
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa sudah tiga bulan berlalu. Di Sekte Pedang Bintang Yu Nuan sering kali dibuat pusing, kedatangan Fang Yin akhir-akhir ini membuatnya jengkel. Setiap beberapa hari dirinya datang ke Bukit Keenam mencari Long Guan. Padahal sudah berulang kali diberi tahu jika Long Guan tengah menjalankan misi.
Di sisi lain, Yu Nuan sedikit merasa senang dengan keberadaan Lin Mei. Kehadirannya sangat membantu Yu Nuan dalam membuat Pil.
Di ruang aula Sekte, tampak Patriark Chan Fan tengah berdiskusi dengan dua orang Penatua Agung serta dua orang tetua lainnya. Tentu saja mereka sedang membicarakan Long Guan. Setelah aksinya menghabisi Keluarga Wang, kini Sekte harus memikirkan kemarahan dari salah seorang Tetua Sekte Puncak Abadi. Secara logika ia takkan berani menyerang Sekte, namun yang dipikirkan adalah keselamatan Long Guan yang kini masih berada di luar Sekte.
Di tempat yang berbeda, di dalam sebuah Gua Long Guan masih serius berkultivasi. Auranya begitu kuat dan tenang, kini hampir selesai ia menyerap Mustika Naga yang ketiga. Dorongan energi hebat dalam tubuh Long Guan mulai bergerak cepat.
Ini adalah dorongan yang ketiga, jika ia berhasil menerobos maka ini akan menjadi terobosannya yang ketiga. Long Guan kembali mengatur napasnya, tampak ia sudah berada pada tahap yang menentukan dalam berkultivasi.
"Booom"
Ledakan teredam kembali terdengar dalam tubuhnya, ia mengurai senyum bahagia.
"Akhirnya selesai juga" gumam Long Guan sambil menghela napas.
Setelah melewati proses yang cukup lama akhirnya ia berhasil menerobos tiga kali dalam masa kultivasinya kali ini. Kekuatannya kini sudah berada pada ranah Semesta Kedelapan.
Pencapaian yang sangat besar, dalam usianya yang masih sangat muda. Sudah enam bulan ia berada di Alam Spiritual, enam tingkat kekuatan sudah dia raih. Perlu diketahui bahwa semakin tinggi ranah tingkat kultivasi seseorang maka semakin lambat pula kenaikan kultivasinya. Tetapi itu tidak berarti pada Long Guan, dengan tubuh tulang Kaisar Naga justru setiap ia naik ranah maka ia merasakan regenerasi sel tubuhnya.
Tatapan Long Guan kini jatuh pada sebilah pedang yang berada di sampingnya, sebagai pendekar pedang kini ia merasakan pedang sebagai tangannya yang ketiga. Tentunya akan ia gunakan untuk membunuh lawan-lawannya di medan pertempuran.
"Pedang ini akan ku namakan Pedang Jiwa" ucap Long Guan. Hari ini ia berencana akan menyudahi kultivasinya, Mustika Naga sudah berhasil ia serap secara sempurna ke dalam tubuhnya. Selain kekuatannya bertambah, ia juga dapat mengedarkan indera spiritual lebih jauh dan lebih tajam.
"Tampaknya aku harus segera ke Ibukota untuk bertemu dengan keluarga guru" ucapnya pelan.
Lalu ia melangkah menuju luar Gua, ia merasakan tak ada gangguan berarti selama ia berkultivasi.Dengan menggenggam Pedang Jiwa, ia berjalan keluar Gua. Dari Luar Gua Long Guan membungkukkan badannya tiga kali, ia berkata, "Terimakasih Senior Dun Ming, kelak aku tidak akan mengecewakanmu".
Setelah menarik napas beberapa kali Long Guan melompat ke arah barat laut, ia menemukan sebuah ngarai yang dialiri sungai.
"Sepertinya sudah lama sekali aku tak mandi" gumamnya dalam hati. Ia lalu mendekati sungai yang sangat jernih airnya, lalu menceburkan diri ke dalam sungai tersebut. Ia berperilaku seperti pemuda pada umumnya, bermain air sambil menikmati udara pegunungan Song yang sejuk.
"Huh! nyaman sekali. Aku seperti merasakan hidup" ucap Long Guan.
Tak terasa hampir siang saat ia menyudahi aktivitasnya tersebut. Setelah rapi, Long Guan mendudukkan dirinya di sebuah batu besar, ia membuka Cincin penyimpanan Dun Ming, isinya banyak tumpukan batu energi dan emas serta beberapa catatan bela diri teknik pedang. Long Guan menemukan sebuah gulungan yang menuliskan tentang pengetahuan Teknik Penyerap Jiwa, teknik ini menyerap aura dari kultivator atau sumber lainnya untuk diubah menjadi energi Qi sehingga bisa diserap oleh Long Guan.
Setelah membacanya Long Guan mencabut Pedang Jiwa dan mempraktekkannya, setelah dua kali mencoba ia langsung bisa. "Benar-benar teknik yang mengerikan" gumamnya dalam hati. Setelah memeriksa peta dan arah mata angin, Long Guan segera melanjutkan perjalanannya ke Ibukota Zhenxun.
Long Guan melompat dan berlari dengan cepat meninggalkan kawasan Puncak Janji, kekuatan Semesta Kedelapan memang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Beberapa kali ia menggunakan jurus seribu bayangan dan jurus Jari Api untuk mencobanya. Kekuatan Api Abadi dalam tubuhnya juga semakin berkembang. Menurutnya jurus Jari Api akan melukai seorang kultivator ranah Surgawi dengan serius. Walaupun belum bisa membunuhnya, setidaknya melukai dalam sekali serangan adalah sudah keuntungan besar bagi Long Guan.
Kini Long Guan sudah tiba di kawasan pemukiman, ia sengaja hendak mampir ke tempat Gong Fei. Namun setelah tiba di Desa Songshan, Long Guan mendapati kabar bahwa Gong Fei sudah kembali ke Sekte Pedang Bintang untuk berlatih kembali. Mendengar hal ini tentu saja Long Guan gembira, setelah mendengar tidak ada ancaman gangguan dari kelompok Bandit Kecoa Hitam, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Ibukota Zhenxun.
Saat ini Long Guan masih menyamarkan kekuatannya, ia berada pada ranah Semesta Kedua. Di Alam Spiritual, kekuatan Semesta Dua pada pemuda seperti Long Guan adalah wajar dan lumrah terdapat pada sebagian pendekar muda. Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari, ia tiba di sebuah kota kecil. Long Guan mencari penginapan dan ingin mencari beberapa informasi.
"Maaf tuan, apakah tuan ingin menginap" tanya seorang pelayan dengan ramah
"Satu koin emas tuan" jawab pelayan tersebut.
"Baiklah" jawab Long Guan sambil mengeluarkan dua koin emas.
"Sisanya untukmu"
"Terimakasih tuan" jawab pelayan tersebut dengan senang.
Pelayan tersebut lalu mengantarkan Long Guan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Tempat makan ada di lantai pertama, namun jika tuan ingin diantar bisa disampaikan kepada kami" ucap pelayan tersebut dengan sopan.
"Terimakasih Nona" jawab Long Guan sambil tersenyum.
Setelah mengantar Long Guan, pelayan tersebut kembali turun ke lantai pertama, di sana sudah ada dua orang lelaki yang menunggunya.
"Bagaimana?"
tanya salah seorang lelaki tersebut
"Dia hanya pendekar biasa, tampaknya ia keturunan bangsawan" jawab pelayan wanita tersebut.
"Baiklah jika begitu, seperti biasa kami akan beraksi esok pagi" ucap lelaki tersebut
Mendengar perkataan temannya, pelayan tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara di dalam kamar penginapan Long Guan hanya tersenyum kecut, ia sejak awal dapat merasakan tatapan yang tidak baik dari wanita pelayan tadi. Apalagi saat ia mengalirkan persepsi indera spiritualnya, ia dapat merasakan aura jahat yang tengah mengintainya.
Beberapa saat kemudian Long Guan hendak beristirahat, namun ia tidak sengaja mendengar suara teriakan dari jarak tertentu.
Tolong! Tolong!
Teriakan seorang wanita yang tidak jauh dari penginapan. Long Guan sedikit terkesiap, lalu mendekati arah sumber suara. Long Guan melihat seorang wanita muda yang engah dikepung oleh lima orang pendekar ahli. Di sekitar wanita tersebut tampak beberapa orang pengawal yang tewas dengan luka sabetan pedang. Namun Long Guan juga dapat merasakan aura yang sama dengan dua orang pendekar yang mengintainya di penginapan tadi.
"Tidak usah teriak nona, percuma saja kamu teriak. Di sini adalah wilayah kekuasaan kami" ucap salah seorang lelaki dengan nada penuh tekanan.
"Kalian mau apa?" tanya wanita tersebut sambil menahan ketakutan.
"Hahaha.. Kami hanya ingin membunuhmu, namun sebelum kami melakukannya aku akan mencicipi tubuhmu terlebih dahulu" ucap lelaki penjahat tersebut dengan pandangan mesum.
"Apa salahku?" tanya wanita itu
"Kamu adalah putri dari Patriark Hung, kami sengaja menculikmu untuk membalaskan dendam" ucap lelaki itu sedikit menaikkan nada suaranya.