Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Sekte Pedang Bintang


Meskipun bukan Sekte yang terbesar, Sekte Pedang Bintang cukup terkenal di wilayah Selatan, wilayah yang cukup luas membentang antara dua buah pegunungan yakni Gunung Empat Dewa dan Gunung Jari Sakti. Keduanya berhadapan dengan wilayah Kekaisaran Xia.


Gunung Empat Dewa merupakan tempat utama Sekte Pedang Bintang, Paviliun dan Bangunan berdiri cukup megah di ketinggian tiga ribu lima ratus meter di atas permukaan laut.


Sementara Gunung Jari Sakti merupakan tempat khusus Sekte Pedang Angin untuk meningkatkan kompetensi murid-muridnya, selain itu portal dimensi penghubung dunia fana dengan Alam Spiritual juga berada di Gunung Jari Sakti.


Gunung Jari Sakti berada di bawah pengawasan Ang Bei yang merupakan kaka seperguruan Patriark Han Zao. Meskipun Ang Bei sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan, namun namanya sebagai Master Pedang Hitam sangat ditakuti di Alam Spiritual. Alasan itu pula yang membuat Sekte Pedang Bintang masih dipandang hingga kini.


Dua buah pegunungan sejajar memiliki sembilan Bukit Utama yang terdiri dari satu untuk Patriark Sekte dan enam lainnya untuk para Tetua.


Sementara dua Bukit Utama lainnya merupakan Bukit Perbendaharaan Sekte dan Bukit Serbaguna yang terdiri dari Lapangan Bela Diri utama, Paviliun Alkimia serta bangunan Aula Utama.


Setiap satu Bukit Utama membawahi enam buah Bukit Kecil yang dipimpin oleh murid senior setingkat Diaken. Long Guan berada pada Bukit Kelima karena status gurunya yakni Hung Fei belum dihapus sebagai Tetua Kelima, sama seperti Bukit Utama lainnya,


Bukit Kelima juga memiliki enam Bukit Kecil. Semenjak kepergian Hung Fei, Bukit Kelima tampak tidak terawat, sesekali dibersihkan oleh murid luar yang kebetulan menjalani hukuman disiplin. Bukit Kelima memiliki luas setara dengan Kota Awan di dunia fana, setiap bukit setidaknya menyerupai tingkat Desa yang mampu menampung seribu orang dengan tingkat kepadatan ideal.


Setiap Bukit Utama mewakili Divisi atau jurusan yang menyandang bakat seseorang. Paviliun Pertama dipimpin oleh Tetua Chan Fan yang ahli dalam teknik pedang, Paviliun Kedua dipimpin oleh Tetua Liu Yaoshan yang membidangi Formasi, Paviliun Ketiga dipimpin oleh Tetua Liu Changhai yang membidangi penempaan dan sekaligus kakak dari Liu Yaoshan.


Paviliun Keempat dipimpin oleh Tetua Wang Chunying yang ahli dalam ilmu sihir dan jimat. Sementara Paviliun Kelima atau Bukit Kelima dipimpin oleh Hung Fei yang memiliki kemampuan Hukum Ruang dan Waktu, sedangkan Paviliun Keenam dipimpin oleh Wang Xuemin yang ahli dalam Alkimia.


Semua Tetua memiliki basis kultivasi minimal ranah Semesta Tingkat Tujuh, namun dari semua Tetua hanya Hung Fei yang memiliki basis kultivasi terendah yakni Semesta Tingkat Lima, hal itu karena Hung Fei memiliki kemampuan dalam Hukum Ruang dan Waktu.


Hari ini adalah hari pertama Long Guan tinggal di Bukit Kelima, meskipun ia sendiri menyandang sebagai murid langsung dari Tetua Hung Fei, fasilitas yang diberikan Sekte tidak banyak.


Hanya ada beberapa tungku obat yang sudah lama tidak dipakai serta sarana latihan dan beberapa murid luar yang tidak berprestasi atau istilah lain murid buangan yang tidak berbakat untuk membantu bersih-bersih.


Long Guan memperhatikan para pemuda yang berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan basis kultivasi Semesta Tingkat Pertama. “Dunia Dewa memang memiliki standar yang berbeda, jika mereka dihitung sampah di sini maka di alam dunia mereka akan menjadi penguasa” ucap Long Guan pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ada dua puluh orang pemuda yang terdiri dari delapan belas pria dan dua orang wanita. “Kalian ke marilah sebentar, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan” ucap Long Guan dengan tenang kepada sekelompok pemuda yang hendak bergerak melakukan pekerjaan kasar.


Para pemuda tersebut saling tatap, namun tanpa banyak bertanya mereka segera berkumpul berbaris rapi. “Perkenalkan namaku adalah Long Guan, aku adalah murid Tetua Hung Fei.


Pada kesempatan kali ini aku ingin mengenal kalian lebih jauh serta ingin menanyakan motivasi hidup kalian” ucap Long Guan dengan penuh wibawa.


Mereka semua hanya diam, saling tatap namun tidak ada satu orang pun yang mau berbicara. Berada di Bukit Kelima, pada dasarnya adalah tempat buangan terakhir bagi mereka, apalagi saat mendengar bahwa Bukit kelima hanya diisi oleh seorang murid lemah yang berada pada ranah Semesta dua tingkat awal.


Long Guan tertegun melihat sikap cuek para pemuda yang berada di depannya, mereka tampak kehilangan semangat perjuangan untuk hidup, tampaknya jalan kultivasi mereka hanya sampai pada murid luar dengan predikat murid pekerja kasar.


“Baiklah, aku mengerti dengan apa yang kalian pikirkan. Tapi hari ini aku ingin menegaskan kepada kalian jika kalian ingin tetap berada pada jalur ahli bela diri silahkan kalian berdiri di sebelah kananku, namun jika kalian sudah menyerah maka silahkan berada di samping kiriku.


Aku berani menjamin, dalam enam bulan kekuatan kalian akan meningkat pesat” Ucap Long Guan penuh keyakinan. Mendengar ucapan Long Guan, beberapa orang tampak putus asa dan sebagian lainnya berusaha yakin dengan segera pindah posisi ke sebelah kanan.


Dalam waktu singkat ke dua puluh orang murid tersebut berada pada posisi sebelah kanan sebagai tanda mereka akan tetap berada di Bukit Kelima, pada dasarnya ada dua alasan yang membuat mereka tetap tinggal yang pertama karena mereka berasal dari keluarga miskin sehingga tinggal di rumah atau di Sekte akan sama saja.


Sementara alasan yang kedua adalah karena mereka malu pulang ke rumah, akan menjadi bahan olokan keluarga serta anggota klan lainnya. “Baiklah, ku ucapkan


terimakasih atas kesediaan kalian untuk tetap tinggal di Bukit Kelima ini.


Apapun alasan kalian, aku akan memperlakukan kalian seperti saudara. Di sini tidak berlaku predikat murid pekerja, karena basis kultivasi kalian yang sama maka kalian adalah saudara.


Mulai saat ini dan seterusnya kita adalah saudara, jika satu diantara kita terluka maka semua ikut terluka. Jika kita senang maka semua akan ikut senang. Dimanapun kita harus saling menjaga.” Ucap Long Guan sambil penuh percaya diri.


“Terimakasih Saudara Guan” Ucap ke dua puluh orang murid dengan kompak. Lalu Long Guan meminta kepada mereka untuk disiapkan teh sebagai pengganti arak, mereka berjumlah dua puluh satu orang termasuk Long Guan mengangkat sumpah setia sebagai saudara.


Tatapan haru menyelimuti para pemuda tersebut, tidak menyangka masih ada orang yang menghargai keberadaan mereka. Jika di Bukit Pertama atau Bukit lainnya mereka kerap ditindas oleh sesama murid lainnya sesama murid luar.


Sesuai peraturan Sekte Pedang Bintang, murid luar akan berada pada Bukit Kecil Kesatu hingga Ketiga, sementara Bukit Kecil Keempat sampai Keenam akan diisi oleh murid dalam.


Sedangkan murid langsung atau murid inti akan tinggal di Bukit Utama mengikuti Tetua seperti halnya Long Guan yang tinggal di Bukit Kelima karena berstatus sebagai murid langsung Hung Fei.


Hari masih siang, langit tampak terang saat Long Guan berada di halaman tempat tinggalnya.


Di Bukit Kelima ada lima buah Bangunan tempat tinggal serta lima buah Gedung yang memiliki fungsi masing-masing seperti perpustakaan, pemurnian obat, penempaan senjata, tempat pertemuan serta tempat berlatih.


Selain itu terdapat pula Gua tempat berkultivasi yang memang terdapat secara khusus baik di Bukit Utama maupun di Bukit Kecil. Long Guan kemudian saling berbincang dengan mereka dan secara tidak langsung dirinya mulai memetakan keahlian masing-masing.


Long Guan berencana menghapuskan istilah murid dalam dan murid luar, kelak yang ada hanyalah murid biasa dan murid inti. Murid biasa berhak tinggal di enam bukit kecil, sementara murid inti akan tinggal di Bukit utama.


Setelah seharian saling tukar pengalaman, Long Guan memutuskan membagi enam kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang. Sedangkan sisanya dua orang wanita akan dibiarkan tinggal di Bukit Utama untuk menjaga keselamatan dan Long Guan berencana mengajarkan mereka tentang ilmu alkimia.


Tanpa Long Guan sadari, segala tindakan yang ia lakukan tidak luput dari pantauan Patriark Han Zao yang berdiri santai di sebuah dahan pohon yang cukup besar. Baru-baru ini Patriark Han Zao berhasil menerobos ke alam Surgawi tahap awal.


“Anak ini cukup menarik, hampir sama dengan Hung Fei memiliki ambisi dan target perjuangan dalam hidup. Tetapi anak ini lebih terbuka kepada sesamanya” Batin Patriark Han Zao menyikapi tindakan Long Guan.


"Hmm.. Enam bulan, baiklah aku akan melihat perubahan apa yang dapat kau tunjukkan dalam waktu enam bulan” Ucap Patriark Han Zao sambil tersenyum dan menghilang dari tempat semula ia mengawasi Bukit Kelima.