Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku
4~ S3 Istriku, gadis kecilku Bertemu Alvero - Rencana berpihak pada Kelvin.


H A P P Y R E A D I N G


(Alvero Li Xizing)


Pagi menyambut tidurku. Terasa begitu pusing dan perih di pinggir bibirku. Tidak sengaja tanganku menyentuh luka yang berada di wajahku sampai aku meringis kesakitan.


Rasanya seperti mimpi aku tergeletak di lantai bahkan saat tersadar posisi tidurku bukan lagi di atas ranjang hingga membuatku kebingungan.


“Aww! Kok aku bisa tidur di lantai yah? Perasaan semalam aku tidur di atas,” gumam kebingungan seperti orang bodoh.


Berusaha untuk bangun meskipun badanku rasanya pegal-pegal dan kesakitan seperti orang yang habis di pukuli. Saat aku ingin beranjak masuk ke kamar mandi, terlihat robekan kain yang tidak jauh dari tempatku berdiri, dan aku berusaha untuk mengambilnya.


“Sobekan baju ini punya siapa ya? Perasaan aku nggak ada warna baju kaya punya perempuan begini. Apa jangan-jangan semalam aku ... Ya ampun! Astaga semalam apa yang udah aku lakuin? Viora, aduh mati aku.”


Berusaha terus mengingat sampai akhirnya aku sadar bahwa semalam aku bersama Viora, sebab mengajaknya untuk menemuiku di kamar hotel.


“Pasti sobekan baju ini yang aku tarik semalam? Kok bisa bodoh banget sih gua! Bisa-bisanya aku melakukan hal memalukan seperti itu pada orang yang aku cintai. Aku yakin Viora tidak akan memaafkanku. Tapi, aku tidak boleh menyerah sebelum berusaha untuk minta maaf,” gumam ku.


Menyesal dengan apa yang aku lakukan saat kesadaran ku tidak stabil. Lalu aku mengambil ponsel berniat untuk menghubunginya. Panggilan pertama tidak ia jawab, panggilan kedua juga sama hingga panggilan ke-empat baru di jawab.


“Hello, sayang! Tolong dengarkan aku sebentar. Semalam aku tidak sengaja menjebak mu, sungguh! Padahal aku hanya berniat untuk kamu menemaniku baik-baik tanpa menyakitimu tapi, karena pengaruh minuman hingga aku tidak sadar dengan apa yang lakukan. Ku mohon maafkan aku, dan bicaralah sayangku,” ungkapku tanpa berhenti terus berbicara.


“Ini bukan Viora tapi, suaminya! Berani-beraninya Lo manggil istri gua pakai sayang! Dan berani-beraninya Lo semalam menjebak Viora! Gua ngga akan tinggal diam!” Tret ... Panggilan pun terputus dari pihak luar.


“Woy siapa Lo? Kenapa handphone pacar gua bisa sama Lo?” tanyaku dengan berteriak keras tapi, percuma sambungan telepon sudah duluan ia matikan.


“Sialan!” Dengan kesel aku melempar ponsel ke sembarang arah.


‘Siapa Pria yang menjawab panggilanku? Dia bahkan mengatakan suami? Sebentar, semalam hanya ada Kelvin yang mencoba untuk menolong kekasihku tapi, kenapa berani sekali dia mengaku dirinya suami? Ah aku tahu pasti Viora kesal hingga menyuruh Kelvin mengaku untuk membuatku cemburu,’ batinku.


Aku masih berpikir positif sebab pasti Viora hanya ingin membuatku cemburu dengan apa yang sudah kulakukan padanya semalam. Sepertinya memang aku harus meminta maaf secepatnya agar masalah ini selesai dan hubungan dengan kekasihku baik-baik saja.


Tekad ku saat ini sudah bulat. Aku memang harus pergi menemui kekasihku. Setelah semuanya ku putuskan saatnya aku bersiap-siap untuk bergegas menemuinya.


Dua puluh menit kemudian semuanya sudah selesai hanya tinggal berangkat dan melihat kekasih cantikku. Saat ingin beranjak pergi tiba-tiba aku teringat satu hal hingga membuatku menepuk jidat ku sendiri.


“Ya ampun! Bagaimana aku bisa lupa? Padahal aku belum mengetahui di mana ia tinggal saat ini. Bodohnya aku tidak mengetahui kediaman kekasihku yang baru,” gumam ku yang sedang kebingungan.


Berusaha menghubunginya kembali tapi tetap tidak di jawab padahal sudah berkali-kali aku mencobanya hingga akhirnya membuatku kesal dan memilih mencari tahu sendiri atau jika perlu keliling kota aku akan mencari tahu.


***-----------------------------------------------***


(Kelvin Marble)


Tidurku tidak nyenyak, selalu terjaga sepanjang malam. Memikirkan tentang istriku membuat tidurku tidak nyaman. Mentari pagi sudah terbit tapi rasanya aku ingin memilih tidur kembali.


Niatku ku urungkan memikirkan tugasku untuk bekerja. Dengan malasnya aku bangun dan keluar dari kamar rahasia lalu menuju ke kamar Viora.


Tidak ada Viora di dalamnya tapi terdengar suara percikan air dan bisa ku tebak ia sedang mandi. Saat aku berada di kamarnya suara handphone membuat langkahku berhenti hingga akhirnya setengah mati aku kesal.


Alvero menghubungi istriku dan bodohnya ia sampai memanggil panggilan mesra untuk istriku. Ingin aku memakinya tapi kucoba urungkan niat ini sebab Viora baru saja keluar dari kamar mandi. Dan membuatku seakan tidak tahu apapun.


Terlihat Viora hanya memakai handuk masih melilit di tubuhnya yang menutupi sebagian tubuhnya. Berjalan sempoyongan lalu merebahkan diri di atas ranjangnya.


Langkah kaki Viora terdengar di telingaku. Ia berjalan mendekat. “Evin! Cepat keluar aku ingin berganti pakaian karena sebentar lagi aku harus masuk kerja di hari pertamaku,” ucap Viora yang tidak santai.


Tidak ada jawaban dariku. Hanya ingin bermalas-malasan namun tiba-tiba ide menarik muncul di kepalaku.


‘Untuk menarik perhatiannya sepertinya aku harus memulai sedikit drama seperti di film-film,’ batinku.


Menarik selimut sampai menutupi semua tubuhku. Membuat agar Viora percaya denganku.


“Ga-dis ke-cil, aku kedinginan ... Tolong izinkan aku untuk tidur di sini. Badanku lelah sekali.”


“Benarkah? Perasaan kemarin kamu baik-baik saja,” tanya Viora seraya mengecek suhu badanku.


Melihatnya dengan membuka sebelah mata. Viora mondar-mandir di depanku. Ia terlihat cemas tapi tidak ingin mengusirku. Keliatannya istriku sudah mulai percaya.


Dengan bergegas Viora mencari sesuatu hingga akhirnya ia menempelkan plester tempel di keningku.


“Evin, maafkan aku. Pasti ini gara-gara aku yang sudah menyuruhmu untuk tidur di luar hingga kedinginan seperti ini. Cepatlah membaik karena aku harus berangkat kerja,” ucap Viora begitu perhatian.


“Sa-sayang, sudahlah jangan bekerja lagi. Di sini ada aku yang akan bekerja untukmu," sahutku sembari menahan tawa.


“Diam saja dan istirahatlah.”


“Aku kedinginan sayang, bagaimana bisa aku istirahat? Dingin sekali ....”


Viora lalu berbaring di sampingku, ia juga membawaku kedalam pelukannya seraya terus mengusap rambutku.


‘Aduh, kalau begini terus aku jadi ingin setiap hari sakit. Nyaman sekali sayang berada di pelukanmu. Tapi, rasanya seperti ini tidak terlalu menyenangkan. Kerjain ah,’ batinku seraya tersenyum.


Viora yang masih memakai handuk membuatku ingin mengerjainya sedikit. Wajahku berada di depan dadanya lalu dengan perlahan-lahan aku membuka handuknya sampai semuanya kutarik hingga akhirnya wajahku terbenam di antara dua gundukan indah miliknya seraya tanganku meremas-remassnya.


“Ayolah sayang, bukankah kamu yang memberiku kesempatan? Ayolah ... Aku jadi semakin semangat kali ini, dan tiba-tiba demamku sembuh,” ucapku seraya tersenyum.


Viora menutupi tubuhnya seraya mengambil handuk yang sudah ku lempar jauh. “Enyahlah dari hadapanku! Evin, kamu bukan cuma pembunuh tapi juga mesum dan hidung belang.”


“Ayolah sayang, aku ini suamimu sudah hak ku untuk melihat semuanya. Lagipula wajahmu sudah memerah seperti kepiting rebus,” ledekku seraya menertawainya.


Dengan cepat Viora memakai handuknya kembali dan menutupi wajahnya. Ia melangkah berniat keluar tapi aku berusaha mencekal lengannya sampai membuat langkahnya terhenti.


“Lepaskan aku, Evin! Aku harus bekerja. Hari pertamaku jadi aku tidak bisa melayani mu untuk berdebat,” ungkap Viora dengan ketusnya.


“Aku tidak akan mengajak istriku untuk berdebat tapi, aku ingin menanyakan sesuatu yang tertunda padamu. Katakan ada hubungan apa kamu dengan Alvero? Pertama aku juga belum mendapatkan jawaban atas kejadian saat aku menemukanmu di hotel. Kedua tadi Alvero menghubungimu dengan begitu lancangnya ia memanggilmu mesra.”


Raut wajah Viora tegang seakan ia ketakutan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ku. Hingga membuatku yakin jika dirinya memang memiliki hubungan khusus dengan Alvero.


“Kamu masih tidak ingin menjawab pertanyaan ku, gadis kecil? Lalu kenapa wajahmu tegang begitu? Takut yah karena udah ketahuan,” tanyaku dengan senyum sadis ku perlihatkan didepannya.


“Kalau ya kenapa? Apa kamu marah? Apa kamu cemburu? Lagipula kita menikah itu karena ibumu dan mamaku yang memaksanya, dan seperti yang tertera di dalam pasal ke-empat tidak boleh mencampuri urusan masing-masing! Jadi ku pikir tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Evin. Sebaiknya kamu keluar.” Viora dengan angkuhnya berbicara seperti itu denganku tanpa menatap mataku.


‘Aku tahu, matamu tidak bisa berbohong untuk tidak mencintaiku. Jelas sekali terlihat di matamu bahwa ada cinta yang begitu besar untukku. Tidak masalah Viora, akan ku pastikan semuanya kembali seperti semula,’ batinku.


“Jadi benar seperti dugaan ku. Kalian memang memiliki hubungan khusus. Tidak masalah tapi, jangan salahkan aku jika suatu saat kamu yang akan mengejar-ngejar aku lagi, gadis kecil. Simpan saja semua keangkuhan mu hari ini karena aku tahu hatimu masih sangat mencintaiku dan selamanya akan terus mencintaiku!” ungkapku lalu beranjak keluar dari kamarnya.


Entah ia percaya atau tidak tapi yang jelas perkataan ku kali ini akan aku buktikan baik cepat atau lambat semuanya akan kembali seperti semula. Langkah pertamaku harus mengerjainya sewaktu di kantor. Seringai sadis terlintas di raut wajahku. Dengan cepat aku bergegas untuk siap-siap berangkat bekerja.


Saat aku sedang menuju ke kantor terlihat mobil yang tidak asing bagiku. Lamborghini melaju dengan kecepatan tinggi dan seperti sengaja menyelip diantara mobilku. Hingga membuatku kesal dan berusaha untuk mengejarnya.


‘Masa bodo dengan pekerjaan! Tapi, ini yang lebih penting. Sepertinya Alvero memang sengaja ingin mencari gara-gara denganku,’ batinku yang terus mengejar mobilnya.


Kebut-kebutan di jalanan hingga kami sama-sama berhenti karena lampu merah di depan. Lalu menancap gas dengan cepat saat lampu merah masih di posisi angkat lima hingga akhirnya berhasil membuatku memotong jalannya dan membuat mobilnya terhenti dengan mendadak.


“Heh keluar Lo!” bentak ku sembari memukul kaca mobilnya.


Alvero pun keluar dan berjalan dengan gaya yang begitu sombong. “Punya nyali tinggi Lo berani-beraninya nodong mobil gua!”


“Heh! Yang ada Lo yang punya nyali tinggi. Halah ngga usah basa-basi deh Lo, sekarang jawab ada hubungan apa Lo sama Viora?!” tanyaku dengan kasar.


“Penting banget ya Lo tahu? Okay gua kasih tahu tapi jangan kaget! Gua calon suami dia, jadi Lo nggak punya hak buat nyebut nama Viora lagi karena sebentar lagi gua bakalan nikah sama dia! Bila perlu jauh-jauh dari hidupnya karena Lo selamanya ngga akan pernah miliki dia setelah apa yang udah Lo lakuin buat dia! sahut Alvero dengan pedenya seraya membentak ku.


“Hahahaha calon suami? Haaa masih calon! Basi tahu nggak! Kalau masih calon mah nggak usah belagu. Tapi Lo seharunya sadar diri gua adalah suaminya Viora! Jadi Lo gua minta jauhi Viora atau ... Gua ngga segan-segan akan bunuh Lo seperti waktu dulu. Lo masih ingatkan? Jadi gua harap buang semua cinta Lo itu karena dia adalah istri sah gua! Ngerti Lo!”


Begitu puasnya aku meledeknya sampai Alvero tercengang dan tidak berkedip. Ia terlihat syok mungkin patah hati setelah mendengar tentang apa yang aku ungkapkan.


Setelah mengatakan itu aku langsung meninggalkan Alvero yang sudah seperti orang kehilangan roh. Dia berhenti di tengah jalan sampai akhirnya suara klakson mobil yang lain membuatnya sadar dari lamunannya.


“Rasain! Kaget 'kan Lo pas tahu siapa gua! Makanya jangan berani macam-macam sama gua,” gumam ku yang sudah berada di dalam mobil.


Melihat kearah jam sudah memakai waktu sekitar tiga puluh menit dan itu artinya aku sudah terlambat untuk datang ke kantor.


* * *


(Setiba di perusahaan)


Duduk manis di singgasana CEO, berwibawa dan dipandang hormat oleh setiap orang. Menjadi dua pemimpin dari kedua perusahaanku. Yang pertama milik keluarga Viora dan sudah di alihkan untuk aku yang kelola meskipun semua aset saham belum sepenuhnya untukku namun, posisi sekarang sudah semakin menguatkan aku yang sudah sebanding dengan Reiner Notern, karena ia adalah pewaris pertama di negeriku.


Seperti yang sudah aku atur. Semuanya berjalan sesuai keinginanku. yang membuat agar istriku berkerja bersama. Meskipun ia tidak mengetahuinya perusahaan siapa yang sudah ia lamar kerja.


“Pagi ... Bos. Istri Bos sedang menunggu di ruangan. Ia juga sudah menandatangani surat kontrak dengan perusahaan kita,’ ucap staf karyawan.


“Bagus sekali, dan cepat berikan semua berkas-berkas miliknya.”


“Baik, Bos,” ucap staf karyawan dengan jelas.


Kelvin pun beranjak menuju ke ruangannya sendiri. Ia perlahan masuk dan terlihat seorang gadis terduduk dan terkejut saat melihat bahwa Kelvin yang datang.


“Evin! Kok bisa di sini? Oh aku tahu mau lamar kerja juga ya? Ya sudah ayo bareng-bareng. Aku udah nunggu lama loh dari tadi,’ ungkap Viora sok tahu.


Menyungging senyum ku. Aku juga tidak menjawab pertanyaan istriku. Berjalan kedepan lalu duduk membalikkan bet nama dan menggantung kembali photo kebanggaan milikku. Sengaja meminta kepada staf karyawan untuk tidak memperlihatkan semuanya itu di depan Viora.


Viora tercengang melihat apa yang sedang kulakukan. Ia akhirnya tahu jika dirinya sedang di bohongi.


“Evin! Jangan bilang kalau semuanya sudah kamu rencanakan,” ungkap Viora yang masih tidak percaya.


“Memang benar tebakan kamu, sayang. Semua ini sudah aku siapkan dengan sempurna dan istri kecilku ini sudah masuk kedalam perangkap,” ucapku dengan bangga.


“Kamu jahat, Evin! Berani-beraninya kamu membohongi istrimu ini. Aku tidak akan bekerja di bawah kekuasaan mu karena aku akan segera resign dari sini,” sahut Viora terlihat tidak main-main.


“Silahkan saja, sayang. Toh juga kamu sudah menandatangani kontrak pekerjaan jadi jika mau berhenti bayar dulu semuanya berkisar antara 3M. Jadi jika tidak maka aku tidak akan segan-segan membawanya ke ranah hukum,” ucapku begitu jelas.


‘Emang enak! Makanya nurut sama suami. Dengan begini aku akan membuatmu kembali jatuh kedalam pelukanku, gadis kecil,' batinku.