Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Bertemu Ang Bei


Long Guan yang berlari menjauh dari danau, tidak memperhatikan sekitarnya. Ia hanya fokus berlari dengan sisa-sisa tenaganya. Dirasa cukup jauh dan tidak merasakan bahaya, ia duduk di sebuah batu dengan nafas yang terengah-engah.


Ia menelan tiga buah Pil Penambah Energi untuk mengganti energinya yang sudah berkurang sangat drastis. Setelah satu jam, meskipun belum pulih banyak ia kembali berdiri, samar-samar ia bisa merasakan ada aura pendekar yang sangat kuat sedang mengintainya.


Pupil matanya bergerak ke kiri dan ke kanan untuk memastikan persepsinya. Tiba-tiba dari atas muncul suara yang cukup berat namun penuh penekanan.


“Siapa kau berani masuk ke Gunung Lima Jari tanpa izin?” Tanya seorang lelaki tua memakai jubah ungu. Long Guan ingin menjawab pertanyaan orang tua itu, namun kekuatannya bukan apa-apa di depan orang tua itu, aura penindasan yang begitu berat membuat Long Guan tersungkur.


“Auranya begitu tajam seperti pedang, namun tidak ada energi pedang yang terpancar” Ucap Long Guan pelan. Sebagai pembudidaya teknik pedang ia tentu dapat merasakan aura pedang yang begitu mendominasi. Long Guan mencoba bangkit dan mengeluarkan jiwa pedang.


Tubuhnya mengeluarkan cahaya ungu, energi dalam tubuhnya dipaksa keluar kembali dalam jumlah yang cukup signifikan. Namun berulang kali ia melawan aura pedang tersebut, ia gagal melawan tekanan yang terus mendera tubuhnya.


Long Guan terus berupaya mengeluarkan jiwa pedang dari dalam dirinya, setiap cahaya yang akan terbentuk pedang pelindung selalu saja hancur berkeping-keping. Melihat situasi seperti ini lelaki tua tersebut tersenyum senang.


“Anak ini sangat berbakat, dengan ranah Semesta Tingkat Kedua ia sudah bisa menahan aura hati pedang” Gumam lelaki tua tersebut yang dipanggil Ang Bei, penggila teknik pedang Sekte Pedang Bintang.


Long Guan setengah berlutut di tanah, napasnya mulai terengah-engah dan kondisinya mulai melemah. Long Guan mengeluarkan seluruh kekuatannya, dua buah Dantian dalam tubuhnya memompa energi secara ekstrim. Ketika jiwa pedang benar-benar tersebar, aura yang dikeluarkan oleh Ang Bei dapat teratasi.


Dari atas pohon yang tinggi, Ang Bei turun dan mendarat di depan Long Guan. Dengan pedang besar di punggungnya ia menatap Long Guan dengan penuh kekaguman.


“Hahaha.. tidak kusangka Han Zao menyembunyikan murid berbakat dengan begitu dalam” Ucap Ang Bei yang dengan bangga sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Ang Bei sudah memperhatikan Long Guan sejak ia berhadapan dengan Serigala Perak di Danau mata air kehidupan. Mendengar lelaki tua itu menyebut nama Han Zao dengan familiar membuat Long Guan menurunkan kewaspadaannya.


Ang Bei masih memandang Long Guan penuh telisik, “Siapa namamu anak muda?” Tanya Ang Bei singkat. “Nama saya adalah Long Guan, mohon maaf apabila kehadiran saya mengganggu Tetua” Jawab Long Guan dengan tatapan tenang.


“Apakah Han Zao yang melatihmu?” Tanya Ang Bei dengan penasaran. Menurutnya bakat berpedang seperti ini adalah bakat langit yang sudah melewati pelatihan khusus. “Aku adalah murid guru Hung Fei dari Bukit Kelima” Jawab Long Guan.


“Hmm.. Ang Bei mengerutkan kening, seingatnya Hung Fei hanyalah Diaken yang baru dipromosikan menjadi Tetua, ia menghilang bersama portal dimensi waktu.


“Oh, pantas saja aku baru melihatmu. Perkenalkan aku adalah Ang Bei, kakak seperguruan Han Zao”


Energi hangat melewati tenggorokannya lalu terpusat dalam lautan diafragmanya, gelombang Qi terpancar kuat bersamaan dengan cahaya api abadi dalam tubuh Long Guan.


Energi tubuhnya dengan cepat terisi dengan sempurna, esensi Pil yang begitu dahsyat masih tersisa dalam jumlah yang cukup besar, membuat dorongan energi yang terus mengalir melalui titik Meridian tubuhnya.


“Dhuar!”


Suara ledakan kecil mengkonversi gelombang energi di dalam tubuh Long Guan, sebuah terobosan terjadi dalam tubuh Long Guan. Kondisi tubuh yang baru saja berada pada tekanan, kini seperti pegas yang kembali lentur dan bergerak bebas, meninju batasan dalam tubuhnya.


Dengan wajah menahan senyum, Long Guan segera menstabilkan kekuatannya yang kini berada pada tahap akhir Semesta Kedua. Belum sebulan ia berada di Alam Spiritual, tetapi sudah dua kali ia melakukan terobosan minor, namun itu terasa lebih baik. Setelah menstabilkan kekuatannya, ia membuka kedua matanya, samar bayangan Tetua Ang Bei terlihat tersenyum puas memandang Long Guan.


“Terimakasih Tetua Ang, pil yang tetua berikan sangat luar biasa” Ucap Long Guan dengan wajah cerah. “Itu adalah hadiah pertemuan kita, namun aku heran dengan tubuhmu, pada keadaan normal seharusnya Pil tersebut mampu menaikkan kultivasimu minimal menjadi Semesta Tingkat Ketiga!”


Long Guan tidak menjawab, dia hanya tersenyum malu. Memahami rahasia dalam tubuhnya, Tetua Ang Bei tidak berniat menggali lebih dalam. “Jika tidak salah, pedang yang kamu gunakan tadi adalah Pedang Biru?” Tanya Tetua Ang Bei penuh minat.


Tanpa ragu Long Guan segera mengeluarkan Pedang Biru dari dalam cincin penyimpanannya.


“Aku sudah hidup terlalu lama, aku juga sudah menunggu lama bakat seperti dirimu. Setelah ini semua urusanku akan selesai” Kata Ang Bei sambil memegang Pedang Biru.


Namun perkataan Tetua Ang Bei membuat Long Guan sedikit bingung, ia tidak berani menyela atau menanyakannya. “Apakah kamu juga seorang alkemis?” Tanya Tetua Ang Bei dengan semangat. “Mohon maaf Tetua, murid ini hanya tahu sedikit” Jawab Long Guan dengan sopan.


“Hahaha.. Langit memang sudah memberkati Sekte Pedang Bintang” Tawa Tetua Ang Bei terdengar lepas, mulutnya terbuka lebar dengan gigi yang masih utuh dan tersusun rapi di usianya yang cukup tua. Meskipun ia sudah tua, namun tubuhnya masih sangat kekar dan aura pendekarnya saja dengan mudah akan membunuh kultivator ranah Semesta.


“Ikutlah denganku!” Tetua Ang segera melompat ke udara dan berpindah dari satu dahan pohon ke dahan pohonnya lainnya. Mulanya Long Guan sedikit tercengang, namun ia segera sadar dan mengikuti Tetua ng Bei di belakangnya, “Gerakanmu masih sangat lambat, padahal aku hanya mengeluarkan 10 persen dari tenagaku”.


Tidak butuh waktu lama, mereka berdua tiba di puncak gunung dengan sebuah gubuk sederhana sebagai pelengkap pemandangan. Di sebelah gubuk tersebut terdampar kebun herbal yang cukup luas, membuat tatapan Long Guan terbelalak.


“Ini adalah tanaman pribadiku yang aku budidayakan dari Gunung Lima Jari, kamu boleh memetiknya sesuai keinginanmu. Mulai hari ini dan seterusnya jadikan tempat ini sebagai rumah keduamu di Sekte Pedang Bintang” Ucap Tetua Ang Bei dengan santai.


“Terimakasih Tetua, dengan senang hati murid ini menerimanya” Long Guan tidak bisa menahan diri dari berbagai jenis tanaman herbal yang kini berbaris rapi di depannya.