Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Kabar Gembira


Long Guan dapat merasakan aura peningkatan dari para muridnya, ia tersenyum kecil lalu melanjutkan membaca beberapa gulungan yang ada di dalam cincin penyimpanannya.


Long Guan kini secara mantap sudah menguasai teknik-teknik array tingkat Dewa yang ia dapatkan dari leluhur Long, hanya dengan ia meningkatkan kekuatannya maka dengan sendirinya kemampuannya dalam menciptakan formasi akan lebih baik.


Saat ini Long Guan sedikit pusing membaca gulungan teknik tentang teleportasi, berulang kali ia pelajari masih tampak kesulitan baginya untuk menciptakan lubang teleportasi, butuh kekuatan serta pemahaman hukum ruang dan waktu yang memang belum ia kuasai.


Long Guan tampak menyerah, lalu ia kembali menenangkan dirinya sambil berkultivasi menyerap Qi dengan tenang. Sejak ia memiliki dua sumber energi dalam tubuhnya, kebutuhan energi Qi seperti dahaga yang tak terselesaikan.


“Tampaknya aku harus segera menguak tabir tanah terlarang Sekte Pedang Angin, hampir dua bulan ini aku mengabaikannya” batin Long Guan sambil berdecak pasrah.


Ia lalu melanjutkan kultivasinya dengan khusyu hingga pagi menjelang. Para murid yang sudah tidak sabar menunggu pagi, tetap duduk dengan tenang sambil berkultivasi memejamkan mata.


Saat hari telah pagi, dengan semangat para murid yang berjumlah Sembilan orang tersebut bangkit dan membersihkan diri dari sisa-sisa keringat dan kotoran tubuh akibat terobosan semalam. Setelah mereka membersihkan tubuh, mereka menyapa satu sama lain sambil menceritakan pengalaman penerobosan semalam, Zhu bersaudara tampak sangat gembira, ia tidak menyangka di bawah bimbingan Long Guan yang sekaligus saudara serta Ketua Sekte, mereka dapat menjadi jenius sebenarnya.


Masih ada satu bulan lagi untuk berlatih, mereka tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Para murid kemudian berkumpul sambil menunggu arahan dari Ketua Sekte yang sangat mereka kagumi.


Long Guan keluar dari gubuknya dan menyaksikan para muridnya sudah berkumpul di halaman


“Maaf telah membuat kalian menunggu, dan aku ucapkan selamat atas penerobosan kalian” ucap Long Guan sambil tersenyum cerah.


“Terimakasih Ketua, semua ini berkat Ketua” jawab mereka dengan semangat.


Long Guan kemudian berkata.


"Hari ini latihan fisik kalian berakhir. Dalam sepuluh hari pertama aku akan mengajarkan kepada kalian tiga teknik beladiri pedang, yakni pedang rembulan, pedang kilat serta teknik pedang tebasan meteor. Ketiga jurus ini adalah termasuk ke dalam jurus kebanggan sekte Pedang Angin, selain tetua sekte, hanya para murid inti seperti kalian yang boleh mempelajarinya" ucap Long Guan dengan sungguh-sungguh.


“Seperti apa yang ku ucapkan kemarin, hari ini kalian akan mulai berlatih teknik, selama sepuluh hari pertama kalian akan belajar teknik pedang.


Kalian akan dibagi menjadi tiga kelompok masing-masing terdiri dari tiga orang. Masing-masing kelompok akan kuajari teknik yang berbeda, dimana setiap kelompok akan menguasai jurus tiga hari.


Setelah tiga hari berikutnya setiap kelompok akan bergantian belajar teknik dari kelompok lainnya. Hingga di hari ke sepuluh kalian masing sudah bisa menguasai tiga teknik.” ungkap Long Guan menyampaikan metode pelatihannya kepada mereka.


Lalu para murid langsung membentuk tiga kelompok dan memisahkan diri dengan masing-masing sudah memegang pedang. Long Guan menuju ke salah satu kelompok yang terdiri dari Yu Fei, Yun Shen, dan Zu Aiguo.


“Kalian berkonsentrasi lah, teknik yang kuajarkan bernama Jurus Pedang Kilat, terdapat dua puluh empat langkah dengan kombinasi penguncian dan pembantaian” ucap Long Guan menatap mereka dengan serius.


Long Guan mengambil kuda-kuda lalu memperagakan setiap gerakan dari Jurus Pedang Kilat. Aliran Qi dari tubuh ke Pedang sangat menentukan kekuatan dan kecepatan setiap tebasan. Tidak hanya kuat, teknik ini juga menggunakan kecepatan yang tinggi.


"Dhhuuaarr"


Sebuah buah batu besar yang biasa mereka gunakan untuk berlatih menjadi hancur akibat terkena tebasan pedang tersebut.


“Sungguh jurus yang mematikan” ucap Yu Fei dengan spontan.


Setelah dilihat mereka cukup memahami, Long Guan mengangguk dan berjalan ke arah kelompok kedua untuk mengajarkan teknik Pedang Rembulan.


Kelompok kedua terdiri dari tiga orang murid yaitu Zu Guang, Gu Chen, dan Mei Shin. Sama seperti kelompok pertama, Long Guan mengajarkan dengan sangat serius jurus pedang rembulan yang memiliki tiga puluh enam langkah.


Teknik ini sebetulnya bersifat memperdaya lawan hinga kehabisan tenaga akibat teknik penguncian, teknik menyerang organ-organ vital musuh. Tampak gemulai, namun setiap tebasannya mengandung kekuatan yang sama dengan jurus pedang kilat.


Long Guan mengajarkan dengan sangat detail dalam setiap langkahnya membuat para murid tidak mengalami kesulitan. Hari mulai siang saat Long Guan mengajarkan teknik Tebasan Meteor kepada kelompok ketiga yang terdiri dari Liu Tang, Fang Yin dan Liu Bing.


Kelompok ketiga ini tidak jauh berbeda dengan dua kelompok sebelumnya, sangat tanggap dan memiliki daya serap yang tinggi terhadap pemahaman yang diberikan Long Guan. Hal ini membuat Long Guan puas menatap kemampuan para murid-muridnya.


Hingga sore hari mereka serius berlatih, long Guan memperhatikan mereka dengan bergantian di tiap-tiap kelompok, kecepatan para murid sangat berbeda dari sebelum mereka tiba di tempat ini. Latihan fisik yang diberikan selama dua bulan ini sangat membantu para murid dalam mencapai kemajuan seni beladiri.


****


Sementara di kediaman Ketua Sekte,


Jian Ling mendadak mengalami tidak enak badan, ia muntah-muntah dan mual sepanjang pagi ini. Setelah ia diperiksa oleh tetua Yang Guifei, barulah ia tenang dan senang mendengar hasil pemeriksaan, Jian Ling kini tengah hamil.


Jian Ling mengingat kembali sudah dua kali ia tidak kedatangan tamu rutinnya sebagai wanita, dengan wajah senang ia mengelus perutnya yang kini berisi benih cintanya bersama Long Guan. Kabar kehamilan Jian Ling juga diketahui oleh tetua Jian yang sekaligus ayah kandungnya.


“Selamat ya Ling’er, ayah ikut senang mendengarnya” ucap tetua Jian yang mulanya sedikit khawatir dengan kondisi putrinya.


“Terimakasih Ayah, Ling’er juga senang atas kehamilan ini” ujar Jian Ling dengan wajah yang bahagia.


“Mulai kini kamu jangan berlatih keras, cukup kamu membantu bibi Yang Guifei saja. Peranmu di Paviliun obat sangat penting dalam menghasilkan pil-pil tingkat tiga” ucap tetua Jian yang sangat menyayangi putrinya tersebut.


“Aku justru selalu mengkhawatirkan ayah, semenjak aku menikah tak ada lagi yang membantu mengurus ayah” ucap Jian Ling dengan senyum, namun matanya sambil melirik tetua Yang Guifei. Menyadari maksud putrinya, tetua Jian hanya bisa tersenyum kecut.


Walau bagaimanapun ia memang memiliki perasaan kepada tetua Yang, namun ia masih belum berani untuk menyatakannya secara langsung. Yang Guifei juga merasa hangat dengan kebersamaan ini, sepintas ia juga memperhatikan tetua Jian yang masih gagah dalam usianya yang masih berkepala empat.


“Bibi Yang, sering-sering tengok ayah, ia lelaki yang baik selain ibuku hanya bibi yang membuat bertahan sendiri” ucap Jian Ling sambil menyentuh punggung tangan tetua Yang Guifei dan menyatukan dengan tangan ayahnya.


Mereka hanya diam, namun Jian Ling tahu perasaan mereka masing-masing.


“Sebagai anak, aku ingin melihat kalian berbahagia, aku menyadari bahwa kalian juga berhak berbahagia” lalu ia memeluk ayahnya dan tetua Yang Guifei seperti keluarga.


Jian Ling sudah menganggap tetua Yang Guifei seperti ibunya sendiri, tetua Yang Guifei juga sudah tulus membantu membesarkan dan merawat Jian Ling sejak kecil, bahkan kemampuan Jian Ling dalam hal obat-obatan juga tidak lepas dari bimbingan tetua Yang Guifei sedari ia kecil.


Sementara tetua Jian sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi atas kejadian ini, namun ia bahagia bisa berkumpul seperti ini, ia memandang tetua Yang Guifei dengan wajahnya yang memerah, ini adalah kali pertama bagi mereka untuk sedekat ini.