
Di Sekte Pedang Bintang, kabar tentang kepergian Long Guan telah menyebar. Tak ada yang mengetahui alasan pasti mengapa Long Guan harus meninggalkan Sekte. Di Aula Misi hanya terdapat tanda bahwa sebuah misi tingkat satu sudah terkonfirmasi diambil.
Sebelumnya, Sekte telah menetapkan pemusnahan keluarga Wang sebagai misi nomor satu. Namun, para murid yang curiga mulai menduga bahwa kepergian Long Guan terkait dengan hal ini. Sebagian lain tidak yakin karena tingkat kultivasi Long Guan yang masih sangat rendah. Selama beberapa bulan setelah kejadian, belum ada yang berani mengambil misi tersebut.
Misi tingkat satu biasanya hanya diterima oleh Tetua Sekte. Selain memiliki hadiah besar, tetapi juga memiliki risiko yang sangat besar.
Di Bukit Keenam hari ini, Yu Nuan tampak murung. Wajah cantiknya seperti tertutupi kabut gelap yang akan menantikan hujan. Yu Nuwa memperhatikan kakaknya. Ia tahu bahwa perasaan kakaknya terlalu dalam. Ia menyadari bahwa dirinya juga mengagumi sosok Long Guan, tetapi ia tidak seperti kakaknya yang terlalu larut dalam perasaan.
"Kak, belum sehari ia pergi tapi kamu seperti kehilangan suami saja," ucap Yu Nuwa menghampiri kakaknya. Yu Nuan masih diam, matanya melirik adiknya yang baru saja datang.
Yu Nuwa berkata lagi, "Ingat Kak, kita harus bisa menjalankan kepercayaannya. Dengan bersikap seperti ini, kamu hanya akan membuatnya kecewa."
Ucapan dari Yu Nuwa segera membuat Yu Nuan tersadar. Lalu, ia menghempaskan sebuah ranting ke tanah. Di bawahnya nampak beberapa helai daun berserakan, ia baru menyadari jika ia sudah melamun cukup lama.
"Kamu benar, aku tidak boleh mengecewakan dirinya," ucap Yu Nuan lalu bangkit. Matanya yang semula sayu, kini mulai ceria kembali. Wanita ini sangat cantik, banyak rumor yang mengatakan bahwa ia adalah kekasih Long Guan.
Di Rumah Makan, "Tuan Muda Wang, sekali lagi aku mohon maaf. Aku tidak bisa mengusir tamu itu," ucap pemilik rumah makan tak berdaya.
"Hai Pak Tua! Apakah kamu ingin aku menghancurkan tempatmu ini?" kata Wang Miao penuh ancaman. Tangannya mengangkat ke udara, nampak beberapa pengawalnya mulai berdatangan.
Long Guan yang sedang duduk dekat jendela merasa tidak nyaman. Ucapan wanita muda tersebut sungguh tidak sopan. "Apakah memang seperti ini didikan keluarga Wang?" tanyanya dalam hati.
"Tuan Muda Wang, tolong maafkan kami. Kami hanyalah orang kecil," ucap wanita yang memakai baju pelayan tersebut.
"Hahaha... Kamu terlihat cukup cantik, jadilah wanitaku malam ini. Mungkin aku akan berubah pikiran," kata Wang Shu sambil menatap wanita tersebut penuh nafsu.
"Maaf, Tuan Muda, tolong jaga bicaramu," ucap wanita tersebut dengan nada mulai meninggi.
"Huh, kamu jangan jual mahal! Wanita rendahan seperti seharusnya senang bisa kusentuh," ucap Wang Shu.
"Sebaiknya kamu lekas minta maaf, jika tidak, menyesalpun kamu tidak akan bisa," kata Long Guan yang kini mulai memandang keduanya dengan dingin.
"Hahaha dasar orang bodoh!" tawanya renyah.
"Nona, apa hubunganmu dengan Wang Xuemien?" tanya Long Guan dengan tatapan yang tajam.
"Kamu memang orang bodoh."
"Bahkan keledai pun tahu bahwa kami adalah anak dari Wang Yushan, Wakil Penguasa Kota Dengfeng."
"Hai bedebah! Cepat kamu menyingkir sebelum mayatmu tak memiliki kuburan," ucap Wang Shu yang semakin sombong. Dengan identitas ayahnya, ia merasa akan mudah mengintimidasi Long Guan.
"Hmm, baguslah jika kalian mengaku. Setidaknya akan memudahkan aku untuk menyelesaikan misi dengan cepat," ujar Long Guan dengan senyuman mematikan.
"Apakah kamu dari Sekte Pedang Bintang?" tanya Wang Shu mulai serius.
"Menurutmu?" ucap Long Guan dengan santai.
Lalu, bayangan dirinya sudah berada di depan putra-putri Wang Yushan.
"Boom."
"Boom."
Dua tubuh berubah menjadi kabut darah. Semua yang hadir membisu seketika. Apalagi para pengawal keluarga Wang, mereka belum sempat bergerak namun tuan muda yang mereka jaga meninggal di depan mata mereka.
Mereka mundur perlahan, tidak mengira pemuda yang dianggap biasa saja sanggup melakukan pembunuhan keji. Dua tuan muda keluarga Wang berada pada tahap Semesta Ketiga dan Keempat, namun mereka tewas tanpa bisa berucap.
Sementara pemilik rumah makan menjadi syok, melihat pemandangan tuan muda keluarga Wang meninggal di tempatnya adalah situasi yang sangat sulit. Gadis yang memakai baju pelayan juga sangat terkejut. Untung saja ia dan kakeknya tidak menyinggung pria yang berada di depannya itu.
Saat ini, Long Guan tampak duduk seperti semula. Gerakannya tadi sangat cepat, tak ada yang bisa melihat gerakan Long Guan.
"Apa ada pertanyaan?" suara Long Guan terdengar dingin, seperti malaikat maut yang siap memanggil calon korbannya.
Sementara para pengawal keluarga Wang memilih untuk bersembunyi. Satu orang lainnya berlari keluar dari rumah makan. Kekuatan seperti Long Guan bukanlah sesuatu yang bisa mereka lawan. Long Guan membiarkan seorang pengawal itu berlari. Long Guan berpikiran lebih baik musuh yang mencari dirinya, ketimbang ia yang mencari mereka, tentu akan menghabiskan energi.
"Terima kasih atas pertolongan, Tuan Pendekar," ucap lelaki tua tersebut.
"Perkenalkan aku adalah Lin Jiuquan, dan ini adalah cucuku yang bernama Lin Mei. Salam Tuan Pendekar," ucap Lin Mei dengan sopan.
"Ini hanya hal sederhana, jadi tidak perlu segan," ucap Long Guan tenang.
"Tuan Pendekar, maafkan aku. Sebaiknya kita makan di kediamanku saja. Kebetulan jaraknya tidak jauh," ucap Lin Jiuquan.
Long Guan melangkahkan kakinya dengan santai dan mengikuti lelaki tua pemilik rumah makan tersebut. Jarak dari rumah makan ke tempat tinggalnya tidak terlalu jauh. Sementara wanita muda yang bernama Lin Mei berada di samping Long Guan, wajahnya cukup bersemangat. Setelah kematian kedua orang tuanya, Lin Mei hidup bersama kakeknya dan membuka rumah makan sebagai usaha utama.
Tidak lama setelah kepergian Long Guan, tiga orang tetua dan beberapa pendekar ahli tiba di rumah makan. Setelah mendengarkan penjelasan dari salah satu pengawal keluarga Wang, mereka segera menyusul ke tempat tinggal Lin Jiuquan.
Long Guan tiba di sebuah rumah tinggal yang tidak terlalu besar namun terlihat bersih dan terawat. Suasananya cukup nyaman dengan beberapa pohon plum di sekitar bangunan dan taman yang dihiasi oleh kolam yang tampak indah.
"Trek", terdengar suara pintu dibuka. "Mari, silakan masuk," ucap Lin Jiuquan menawarkan Long Guan untuk masuk ke dalam rumahnya yang nampak bersih itu. Lin Mei segera menuju dapur untuk menyiapkan makanan bagi tamu istimewa tersebut.
"Tuan pendekar, mohon maaf jika saya lancang. Apakah benar tuan pendekar berasal dari Sekte Pedang Bintang?" tanya Lin Jiuquan dengan hati-hati.
Long Guan mengangguk pelan, lalu berkata, "Aku hanyalah murid biasa di Sekte Pedang Bintang."