
Fang Yin menarik kedua sudut bibirnya, namun ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Semuanya terdiam beberapa saat ketika menyaksikan Long Guan menghilang setelah ia selesai menyelesaikan pembayaran di kasir.
Ming Hao melirik Fang yin yang agak sedikit aneh, dengan heran ia bertanya,
“Apakah kamu menyukainya” tanya Ming Hao sedikit cemburu.
“Huh!” Fang Yin menghela napas dalam-dalam, lalu berkata,
“Siapapun yang berjenis kelamin wanita pasti akan terpesona dengan lelaki seperti itu,
wajahnya yang rupawan, ditambah keahliannya yang mengerikan sungguh pesona yang tidak bisa dilupakan”
Fang Yin segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
“Apakah kamu tidak meghabiskan makananmu?” ucap Ming Hao
“Tidak” kata Fang Yin sambil melambaikan tangan.
Wanita itu langsung melangkah cepat menuju kamarnya.
Teman wanita Fang Yin yang bernama Xinxin menjadi terkejut, ia tidak menyangka sahabatnya akan berubah secepat ini setelah melihat long Guan. Sebelumnya ia adalah wanita yang dingin terhadap lelaki. Namun ucapannya barusan telah meruntuhkan pemahaman orang-orang tentang dirinya.
Sambil mengangkat kedua bahunya ia tersenyum datar memandang dua orang teman laki-lakinya.
Ming Hao tidak dapat berbuat apa-apa, membayangkan kemampuan Long Guan membuat dirinya hampir gila. Beberapa bulan yang lalu ia pernah mendengar Long Guan yang berhadapan dengan Tetua Wang Xiemien, rumor itu tidak sebegitu menakutkan ketimbang apa yang baru saja ia saksikan.
Untung saja Long Guan tidak membuat perhitungan dengannya. Membayangkannya membuat Ming Hao bergidik ngeri.
Di dalam kamar penginapan Long Guan mulai berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Fang Yin. Keempat murid tengah menjalankan misi, mereka ingin membasmi kelompok Bandit Kecoa Hitam yang meresahkan masyarakat. Ia teringat dengan kelompok Topeng Hantu ketika masih berada di Klan Long di Dunia Fana.
“Ternyata dimana saja selalu ada kejahatan” gumamnya dalam hati. Dengan apa yang baru saja ia pikirkan ia mencoba mencari pencerahan, sambil duduk sila ia memejamkan kedua matanya.
Pemahaman hukum ruang dan waktunya sudah meningkat ke tahap berikutnya tanpa ia sadari. Long Guan membentuk lubang astral beberapa kali lalu memindahkannya ke beberapa titik yang ia tuju. Daya serapnya sangat menakutkan, hal ini akan menjadi kartu truf bagi Long Guan di saat ia terdesak.
Di kota Dengfeng kini tengah heboh, di kediaman pribadi penguasa Kota yaitu Hao Yu tengah diadakan pertemuan khusus. Hingga menjelang larut malam, mereka tampak serius membahas pembantaian keluarga Wang. Mereka khawatir dengan dukungan dari Chang Gui, Tetua Sekte Puncak Abadi tersebut memiliki tempramen sama persis dengan Wang Yushan muridnya.
Sebagai tuan Kota, Hao Yu tampak mengurut dahinya, berbagai informasi masih bergulir dengan liar tentang siapa yang telah membunuh Wang Yushan.
“Tuan, berdasarkan informasi terbaru yang ku terima pelakunya adalah seorang murid. Ia berasal dari Sekte Pedang Bintang” ucap seorang pria yang memiliki jabatan sebagai penasihat.
“Huh”
“Jika itu masih berkaitan dengan Sekte Pedang Bintang, maka biarkanlah mereka saling berseteru, kita tidak bisa mencampuri dunia para kultivator” ucap Hao Yu tampak tak berdaya.
Waktu berlalu dengan cepat, ketika fajar hendak menyingsing Long Guan sudah meninggalkan penginapan. Setelah mempelajari peta tentang Kota Dengfeng, ia berencana menuju Gunung Song.
Long Guan bergerak cepat dengan berlari dan melompat, saat ini ia masih ksulitan untuk terbang. Meskipun ia bisa menggunakan teleportasi, ia sengaja tidak memanfaatkannya.
Baginya petualangan kali ini akan ia gunakan untuk melatih kekuatan fisiknya kembali. Tulang Kaisar Naga yang ia miliki akan berkembang lebih kuat lagi, dengan penuh semangat ia berlari mengikuti beberapa petunjuk.
Setelah dua jam perjalanan tanpa istirahat, ia tiba di sebuah desa yang cukup subur. Dalam penglihatannya ia melihat aktivitas kehidupan pertanian, para penduduk mengandalkan hasil perkebunan untuk hidup. Long Guan menghampiri sebuah kedai makan sederhana, hari masih pagi ketika ia mendekati kedai tersebut.
Di waktu yang sama, Fang Yin tengah menanti kedatangan Long Guan di Kedai yang masih menjadi satu dengan penginapan. Ia sengaja bersiap untuk sarapan sejak pagi-pagi, ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan sosok lelaki yang mulai ia sukai.
Setelah menghabiskan beberapa penganan ringan beserta secangkir teh, orang yang ditunggunya tak jua kunjung datang.
Matahari sudah menampakkan sinarnya, namun bayangan Long Guan tidak tampak.
Ia berdiri lalu menghampiri seorang pelayan. Setelah membisikkan beberapa kata, lalu pelayan tersebut mengangguk pelan dan segera melangkah pergi. Fang Yin kembali duduk sambil menunggu pelayan tadi kembali membawa informasi yang ia butuhkan. Tidak berapa lama kemudian pelayan tersebut tiba di depan meja makan Fang Yin.
“Nona, mohon maaf berdasarkan informasi yang saya dapatkan, tuan Long Guan sudah meninggalkan kamarnya pagi-pagi sekali” ucap pelayan tersebut.
“Deg!”
Jantung Fang Yin serasa berhenti berdetak mendengar berita tersebut. Tubuhnya lemas seketika, tak bersemangat. Berita ini sangat mengagetkannya, membuat harapannya hancur seketika.
“Baiklah terimakasih atas bantuan anda” ucap Fang Yin sembari memberikan beberapa koin perak.
“Terimakasih banyak Nona” ucap pelayan tersebut dengan senang.
Fang Yin termenung, lalu ia bergumam pelan “Setelah misi ini selesai, aku akan sering bekunjung ke Bukit Keenam!”
Long Guan tidak mengetahui apa yang terjadi di pusat Kota Dengfeng maupun di kedai penginapan. Saat ini tatapannya sedang memandang pegunungan Song yang membentak luas.
Menurut catatan ada tiga puluh enam puncak gunung yang membentang sejauh enam puluh kilo meter lebih. Dengan aneka tumbuhan dan pepohonan membuat suasana asri dari wilayah pegunungan tidak tergantikan.
Di sebuah Kedai sederhana Long Guan menyesap secangkir teh, ia serasa menikmati kehidupan. Kekuatan kultivator tidak terlalu mencolok di Desa ini, sambil menikmati minumannya Long Guan mendengarkan percakapan beberapa orang. Orang yang membawa perlengkapan memburu sangat bersemangat dalam obrolannya.
“Apakah kalian sudah mendengar adanya Makam kuno di puncak Janji?” tanya lelaki tersebut kepada teman-temannya. Jika diperhatikan, mereka adalah kelompok yang sama.
“Ya tentu saja, tapi sayangnya perjalanan kesana sangat berbahaya” ucap salah seorang lainnya.
“Aku mendengar jika kelompok Bandit Kecoa Hitam sering berbuat ulah. Bahkan mereka tidak segan-segan membunuh” sahut pria yang lainnya.
Long Guan cukup tertarik dengan apa yang Makam kuno. Ia teringat cerita dari gurunya, Hung Fei yang mendapatkan keberuntungan saat memasuki Makam kuno. Lalu Long Guan mempunyai sebuah ide.
Bukankah menumpas Bandit Kecoa Hitam adalah salah satu misi Sekte yang dikirimkan oleh penduduk Desa ini?