
Kemarahannya sudah tidak dapat ia bendung, kematian dua rekan terbaiknya harus ia balaskan pada setiap orang yang terlibat di dalamnya.
"Trank"
"Trank"
Suara tabrakan benda logam beradu di udara, Xiao Jian dan yang lainnya berhadapan satu sama lain.
Qiu Long dengan cepat bergerak seperti hantu. Dalam sekejap ia sudah berada di depan lawannya.
"Bugh"
Sebuah pukulan keras mendarat di perut lawannya, membuat penjaga tersebut ambruk tanpa bisa melawan.
Qiu Long kemudian melangkah masuk ke dalam meninggalkan kawan-kawannya yang sedang bertarung dengan sengit.
Tampak wajah Wei Sheng tersenyum seringai, lalu ia berteriak.
"Jurus Tebasan Batu"
Energi Qi yang sangat besar terkumpul di ujung pedangnya, dengan satu tebasan ia membunuh lawannya.
"Aarrgghh"
Terdengar suara cukup kencang dari penjaga tersebut dan kemudian hilang dalam keheningan. Pada saat itu, tubuhnya sudah terbelah menjadi dua. Efek Jurus Tebasan Batu memang sangat mengerikan.
Setelah Wei Sheng berhasil membunuh lawannya, ia segera bergabung ke pertarungan Yong Rui. Dengan adanya bantuan dari Wei Sheng, keseimbangan pertempuran menjadi rusak. Dengan cepat satu orang lagi penjaga dengan kekuatan Tingkat Puncak tewas terbelah dua.
Di dalam Paviliun pendosa, Qiu Long merasakan energi Qi jahat bangsa iblis begitu kental. Beberapa orang mulai bergerak dan memutari tubuh Qiu Long. Mereka semua berjumlah hampir lima puluh orang. Dengan Tingkat Kekuatan Tingkat Puncak, jelas mereka semua adalah petarung terlatih yang sedang disiapkan oleh Paviliun pendosa.
"Apakah kamu ingin mati? lancang sekali menerobos ke tempat ini" ucap seorang pemuda dengan arogan.
"Mati atau tidaknya sama sekali bukan urusan mu" ucap Qiu Long dengan enteng.
Qiu Long sama sekali tidak menganggap perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya.
"Kurang ajar" ucap pemuda tersebut meraung dengan keras. Dari dalam tubuhnya muncul Qi kegelapan yang sangat pekat.
"Hahaha.. Dasar kalian Klan Mo Gui, aku tidak akan melepaskan kalian" ucap Qiu Long dengan nada dingin.
"Si.. Siapa kamu?" ucap pemuda tersebut dengan kaget.
Tidak semua orang bisa mendeteksi keberadaan Klan Mo Gui, apalagi berani mengungkapkannya secara langsung.
"Di Kota Shandian aku dikenal sebagai si Pedang Hitam" jawab Qiu Long penuh penekanan.
"Kamu adalah Qiu Long?" ucap pemuda tersebut dengan ketakutan.
"Ya itu nama asli ku" jawab Qiu Long sambil melepaskan topeng di wajahnya.
Ekspresi orang-orang itu menjadi suram, menghadapi Dewa Perang Kota Shandian adalah hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Seberapa kuat usaha mereka, tetap saja mereka bukanlah tandingan Qiu Long.
"Aku tidak pernah membuat kesepakatan apapun dengan kalian, aku juga tidak pernah mengizinkan orang-orang Klan Mo Gui menginjakkan kaki di Kota ini" jawab Qiu Long dengan tegas.
"Kami juga berada di bawah perlindungan lima keluarga besar, jika kau memusuhi kami maka kamu tidak akan lepas dari kejaran lima keluarga besar" ucap lelaki paruh baya tersebut mencoba mempengaruhi Qiu Long.
Pada saat yang bersamaan Xiao Jian dan yang lainnya mulai berdiri di belakang Qiu Long. Pedang mereka masih meneteskan darah segar, menandakan jika mereka baru saja membereskan para penjaga Paviliun pendosa.
Bukannya takut atau merasa tertekan, pada saat ini pedang yang berada di punggung Qiu Long terbang keluar dan melayang ke udara. Energi Qi yang luar biasa meledak dalam seketika, aura tajam mulai menyeruak dari pedang panjang yang baru saja keluar dari dalam sarungnya, pada saat yang bersamaan pedang tersebut sudah berpindah posisi berada di tangan Qiu Long.
Tanah dan bebatuan di sekitarnya mulai bergetar, semburan energi Qi semakin besar keluar dari tubuh Qiu Long. Kekuatan yang terus berkecamuk membuat Paviliun pendosa berubah menjadi reruntuhan dalam sekejap, membuat orang-orang yang berada di dalamnya tidak sempat menyelamatkan diri.
Pedang yang di tangan Qiu Long sedikit bergetar, energi Qi di dalam dirinya kini mengalir ke pedang di tangannya. Di bawah redupnya malam, pedang panjang tersebut bersinar dengan terang. Fluktuasi cahaya ungu yang terbentuk dari energi spiritual terus memancar keluar dari pedang tersebut.
Jurus Tebasan Meteor!
Teriak Qiu Long sambil mengangkat pedangnya dan bergerak ke arah para Pendekar Paviliun pendosa.
"Zraak"
"Zraak"
"Zraak"
Aura pedang dengan ganas terus berkobar dan bergerak seperti titisan hujan. Setiap langkahnya terdapat tubuh orang-orang Paviliun pendosa terbelah, setiap tebasan ada cahaya ungu yang membelah tubuh mereka menjadi dua bagian.
Puluhan orang mulai meraung dengan keras, teriakan demi teriakan mulai terdengar dalam suasana yang panik. Pemuda yang tadi berkata arogan ikut roboh dalam gerakan kilat Qiu Long.
Qiu Long yang sekarang berbeda dengan dirinya yang lima tahun lalu, setelah ia bangkit dari kejatuhannya waktu itu kini ia berada pada kondisi terbaiknya. Saat itu Qiu Long baru saja memasuki ranah Pendekar Dewa Surgawi, kini pondasi kekuatannya semakin stabil setelah ia mengalami kehidupan di dua alam.
Di sisi lain, beberapa orang yang berhasil keluar dari reruntuhan bangunan terus diserang dan dibantai habis oleh Xiao Jian, Yong Rui dan Wei Sheng tanpa ampun.
Ketiganya menyerang secara membabi buta membawa dendam kematian Li Jinguo dan Li Junjie. Sementara tidak jauh di sebelahnya, tampak Zi Hao sedang menyalakan api untuk membakar bangunan yang tersisa. Sudah tak terhitung jasad yang semula tergeletak di tanah kini berubah menjadi tulang belulang yang terus digerus oleh panasnya api.
Langit Kota Shandian mencekam, udara yang semula dingin kini berubah menjadi hangat. Di atas udara, tubuh Qiu Long tampak sangat tenang namun ada kilatan dingin di matanya.
Setelah memastikan ketiga rekannya keluar dari lingkaran Paviliun pendosa, Qiu Long mengangkat tangan kanannya lalu menjentikkan jarinya.
"Booom!"
Suara seperti ledakan bom keras terdengar di udara, beberapa pasang mata yang menyaksikan kejadian tersebut terbelalak kaget melihat dampak kerusakan besar yang ditimbulkan.
Seluruh areal Paviliun pendosa menjadi hancur berkeping-keping dan rata dengan tanah. Api yang semula membakar bangunan tersebut, kini bertambah besar dalam sekejap.
Melihat keadaan ini, warga sekitar yang semula menonton, sontak mundur teratur satu persatu menghindari dampak ledakan yang ditimbulkan. Mereka khawatir akan ada ledakan energi lagi yang akan meluluh lantahkan tempat di sekitar mereka.
Sementara di luar Paviliun pendosa, tampak Xiao Jian dan dua rekannya memandang penuh takjub ke arah Qiu Long.
"Kekuatan Tingkat Dewa memang sangat mengerikan, hanya dengan satu jentikan jari, Ketua bisa menghancurkan tempat ini dengan mudah" ucap Xiao Jian dengan serius.
Sementara Zi Hao dan Wei Sheng mengangguk setuju, perbedaan Tingkat Puncak dengan Tingkat Dewa memang berbeda sangat jauh.