
Ribuan murid Sekte Pedang Bintang menjadi heboh kembali, terutama murud-murid Bukit Keenam.
Serangan dari Keluarga Wang beberapa saat lalu membuat seisi Sekte gempar. Mereka hanya mengetahui serangan tersebut berhasil ditangani oleh dua orang Penatua Agung.
Dengan segera informasi mengalir begitu deras ke setiap murid, baik dari giok penyampai pesan maupun dari mulut ke mulut.
Berita tentang Long Guan lagi-lagi lolos, Ketua Sekte menutup rapat-rapat semua peristiwa terkait Long Guan. Adapun selanjutnya, Ketua Sekte menurunkan perintah untuk memburu keluarga Wang.
Keluarga Wang harus dimusnahkan!
berita ini juga langsung terpampang di aula misi sebagai misi tingkat 1.
Sebelumnya Sekte Pedang Bintang tidak pernah semarah ini, adanya serangan terbuka dari Patriark dan Penatua keluarga Wang tentu saja merupakan pelangaran yang sangat serius.
Setelah semuanya membaik, Yu Nuan menatap Long Guan. Ia sedikit bingung kenapa Long Guan bisa selamat atas bencana pertempuran hebat yang terjadi di Aula Sekte.
“Saudara Guan, apakah kamu melihat secara langsung pertandingan di Aula Sekte?” tanya Yu Nuan mencoba mencari tahu.
“Aku hanya menyaksikan dari jauh saja, bahkan aku lari sembunyi” ucap Long Guan seperti orang bodoh. Ekspresinya menunjukan ia tidak terlibat pada peristiwa tersebut.
“Baguslah jika seperti itu, sebab jika kamu di sana pasti kamu akan mati mengenaskan” ucap Yu Nuwa yang mencoba menimpali.
“Iya kamu benar, jika itu terjadi nanti kakakmu yang paling bersedih”
ucap Long Guan sambil menggoda Yu Nuan.
Sementara Yu Nuan sedikit memerah, lesung pipinya sedikit mengembang. Menurut Yu Nuan apa yang baru diucapkan oleh Long Guan masih masuk akal, ia tak mau mempermasalahkan lagi.
Hari ini sebaiknya kita melanjutkan membuat Pil, ucap Long guan mencairkan suasana.
“Baik, ayo kita kerjakan” sambut Yu Nuwa yang cukup bersemangat.
Waktu pun berlalu dengan cepat, tak terasa sudah tiga bulan Long Guan berada di dalam Alam Spiritual.
Hari ini ia berencana menuju aula misi, ia berencana mau mengambil misi. Sebagai murid ia belum pernah mengambil misi, apalagi kekuatannya yang kini sudah di Semesta Kelima.
Ia sudah bisa disejajarkan dengan murid inti lainnya atau Diaken. Keberadaan Long Guan di Bukit Keenam banyak dikenal orang. Dalam beberapa bulan terakhir ia sengaja memfokuskan diri untuk membuat Pil-pil bersama dengan Yu Nuan dan Yu Nuwa.
Sementara ratusan murid-murid lainnya tetap ia bina dengan pemahaman alkemis yang lebih baik dari Tetua Wang sebelumnya. Hal ini tentu saja membuat Long Guan semakin dikagumi oleh para murid di Bukit Keenam.
Adapun murid-murid di Bukit Kelima sangat mendewakan Long Guan, 320 orang murid yang ia latih pertama kali kini sudah berada pada ranah Semesta Ketiga.
Kompilasi latihan keras dan Pil buatannya telah membuktikan bahwa mereka bukanlah sampah Sekte Pedang Bintang. Orang-orang yang dulu menghina mereka kini tertunduk malu, bungkam dengan omongan besarnya di masa lalu.
Di tengah gelapnya malam, tiga orang lelaki berbeda umur tengah mengobrol santai ditemani dinginnya udara Gunung Lima Jari. Mereka adalah Long Guan dan dua orang Penatua Agung.
“Bagaimana dengan rencanamu untuk turun gunung?” tanya Penatua Ang Bei.
“Lusa murid akan berangkat” jawab Long Guan.
Apakah kau mengajak Nona Yu bersamamu?” tanya Penatua Agung Ang Bei kembali
“Hehehe, Tentu tidak” kenapa Penatua Agung bertanya demikian? Long Guan bersikap salah tingkah.
“Hahaha.. Kedekatan kalian tidak biasa, aku melihat Nona Yu menyukaimu” balas Panatua Agung.
“Mungkin seperti itu, tetapi murid ini mempunyai permasalahan yang belum terselesaikan.
Saat ini murid hanya tidak mau menyakiti dirinya” ungkap Long Guan jujur. Hubungan antara Long Guan dan Yu Nuan telah terjalin baik selama ini.
Meskipun berbeda dengan Xie Annchi maupun Jian Ling, Long Guan tetaplah seorang pria yang memiliki perasaan. Namun jika berjanji tentang ke depan, ia belum bisa melakukannya.
Saat menjadi Patriark, dalam tidurpun ia sulit bermimpi indah. Di Bukit Kelima ia menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan.
Setiap murid yang diasuhnya mengalami peningkatan kekuatan ia merasa satu bebannya terlepas, dan begitu setiap hari.
Metode yang Long Guan lakukan sangat efektif, rasa bersalahnya dari masa lalu perlahan terobati. Ia pun merasa lebih baik, menjalani hidup seperti ini.
Partiak Han Zao baru kali ini bisa merasakan kepuasan batin, puas melihat orang lain bahagia. Puas menjadi orang yang bermanfaat orang lain.
Dalam beberapa faktor ia justru banyak belajar dari murid yang memiliki berbagai talenta ini.
“Kamu kuberikan waktu untuk turun gunung tidak lebih dari 5 bulan, seperti yang aku ucapkan sebelumnya kompetisi di Sekte Puncak Abadi akan dimulai” ungkap Penatua Agung Ang Bei.
“Murid mengerti, murid tidak akan mengecewakan Penatua Agung” alis Long Guan terkerut dalam setelah mengatakan ini. Walau bagaimanapun, perjalanannya di alam spiritual baru akan dimulai.
“Murid harus kembali ke Bukit Keenam sekarang” ucap Long Guan tiba-tiba.
“Malam masih panjang, kenapa kau tampak terburu-buru?” tanya Penatua Han Zao
Long Guan berkata lagi, “Murid lupa, ada beberapa bahan yang harus disiapkan untuk esok pagi. Sebelum aku pergi, aku harus memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik”
“Baiklah jika demikian”
Penatua Agung Han Zao mengangguk.
Setelah Long Guan meninggalkan mereka, ia segera menuju kediaman pribadinya. Ia langsung masuk ke dalam kamar pribadinya dan mengeluarkan beberapa benda dari dalam Cincin penyimpanannya.
Setelah dirasa cukup, ia lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang. Seperti biasa, ia akan mengambil surat dari istrinya lalu membacanya sebelum matanya terpejam.
Pagi telah tiba, seperti biasa Long Guan bangun pagi dan membersihkan diri. Setelah memastikan apa yang sudah disiapkannya tadi malam, ia segera menuju Gedung Alkemis.
Hari masih pagi, ia hanya menemukan beberapa murid yang sedang melakukan tugas rutin membersihkan halaman dan gedung.
Long Guan segera masuk ke dalam ruang pemurnian, ia meletakkan barang-barang yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Tidak berapa lama kemudian dua orang kakak beradik masuk ke ruang pemurnian, mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Long Guan sepagi ini.
“Sepertinya mentari pagi ini berbeda dengan yang bersinar sebelumnya” ucap Yu Nuwa menggoda Long Guan sambil tersenyum.
Sementara Yu Nuan, sang kakak hanya menatap Long Guan dalam diam. Yu Nuan menyadari pasti ada sesuatu yang penting jika dilihat dari ekspresi wajah Long Guan yang tampak serius.
Yu Nuan langsung bertanya, ada apa?
Aku harus turun gunung untuk menjalankan misi, jadi aku harus menyiapkan sesuatu” jawab Long Guan dengan serius.
Yu Nuan bertanya lagi, kenapa mendadak sekali?”
Sebenarnya aku sudah merencanakan hal ini dari beberapa waktu lalu, namun baru kini aku sempat membicarakannya kepadamu.
Yu Nuan berkata, aku akan ikut denganmu!
Long Guan menggelengkan kepalanya dan berkata, kehadiranmu di sini lebih dibutuhkan.
Jika kamu pergi lalu siapa yang akan membuat Pil, bukankah kamu nanti yang bertanggungjawab selepas aku pergi?”
Yu Nuan mengangguk dan berkata, baiklah jika begitu kamu harus lebih berhati-hati.
Jangan buat aku menjadi cemas lagi” ucap Yu Nuan tampak tak berdaya.