
****
Di Kota Pelangi
Dalam waktu beberapa hari, pasukan Kaisar Qin sudah tiba di pelabuhan Kota Pelangi. Dua ribu orang pasukan yang terdiri dari berbagai tingkat praktisi bela diri, segera berlari dengan rapih menuju gerbang masuk Kota Pelangi, suara teriakan penuh semangat menggema memecah keheningan.
Sementara di dalam gerbang Kota, terdengar teriakan mencemooh dan menghina pasukan Kaisar Qin, tampak dua ratus orang dengan senyum penuh cibiran memandang mereka penuh kehinaan.
Kedua ratus orang itu adalah pasukan iblis yang sebelumnya sudah dibangkitkan, meski tanpa kehadiran Jenderal, menghancurkan kekuatan pasukan Kaisar Qin adalah perkara yang sangat mudah.
Jenderal Kang memimpin pasukan istana dengan penuh keyakinan, ia terbiasa memimpin pasukan dalam jumlah besar. "Maju, terus bergerak" Teriak Jenderal Kang menyemangati para pasukannya.
"Hancurkan para penjahat" Pekik seluruh anggota pasukan dengan semangat berapi-api. Dalam beberapa hari di perjalanan di atas kapal, mereka sudah cukup waktu untuk beristirahat.
Sebelum mereka memasuki gerbang Kota, salah seorang pemimpin dari pasukan iblis maju ke depan, dengan senyum menyeringai ia mengeluarkan sebuah tombak, mengangkat dan melemparnya dengan penuh kekuatan, tatapannya dingin,
seperti orang yang haus darah.
Jenderal Kang mulanya ia cukup tenang, namun ia merasakan hal aneh. "Sial, sepertinya mereka adalah pasukan iblis, bukan gerombolan penjahat biasa" Batin Jenderal Kang penuh sesal.
"Sia-sia jika seperti ini" Ucap Jenderal Kang dengan tampang wajahnya yang kusut.
"Hahaha.. dasar sampah!"
Umpat pemimpin pasukan iblis.
Gerakan tombak tersebut begitu menekan, Jenderal Kang ingin segera menghindar namun gerakannya terlalu lambat.
Suara yel-yel dan gerakan provokatif tampak diperlihatkan oleh pasukan iblis, dalam satu gerakan tombak tersebut tepat menikam jantung Jenderal Kang.
Suasana hening seketika, pasukan Kaisar Qin tidak dapat mempercayai pandangan yang ada di hadapan mereka. Wajah mereka sangat pucat, sebagian pasukan yang di garis depan mundur beberapa langkah, kepanikan yang terjadi tidak berlangsung lama.
"Ayo kita serang bersama sampai mati" Teriak salah seorang komandan pasukan dengan penuh asa. Dalam hitungan detik, pasukan iblis segera bergerak mengeluarkan pedang.
Dengan wajah penuh suka cita mereka bergerak tanpa beban. Jika diperhatikan, ini adalah pembantaian sepihak bukan peperangan.
Suara teriakan putus asa menghiasi pasukan Kaisar Qin, mereka dibantai seperti menyembelih ayam. Darah-darah mengalir deras, dari atas gerbang Kota sayup-sayup terdengar teriakan dari Wei Ping, Ketua Sekte Kristal Es.
"Cepat!"
Bawa para korban untuk persembahan" Ucapnya yang langsung diikuti gerakan beberapa murid-murid Sekte untuk memasukan mayat-mayat tersebut ke dalam kantong penyimpanan.
Pemandangan tersebut sungguh tidak berperikemanusiaan, semenjak Sekte Kristal Es bersekutu dengan Azazil, perangainya sudah berubah. Demi ambisi menguasai Benua Timur, mereka mengorbankan hal yang paling berharga di dalam kehidupan yaitu nyawa manusia.
Dengan kalahnya pasukan istana Qin, Wei Pin dan Wei Cuan merasa sangat yakin dengan keberhasilannya. Setelah peristiwa hari ini, tentunya pihak kerajaan Wei tidak menutupi diri lagi, rencana menguasai Kaisar Qin hanyalah masalah waktu.
Wei Cuan tersenyum puas, lalu ia berteriak dengan cukup keras, "Mulai sekarang, kita tidak akan menahan diri. Kita akan melakukan penangkapan kepada seluruh penduduk di wilayah kerajaan Wei" Ucap Raja Wei Cuan dengan penuh semangat.
Segera para prajurit dan murid-murid sekte Kristal Es berteriak dengan sorakan yang menggema.
Jika mereka ingin tetap hidup, mereka harus menelan pil darah sebagai syarat. Ini adalah pilihan yang sulit, namun demi tetap hidup mereka harus menelannya.
*****
Di Tanah Terlarang
Mata Long Guan berbinar cerah, setelah ia
menghabiskan waktu sebanyak satu bulan di Tanah Terlarang, selain kekuatan kultivasinya yang meningkat pemahaman tentang hukum ruang dan waktu juga berhasil ia pahami dengan sempurna pada tahap pertama.
Long Guan tidak terburu-buru untuk melakukan teleportasi, mendengar penjelasan dari Hung Fei membuat Long Guan agak tidak berdaya. Dalam konteks yang diajarkan oleh Hung Fei, teleportasi pada dasarnya sangat menguras energi Qi tubuh.
Jika itu terjadi di alam spiritual maka hal tersebut dapat diatasi dengan menyerap batu energi atau giok spiritual serta inti Beast hewan siluman dan hewan roh. Semakin tinggi kualitas batu spiritual tersebut maka semakin berharga.
Di dunia manusia ini tidak terdapat batu energi, hanya mengandalkan Qi murni alam. "Sepanjang perjalanan ku di dunia bawah, hanya di tempat ini yang mengandung energi Qi yang cukup bagus" Ungkap Hung Fei.
"Apakah ada sesuatu yang bernilai di sekitar sini? " Tanya Long Guan polos. "Apa yang kau tanyakan tidak salah, memang ada Api Abadi yang tertanam di kawah pegunungan, oleh karena itu aku tetap bertahan di sini demi menjaga benda tersebut.
Jika itu dimiliki oleh orang seperti Azazil maka sudah dapat dipastikan dunia ini akan hancur. Api Abadi merupakan peninggalan Qiu Long sebelum ia menghilang" jelas Hung Fei dengan sabar menjelaskan kepada Long Guan.
Long Guan mengangguk kepala, bukannya mengerti tapi ia masih bingung. "Ternyata dunia ini juga tidak seburuk yang aku kira, tapi aku masih bingung dengan ketertarikan Dewa Qiu Long pada dunia fana ini" Batin Long Guan dalam hati.
Ia kembali berdiri dan mencoba membuka gerbang teleportasi, seberkas cahaya biru terlihat membentuk sebuah pusaran energi. Long Guan kini tidak menahan diri untuk mencobanya secara langsung.
Dalam pikirannya ia berencana menuju halaman belakang keluarga Long dimana ia dulu sering berada di sana.
Ia melangkah maju kemudian menghilang dari hadapan Hung Fei, di dalam gelombang teleportasi terdapat gaya tarik menarik yang kuat, meski tidak seberapa namun Long Guan memeriksa setiap detailnya.
Dalam satu tarikan nafas, Long Guan tersenyum cerah, ia sudah berada di Klan Long. Ada sepintas bayangan masa lalunya ketika ia tinggal di Klan Long. Ia mengingat masa-masa ia tak berdaya dan hampir putus asa dalam berkultivasi.
Long Guan juga jadi teringat kembali dengan Shu Mingyu, wanita yang akan menjadi tunangannya namun berkhianat dengan berkomplot untuk mengakhiri nyawa Long Guan.
Dengan sambil tersenyum, Long Guan melayang menuju atas, kehadirannya yang tiba-tiba tentu diketahui oleh para petinggi Klan. Setelah melihat orang tersebut adalah Long Guan, Patriark dan paman Long Guan tampak berbahagia.
Sementara Long Guan, ia menatap serius ke seluruh area Klan sambil mengangkat telapak tangannya. Dalam hitungan detik, muncul cahaya keunguan berbentuk bola energi yang sangat besar.
Kilatan petir yang berderak, membuat Long Guan seperti Dewa. Long Guan melepaskan bola energi tersebut ke atas.
"Booom!"
"Booom!"
"Booom!"
"Booom!"
Empat bunyi ledakan terdengar menggema di sekitar tempat tinggal Klan Long.