
Happy reading
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Waktu terus berjalan aku semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Zoya. Steven tidak salah memperkenalkan teman untukku, hanya berkenalan melalui ponsel saja sudah membuatku senang, keliatannya memang Zoya sangat cocok untuk dijadikan teman bahkan sahabat.
Treeeett .... Suara getar pertanda pesan masuk.
Aku bergegas cepat melihat ponselku bergetar, ternyata satu pesan dari Zoya.
“Ketemu di Cafe Canyoe jam sepuluh pagi berarti sebentar lagi dong, ngga masalah aku mau,” gumam ku seraya mengetik balasan untuknya.
Aku sangat senang, sebelum aku pergi aku berniat menghubungi Steven. Setelah menunggu beberapa saat panggilan darinya akhirnya Steven membalas panggilan dariku.
“Ada apa sih dek, gue lagi kerja ini ... Ah lue,” omel Steven dari balik ponselnya.
“Pelit banget lo, gue itu mau kasih tahu kalau temen lo si Zoya mau ketemuan sama gue! Asyik 'kan?” sahutku dengan ceria.
“Yaelah kirain kenapa, hadeuh Claudia ... udah ah gue mau kerja dulu ya dek, hati-hati tuh perginya bye-bye,” ucap Steve dan mengakhiri panggilannya.
“Okay kakak, selamat bekerja!”
Aku lagi bersiap-siap untuk pergi menemui teman baruku, rasanya hatiku sangat senang sudah memiliki teman. Tidak butuh waktu lama aku langsung melaju ketempat yang sudah di janjikan. Sesampainya di sana aku melihat di dalam Cafe kearah para pengunjung lain sepertinya tidak ada wanita hamil yang duduk sendirian itu berarti Zoya belum datang.
Aku langsung memesan minuman sambil menunggu Zoya datang, sekitar lima belas menit menunggu sebuah Lamborghini Aventador putih berhenti di area parkiran depan Cafe.
Seorang wanita cantik dengan perut buncit keluar dari mobil tersebut, wanita itu berjalan masuk ke dalam Cafe, tiba-tiba Kringg ... Kringg. Sebuah panggilan masuk dan tertera nama Zoya, tentu saja aku langsung mengangkat panggilannya.
“Hallo Zoya, lagi dimana sekarang?” tanyaku meskipun di depan sana aku sudah menebak itu pasti Zoya.
“Ini baru masuk Cafe, kamu yang mana ya Claudia?” tanya Zoya.
“Aku yang pakai baju warna merah tanpa lengan, yang duduk di pojok kiri langsung kesini aja,” sahutku melalui ponsel serta melambaikan tangan kearahnya. Justru karena tidak ragu tebakanku sepertinya tidak salah.
Zoya celingak-celinguk mencariku sampai ia melihat kearahku lalu berjalan mendekat menghampiriku.
“Hay Claudia, sorry membuatmu lama menunggu,” ucap Zoya tersenyum seraya menarik kursi dan duduk di depanku.
“Hehe ngga masalah kok Zoya, aku juga belum lama datang, by the way sendirian aja datangnya?” tanyaku mencoba memulai pembicaraan.
‘Wanita ini sepertinya aku pernah melihat dia tapi di mana? Apa cuma perasaanku saja?’ Batin ku. Memang wajah Zoya seperti sudah pernah kutemui.
“Sendirian sih tapi tadi di anterin supir kok, kamu sendiri udah lama kenal sama Steven? Yah soalnya Steve juga pernah cerita tentang kamu sama aku,” ucap Zoya seraya tersenyum.
“Udah bahkan dari jaman sekolah dulu emang udah kenal terus sekarang dia juga udah seperti kakakku sendiri, oh ya suami kamu bolehin datang kesini?”
Entah kenapa aku sangat ingin mengetahui banyak hal tentang Zoya, rasa penasaran ku dengannya semakin besar.
“Di kasih kok tadi juga udah minta izin, by the way aku sangat berterimakasih sama kakak kamu, karena dengan dia menolongku waktu itu aku selamat, jika tidak entahlah mungkin aku sudah sangat berdosa karena ada kehidupan lain yang harus ku jaga,” curhat Zoya membicarakan tentang Steven.
“Ah ya gak usah sungkan, Steven juga udah cerita kok, dia juga bela-belain aku buat bisa berteman sama kamu hehe by the way Steven juga titip salam karena dia tau aku mau ketemu sama kamu, Zoya.”
“Pasti kok Zoya, by the way aku di sini baru pindah dan itu cuma berdua sama Steve, boleh gak kalau kapan-kapan aku sering main ketempat kamu yah itung-itung buat ngilangin bosan abisnya kalau di rumah gabut apalagi pas akhir pekan rasanya pengen jalan-jalan hehe,” ungkapku jujur dan memang berniat untuk berteman baik dengannya.
“Pasti boleh dong, kapanpun kamu mau datang aja ketempat ku nanti bakalan aku share lokasi,” sahut Zoya seraya tersenyum lebar.
“Wah ... makasih banget Zoya, aku beruntung ada temen kaya kamu baik banget deh, ah ya aku mau curhat bolehkan? Sebenarnya aku pindah kesini itu karena ada satu orang-”
Kringg ... Kringg .... Kringg.
“Eh bentar Claudia!” ucap Zoya seraya mengambil ponselnya.
Panggilan masuk dari ponsel Zoya membuat ucapanku terhenti padahal aku hanya ingin curhat dengannya sebab jika curhat dengan sesama perempuan justru sama-sama lebih tahu bagaimana perasaan kita. Saat ini aku hanya mengamati Zoya yang sedang berbicara dengan ponselnya.
“Kenapa Kelvin? Iya-iya nanti kita ketemu terus kamu bisa curhat deh, aku lagi di luar nih Vin sama temen, iya aku udah kasih tahu Reiner kok pergi kesini tadi tenang aja kamu, udah dulu ya Kelvin nanti aku kabarin ya,” ucap Zoya dengan ponselnya.
Aku tercengang mendengar ucapan Zoya, bukan apa-apa hanya saja aku seperti mendengar nama seseorang yang sudah sangat aku kenali. ’Apa aku tidak salah denger? Zoya tadi sebutin nama Reiner,’ batin.
“Maaf ya Claudia, sahabatku emang gini suka kepo hehe, by the way sampai dimana tadi pembicaraan kita,” ucap Zoya seraya bertanya balik untukku.
“Ah gak apa-apa kok Zoya, maklum kali kalau sahabat suka kepo gitu hehe by the way aku boleh nanya gak?”
Zoya hanya mengangguk mengiyakan.
“Tadi aku sempet denger nama Reiner sama Kelvin, mereka siapa Zoya? Maaf kalau aku kepo mana tau bisa juga jadi temen aku.” Aku harus tahu semuanya.
“Ngga masalah kok Claudia. Reiner itu suami aku dan kelvin itu sahabat aku, yang tadi telepon aku itu Kelvin, boleh kok kalau kamu mau berteman sama Kelvin,” ucap Zoya seraya tersenyum.
“Reiner suami kamu? Apa maksudmu Reiner itu, Reiner Joe Notern?!” tanyaku syok berat, sungguh dunia ini sangat sempit.
Dadaku sesak mendengarnya, apa ini sebuah kebetulan untukku agar bertemu dengan Reiner? Atau hanya untuk memberitahu aku tentang sebuah kebenaran yang pahit? Aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku sekarang ingat Zoya adalah wanita yang tidak sengaja ku temui di Mall dan jelas pasti saat itu dia bersama Reiner.
‘Kenapa jadi seperti ini? Apa aku akan sanggup berteman dengan Zoya, jelas-jelas dia memiliki hubungan dengan orang yang kucintai,’ batin Claudia.
Pikiranku terus memikirkan tentang Reiner, entah bagaimana aku harus menerima kenyataan, orang yang sudah ku anggap teman adalah istri dari orang yang sangat kucintai.
“Claudia hey, kamu kenapa? A–pa ... kamu mengenal suamiku?”
* * * * *
Peluklah tubuhku. Berikanlah dekapanmu
Hingga keluar desahan dari mulut mungil mu
Sebutlah namaku dalam desahan terakhirmu
(Zoya-Reiner)
≈≈≈≈\=≈
Jngan berhenti untuk dukung aku karena itu adalah pemicu untuk buat karya ini semakin membaik.