
H A P P Y R E A D I N G
“Untuk saat ini aku belum bisa tahu harus melakukan apa padamu tapi, karena kita harus buru-buru kembali kesana sebaiknya nanti kita bicarakan lagi permohonan maaf yang akan cocok untukmu, gadis kecil,” ucap Kelvin.
Bibir manyun Viora terlihat jelas dari balik raut wajah imutnya. Ia sedikit kesal jika kembali maka nanti dirinya akan berhadapan dengan Alvero juga akan kembali bekerja menjadi sekretaris dari Kelvin, meskipun baru sehari. Walaupun demikian ia juga tidak bisa berbuat apapun sebab memang mereka tidak bisa berlama-lama pergi.
Viora lalu keluar seraya menarik koper. Bunda serta Ayah sudah menunggu mereka keluar untuk berpamitan. Di ruang tamu mereka langsung memberikan pelukan kepada orangtuanya.
“Bun, aku sama Viora harus balik lebih cepat soalnya nggak memungkinkan untuk aku menginap seminggu di sini tapi, jika nanti hari weekend pasti aku akan menyempatkan diri untuk menjenguk Bunda dan Ayah,” ungkap Kelvin yang sedang memeluk ibunya.
Usapan seorang Ibu begitu nyaman bagi Kelvin. Lalu Bunda pun membalasnya.
“Ya sudah Nak, tidak apa-apa yang terpenting kalian masih mengingat kami di sini. Oh ya nanti sebelum balik jangan lupa mampir dulu di rumah Zoya, kasian mereka nanti ngga tahu apalagi si kembar katanya nanya-nanya kamu terus,” ucap Bunda.
“Baik Bun, nanti kami akan kesana," sahut Kelvin mengiyakan.
Bunda lalu kembali memeluk menantunya seraya mengusap wajah Viora.
“Sayang, kalau Kelvin bandel kamu jangan takut yah hajar aja Bunda ikhlas kok. Jangan lupa cepat-cepat kasih cucu buat kami yah,” ucap Bunda seraya tersenyum.
“Baik, Bunda. Aku pasti hajar Kelvin kok,” sahut Viora sambil tersenyum kikuk.
Mereka semuanya tersenyum termasuk Ayah yang sejak tadi sudah menunggu giliran. “Nak, jaga istri kamu baik-baik, lindungi dia. Jangan biarkan dia kesakitan. Dan, kamu, Viora. Jaga Kelvin juga, dia soalnya suka lupa.”
“Siap, Ayah,” sahut Viora.
Kelvin hanya menahan senyumnya saat semua orang terus memojokkan dia. Lalu sambil melambaikan tangan pasutri tersebut langsung meninggalkan kediaman mereka.
Di dalam mobil, Kelvin tidak banyak bicara. Ia hanya terdiam dan sibuk mengotak-atik ponselnya sebab ada supir jadi dia hanya duduk manis. Berbeda dengan Viora lebih memilih mengupdate statusnya di media sosial.
Keduanya benar-benar larut dalam kesibukan masing-masing hingga mereka tidak menyadari bahwa telah sampai di kediaman Zoya. Lalu pasangan suami istri tersebut turun dan langsung di sambut oleh pelayan di sana untuk masuk ke dalam.
Kayrren dan Kaylee tersenyum melihat Uncle dan Aunty datang berkunjung ke kediaman mereka. Keduanya langsung berlarian menyambut Kelvin dan Viora.
“Hay Uncle, apa kabar?” sapa Kayrren yang sedang memeluk Kelvin.
“Baik, Son. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?” tanya Kelvin seraya menggendong Kayrren.
Berbeda dengan Kaylee dan Viora. Anak tersebut langsung menarik tangan Aunty untuk melihat hasil lukisan yang ia buat. Memang Kaylee sejak dini sudah menyukai melukis meskipun wajahnya menjadi sasaran untuk dilukis. Dengan bahagia Viora melihat lukisan amburadul tersebut.
“Wah ... cantik sekali, Kaylee. Belajar dari mana bisa gambar sebagus ini?” Viora seakan terpesona dengan lukisan yang ia lihat padahal hanya hasil coret-coretan.
“Kalee belajarnya cendili Aunty tapi, Karen bilangnya lucisan Kalee itu jeyek,” sahut kaylee yang masih belum lancar bicara.
Kayrren mendengar apa yang di katakan sang adik hingga ia melirik ke belakang padahal sedang bermain game bersama Uncle Kelvin.
“Hey Kaylee, lukisan mu sangat jelek bahkan Mommy saja tidak suka melihatnya,” ucap Kayrren yang begitu jujur.
“Huwaa ... Aunty lihat Karen cahat! Acu mau aduin sama Mommy!” geram Kaylee dengan bibir manyun begitu lucu meskipun ia sedang marah.
Mendengar suara ribut-ribut di ruang tamu Zoya langsung keluar. Ia saat itu sedang melakukan yoga, lalu ia berganti pakaian dan langsung menuju ke ruang tersebut.
Ia tersenyum manis saat melihat kedua orang yang sangat ia kenal datang bertamu. Lalu Zoya langsung menyuruh pelayan untuk menyiapkan teh serta cemilan untuk mereka.
“Wah ... kok nggak bilang-bilang sih datang? Jadinya aku bisa sambut. Maaf nih soalnya tadi lagi yoga terus Reiner juga masih kerja belum pulang. Udah lama datangnya?” ucap Zoya seraya terus bertanya.
Kelvin langsung mengalihkan perhatiannya meskipun ia sedang bermain game hingga Kayrren pun menang dan teriak bahagia.
“Belum lama kok baru bentar. Cuma mau mampir aja Zoya, yah sekali nanti kami mau pamit mau balik kesana soalnya,” sahut Kelvin.
Kaylee langsung berlari dan memeluk Mommy-nya lalu mengadu masalah ia di ejek oleh kakaknya.
“Mom, lihat kakak cahat katain acu jeyek,” ngadu Kaylee seraya memperlihatkan lukisannya.
“Iya sayang, tunggu sebentar yah Mommy ngobrol sama Uncle dan Aunty. Kaylee mending lukis terus gih nanti Mommy cubit kakak,” ucap Zoya mencoba menenangkan anaknya.
“Baik, Mom," sahut Kaylee mengiyakan lalu pergi menuju ke kamar dengan membawa lukisannya.
Zoya pun melangkah untuk menemani tamunya. Begitupun dengan Kayrren yang juga ikut serta layaknya orang dewasa.
“Kok cepat banget balik? Padahal kita weekend dulu di sini,” ucap Zoya seraya bertanya.
“Yah bener Uncle, harusnya kita main-main dulu di sini soalnya Kayrren juga mau liburan,” timpal Kayrren yang sengaja bersikap seolah sudah dewasa.
Kelvin tersenyum lalu mengacak rambut anak itu. “Nanti Uncle datang lagi soalnya Uncle belum bisa liburan masih banyak urusan.”
“Yah ... Uncle,” Rajuk Kayrren dengan wajah cemberut seraya beranjak pergi dari hadapan mereka.
”Kayrren, mau kemana jagoan?” tanya Kelvin sengaja.
“Kayreen mau tidur dulu ngantuk, Uncle,” sahut Kayrren lalu kembali pergi.
Zoya hanya menggelengkan kepalanya saat melihat putranya begitu senang dengan kehadiran Kelvin.
“Sudah ngga apa-apa nanti biar aku yang bujuk. Biasalah anak-anak suka merajuk,” sahut Zoya tidak terlalu cemas.
Kelvin hanya mengangguk mendengar ucapan Zoya. Ia tidak bisa terlalu lama berada di kediaman Zoya. Dengan melirik Viora seraya memberikan isyarat bahwa mereka akan pergi.
“Zoya, sepertinya aku harus pergi, takut kemaleman soalnya. Oh ya salam untuk Reiner yah dan juga untuk si kembar, kami pergi dulu,” ucap Kelvin pamit begitupun dengan Viora yang melakukan hal yang sama.
“Baiklah kalau begitu hati-hati yah, Kelvin, Viora.”
Zoya akhirnya mengantarkan tamunya di depan pintu seraya memberikan pelukan untuk terakhir kali. Hingga akhirnya Kelvin dan Viora meninggalkan kediaman tersebut.
(Kediaman Kelvin)
Kedua pasangan suami istri ini sudah kembali ke istana mereka berdua. Para pelayan menyambut mereka dengan senyuman bahagia sebab mereka berpikir jika Tuan dan Nyonya mereka pergi untuk honeymoon padahal bukan.
Hari yang panjang dan melelahkan Viora langsung membersihkan dirinya terlebih dulu. Berbeda dengan Kelvin yang langsung merebahkan tubuhnya. Meskipun demikian ia tidak benar-benar tertidur hanya mengistirahatkan tubuhnya namun, hatinya masih sibuk bicara.
‘Lega sekali kembali ke kediaman sendiri. Besok sudah kembali bekerja. Ah bagaimana dengan Viora yah? Apa dia masih mau bekerja denganku?' batin Kelvin yang terus berpikir.
Sejenak berpikir lalu wajahnya memancarkan senyuman seperti sedang menemukan sebuah ide cemerlang. ‘Pasti Viora bakalan kerja lagi. Lagian mana mungkin dia resign apalagi harus bayar denda. Ah ngga sabar pengen ngerjain,' batinnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Viora keluar dari kamar mandi. Ia sudah selesai dengan aktivitasnya. Ia keluar handuk yang masih melilit di tubuhnya. Meskipun ada Kelvin di kamarnya tapi, ia sengaja tidak menyuruh suaminya itu untuk keluar padahal biasanya dia selalu mengusirnya.
Kelvin melirik ke arah Viora yang sedang duduk di depan cermin hias. Keningnya berkerut saat melihat tingkah Viora yang sedikit aneh. Memang sudah sejak tadi Viora begitu bersikap aneh.
“Emm! Mau ganti baju yah? Aku keluar ngga nih?” tanya Kelvin dengan sengaja.
“Ngga usah, lagian kamu suamiku jadi untuk apa keluar toh kamar ini dan isinya juga milik kamu,” sahut Viora dengan santai.
‘Ini seriusan? Dia bahkan ngga nyuruh aku keluar di saat ia mau ganti pakaian. Tumben banget hari ini dia bersikap baik denganku, mulai dari ia mencoba untuk merayuku. Apa mungkin ini salah satu jebakannya?' batin Kelvin curiga.
“Oh begitu, ya sudah ganti aja di depanku biar aku lihat,” sahut Kelvin seraya tersenyum dan sengaja terlihat mesum.
Viora menarik nafas memburu. Ia juga tidak berani langsung berganti pakaian di depan Kelvin meskipun ia sudah bertekad untuk berbaikan dengan suaminya. Namun, tetap saja dirinya masih malu memperlihatkan sesuatu yang berharga.
‘Pasti Evin sengaja nih. Ogah ihhh,' batin Viora.
“Se-sebaiknya keluar dulu boleh soalnya aku mau ganti pakaian. Bentar aja kok cuma lima menit,” pinta Viora dengan hati-hati.
Kelvin tersenyum seraya bangkit dari tidurnya. Ia berjalan mendekati Viora lalu memegang dagunya.
“Katanya berani tapi, kok masih suruh keluar? Kenapa emangnya? Sok-sokan sih padahal mau kasih jebakan yah?” tanya Kelvin terus-menerus.
Viora mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang di tuduhkan oleh Kelvin.
“Udah deh nggak usah curiga gitu. Siapa juga yang mau kasih jebakan. Aku itu cuma malu di depan kamu bukannya mau kasih jebakan jadi mending Evin keluar dulu baru kita bicara lagi yah,” ungkap Viora.
Kelvin seakan tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Ia lalu kembali memilih duduk dan melihat apakah Viora berani berganti pakaian di depannya.
Viora lalu mengambil pakaian gantinya seraya mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya tapi, tiba-tiba suara dering ponselnya terus berbunyi sejak tadi hingga membuat ia menghentikan langkahnya.
‘Siapa nih nomer masuk nelepon aku? Angkat ngga yah?' batin Viora bingung.
“Kenapa ngga di angkat? Takut yah aku denger,” timpal Kelvin seraya bertanya.
“Nggak kok. Nomer masuk ngga tahu siapa. Aku jawab ngga yah?” tanya Viora.
“Yah jawab aja lagi mana tahu pentingkan,” sahut Kelvin membenarkan.
Viora sempat berpikir lalu ia memutuskan untuk menjawab panggilan dari nomer hantu tersebut alias nomer masuk tanpa nama.
“Hello, ini siapa?” ucap Viora langsung bertanya pada intinya.
“Ini aku sayang, Alvero. Pakai nomer perusahaan. Bisa kita ketemuan sebentar nggak? Ada yang mau aku obrolin sama kamu,” ungkap Alvero tanpa basa-basi.
Viora terdiam sesaat lalu ia melirik suaminya yang sedang fokus memperhatikan dirinya.
‘Aneh, ngapain yah Alvero ngajak ketemuan? Apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku istrinya Kelvin tapi, ngga mungkin deh waktu itukan dia masih percaya sama aku,’ batin Viora.
“Ya udah boleh deh nanti kabari aja tempatnya dimana,’ ucap Viora dan langsung mematikan ponselnya sebelah pihak tanpa menunggu sahutan dari lawannya bicara.
Kelvin kembali mendekati istrinya, ia lalu mengambil ponsel itu dari tangan Viora. Kelvin melihat nomer yang barusan menghubungi istrinya lalu mencatatnya di dalam ponsel miliknya.
“Siapa telepon barusan? Kok tegang begitu?” tanya Kelvin penasaran.
“Anu, itu tadi ... Alvero telepon. Dia cuma minta ketemuan itu aja kok, beneran,” jawab Viora dengan jujur.
“Oh ketemuan ... Ciee .... di ajak ketemuan sama calon suami. Pasti seneng banget yah? Tapi kok cemberut gitu? Senyum dong lagian barusan pacar tersayang telepon. Di mana-mana itu kalau di telepon pacarnya pasti senanglah kecuali ... kalau selingkuhan yang hubungi apalagi kalau udah ketahuan begini,” ledek Kelvin seraya tersenyum sinis.
“Ihhh ... apa sih?! Nyebelin banget! Dia itu cuma minta ketemuan doang ngga lebih. Udah deh nggak usah nyindir aku gitu mendingan lepasin tangan kamu, aku mau siap-siap dulu,” bentak Viora yang merasa kesal dengan ledekan suami.
“Wah ... sampai segitunya demi pacar tersayang sampai marah-marah ke aku. Perasaan nih tadi baru lima menit baik sama aku, ngerayu gitu. Eh! Sekarang malah judes lagi. Serah deh lanjutkan aja sayang,” ucap Kelvin yang sengaja ngeselin.
Lalu Kelvin merasa tidak dibutuhkan di kamarnya. Ia pun berniat untuk pergi keluar. Saat ia melangkahkan kakinya Viora langsung menahan lengan Kelvin untuk tidak pergi.
“Mau kemana?" tanya Viora penasaran.
“Ya pergilah! Lagian ngapain ada di sini? Toh kamu juga mau pergi ketemuan 'kan? Yah ... berarti aku di sini cuma jadi nyamuk dong yang gangguin kamu.” Lagi-lagi Kelvin bersikap menyebalkan.
Viora membalikkan matanya saat mendengar jawaban konyol dari Kelvin. Ia juga masih menahan tangan suaminya itu.
“Udah sana siap-siap biar kita pergi barengan," ucap Viora yang ingin mengajak Kelvin dengannya.
“Aku siap-siap? Emangnya nanti aku mau kemana? Jangan bilang kamu mau ajak aku? Males ah jadi nyamuk yang ada! Lagian sakit kalau di gigit. Aku mau cari angin aja sendirian. Hati-hati ya yang mau ketemuan,” ucap Kelvin yang tidak percaya.
“Iya kamu, Pangeran! Lagian ngga ada orang lain di sini. Udah ah jangan banyak ngoceh deh mendingan siap-siap gih biar nanti habis ketemu sama Alvero kita bisa langsung cari makan soalnya aku juga lagi laper nih,” kata Viora seraya memegang perutnya.
“Oh gitu ... Okay!” sahut Kelvin mantap lalu ia mengambil handuknya.
Kelvin tersenyum saat istrinya ingin mengajaknya sekalian meskipun ia juga penasaran dengan maksud dari Alvero sampai mengajak bertemu. Padahal Kelvin sudah memblokir nomor Pria itu tapi, dia justru menghubunginya dengan nomor lain. Memang menyebalkan.
Berbeda dengan Viora, yang sedari tadi senyam-senyum sebab ia ingin menyelesaikan hubungannya dengan Alvero meskipun ia takut jika nantinya mereka akan bertengkar tapi, ia tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.