
"Hey bergabung denganmu? Kau itu punya suami, jika suamimu memperbolehkan aku untuk mengajakmu berdansa itu sangat membuatku senang haha," ucap Kelvin gembira.
"Ah kau tidak jelas, sudahlah aku ingin bersiap-siap dulu Vin," ucapku pamit.
"Hey tunggu dulu Zoe! Ayolah tidak perlu terburu-buru di sini Bos sudah berada didepan mu jadi santai saja aku tidak akan memarahi mu," ucap Kelvin.
Aku tidak peduli dengan ucapannya, yang kutahu harus bersiap-siap dan segera memenuhi tugasku. Meskipun dia selalu memberi keringanan untukku dan bisa dibilang sangat pilih kasih hanya memberi keringanan untukku tapi tidak untuk karyawannya yang lain.
Setelah beberapa menit bersiap-siap akhirnya aku turun menemuinya. "Ayo kita berangkat! Aku sudah selesai," ucapku semangat.
"Baiklah, kau ini semangat sekali," sahut Kelvin.
Singkat kata kami sudah berada dalam mobil. Pergi ke kantor bersama karena kebetulan dia menemuiku jadi langsung sekalian. Didalam mobil. Kelvin melirik kearahku. "Apa aku boleh bertanya sesuatu Zoe?"
Aku mengangguk tanda mengiyakan ucapannya.
"Bagaimana dengan suamimu Zoe?" tanya Kelvin.
"Masih tetap sama meskipun aku berpikir dia lebih baik, kau tahu tadi pagi aku telat bangun tapi pas aku bangun sarapan udah jadi," curhatku.
"Benarkah Reiner yang membuatnya? Menurutku dia hanya kesal denganmu tapi cintanya tetap utuh untukmu," sahut Kelvin.
"Ck! Hey sejak kapan kau jadi penyair begitu?" tanyaku seraya menahan tawaku.
"Zoya aku tidak sedang menciptakan lelucon! Ah kau ini aku serius," ucap Kelvin tidak terima.
"Baiklah Vin, tapi menurutku dia masih marah denganku dan aku juga belum memberitahu yang sebenarnya terjadi," lirihku.
"Kau menyimpan rahasia lagi? Apa denganku juga sama? Ah kau ini ayolah katakan sesuatu yang aku tidak tahu," ucap Kelvin memaksa.
"Aku tahu kau pasti memaksa, ah mulutku ini ceplas-ceplos sekali," sahutku.
"Jangan terus menghindar Zoe, cepat katakan," Kelvin terus memaksa.
Perjalanan yang singkat terasa amat panjang. Kelvin sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Nanti saja Vin, sesudah istirahat, aku pasti akan curhat denganmu tenang saja."
"Baiklah kalau begitu Zoe."
Kelvin langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, setelah itu tidak ada lagi percakapan antara kami, hanya keheningan yang tercipta. Selang beberapa menit sampailah kami ditempat tujuan.
Kami berjalan beriringan, hari ini kesibukan Perusahaan tidak terlalu banyak, apalagi rapat memang ditiadakan. Hanya beberapa laporan yang harus dicek untuk persiapan agensi properti ditempat lain.
Kelvin mengangguk seraya tersenyum. Kami berpisah didepan ruangan masing-masing, berhubung ruangan ku dengannya berdekatan. Dan kami mulai fokus dengan pekerjaan, jika sudah masuk kedalam pekerjaan maka tidak ada istilahnya harus main-main.
******
(Reiner Joe Notern)
Jam menunjukkan tepat pukul 11:34 dan tidak lama akan masuk waktu istirahat. Tapi aku merindukan istriku. ‘Apa nanti aku ajak Zoya makan siang bareng aja ya? Sekalian aku minta maaf, rasanya aku sudah banyak bersalah dengan istriku.’
Memang, ada baiknya aku harus memperbaiki hubungan ini. ‘Kasihan istriku, belum lagi semalam dia harus tidur diluar dalam keadaan hamil, ah aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini agar aku bisa bertemu dengannya.’
Pikiranku terus tertuju untuknya. Aku tidak ingin membuat keadaan kami semakin berantakan, dan aku juga salah tidak mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Emosi membuatku tidak bisa mengendalikan apapun. ‘Tunggu aku sayang, ku pastikan akan memperbaiki hubungan kita.’
Dengan cepat aku mengerjakan laporan-laporan keuangan yang masih tersisa, hanya lima laporan dan itu tidak terlalu rumit. Tapi rasanya mengerjakan satu laporan saja seperti aku sedang mengerjakan tiga sekaligus. Rasa rindu akan dirinya membuatku ingin lari dan melupakan semua pekerjaan ini.
Dengan terburu-buru aku melakukan tugasku. Dan sesekali melirik jam tanganku. ‘Ayolah cepat! Kau harus datang cepat sebelum Kelvin membawa istrimu makan siang.'
Memang aku tahu jika mereka sering makan siang bersama tapi itu tidak masalah denganku asal mereka tidak melakukan hal aneh seperti sewaktu berada di bukit. Jika itu terulang aku pastikan akan membunuh Kelvin.
Entah kenapa semakin lama, semakin sering aku tidak suka saja melihat pria itu berada dekat dengan istriku, padahal aku tahu mereka hanya berteman tapi firasatku selalu mengatakan kalau Kelvin mempunyai niat jahat untuk kami. Ini hanya firasatku belum tentu juga benar hanya saja aku sedikit khawatir jika Zoya terus-menerus berdekatan dengannya. Entah kenapa pikiranku jadi kacau seperti ini.
Beberapa menit lagi waktunya istirahat tapi laporan keuangan masih banyak tersisa yang belum ku tandatangani. Hanya tersisa tiga laporan tapi didalamnya terdapat puluhan tandatangan sebab tebalnya minta ampun.
Akhirnya terpaksa ku sudahi semua pekerjaan ini, aku harus menemui istriku, dialah yang lebih penting untukku saat ini. Tanpa menunggu lama aku pun bergegas dengan terburu-buru keluar dari perusahaan. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tapi sebelum aku menemui istriku ada baiknya aku memberi hadiah kecil untuknya sebagai permintaan maaf.
Aku berhenti disalah satu SM Mall of Asia pasay, Filipina. Aku memilih memasuki ini karena memang ini jarak terdekat dari perusahaan Kelvin berada, di sana juga menyediakan berbagai macam jenis pertokoan dan arena pameran. Aku lalu memasuki salah satu toko perhiasan yang menurutku di sana memang sudah terjangkau dengan merek kualitas serta harga yang seimbang dengan barang tersebut.
Mencari-cari beberapa barang yang akan aku berikan untuk istriku. Sampai aku menemukannya salah satu kalung indah liontin mutiara yang sangat menarik. Dan ku pilih satu untuknya. ‘Jika Zoya memakainya pasti cantiknya semakin terlihat.’
Lalu aku beranjak ke toko yang lain memilih lingerie, aku sengaja memberikan hadiah ini untuknya, mengingat kerinduanku dengan tubuh cantik itu. Saat aku sedang memilih lingerie tiba-tiba sesuatu mengganggu pandanganku. Elie juga berada ditempat itu, entah sejak kapan dia berada di sini aku tidak tahu pasti. Aku sengaja tidak melihatnya, fokus ku tetap pada tujuan utama.
Namun aku tidak bisa untuk menghindar darinya, tiba-tiba dia melihatku lalu tersenyum dan berjalan mendekatiku. ‘Mau apa wanita licik itu mendekat kearahku?'
"Ehmm! Hay Reiner, ah rupanya kebetulan sekali ya kita bertemu di sini dan ... mana istrimu? Aku tidak melihatnya sejak tadi," ucap Elie seraya melihat kiri kanan mencari istriku.
Aku pura-pura tidak mendengar ucapannya, lalu beranjak pergi melewatinya. Tapi lagi-lagi dia menghentikan langkahku. Dia berdiri tepat di hadapanku.
≈≈≈≈≈≈≈≈
Hallo guys jangan lupa terus dukung karya Author, mudah kok, dengan like, komen dan berikan vote. Kalian harus memberikan vote. Sebab itu akan membuatku untuk lebih semangat dan menghadirkan yang lebih keren. Nah jika kalian penasaran langsung saja seperti yang udah Meldy bilang untuk dukung juga sertakan vote kalian agar Meldy memberikan kejutan-kejutan di setiap episodenya okay.