Jika saja kamu ada di ruang kerjaku saat itu pasti kesalahpahaman tidak akan terjadi antara kita. Aku tahu sayang, aku pernah membuatmu menangis bahkan sengsara saat bersamaku dulu. Namun, sekarang semuanya telah berubah, aku sudah berjanji di dalam diriku ini hanya akan ada satu wanita di hidupku apalagi kita sudah memiliki Kaylee dan Kayrren. Mereka telah menjadi saksi cinta kita selama ini. Setelah sekian lama kita menikah dalam kesedihan dan sekarang ku pikir kita sudah bahagia, tapi ternyata salah. Jika pun kamu mendengarkan aku atau tidak, tidak mengapa sebab aku juga akan mengatakan hal yang sama saat kamu bangun nanti. Percayalah sayang bahwa aku tidak menyentuh Claudia, meskipun di depanmu aku terlihat sangat mesum tapi itu hanya untukmu bukan kepada orang lain. Ini bukan gombalan tapi kenyataan.” Reiner mencoba mengungkapkan isi hatinya.
Zoya memang pura-pura tertidur, ia hanya ingin mengetes seberapa besar perjuangan perhatian suaminya saat dirinya marah.
‘Bee, bolehkan aku tertawa saat ini? Rasanya aku bisa gila mendengar semua perkataan dari si kera mesum ini,’ batin Zoya sedang menahan senyumnya.
Reiner melirik jika tangan Zoya sempat bergerak meskipun sedikit, ia sebetulnya ingin terus mencoba menyakinkan. Namun, saat tahu jika istrinya benar-benar sedang mencoba pura-pura tidur, ia berniat mengerjainya.
‘Jangan pikir bisa menipu ku, sayang,’ batin Reiner seraya tersenyum.
“Sayang, aku jujur kalau aku ini memang sangat mesum apalagi melihat sesuatu yang indah. Seperti Claudia, dia juga menarik, tubuhnya indah apalagi dia juga sekarang kembali menjadi dekat denganku. Uhh rasanya hatiku berdebar-debar saat melihat wajah imutnya,” canda Reiner berusaha membuat Zoya kesal.
Dengan seketika Zoya berbalik arah melihat Reiner dan mereka bertatapan. Zoya mengeraskan rahangnya sedangkan Reiner mencoba menahan tawa.
“Oh jadi gitu! Dasar suami ngga tahu malu! Udah punya istri sama anak masih juga ngga tahu diri. Sana pergi temuin Claudia, sana muak aku lihat muka kamu, Bee,” geram Zoya.
Bukannya menjawab Reiner mencolek hidung istrinya. “Ciee ... Sayang, cemburu ya?”
“Siapa juga yang cemburu sama Pria kaya kamu! Ogah!” Zoya masih tetap kesal.
Reiner kembali memeluk istrinya yang sedang mengamuk oleh ulahnya sendiri. “Udah sayang jangan marah-marah gitu dong nanti cantiknya ilang. Abisnya kamu sih pura-pura tidur.”
“Aku beneran tidur, kamu tuh seeanaknya gangguin aku tidur. Udah sana ... Males aku sama kamu.” Zoya benar-benar marah.
“Sayang, jangan gitu dong. Aku cuma becanda doang, udah ihh jangan ngambek terus. Denger ya sayang, semua yang udah kamu dengar sebelumnya saat pertama aku katakan semuanya nyata dan tidak ada kebohongan apapun. Jika tidak percaya tatap mataku,” ucap Reiner semakin mencoba untuk menyakinkan istrinya.
“Kamu serius, 'kan? Aku beneran kesal dengan semua yang udah terjadi. Rasanya aku masih ngga percaya kenapa Claudia bisa sejahat itu denganku, padahal aku sama sekali tidak pernah berbuat salah dengannya bahkan aku menjadikan dia teman, benarkan Bee?” ucap Zoya seraya bertanya.
“Iya sayang, kamu nggak salah kok dan ngga perlu kamu pikirkan apapun. Biarkan Steven yang mengurus masalah itu bersama dengan adiknya. Yang terpenting sekarang kita fokuskan saja dengan Kaylee dan Kayrren,” sahut Reiner seraya mengusap rambut istrinya.
Saat mendengar nama anaknya, Zoya langsung bangun dari tidurnya. Reiner sempat kaget saat Zoya bangun.
“Ya ampun! Bee, aku sampai lupa dengan Kaylee dan Kayrren. Dia belum makan, apa baby sitter sudah memberinya makan. Sebentar yah aku lihat Kaylee dulu.” Zoya mendadak syok mengingat bayinya.
Reiner menggelengkan kepalanya, ia padahal tahu jika kedua anaknya sedang tertidur pulas. “Sayang, apa kamu lupa? Si kembar sedang tidur. Mereka juga sudah makan, sudahlah temani aku di sini sebentar, lagian kita sudah lama tidak menikmati waktu bersantai berdua.”
“Aduh ... aku bisa-bisanya lupa, Bee,” ungkap Zoya seraya menepuk keningnya.
Reiner hanya tersenyum melihat istrinya sampai pikun seperti itu. Ia lalu mengambil laptop untuk menonton drakor sebab kesukaan Zoya. Waktu bersantai berdua sangatlah tepat jika si kembar sedang tertidur. Zoya langsung menikmati tontonan di depannya. Namun, berbeda dengan Reiner, tangan mesum miliknya tidak tinggal diam meskipun matanya fokus kedepan.
Zoya hanya pasrah dengan apa yang akan di perbuat oleh suaminya, walaupun menahan geli biarkan saja sebab drakor kesukaan sedang ada di depan.
‘Sejenak aku bisa melupakan kesedihan yang hari ini terjadi walaupun hanya bisa melupakan sesaat, tapi tidak masalah selama suamiku ada bersamaku,’ batin Zoya saat melirik kearah Reiner.
Begitulah wanita tidak akan tinggal diam saat suaminya sedang berada dalam kesialan apalagi jika berhubungan dengan pelakor yang terus berusaha membuat keluarga hancur berantakan.
***
Saat sedang drakor berputar ke adengan yang tidak terlalu menarik, Zoya berusaha untuk memberitahukan sesuatu kepada Reiner.
“Bee,” panggil Zoya, langsung membuat Reiner berpaling.
“Ada apa, sayang?” tanya Reiner baik-baik.
“Ide? Ide buat apa sayang?”
“Nah jadi, aku berharap kalau Claudia bisa bersama terus dengan Steven, walaupun mereka sudah mengatakan kalau mereka adalah adik dan kakak. Tapi, itu tidak menutup kemungkinan jika mereka akan saling mencintai," ungkap Zoya begitu semangat.
“Apa-apaan ini sayang? Bukankah kamu baru ngomel-ngomel untuk Claudia, dan sekarang kamu mencari ide untuknya. Ayolah kenapa sifat mu begitu mudah berubah, sayang?” ucap Reiner seraya bertanya.
Zoya menarik nafasnya memburu lalu hembuskan. “Bukan begitu Bee, aku tahu Claudia tidak suka denganku, tapi ide ku ini cemerlang. Setelah mereka saling mencintai maka Claudia tidak akan menganggu kita lagi walaupun aku tahu cinta tidak bisa di paksa. Ah tapi ... ya sudahlah benar katamu, Bee. Aku tidak perlu mengurus tentangnya.”
“Iya sayang, kita tidak perlu mengurus Claudia. Toh dia sendiri yang menginginkan permusuhan dengan kita jadi tidak perlu pedulikan apapun. Sayang, sebaiknya fokus saja pada drakor mu biar aku yang sibuk dengan ulahku,” ucap Reiner seraya tersenyum kikuk.
Zoya pun menurut dengan ucapan suaminya. Mereka langsung melanjutkan apa yang sudah di mulai.
*** ------------------------------------------- ***
(Stevenson)
Ombak yang bergemuruh. Menyapu tepian pantai, penuh kesunyian dan kehampaan. Angin berhembus dengan dingin, hanya terdengar deburan ombak yang gagah. Tanpa riuh lagi, kini mengalun sepi. Terduduk di bawah sinar matahari.
Aku sedang berhenti di sebuah pantai. Sengaja pergi kesana setelah kejadian kekacauan di kediaman sahabatku. Terakhir kulihat Claudia berjalan kaki sembari berusaha memanggil namaku. Namun, aku masih tidak peduli dan justru mengabaikannya.
Setelah semua yang terjadi perdebatan, nasehat bahkan mencoba untuk terus membujuk dirinya. Ku pikir dengan semua itu adikku bisa luluh dan meninggalkan semua kejahatan yang akan ia lakukan. Tapi ternyata salah dia justru semakin berani sampai mempermalukan dirinya.
“Ya Dewa, apa yang seharusnya aku lakukan untuk adikku? Dia sangat bodoh meskipun pendidikannya sudah tinggi, tapi dia tidak tahu mana musuh dan juga teman,” gumam ku seraya memandang jauh ke depan.
Kringg ... Kringg .... Kringg. Sibuk berpikir tanpa tahu tindakan apa yang harus ku lakukan, tiba-tiba dering ponsel membuatku terkejut.
’Claudia? Mau apa dia menghubungiku?’ batinku saat melihat namanya tertera di sana.
Hingga beberapa kali Claudia mencoba untuk menghubungiku, tapi aku mengabaikan panggilannya. Walaupun dia terus berusaha.
***
Senja begitu cepat berlalu hingga membuatku memutuskan untuk kembali pulang. Meskipun aku sedikit kesal memilih pulang tetapi tidak mungkin jika aku pulang justru akan menambah kekacauan baru.
***-----------------------------------------------***
(Apartemen Claudia)
Duduk menyendiri sembari melamun, Claudia sedang menunggu kepulangan kakaknya. Ia sangat khawatir lantaran dirinya begitu takut jika Steven tidak kembali.
Mobil Lamborghini Aventador memasuki ruang parkir apartemen. Steven berjalan dengan santai, ia sedikit tidak nyaman untuk kembali sebab dirinya takut jika akan terjadi perdebatan dengan adiknya. Meskipun demikian ia sudah memantapkan hatinya. Perlahan Steven masuk ke dalam, dan tanpa sadar Claudia telah berdiri menunggunya pulang.
“Kakak, kenapa telepon gua nggak di jawab?” tanya Claudia, berbicara seperti biasanya.
“Aku capek jangan ganggu,” sahut Steven ketus serta berbicara formal dengannya.
Claudia langsung cemberut mendengar jawaban dari sang kakak. ‘Huuf, pasti dia lagi kesal sampai segitunya dia ngomong,’ batin.
Steven berjalan memasuki kamarnya begitupun dengan adiknya, Claudia juga mengikuti kemana kakaknya pergi.
Merasa risih dengan semua itu, Steven melihat Claudia dengan sinis seraya bertanya. “Sana keluar, ngapain di kamar Pria? Udah sana, aku mau ganti baju.”
“Kakak kok ngomongnya gitu? Lo lagi marah ya sama gua? Kalau marah ya tinggal ngomong ngga gitu,” protes Claudia tidak suka.
“Lah emangnya kenapa? Lagi aku ngga kasar juga tuh, terus apa? Udah deh jangan banyak ngoceh sana keluar!” usir Steven dengan kejam.
“Aku ngga mau keluar! Lagian ini apartemen aku,” ungkap Claudia bandel.
“Oh gitu okay biar aku yang keluar dari apartemen ini. Puaskan Lo!” bentak Steven seraya melototkan matanya. Lalu ia berjalan kearah pakaian ingin membuka lemari tapi di hentikan oleh Claudia.
“Kakak! Aku ngga bermaksud gitu, udah jangan pergi lagi. Sini deh duduk dulu biar lebih tenang ngomongnya,” pinta Claudia seraya menarik tangan Steven.
Steven pun menurut, ia sebetulnya juga tidak suka dengan perdebatan.
“Kak, kenapa sih akhir-akhir ini kita ribut terus? Aku capek, aku mau kaya dulu kita senang-senang bukannya seperti ini.” Claudia kesal dengan keadaannya.
“The question is in you, so it all depends on you,” sahut Steven dengan ketusnya.
“But, I didn't do anything sis for our brotherly relationship.” Claudia tidak terima dengan jawaban kakaknya.
“I told you everything is up to you. It's okay I want to rest my body in my room,” ucap Steven menyuruh Claudia keluar.
Claudia tetap tidak ingin keluar, ia hanya ingin berada di dalam kamar kakaknya apalagi sekarang mereka sedang bermusuhan.
“Apalagi Claudia? Keluarlah!” perintah Steven dengan tegas.
“Aku tidak mau!” Claudia masih bersikeras.
”Mau keluar atau ngga? Jika tidak maka aku akan mencium mu. Tidak peduli meskipun kita sudah menjadi adik-kakak. Melihat kelakuanmu seperti tidak punya harga diri justru membuatku ingin melakukan sesuatu terhadap tubuhmu,” ucap Steven jelas tanpa merasa takut.
“Kakak benar-benar kehilangan akal. Perkataan mu membuat hatiku sakit!” geram Claudia.