Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Memasuki Tanah Terlarang


Banyak para murid merasa iri dengan dipilihnya para Diaken, melihat fasilitas yang diberikan oleh Sekte kepada para Diaken membuat para murid bertekad untuk menjadi yang terbaik di Sekte.


Selain tempat tinggal tersendiri, Diaken juga memiliki tunjangan sumberdaya yang sangat luar biasa, dalam hal ini Sekte benar-benar tidak pelit.


Tiga bulan terakhir ini, kesejahteraan murid sudah berkembang pesat, dalam waktu singkat Sekte Pedang Angin sudah berubah menjadi Sekte besar. “Aku harus bisa bisa seperti mereka” ucap pelan salah seorang murid senior sambil melangkah meninggalkan lapangan bela diri.


Long Guan mengadakan pertemuan dengan para Tetua dan Diaken yang baru saja terpilih, ada beberapa hal yang ingin disampaikannya secara pribadi, “Aku ucapkan selamat atas dilantiknya para murid menjadi Diaken, selamat bekerja dengan penuh tanggungjawab” ucap Long Guan memulai pertemuan di aula utama Sekte.


“Terimakasih Ketua Sekte” jawab para Diaken secara bersamaan.


Long Guan duduk dengan pandangan yang tenang, ia kemudian melanjutkan ucapannya,


“Para tetua, segala bentuk pengaturan yang sudah berjalan agar tetap dijalankan, target utama kita adalah berkembangnya kekuatan para murid. Oleh karena itu, gunakan sumberdaya serta pelatihan yang bersifat fokus menyeluruh untuk mewujudkan hal tersebut.


Selain adanya rumah lelang Pedang Emas, ku minta kepada tetua Guo Yang untuk membangun penginapan dan restoran di pusat Kota Awan, hal ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dari berbagai jenis kalangan. Rumah lelang, perpustakaan, penginapan serta bangunan vital lainnya akan dipegang oleh Diaken yang berada pada ranah Inti Qi tahap akhir.


Ke depannya harus meningkat berada pada ranah Alam Kelahiran Kembali, oleh sebab itu para Diaken agar terus mengembangkan potensinya.” Ucap Long Guan serius. Dalam hal kekuatan, Long Guan tidak main-main demi menjaga keselamatan diri serta melindungi aset Sekte.


Setelah melakukan pembahasan segala urusan di Sekte Pedang Angin, Long Guan segera beranjak pergi menuju pengasingan ke tanah terlarang yang memiliki akses masuk sekitar kediaman Ketua.


“Gege, kamu harus hati-hati ya, jangan memaksakan diri” ucap Jian Ling penuh rasa khawatir. “Terimakasih atas perhatian Ling’er, aku tahu akan batasanku” Jawab Long Guan dengan hangat.


Ia berjalan menuju kediamannya, menyiapkan lencana giok ungu untuk membuka ruang kultivasi rahasia Ketua Sekte. Dengan penuh keyakinan, Long Guan melangkah sambil memperhatikan tanda yang pernah ia tinggalkan di sebuah batu.


Setelah Long Guan menemukan tanda yang dimaksud, ia duduk bersila untuk menenangkan dirinya. Dalam kultivasi singkatnya, ia memejamkan mata dan menyerap energi Qi padat, meskipun tidak terlalu berpengaruh buatnya namun ia tetap memanfaatkan waktu dengan bijak.


Long Guan bertekad membersihkan hatinya dari keserakahan karena kekuasaan, ia khawatir dengan memburu kekuatan dapat menimbulkan sifat kesombongan.


Setelah hampir setengah hari ia membulatkan tekadnya tentang mempelajari seni bela diri untuk melindungi yang lemah, menjaga kedamaian dengan kekuatan. Ia mendapatkan pencerahan, menyingkirkan ego pribadi yang akan mengganggu jalan bela dirinya.


Selama di Hutan kabut Abadi, sebenarnya Long Guan mencoba memahami tentang kematian Ketua Sekte Pedang Angin sebelumnya, seolah ada rahasia tersembunyi yang membuatnya penasaran.


Setelah mendengar rahasia tanah terlarang dari para tetua, ia merasa yakin tentang analisanya. Long Guan mengeluarkan Pedang Angin dari cincin penyimpanannya, lalu menancapkan ke salah satu yang agak berbeda bentuk dan warnanya.


Suara gemuruh menggema melalui ruang kehampaan diikuti getaran yang membuat sekitar Long Guan menjadi berguncang, ada sebuah pintu dari batu yang bergeser dan terbuka, tanpa ragu-ragu Long Guan melangkah masuk mengikuti lorong.


Aura Qi yang sangat padat masih terasa menemani langkahnya. Long Guan menatap jauh ke depan, indra spiritualnya merasakan ada beberapa kekuatan formasi yang begitu kuat, butuh beberapa saat buat Long Guan untuk membuka formasi tersebut, meskipun formasi ini ada dalam catatan leluhur Long namun tingkat kesulitannya bukanlah hal yang sederhana untuk dipecahkan.


Formasi merupakan formasi ilusi tingkat tinggi, juka tidak hati-hati maka akan terpengaruh jiwanya dan bisa menyebabkan kerusakan jiwa yang sangat parah. Long Guan meyakini adanya kehidupan lain di dunia fana ini, ia semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada masa silam.


“Bam”


suara ledakan pelindung formasi hancur akibat inti formasinya ditekan oleh Long Guan, “Benar-benar luar biasa” seru Long Guan dengan wajah ngeri, sebelumnya ia tidak mengira aka nada formasi semacam ini.


Jika dipikir-pikir manusia yang berada pada ranah kultivasi Alam Kelahiran Kembali tentu tidak akan sanggup melewatinya. Long Guan menghela nafas, untungnya ia sudah mempelajari gulungan teknik formasi yang ditinggalkan oleh leluhurnya.


Dalam kengeriannya ia semakin penasaran dengan keberadaan kehidupan di alam lain, “selain leluhur Long tentu ada orang lain dari alam Dewa yang berhasil memasuki alam manusia ini” Long Guan sedikit mengerutkan kening, dan senyum datar muncul di wajahnya.


Ia mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi yang ia temukan. Long Guan mencoba menarik garis lurus untuk menyimpulkan beberapa kemungkinan, tetapi ia masih belum yakin sepenuhnya. Long Guan menggelengkan kepala dan kembali menghela nafas, hampir tidak bisa berkata-kata.


Di depannya kini terlihat sebuah ruangan besar, seperti gua di dalam tanah namun tampak bersih dan tertata dengan sekat ruang dari batu.


Sejenak Long Guan menguatkan kembali indera spiritualnya, sambil mengernyitkan matanya ia dapat merasakan ada kekuatan yang sangat besar di dekatnya.


Baru saja ia hendak menyadarinya, sesosok lelaki paruh baya berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. Ada ekspresi ketakutan di wajah Long Guan, namun ia berusaha untuk tenang menghadapi situasi seperti ini.


“Mohon maaf apabila junior ini lancang memasuki tempat tetua” ucap Long Guan dengan hormat.


Lelaki tersebut masih memandang Long Guan dengan cukup serius, setelah beberapa lama memperhatikan Long Guan ia berkata


"Hmm, darah naga. Tak kusangka aku bisa menyaksikan kehadiran legenda penentang langit. Hahahaha…” lelaki muda itu berkata kembali “Siapakah namamu dan dari mana asalmu?” tanya lelaki muda tersebut.


“Perkenalkan aku adalah Long Guan, berasal dari Sekte Pedang Angin” jawab Long Guan memperkenalkan diri.


Pria tersebut tertegun sejenak, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sepengetahuannya, saat ia datang ke dunia fana pasukan iblis yang dipimpin oleh Azazil telah dikurung oleh salah satu pembantu Dewa Pelindung Qiu Long yaitu Long Tian.


“Sepertinya masa kekacauan akan kembali datang. Andai saja Dewa Pelindung ada, tentu kehidupan alam dunia dan alam spiritual akan baik-baik saja” ucap lelaki muda tersebut sambil menghela nafas.


Ia memerhatikan Long Guan secara seksama, sebagai seseorang yang memiliki kemampuan tinggi ia bisa merasakan adanya hal yang berbeda pada Long Guan. “Hai anak muda, apakah kamu memiliki hubungan dengan Long Tian?” ucap lelaki paruh baya tersebut.


Mendengar pertanyaan dari orang di depannya, Long Guan menjadi agak hati-hati.


“Kamu tidak usah khawatir, aku bukanlah orang jahat. Aku bernama Hung Fei pendiri Sekte Pedang Angin di dunia fana ini” ucapnya dengan tenang.


Long Guan menjadi terkejut mendengar nama pria paruh baya di depannya, sebelumnya nama Hung Fei pernah diceritakan oleh tetua Xie Rong. Sebelumnya ia menduga jika sosok Hung Fei adalah orang yang sudah tua, namun melihat tampilan Hung Fei masih belum berusia empat puluh tahun.


“Hormat pada senior, hamba Long Guan Ketua Sekte Pedang Angin saat ini” ungkap Long Guan sambil membungkukkan badan.


“Hmm..sangat menarik. Bisakah kau tunjukkan lencana giok ungu padaku” pinta lelaki paruh baya yang bernama Hung Fei tersebut.


Long Guan mengeluarkan lencana giok ungu dari dalam saku pakaiannya, dengan hormat ia berikan kepada Hung Fei. Hung Fei menerimanya, ia memegangnya dengan suasana yang penuh haru, sejenak ia teringat akan masa lalunya saat berada di Sekte Pedang Bintang di Alam Spiritual. “Ya, aku yakin kamu adalah penerusku di Sekte Pedang Angin.


Namun aku merasakan kekuatanmu berada jauh dari manusia di alam ini. Apakah kau bisa sedikit bercerita?” tanya Hung Fei sedikit penasaran dengan suasana yang mulai tenang.


Long Guan mulai bercerita tentang jati dirinya, lalu berkata.


“Long Tian adalah leluhurku, saat ini keturunan Long berkembang cukup pesat di Kota Awan ini. Aku merupakan generasi muda dari Klan Long yang kebetulan secara tidak sengaja menerima warisan dari leluhur Long.


Mengenai Sekte Pedang Angin aku secara kebetulan memiliki istri dari salah satu murid di Sekte, dalam suatu kejadian saat ada serangan dari Jenderal Iblis Xiake, aku dan kekasihku saat itu terjebak di dekat pintu masuk area terlarang ini, di sana aku bertemu dengan mendiang Ketua Sekte Pedang Angin dan mendapatkan warisannya.


Hingga keberuntungan tersebut mengantarkan ku menjadi Ketua Sekte Pedang Angin saat ini” ungkap Long Guan.


“Hmmm.. cukup menarik, kamu adalah anak yang memiliki keberuntungan langit. Namun jalanmu di masa depan tentu akan sangat sulit, tetapi jika sudah takdir maka kamu akan bisa melewatinya dengan baik” ujar Hung Fei dengan tatapan yang sedikit tertegun.


Mohon izin senior, dapatkah senior bercerita tentang beberapa pengetahuan yang tentang alam spiritual?” pinta Long Guan dengan penuh pengharapan. Ia merasa bertanya pada orang yang tepat, oleh karena itu ia ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin.


“Anak muda, kamu benar-benar kehendak langit, hahahaha” Hung Fei tertawa tak tertahan melihat ekspresi long Guan, lalu ia mulai bercerita.


“Alam Spiritual adalah tempat dimana aku tinggal sebelumnya, sifatku sama sepertimu yang penuh dengan keingintahuan, hingga suatu hari aku mempelajari hukum ruang dan waktu yang merupakan pengetahuan sangat terbatas.


Sebagai murid senior di Sekte Pedang Bintang posisiku berubah menjadi salah satu tetua termuda kala itu, karena usiaku juga belum empat puluh tahun, aku adalah jenius yang di gadang-gadang menjadikan Sekte Pedang Bintang menuju kejayaan. Namun aku sangat penasaran dengan dunia lain yang ada selain Alam Spiritual, yaitu alam bawah atau alam fana ini yang merupakan kekuatan terlemah, sedangkan alam surgawi berada di atas alam spiritual.


Dengan pemahamanku tentang hukum ruang dan waktu yang belum sempurna aku mencoba menerobos ke alam surgawi, namun aku masih terlalu lemah hingga tersedot dan terbuang ke alam fana ini” ucap Hung Fei dengan mata yang berkaca-kaca.


Hung Fei Nampak sedih mengingat kecerobohannya yang menganggap dirinya sudah hebat.


“Bagaimana hubungan dengan leluhurku?” tanya Long Guan yang masih agak bingung.


Setelah diam sejenak, Hung Fei menjawab pertanyaan Long Guan.


“Long Tian kakek buyutmu adalah salah satu murid sekaligus komandan pasukan pelindung di istana Dewa Pelindung. Qiu Long menciptakan ruang spasial waktu untuk membentuk pasukan khusus bernama Pasukan Gerbang Naga.


Letak keberadaannya aku sendiri tidak tahu, alam Dewa Pelindung memiliki ruang tersendiri yang memiliki akses ke tiga Alam kehidupan.


Terdengar kabar jika Qiu Long mengalami kecelakaan ketika terjadi pertempuran dengan petinggi Pasukan Gerbang Naga lainnya, ada Sembilan Dewa Pelindung dari Klan Naga, salah satunya yang terkuat adalah Qiu Long. Aku mendengar berita tersebut dari Patriark Sekte Pedang Bintang, namun informasi ini sangat terbatas.


Dewa Qiu Long dijebak oleh saudara-saudaranya yang khawatir ia akan menjadi Dewa Penguasa, terjadi pertarungan yang sangat sengit, namun melawan konspirasi dari saudaranya sesama Klan Naga membuatnya terjatuh.


Namun sebelum kepergiannya ia membagi jiwanya ke dalam tujuh buah Mustika Naga. Ketujuh buah Mustika tersebut terpencar ke beberapa alam kehidupan, namun hanya keturunan yang mengandung darah murninya yang bisa mengaktifkan Mustika tersebut.


Dahulu hal tersebut dianggap mitos, namun saat aku berada di sini hal tersebut adalah benar” ungkap Hung Fei penuh semangat.


Pada saat ini Hung Fei tanpa sungkan kemudian menceritakan hal-hal lain tentang pengetahuan kehidupan di Alam Spiritual dan menganggap Long Guan sebagai teman bicara yang menyenangkan. Mereka berdua bertukar cerita tentang hal-hal yang terjadi di kehidupan masing-masing.