
H A P P Y R E A D I N G
“Gitu dong! Udah ah yuk ke rumahku ambil barang-barang terus pindah deh!” ajak Alice dengan ceria.
“Iya-iya tapi, lihat tuh pakaian kamu nggak malu emangnya?” tanya Alvero yang sedang memandanginya.
Alvero langsung menuju ke rumah Alice. Setibanya di sana Alice justru tidak turun dari mobil melainkan berdiam diri hingga membuat orang lain melihat tingkahnya kesal.
“Udah cepet turun! Udah sampaikan? Jadi turun biar cepat, karena aku juga ada kerjaan lagi,” ungkap Alvero memaksa.
“Peka dikit dong! Masa iya aku turun pakai b*kini kaya gini. Sini kasih baju kamu biar aku pakai biar cepat turun!” rengek Alice dengan kasar.
“Dasar nyusahin!” geram Alvero seraya melepaskan bajunya.
“Kasih tuh yang ikhlas! Lagian ini juga salah kamu kok,” ucap Alice sambil menerimanya.
“Udah dikasih malah nyolot lagi. Udah sana cepet beres-beres!” sahut Alvero kesal.
“Iya bawel! Eh bentar. Aku harus beres-beres sendirian gitu? Ogah! Ayo cepetan bantuin ... kalau nggak aku teriak nih bilang kamu penculik karena udah culik wanita cantik kaya aku,” ancam Alice dengan sesuka hatinya.
“Heh jangan ngada-ngada! Ya ampun musibah terus kayaknya. Ya udah deh cepetan biar aku bantu tapi, jangan lama-lama yah ogah lama-lama bikin pegel,” sahut Alvero tidak ingin mengalah.
“Iya-iya! Udah ah katanya mau cepet tapi, ngomong terus kapan kelarnya coba. Dasar cowok rese!” geram Alice seraya keluar dari mobil.
Wajah Alvero mendadak kaget seraya matanya melotot. “Untung cewek kalau nggak habis gua hajar!”
“Ini telinga masih berfungsi yah jadi, ngga usah ngatain orang di belakang. Sini lewat depan kalau berani,” jawab Alice yang tidak sengaja mendengarnya.
“Serah deh mau bilang apa males gua! Udah sana beres-beres! Ah bikin kesel aja,” geram Alvero.
Alvero akhirnya membantu Alice untuk berkemas. Sepanjang mereka mengemasi barang-barang sepanjang itu juga mereka terus saja ribut sampai tetangga di rumah Alice menegurnya. Ada saja hal kecil yang selalu mereka perdebatan, entah itu salah memasukkan barang bahkan Alice yang begitu lelet mengambil sesuatu. Hingga akhirnya mereka selesai pun selalu saja terjadi keributan.
“Woy bantuin bawain! Masa cuma aku sendirian yang bawa kapan habisnya,” perintah Alice dengan ngegas.
“Ogah! Udah bagus aku bantuin kemas-kemas terus sekarang pakai suruh lagi bawain. Sewa pembantu sana! Yakin ngga bakal ada yang mau bantuin wanita kaya kamu!” geram Alvero seraya memasuki mobilnya.
‘Awas kamu Alvero!’ batin Alice.
Alice memasuki mobil dengan raut wajah cemberut. Ia begitu melelahkan membawa setiap barang-barang miliknya. Sedangkan Alvero hanya menunggu di mobil dan sesekali ia merepet karena kesal.
“Udah yuk jalan,” ucap Alice.
Tanpa menjawab Alvero langsung menancap gas dengan cepat hingga mereka sampai di kediamannya.
...----------------...
Mereka telah sampai di kediaman. Alice keluar dan langsung menuju ke dalam kediaman Alvero tanpa menunggu si pemilik tempat untuk menyuruhnya masuk.
‘Wow! Rumah Alvero gede banget, kaya di istana aja haduh ... nyaman nih kalau jadi Nyonya besar. Awas kamu Al, aku bakalan peras semua harta kamu terus baru kamu berlutut di depanku,’ batin Alice.
“Ya mau masuklah! Masa cuma berdiri di sini. Ya udah ah aku masuk dulu ya. Oh ya sekalian suruh tuh sama pelayan-pelayan kamu nanti buat ambilkan barang-barang ku,” ungkap Alice dengan begitu percaya diri.
Alvero tercengang mendengar apa yang di ucapkan Alice. Wanita itu bahkan sudah memasuki rumahnya dan terpaksa ia meminta para scurity untuk membawakan barang Alice.
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan wanita aneh yang ia temukan saat ini bahkan tidak pernah ada yang seperti itu bahkan Viora yang pernah ada di hatinya.
Alice sudah seperti pemilik rumah. Ia langsung duduk di sofa kebanggaan sampai beberapa pelayan melihatnya dengan tatapan aneh.
“Apa lihat-lihat? Pelayan ya? Lebih baik pergi buatkan minum dan juga cemilan karena mulai hari ini aku adalah Nyonya kalian,” ungkap Alice dengan pede.
Pelayan pun mendekatinya. “Mbak, ngga waras yah?”
”Enak aja! kamu tuh nggak waras! Udah sana huss huss! Males ngomong sama orang rendahan kayak kalian!” usir Alice dengan sadis.
“Dasar belagu! Udah ah yuk kita aduin sama Tuan Alvero, biar itu orang di kasih pelajaran!” bentak pelayan yang lain.
Tidak lama setelah pelayan pergi kemudian Bibi Karin muncul. Lalu ia melihat Alice dari atas sampai bawah, juga Alvero akhirnya masuk.
Bibi Karin langsung menarik tangan Alvero lalu membawa sedikit menjauh.
“Wanita itu siapa? Tadi bibi dengar kalau dia baru masuk terus sampai pakai ngatain pelayan di sini,” ungkap Bibi Karin yang sedang mengadu.
“Namanya Alice, biasalah Alvero ketemu wanita aneh itu di Club yang waktu itu Bibi saranin,” sahut Alvero.
“Apa? Ketemu di Club? Tapi, kok dia sampai ke sini. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Bibi Karin terus-menerus.
“Jadi ceritanya itu panjang, Bi. Alvero sengaja ngenjebak Alice supaya aku itu bisa nenangin diri tapi, ujung-ujungnya sekarang dia justru ambil kesempatan itu buat bikin aku kesel,” curhat Alvero.
Bibi Karin menepuk jidatnya. “Ya ampun, Alvero. Kamu ini ceroboh sekali. Ya sudahlah apa selanjutnya rencana kamu untuk wanita itu?”
“Yah ngga ada, Bi. Lagipula dia cuma minta buat tinggal di sini buat tebus semua kesalahan yang udah Alvero lakukan. Itu aja,” jawab Alvero dengan jujur.
“Ya sudah kalau begitu nanti biar Bibi awasi dia supaya tidak bisa macam-macam di sini,” ungkap Bibi Karin.
Alvero mengiyakan lalu ia kembali keruang tamu. Alice rebahan dengan mengotak-atik ponselnya sambil kaki berada di atas meja. Ia seakan seperti Nyonya besar. Alvero melihatnya sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
‘Hadeh ... ini orang benar-benar nggak tahu diri banget. Udah masuk paksa kerumah orang terus sekarang berlagak jadi Nyonya besar. Lihat aja nggak bakalan lama kamu bisa betah di sini,’ batin Alvero.
Bibi Karin duduk di sebelah Alvero dan sengaja membelakangi Alice.
“Alvero, gimana masalah kamu sama kekasihmu itu udah selesai atau dia masih belum juga bisa lepas dari orang itu?” tanya Bibi Karin sengaja ingin mencueki Alice.
‘Tumben banget Bibi tiba-tiba bahas Viora. Apa karena ada Alice? Bagus sih jadi biar Alice ngga punya waktu buat ngobrol. Permulaan yang bagus, aku tahu pasti Alice berbuat seperti ini ada maunya denganku. Atau jangan-jangan dia sudah tergila-gila dengan ketampanan ku ini,’ batin Alvero.
Alice menyimak apa yang sedang mereka bicarakan. ‘Jadi Alvero udah punya kekasih.’